Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 230 – Sepuluh Ikatan Bagian 03

Saudara se-Dharma sekalian, suasana pagi hari sangat tenang. Setiap pagi, saat saya keluar dari samping aula, meskipun hanya sebentar, saya melihat lingkungan di sekitar aula dan selalu merasakan keheningan, ketenangan, dan kedamaian. Sayangnya, waktu sangatlah singkat, waktu tidak tidak akan menunggu kita. Oleh karena itu, kita harus menggenggam waktu. Kehidupan manusia yang puluhan tahun, sesungguhnya tidaklah panjang. Namun, dari kehidupan ke kehidupan, kita mengalami kelahiran dan kematian. Lihatlah, dalam puluhan tahun usia kita, apa yang kita lakukan? Perbuatan yang kita lakukan di kehidupan lampau ada yang membawa berkah dan ada yang membawa malapetaka. Saat bersumbangsih demi orang lain, kita menciptakan berkah, menjalin jodoh baik, dan mengumpulkan jalinan berkah yang tak sedikit. Contohnya dalam organisasi Tzu Chi, saya sering mengatakan terima kasih. Saya berterima kasih kepada semua orang yang memiliki kesatuan tekad dalam bersumbangsih demi cinta kasih. Terlebih lagi, kita bersumbangsih tanpa pamrih Terlebih lagi, kita bersumbangsih tanpa pamrih sambil mengungkapkan rasa syukur. Ini terwujud berkat jalinan jodoh yang ditanam pada kehidupan lampau.

Namun, ketika kita menciptakan jodoh berkah di tengah orang banyak, sulit dihindari adanya perbedaan pendapat. Perbedaan dalam pendapat ini dapat menimbulkan ketidaksenangan. Di sini, kita mudah menciptakan karma buruk lewat ucapan dan membangkitkan noda batin. Namun, dalam kehidupan kita, lebih banyak noda batin ataukah kebahagiaan? Semua ini merupakan buah dari benih karma baik ataupun buruk yang kita tanam dalam kehidupan lampau. Ada seorang relawan komite yang jjuga merupakan komisaris kehormatan sekaligus anggota Tzu Cheng. Seluruh anggota keluarganya adalah insan Tzu Chi. Mereka berdomisili di Taipei. Ayahnya suka datang ke Hualien. Jadi, menjelang hari-hari terakhirnya, beliau berada di Hualien. Ketika saya mendengar beliau meninggal, saya segera pergi melihatnya. Menantu perempuannya berkata kepada saya, “Jika Ayah mendengar bahwa Master mendoakannya, beliau akan senang.” Jika para bhiksuni dari Griya Jing Si menjenguknya dan berkata, “Master memperhatikanmu dan mendoakanmu,” dia sangat senang mendengarnya. Jadi, beliau berada di Hualien dan meninggal pada usia 80 tahun lebih. Beliau merasa damai dan terlihat tenang. Saya bertanya kepada anggota keluarganya apakah tubuhnya ingin didonorkan kepada Universitas Tzu Chi.

Menantunya berkata, “Seharusnya bisa,” karena putranya juga anggota Tzu Cheng, juga anggota komite, dan juga seorang komisaris kehormatan. Kini kita tinggal menunggu anggota keluarganya untuk datang. Saya pun berkata kepada sang kakek, “Kamu bernasib baik, setelah cepat pergi, maka cepatlah kembali.” “Kini kita sangat membutuhkan orang karena telah berkurang Anda seorang.” “Kini Anda bisa menjadi Silent Mentor.” “Saya segera mendoakan Anda agar Anda dapat segera menjadi guru bagi mahasiswa kedokteran Tzu Chi.” Sepertinya, anak dan menantunya memiliki harapan yang sama. Putrinya bahkan berkata, “Saya juga mau menjadi Silent Mentor.” Dia juga mau mendonorkan tubuhnya kepada universitas kita. Semoga anggota keluarga mereka mencapai kesepakatan untuk mewujudkan harapan ini. Ini adalah kehormatan. Di sana banyak orang yang menjaganya. Jadi, jika dipikir-pikir, pada akhir kehidupan, bagaimana manusia harus mengurus raganya? Buddha mengatakan bahwa tubuh tidaklah bersih. Kita harus menggunakan badan yang tidak bersih ini untuk melakukan hal bermanfaat, mengubah yang tidak berguna menjadi berguna. Biarlah para mahasiswa mengeksplorasi misteri kehidupan mengeksplorasi misteri kehidupan yang begitu berharga. Saya merasa bahwa kehidupan manusia hendaknya seperti ini. Jadi, baik berusia 80 tahun maupun 100 tahun, suatu hari manusia pasti menghadapi ketidakkekalan. Meski telah mencapai usia 100 tahun,suatu hari ketidakkekalan juga akan tiba.

Namun, ada orang yang tidak bisa mengikuti rencana hidupnya sendiri. Lihatlah orang tua tadi. Dia mengetahui bahwa usianya sudah lanjut, maka memilih pergi ke Hualien. Ada berapa orang yang dapat hidup mengikuti rencana hidupnya seperti ini? Jadi, Buddha mengatakan bahwa kita harus memanfaatkan kehidupan kita. Kita harus menghormati dan menyayangi kehidupan. Nilai kehidupan harus digunakan dengan baik. Jika tidak memanfaatkan kehidupan selagi bisa, maka di hari tua, terutama saat jatuh sakit, kita harus membuka hati.Setelah membuka hati, jangan sampai hati mengikuti tubuh yang sakit. Jika demikian, kita akan sangat menderita. Jadi, Buddha memberikan satu perumpamaan. Beliau berkata, “Bagaikan pemilik perahu yang ingin membuang perahunya yang sudah bocor.” Ketika jatuh sakit, kita bagaikan sebuah perahu. Pemilik perahu ini melihat bahwa perahunya telah bocor dan tidak bisa diperbaiki. Air terus masuk ke dalam perahu itu.

Pada saat ini, tanpa memedulikan barang muatannya, sang pemilik pergi meninggalkan perahu. sang pemilik pergi meninggalkan perahu. Perahu telah rusak, maka harus segera ditinggalkan. maka harus segera ditinggalkan. Jika tidak, akan berbahaya. Buddha juga memberikan perumpamaan dan berkata, “Tubuh manusia memiliki sembilan lubang yang mengeluarkan cairan kotor.” Manusia memiliki sembilan lubang pada tubuh. Kita hitung apakah kita memiliki sembilan lubang. Kita hitung apakah kita memiliki sembilan lubang. Di wajah kita ada tujuh lubang, ditambah dua lubang pembuangan, seluruhnya berjumlah sembilan lubang yang mengeluarkan zat tidak bersih. Jadi, tubuh bagaikan sebuah perahu. Tubuh ini sudah sering “bocor” sejak lahir. “Bocor” berarti mengeluarkan zat tidak bersih. Jadi, kita hendaknya seperti pemilik perahu yang saat melihat kebocoran, tetap bersikap tenang, tidak risau, dan merelakan perahu itu demi melindungi jiwa yang berharga. Jiwa yang dimaksud adalah jiwa kebijaksanaan. Kita harus menjaga jiwa kebijaksanaan dengan baik karena tubuh ini tidak kekal.

Namun, tubuh adalah sarana melatih diri. Untuk melatih diri, kita memerlukan tubuh ini. Untuk berbuat kebajikan, kita juga membutuhkan tubuh ini. Untuk menjalin jodoh baik dengan orang lain, kita membutuhkan tubuh ini. Jadi, ketika tubuh sehat, kita hendaknya bersumbangsih bagi masyarakat. Jika badan tidak sehat, kita tidak bisa melakukannya. Oleh karena itu, kita harus menyayangi diri dengan menjaga tubuh dengan baik. Tubuh harus dijaga dengan baik agar dapat melakukan kebajikan. Dengan begitu, jiwa kebijaksanaan kita akan bertumbuh. Jangan menunggu sampai berbuat kesalahan, barulah kita menyesal. Saya sering berkata bahwa hukuman terbesar adalah penyesalan. Tidak melakukan perbuatan bajik akan membuat kita menyesal. Melakukan perbuatan buruk dan menjalin jodoh buruk dengan orang lain juga dapat membuat kita menyesal. Jadi, di dalam Sepuluh Ikatan, yang kelima adalah penyesalan. Penyesalan mengandung kebencian, yaitu penuh keluh kesah, mempertanyakan mengapa diri sendiri tidak mampu mencapai sesuatu, mengapa orang lain bisa. “Mengapa orang lain mendapat kebaikan, sedangkan saya tidak?” “Saya sudah rajin, tetapi masih tak dapat mencapai tujuan.”

Dengan begitu, timbul penyesalan dan kebencian. Dengan begitu, timbul penyesalan dan kebencian. Pikiran kita sangatlah rumit. Sesungguhnya, banyak hal yang bisa diperinci. Intinya, ini tergolong kebencian. Saat batin merasa tidak nyaman, ini tergolong penyesalan. Penyesalan ada akibat tak mampu mendapatkan atau melakukan sesuatu. Karena itu, timbullah penyesalan dan kebencian. Saat keinginan tidak tercapai, batin merasa tidak tenang, bagaikan ada bola besi yang memiliki paku tajam di permukaannya mengenai diri sendiri, tentu sungguh menderita.Pernahkah kalian melihat medium kerasukan atau pertunjukan untuk menyambut roh? Ada yang menusuk dirinya dengan paku atau memukul dirinya dengan bola besi. Cara menyiksa diri dengan benda seperti ini harus segera ditinggalkan. Jika tidak, batin kita juga akan sakit bagai ada bola besi  yang menusuk jantung kita. Akibatnya, kita tidak akan tenang dan akan sangat menderita.

Maksudnya adalah jika memiliki kesalahan, kita hendaknya bertobat dan berubah. Jika kita tidak mau bertobat, yang ada hanyalah penyesalan dan kebencian. Ini adalah penderitaan yang tidak bisa diungkapkan. Jika kita melakukan kesalahan, kita hendaknya bertobat. kita hendaknya bertobat. Pertobatan adalah pemurnian. Pertobatan adalah pemurnian. Jika kita tidak bertobat dan hanya menyesal, maka kita akan menderita. Penyesalan ini akan membawa kebencian. Pertobatan adalah pemurnian. Pertobatan adalah pemurnian. Jadi, kita harus senantiasa membangkitkan hati yang bertobat. Jika memiliki kesalahan, kita harus bertobat dan segera memperbaiki diri. Orang yang memiliki hati yang penuh pertobatan baru memiliki kesempatan untuk berubah. Jadi, jika kita tidak mau berubah dan tetap terus melakukan kesalahan, maka karma buruk akan terus bertambah. Di masa depan, kitalah yang akan menerima buah karmanya.

Jika karma itu belum berbuah pada kehidupan ini, maka ia akan berbuah di masa depan. Karena itu, sering dikatakan, “Segala sesuatu tidak dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti.” Karma yang kita ciptakan pada kehidupan ini, adakalanya belum sempat berbuah, bagaikan utang yang belum lunas. Baik orang lain yang berutang kepada kita maupun kita yang berutang kepada orang, intinya utang itu belum lunas. Karena belum sempat berbuah pada kehidupan ini, karma itu akan berbuah di kemudian hari atau di kehidupan yang akan datang. Jadi, “Karma buruk mengikuti diri, bagai air yang kembali ke lautan.”Air yang kotor pun akan kembali ke lautan. Air tidak pernah hilang. Jika tidak meresap ke dalam tanah, maka ia akan kembali ke lautan. Kita harus segera bertobat dan segera mengembangkan kebajikan. Saat kita bertobat, karma buruk kita bagaikan menyatu ke lautan. Kita harus segera melenyapkan jalinan jodoh buruk masa lalu melenyapkan jalinan jodoh buruk masa lalu dan mengubahnya menjadi jalinan jodoh baik. Perbuatan buruk harus segera dilenyapkan, perbuatan baik harus segera dilaksanakan. Asalkan kita bisa segera memperbaiki diri, karma buruk akan bisa terkikis. Contohnya, saat terserang flu, kita mengonsumsi obat dan meminum air hangat sehingga mengeluarkan keringat. Inilah cara kita mengobati penyakit. Lalu bagaimana cara kita mengikis karma? Cara mengikis karma adalah dengan bertobat dan memperbaiki diri kita. Inilah cara mengikis karma. Orang berkata, “Benar, kita harus serius dalam melatih diri.” “Kita harus mengikis kotoran batin kita, menghapus kekeruhan di hati kita.” Jadi, kita hendaknya tekun dan bersemangat. Kadang kala, kita ingin bersemangat, tetapi juga ingin tidur lebih lama. “Kita harus bangun pagi sekali.” “Melatih diri sungguh sulit.” Apakah setiap pagi kalian merasa seperti itu? Sekitar pukul 3 pagi kita sudah harus bangun tidur. Benar sekali, ini tak dapat kita hindari.

Sebagian orang mungkin merasa menderita. Dalam kehidupan vihara, begitu waktu untuk bangun tiba dan ketukan kayu telah berbunyi, dan ketukan kayu telah berbunyi, kita harus segera bangun dan mencuci muka, lalu segera menuju aula. Suasana ini juga sangat tenang. Suasana pagi hari begitu baik. Langit belum terang, lingkungan sekitar sangat tenang, suara serangga dan kicauan burung pun terdengar, sungguh indah. Ketika duduk di sini setiap pagi, saya memusatkan pikiran pada nafas alam yang tergambar lewat serangga yang berderik dan burung yang berkicau. Kalian hendaknya mengetahui bahwa suasana yang indah ini dapat kita rasakan karena kita bangun pagi. dapat kita rasakan karena kita bangun pagi. Melatih diri adalah hal yang baik.

Namun, pikiran kita sering dikuasai oleh rasa ingin tidur. Jadi, salah satu rintangan dalam pelatihan diri adalah rasa kantuk. Bukan hanya dalam pelatihan diri, sesungguhnya ia juga merupakan penghalang dalam pekerjaan ataupun dalam menuntut ilmu. Intinya, rintangan dalam kehidupan manusia salah satunya adalah rasa ingin tidur ini. Saya sering berkata bahwa tidur adalah kematian sementara dan kematian adalah tidur panjang. Sesungguhnya,  semua orang pernah mengalami kematian singkat. Setiap hari kita mengalami satu kali kematian singkat. Beruntung, kita masih bisa bangun kembali dan memiliki kesempatan untuk berada di sini saat ini. Jika tidur lebih lama, maka saya tidak bisa berbicara dengan kalian. Bukankah tubuh kita ini bagai setumpuk debu dan setumpuk tulang? Jadi, manusia baru disebut benar-benar hidup Jadi, manusia baru disebut benar-benar hidup saat bisa makan dan bisa beraktivitas. Inilah yang disebut hidup. Kehidupan manusia yang lebih berharga adalah jika bisa membawa manfaat bagi orang lain. Inilah kehidupan manusia yang bermakna. Jadi, saat kita bisa bergerak, inilah yang disebut hidup. inilah yang disebut hidup. Saat kita bisa beraktivitas, inilah yang disebut masih hidup. Saat kita sedang tidur, ini adalah kematian sesaat. Kita tidak menyadari kondisi sekitar kita. Jadi, kita harus menggenggam waktu dengan baik. Jangan menghabiskan waktu hanya untuk tidur.

Dikatakan, “Orang yang gemar tidur adalah orang bodoh yang tidak sadar; selalu terbuai dalam kegemaran tidur, tidak bisa mengintrospeksi diri.” Inilah yang Buddha katakan. Jadi, kita harus waspada. Janganlah melewati hari dengan kegelapan batin atau sikap sembrono. Jadi, kita harus selalu menyadari makna kehidupan ini dan mengintrospeksi diri. Jangalah kita menyia-nyiakan kehidupan. Setiap orang harus menghargai tubuh ini agar tubuh ini dapat menjadi sesuatu yang bermakna bagi kehidupan. Jangan melewati kehidupan dengan sia-sia dan penuh kerisauan. Harap semua orang lebih bersungguh hati.

Leave A Comment