Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 231 – Sepuluh Ikatan Bagian 04

Saudara se-Dharma sekalian, suasana saat ini sangatlah tenang. Sebelum masuk ke sini, saya melihat ke luar jendela. Meskipun langit masih gelap, tetapi ada cahaya lampu yang menyinari pohon, sehingga bayangan pohon tampak di atas permukaan tanah. Saya merasa segala sesuatu di bumi bagaikan gambar yang indah, ditambah dengan keindahan dari bayangan pohon yang disinari cahaya. Saya lalu mendongakkan kepala untuk melihat pohon yang tenang. Cahaya lampu yang menyinari pohon memberi kesan tenang. Saat saya berjalan keluar dan bersentuhan langsung dengan alam, kondisi tenang tanpa angin itu tidak dingin dan tidak panas, sungguh indah. Ini sungguh kondisi yang baik dan sesuai. Oleh karena itu, kondisi batin saya saat ini sangatlah tenang. Jadi, saya sering berpikir jika kondisi batin bisa seperti saat ceramah pagi, yaitu momen setelah kebaktian pagi, dan kondisi ini dapat terus kita pertahankan, maka betapa baiknya. Pikiran kita selalu mengembara dan sering kali tidak bisa terfokus. Pikiran selalu berkeliaran, maka kita harus selalu mawas diri. Jangan biarkan batin kita terus bergejolak. Jika batin kita bisa tenang seperti keadaan alam di luar, maka dalam keadaan yang tenang itu, jika kita bersentuhan dengan dunia luar, ia tidak akan banyak bergejolak, hanya bagai angin musim semi yang bertiup ringan. Batin kita akan tetap tenang dan semakin harmonis. Jika bisa seperti itu, segala sesuatu di dunia akan terlihat baik. Jika batin kita dipenuhi ketenangan, maka tekad pelatihan diri dan akar keyakinan kita akan terus tumbuh. Prinsipnya sama dengan alam ini. Jadi, Dharma bagai angin musim semi.

Jika Dharma dapat menetap di hati kita, maka batin kita menjadi bagai alam di musim semi. Segala sesuatu akan tumbuh di musim semi. Jadi, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Jadi, saya sering mengatakan bahwa kegalapan batin bagaikan angin ribut. Kita juga sering melihat kerusakan bumi yang disebabkan oleh angin dan air. Bumi mengalami kerusakan karena keadaan alam yang tidak selaras. Saat bumi mengalami kerusakan, itu bagai manusia yang membangkitkan kegelapan batin. Ketika kegelapan batin timbul, tekad pelatihan diri kita atau batin kita akan rusak akibat kegelapan dan noda batin ini. Melatih diri untuk menyelaraskan batin dan membangkitkan tekad sangat tidak mudah. Namun, begitu kegelapan batin timbul, Namun, begitu kegelapan batin timbul, maka dengan sangat mudah keyakinan kita akan rusak. Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran kita dengan baik. Mungkin kalian masih ingat bahwa saya pernah menceritakan sebuah kisah tentang seorang anak muda yang bajik dan bijaksana yang mulai menginjak usia dewasa. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Pengurus rumah tangganya melihat bahwa sang tuan muda telah beranjak dewasa, lalu bergegas mengeluarkan seluruh kekayaan keluarga untuk memberi tahu bahwa leluhurnya telah meninggalkan banyak harta. Harta peninggalan itu sangat banyak, Harta peninggalan itu sangat banyak, terlebih lagi dia memiliki warisan dari tujuh generasi. terlebih lagi dia memiliki warisan dari tujuh generasi. Dia sendiri berpikir bahwa tujuh generasi leluhurnya telah mewariskan harta dari generasi ke generasi. Akan tetapi, setelah mereka meninggal dunia, apa yang mereka bawa? Sedikit pun tidak mereka bawa. Jadi, dia sendiri berpikir, “Kelak, jika harta ini kembali diwariskan, bukankah saya juga tak akan membawa apa-apa?” bukankah saya juga tak akan membawa apa-apa?” “Saya harus mencari cara agar saya dapat menggunakan harta ini.” Jadi, dia berkata kepada pengurus rumahnya, “Mari, saya ingin menggunakan harta ini.” Untuk apa? Dia mulai memberi pengumuman ke seluruh kota, desa, dan daerah bahwa siapa punĀ  yang sakit dan tidak bisa berobat serta yang kekurangan dan tidak punya makanan boleh datang menemuinya. Tuan muda ini meminta pengurus rumahnya untuk Tuan muda ini meminta pengurus rumahnya untuk mengubah seluruh harta itu menjadi emas mengubah seluruh harta itu menjadi emas dan makanan. Setiap hari, para pembantunya mengangkut banyak makanan dan emas. Saat ada orang yang kekurangan dan membutuhkan sesuatu, seperti obat, makanan, atau uang, tuan muda ini akan memberikannya. Apa pun yang orang butuhkan, dia akan memberikannya. Ini adalah sebuah kisah di dalam Sutra yang pernah kita bahas. Apakah cerita ini hanya sampai di sana? Tidak. Di dalam pikirannya, dia juga telah merasa bahwa tubuh tidaklah bersih. Dia sudah merelakan seluruh hartanya, lalu juga menyadari bahwa tubuh tidaklah bersih. Namun, tubuh adalah sarana melatih diri. Dia ingin melatih diri. Jadi, setelah memahami bahwa tubuh ini akan hancur seiring berlalunya waktu, akan hancur seiring berlalunya waktu, maka dia ingin memanfaatkan waktu mudanya maka dia ingin memanfaatkan waktu mudanya untuk melatih diri. Jadi, dalam proses pelatihan dirinya, berhubung dia sudah tak memiliki apa pun, maka batinnya bebas dari kemelekatan.

Jadi, dengan tidak memiliki apa-apa dan bebas dari kemelekatan, dia memasuki hutan dan mencari tempat yang tenang. Di sana dia mulai menyatu dengan alam dalam jangka waktu yang lama. Dia bertahan hidup dengan memakan buah-buahan dan sayur-sayuran yang dipetiknya. Dia sudah tidak memiliki harta apa pun. Dia pun hanya mengenakan kulit rusa untuk menutupi tubuhnya. Jadi, tanpa memiliki apa-apa dan bebas dari kemelekatan, dia melewati hari-hari dengan damai. Dia berlatih dengan tekun dan penuh semangat. Dia pun berhasil berlatih hingga segala sesuatu di dunia tidak mampu lagi membuat pikirannya bergejolak. Batinnya telah sangat tenang. Kemudian, dia memutuskan untuk berlatih lebih tekun dan menghabiskan waktu tujuh hari untuk merealisasi delapan tingkat meditasi dan lima kekuatan. Delapan tingkat meditasi sangat menakjubkan. Tingkatan pelatihan diri ini sangatlah tinggi. Tidak hanya melampaui alam nafsu, dia juga melampaui alam rupa dan alam tanpa rupa dengan mencapai empat Dhyana alam rupa dan empat alam Dhyana alam tanpa rupa. Jika dijumlahkan, semua Dhyana itu berjumlah delapan. Kondisi batin meditatifnya sangatlah dalam. Jadi, kondisi batinnya telah melampaui alam nafsu. Dia juga mencapai empat tingkat Dhyana rupa Dia juga mencapai empat tingkat Dhyana rupa dan empat tingkat Dhyana tanpa rupa. dan empat tingkat Dhyana tanpa rupa. Ini adalah kondisi batin yang sangat tinggi. Lima kekuatan adalah kekuatan keyakinan, kekuatan semangat, kekuatan perhatian, kekuatan keteguhan pikiran, dan kekuatan kebijaksanaan.

Setiap orang seharusnya masih ingat lima akar dan lima kekuatan. Di dalam 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan, dijabarkan lima akar dan lima kekuatan. Dia sudah merealisasi lima kekuatan. Tentunya, akar harus terlebih dahulu dimiliki sebelum lima kekuatan terealisasi. Dari 37 Faktor ini, mengembangkan kekuatan perhatian sangatlah sulit. Demikianlah cara mendalami ajaran Buddha. Dengan memiliki lima akar dan lima kekuatan, ditambah dengan delapan tingkatan meditasi, sebanyak apa pun rintangan, tidak akan bisa menghalangi kita. Apakah rintangan terbesar? Rintangan terbesar kita adalah Sepuluh Ikatan. Inilah rintangan kita dalam melatih diri. Yang ketujuh adalah kegelisahan. Kegelisahan juga bisa mengikat batin kita, membuat hati kita tidak bisa terbuka, membuat batin tidak tenang. Jika batin tidak bisa tenang dan terus bergejolak, maka keyakinan bisa goyah, konsentrasi terganggu, perhatian pun buyar. Kegelisahan membuat batin kita bergejolak. Jika begitu, bagaimana kita bisa melatih diri? Jadi, kegelisahan adalah rintangan terbesar untuk kemajuan pelatihan diri kita. Bukan hanya bagi para praktisi, bagi manusia pada umumnya pun demikian. Dalam masyarakat, baik dalam menuntut ilmu, menjalankan usaha, maupun menjalankan pekerjaan, jika memiliki kegelisahan dan tidak dapat merasa tenang, kita tak akan dapat menunaikan kewajiban dengan baik. Kita tak akan menjadi pemangku jabatan yang baik dan juga bukan seorang pelaku bisnis yang baik. Ini disebabkan oleh kegelisahan. Batin yang gelisah tidak akan tenang. Batin yang gelisah tidak akan tenang. Pikiran kita mengembara ke mana-mana. Dengan begitu, kita tak akan dapat menyelesaikan hal yang kita mulai. Inilah kegelisahan. Dikatakan bahwa orang yang penuh kegelisahan batinnya selalu bergejolak dan tidak dapat tenang, terus terombang-ambing. Mereka tidak percaya pada diri sendiri. Kepercayaan diri mereka sering goyah. Terhadap orang lain, mereka juga sering merasa ragu atau curiga. Saya sering berkata, “Keyakinan adalah sumber dari segala hasil dan pahala dalam jalan pelatihan yang menumbuhkan seluruh akar kebajikan.” Jika kita tidak yakin pada diri sendiri, berarti kita ragu terhadap kualitas diri sendiri. Apabila seperti itu, maka kita akan merasa rendah diri saat bertemu orang. Kita tidak akan bisa menghadapi orang dan hal. Jadi, tanpa kepercayaan diri, apa pun yang kita lakukan akan sulit berhasil karena kita tidak dapat melepaskan ego. Ini termasuk kesombongan. Dengan adanya rasa rendah diri, timbullah kebencian. Kita harus bisa melepas, barulah batin dapat tenang. Jadi saya sering berkata bahwa kita hendaknya mengecilkan diri hingga sekecil-kecilnya bagai debu.

Dengan begitu, kita baru bisa mengembangkan potensi kita. Jika kita masih menyimpan ego dan tidak memiliki kepercayaan diri, ini adalah penyakit batin. Ego di dalam diri sudah menjadi besar dan tidak bisa dikecilkan. Saat ingin mengecilkan ego, kita malah tidak memiliki kepercayaan diri. Jika begitu, bagaimana bisa mengembangkan potensi? Dengan adanya kegelisahan, kita tidak dapat menenangkan hati, tidak bisa membangkitkan rasa kepercayaan diri dan kepercayaan terhadap orang lain. Saat melakukan sesuatu, baru mulai saja kita sudah tidak percaya diri dan menyerah. Dikatakan, “Dalam sepuluh hal, ada sembilan yang tidak selesai.” Mengapa dalam menjalankan usaha, ada orang yang seperti itu? ada orang yang seperti itu? Karena ada kegelisahan dan tidak percaya diri. Batinnya mudah goyah. Demikian pula dalam melatih diri. Kita ingin mendengar banyak Dharma, merasa Dharma ini sangat bagus, Dharma itu juga sangat bagus. Kita juga ingin mempelajari ini, mempelajari itu. Namun, saat mempelajari sepuluh, ada sembilan yang tidak kita kuasai. Saat mempelajari sepuluh hal, ada sembilan yang tidak berhasil. Ini juga termasuk kegelisahan. Penyakit seperti ini membawa penderitaan di dalam batin, membuat orang tidak bisa berhasil. Semua ini disebabkan oleh kegelisahan. Kita setiap hari duduk di sini. Alangkah baiknya jika batin kita bisa tenang dan sungguh-sungguh mendengarkan Dharma, bukan hanya sepenuh hati mendengarkan, tetapi juga merasakannya. Dengan melakukan ini di awal hari, Dengan melakukan ini di awal hari, maka dalam menghadapi orang dan hal dalam satu hari, kita akan dapat mempertahankan kesegaran. Dalam menghadapi keadaan apa pun, kita hendaknya memiliki kepercayaan diri. Dengan demikian, barulah pelatihan diri kita akan lancar. Jika batin kita tenang, maka bagaimana pun kondisi yang kita hadapi, kita akan dapat menganggapnya bagai angin musim semi yang membantu kita berkembang dalam Dharma. Dengan demikian, inilah yang disebut kekuatan keteguhan pikiran. Jika kita memiliki kegelisahan, batin kita akan bergejolak tanpa henti.

Jadi, jika batin praktisi Buddhis terus bergejolak, maka mereka tidak akan bisa menyerap Dharma. maka mereka tidak akan bisa menyerap Dharma. Dharma didengar dengan telinga kiri dan akan keluar dari telinga kanan. Ketika saya bertanya, “Apakah kalian mendengarkan,” kalian menjawab, “Ya.” Sekarang saya tanya, kalian mendengar dengan satu telinga ataukah dua telinga? Ada orang yang menanggapinya dengan cepat, “Saya mendengarkan dengan dua telinga.” “Ya, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.” “Oh, bukan.” “Kalau begitu saya mendengar dengan satu telinga.” “Oh, berarti hanya paham setengah?” Sesungguhnya, dengan apa kita harus mendengarnya? Dengan hati. Kita harus mendengarkan Dharma dengan hati. Artinya, kita harus mendengar Dharma dengan hati yang tenang dan teguh. Jadi, jangan masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Ini akan membuat kita menderita. Kita akan merasa risau luar dalam. Batin kita tidak akan tenang. Ini adalah penderitaan yang tak terkira. Ikatan kedelapan adalah kelesuan. Kelesuan ini termasuk dalam Sembilan Belenggu dan Sepuluh Ikatan. Kita juga pernah membahas rasa kantuk, yakni rasa ingin selalu berbaring dan tidur serta tidak ingin bangun. Inilah rasa kantuk. Selanjutnya adalah kelesuan. Lesu berarti memiliki kesadaran yang tumpul. Saat sedang duduk, kita ingin tidur, saat berbaring, juga ingin tidur. Kita ingin tidur bukan hanya saat berbaring, tetapi juga saat duduk. Kita ingin tidur bukan hanya saat memejamkan mata. Kita ingin tidur bukan hanya saat memejamkan mata. Sejujurnya, kelesuan adalah kurangnya ketajaman semangat, sering kali menjadi sangat lamban. Saat orang lain mengatakan sesuatu, dia tidak memperhatikannya. Saat orang lain selesai bicara, dia baru berkata, “Apa yang tadi Master katakan?” Orang lain bertanya, “Bukankah tadi kamu duduk sambil mendengarkan?” Dia menjawab, “Saat itu saya tidak tahu sedang memikirkan apa.” Begitulah mereka melewatkan waktu. Ini disebut kelesuan, yakni tidak tanggap terhadap suatu kondisi. Saat menghadapi segala kondisi, gangguan pikiran kita sangat banyak. Pikiran kita banyak berpikir yang bukan-bukan. Namun, saat menghadapi situasi nyata, kita malah sangat sembrono. Inilah kelesuan, yaitu konsentrasi tidak dapat terkumpul dan sangat tumpul. Orang lain langsung paham saat dijelaskan sekali, Orang lain langsung paham saat dijelaskan sekali, tetapi dia harus dijelaskan sepuluh kali. Saat orang yang berkemampuan tajam Saat orang yang berkemampuan tajam mendengar orang mengatakan satu hal, mereka dapat memahami sepuluh hal. Bagi orang yang berkemampuan lebih tumpul, saat orang lain hanya perlu dijelaskan sekali, mereka memerlukan sepuluh kali penjelasan.

Jika memiliki kesabaran, kita mungkin rela saat orang lain belajar satu kali, kita belajar tiga kali. Jika masih belum bisa, kita belajar enam kali. Jika enam kali masih tidak bisa, kita belajar sembilan kali. Ini masih lebih baik. Setidaknya orang seperti ini masih giat. Namun, orang yang lesu tidak memiliki kesabaran. Dia mengganggap, “Yang berlalu biarlah berlalu.” “Jika tidak bisa mempelajarinya, ya sudah.” “Saya belajar yang lain saja.” Ini juga berkaitan dengan kegelisahan tadi. Gelisah berarti batin yang terus bergejolak. Ini membuat pikiran lesu. Orang dengan batin seperti ini cenderung malas. Dia tidak mau mengerahkan kesabaran untuk belajar, mendengarkan, dan memahami. Inilah makhluk awam. Mengapa disebut makhluk awam? Karena kita sering sembrono dan penuh kebingungan. Kita tidak memahami kondisi yang terjadi di sekitar kita, sehingga terus terjerumus. Jadi, kita enggan untuk giat, enggan untuk tekun melatih diri. Ini membuat kita tenggelam dalam lautan penderitaan. Ombak lautan penderitaan sangat tinggi. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus berusaha melepaskan segala kerisauan yang membawa pada lautan penderitaan. Meskipun kita telah melihat begitu banyak hal dan merasakan banyak permasalahan antarmanusia, jika kita dapat menjaga pikiran dengan baik dan dapat menenangkan hati, maka keteguhan pikiran dan kebijaksanaan akan tumbuh. Segala permasalahan dengan sendirinya akan menjadi pelajaran bagi kita. Jika batin kita sangat tenang, maka saat “angin musim semi” berembus, saat masalah datang mendekat, kita akan dapat menghadapinya dengan tenang. Segala permasalahan akan dapat kita jadikan pelajaran untuk menumbuhkan kekuatan. Dengan demikian, kita tidak akan terus tenggelam di dalam lautan penderitaan. Jadi, di dalam Sutra dikatakan, “Pikiran tenggelam dalam kegelapan, tidak mampu memahami segala Dharma, noda batin mengacaukan pikiran, inilah yang disebut lesu akibat noda batin.” Dengan batin yang begitu lesu dan gelap, bagaimana Dharma dapat kita pahami? Tidak mungkin Dengan begitu, seiring kehidupan kita sehari-hari, kita pasti tidak bisa membangkitkan semangat. Dalam pekerjaan, misi, studi, pekerjaan, dll., kita tidak akan dapat berkembang maju. Jadi, kita semua harus menjaga pikiran dengan baik. Baik delapan tingkat meditasi maupun lima kekuatan, haruslah kita kembangkan. Batin kita hendaknya tetap tenang dan hening. Masalah apa pun yang kita hadapi harus kita anggap sebagai pelajaran. Dharma harus kita kembangkan di dalam hati. Inilah yang disebut sedang melatih diri. Jadi, harap semua lebih bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888