Sanubari Teduh – 246 – Enam Belas Pandangan Bagian 02
Saudara se-Dharma sekalian, hari demi hari terus berlalu. Dengan sangat cermat, Dengan sangat cermat, Buddha menjabarkan setiap ajaran-Nya dengan harapan kita bisa mendalaminya dengan sepenuh hati. Kebenaran tidak terlepas dari kehidupan masyarakat. Ia juga tak terlepas dari keseharian saat kita berinteraksi dengan sesama dan menangani suatu masalah. Mungkin kalian berpikir perkataan saya setiap hari tidak jauh berbeda. Tindakan kita setiap hari tidak jauh berbeda. Waktu istirahat dan pekerjaan kita juga sama. Apa pun profesi Apa pun profesi dan tanggung jawab kita, tindakan kita selalu tidak jauh berbeda. Begitulah rutinitas kita sehari-hari
Begitulah rutinitas kita sehari-hari. Orang yang lebih polos selalu pergi dan pulang kerja tepat waktu dan melakukan pekerjaan sesuai jadwal. Mereka bekerja dengan giat. Ini disebut menunaikan kewajiban. Namun, mereka tidak memiliki semangat misi. Saat seseorang memiliki semangat misi, selain menunaikan kewajiban, mereka juga terus maju untuk lebih mendalami bidangnya guna melakukan pengembangan. Mereka berusaha meningkatkan kinerja demi membawa manfaat bagi bidang mereka, membawa manfaat bagi masyarakat, dan membawa manfaat bagi umat manusia. Mereka bekerja untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. taraf hidup masyarakat. Inilah yang disebut semangat misi. Contohnya seorang dokter yang bekerja dengan sungguh-sungguh setiap hari untuk mengobati pasien. Itu hanya bagian dari pelayanan
Saat memberi pelayanan, ada sesuatu yang sangat penting, yaitu mencurahkan perhatian dengan penuh cinta kasih. Inilah dokter yang menjalankan semangat misi. Misi dari seorang dokter adalah mengasihi kehidupan. Selain mengobati penyakit fisik pasien, Selain mengobati penyakit fisik pasien, dokter juga harus memperhatikan kondisi batin pasien. Saat berinteraksi dengan pasien, dokter akan berusaha segenap tenaga untuk memperhatikan kondisi fisik dan batin pasien. untuk memperhatikan kondisi fisik dan batin pasien. Inilah dokter yang memiliki semangat misi. Inilah dokter yang memiliki semangat misi. Begitu pula dengan insan pendidik. Jika hanya berpikir untuk menunaikan kewajiban dan menjalankan tugas sendiri, dan menjalankan tugas sendiri, maka kehidupan kita hanya akan sebatas itu saja. Meski kehidupan begitu juga baik, tetapi ia hanya berlalu dengan datar. Begitu pula dengan praktisi. Terlahir ke dunia ini, setiap orang memiliki keluarga dan profesi masing-masing
Tak peduli apa pun profesi kita, kita tetap harus mengkaji kebenaran dari hidup ini. kebenaran dari hidup ini. Selain kehidupan ini, kita juga harus memahami mengapa kita terlahir ke dunia ini dan mengapa kita hidup di lingkungan ini. Kita harus mengkaji dari mana kehidupan kita berasal dan apa sandaran hidup kita. Untuk itu, kita harus membangun tekad untuk melangkah dari tataran keduniawian ini untuk melangkah dari tataran keduniawian ini hingga memasuki pintu Buddha. Setelah memasuki pintu Buddha, kita harus bersungguh hati, tekun, dan bersemangat. Meski begitu, kegiatan kita setiap hari tetaplah sama, yakni setiap pagi-pagi sekali, kita memasuki aula utama untuk memuja Buddha dengan tulus dan melafalkan Sutra dengan sepenuh hati. dan melafalkan Sutra dengan sepenuh hati. Saat duduk tenang, kita harus menilik ke dalam hati dan bertanya kepada diri sendiri. Inilah kondisi pikiran dan fisik yang sering kita ulas. Sering kali kita melupakan di mana pikiran kita meletakkan pikiran kita
Jadi, seorang praktisi bukan hanya duduk diam tanpa mengeluarkan suara, tetapi membiarkan pikiran berkeliaran ke mana-mana. Kita harus selalu mengendalikan pikiran yang berkeliaran. Kita harus merenungkan mengapa pikiran kita bisa berkeliaran dan ke manakah ia pergi. Dari mana pikiran berasal dan bagaimana cara kita mengendalikannya? Bagaimana cara kita menjaga pikiran agar berfokus dan tidak tercemar? Inilah misi seorang praktisi, juga merupakan kewajiban sebagai praktisi. Jadi, bukan berarti memasuki vihara sudah disebut melatih diri. Saat melatih diri, kita harus memiliki semangat misi. Misi kita bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga menyelamatkan orang lain. Kita harus menyelamatkan jiwa kebijaksanaan kita. Jika kita sendiri tidak membangun jiwa kebijaksanaan yang kokoh, bagaimana kita bisa membangkitkan jiwa kebijaksanaan orang lain? Tujuan Buddha datang ke dunia adalah untuk membuka kegelapan batin dan pandangan sesat semua makhluk. dan pandangan sesat semua makhluk. Untuk itu, Buddha menunjukkan cara kepada kita. Untuk itu, Buddha menunjukkan cara kepada kita
Asalkan bisa menerima cara itu, maka kita bisa mencari sumber dari kegelapan batin. Dalam hubungan antarsesama, mengapa saat melihat seseorang yang tidak disukai, kita langsung menunjukkan sikap tidak suka? Akibatnya, terjadilah interaksi yang kurang baik. Dia tidak puas terhadap kita dan kita juga tidak menyukainya. Ketidakpuasan dan perasaan tidak suka sering kali mendorong kita menciptakan karma buruk lewat ucapan dan tindakan. Karma buruk akibat kegelapan batin dan pandangan sesat bisa membuat kita sangat menderita. bisa membuat kita sangat menderita. Karena itu, Buddha memberi tahu kita bahwa setiap orang memiliki hakikat murni, hanya saja hakikat kita yang murni tertutup oleh kegelapan batin. Banyak orang berkata, “Ada.” “Saya mendengar ceramah setiap hari.” Meski sudah mendengarnya, tetapi apakah kita sudah menemukan akar kegelapan batin? Apakah kita sudah membuka lapisan demi lapisan kegelapan batin yang menutupi? Inilah pelatihan diri yang sesungguhnya
Apakah pelatihan diri kita sudah sampai di sana? Tujuan kita mendalami ajaran Buddha adalah demi membuka kegelapan batin dan menyadari pandangan sesat. Setelah menyadari pandangan sesat, kita harus berusaha untuk berubah. Ilmu kedokteran masa kini menyatakan bahwa ada bagian otak yang bereaksi mengikuti emosi. Dari tampilan gambar yang sederhana, kita bisa mengetahui bagian otak yang mengontrol emosi. Ada orang yang saat melihat sesuatu, langsung bereaksi. Tindakannya itu disebabkan oleh emosi, baik marah maupun senang. Baik senang, marah, sedih, maupun gembira, reaksi terhadap kondisi luar langsung muncul. Saat bersentuhan dengan kondisi luar, Saat bersentuhan dengan kondisi luar, adakalanya kita merasa marah. Saat menyadari kemarahan, kita hendaknya mengendalikan diri dan merenung patutkah kita merasa marah. Patutkah kita menunjukkan sikap marah? Patutkah kita menunjukkan sikap marah? Di dalam otak kita juga ada bagian yang mengontrol hal ini. Saya sering berkata bahwa kita semua memiliki kegelapan batin akar. Makhluk hidup terus membawa kegelapan batin akar dan terus memupuknya dari kehidupan ke kehidupan. Setelah mengetahui hal ini pada kehidupan ini, kita hendaknya mencari akar kegelapan batin. kita hendaknya mencari akar kegelapan batin
Janganlah membiarkan kondisi luar di kehidupan ini membuat kegelapan batin turunan kita bertumbuh. membuat kegelapan batin turunan kita bertumbuh. Kita harus menyadari hal ini. Saat bersentuhan dengan kondisi luar, kegelapan batin akar sering bergejolak akar kegelapan batin sering bergejolak sehingga membuat kita merasa marah. Berhubung sudah melatih diri, kita harus selalu merenung, “Perlukah saya merasa marah?” “Perlukah saya merasa marah?” “Perlukah saya bertindak gegabah atau sesungguhnya tidak perlu?” Inilah hal yang harus kita latih sekarang. Inilah hal yang harus kita latih sekarang. Kegelapan batin diumpamakan bagai sebatang pohon yang cabangnya terus memanjang. Lihatlah tunas pohon Lihatlah tunas pohon yang perlahan-lahan bertumbuh besar. Ia bertumbuh besar karena akarnya menyerap kandungan air dan nutrisi dari bumi. Karena itu, pohon bertumbuh besar secara perlahan-lahan. Selain itu, ia juga menyerap oksigen dan sinar matahari. Baik sinar matahari maupun embun di malam hari, Baik sinar matahari maupun embun di malam hari, semuanya terserap lewat daun dan ranting, semuanya terserap lewat daun dan ranting, lalu tersimpan di dalam batang pohon. Karena itu, batang pohon tumbuh besar perlahan-lahan dan menghasilkan ranting
Saat bersentuhan dengan udara, sinar matahari, uap, embun, dan lain-lain, ranting pohon bisa menyerap nutrisi, lalu menyimpannya di dalam batang. Namun, jika ranting-rantingnya ditebang, maka ia akan lebih sulit menyerap nutrisi dari luar. Meski demikian, akarnya tetap masih hidup. Asalkan akarnya masih hidup Asalkan akarnya masih hidup dan batang pohon masih ada, meski ranting dan daunnya sudah ditebang, ia tetap bisa tumbuh perlahan-lahan. Hanya saja pertumbuhannya akan lebih lambat. Hanya saja pertumbuhannya akan lebih lambat. Sama halnya dengan pelatihan diri kita. Kegelapan batin turunan harus kita buang secara perlahan-lahan. Dengan memotong kegelapan batin turunan, Dengan memotong kegelapan batin turunan, maka pertumbuhan kegelapan batin akar tidak akan begitu cepat. Namun, kita harus mencari akarnya Namun, kita harus mencari akarnya agar noda batin kita bisa dibasmi secara tuntas. Untuk melenyapkan noda batin hingga tuntas bukanlah hal yang mudah
Kita harus memulainya dari kegelapan batin turunan. Saat marah, kita harus mengendalikan diri dan mengingatkan diri untuk mengatakan hal-hal yang seperlunya saja. Ini yang disebut tabiat. Bagaimana cara melenyapkan tabiat buruk? Harus dimulai dari mengendalikan emosi. Harus dimulai dari mengendalikan emosi. Harus dimulai dari mengendalikan emosi. Saudara sekalian, untuk meneladani Buddha, kita harus memiliki semangat pelatihan diri. Kita harus membangun tekad dan ikrar untuk memasuki jalan yang luas dan lapang. Jika kita tak melatih diri, maka jalan ini akan sulit untuk ditapaki. Bukankah ada sebuah ungkapan berbunyi, “Guru membimbing masuk, tetapi pelatihan diri bergantung pada masing-masing murid.” Ini adalah prinsip yang sama. Buddha telah membimbing kita masuk dan membuka jalan ini untuk kita tapaki. Beliau juga memberi penjelasan kepada kita agar kita mengetahui buah dari jalan yang kita pilih
Di dunia ini ada enam alam kehidupan. Enam alam kehidupan meliputi alam surga, manusia, neraka, setan kelaparan, binatang, dan asura. Inilah enam alam kehidupan. Enam alam kehidupan ini ada di dalam pikiran. Kondisi batin bisa menentukan alam kehidupan kita. Lihatlah, dengan penuh kebijaksanaan Buddha menjelaskan kebenaran dari jalan ini kepada kita. Kita hendaknya bersyukur dan membalas budi luhur Buddha. Karena itu, kita harus menjalankan misi dengan baik. Selain memberi manfaat bagi diri sendiri untuk melampaui tataran makhluk awam agar terbebas dari kegelapan batin dan pandangan sesat, kita juga harus membimbing dan memberi manfaat bagi semua makhluk. Ini disebut membalas budi luhur Buddha
Buddha datang ke dunia demi meringankan penderitaan semua makhluk. Karena itu, kita harus memikul misi Buddha. Kita harus menganggap semua orang bagaikan satu keluarga. Sebelumnya kita sudah mengulas yang pertama dari enam belas pandangan, yakni pandangan keakuan. Banyak orang yang hanya mementingkan “aku”. “Aku” menjadi sangat banyak “Aku” menjadi sangat banyak karena jumlah makhluk hidup sangatlah banyak. Selain manusia yang melekat pada keakuan, sesungguhnya binatang juga memiliki keakuan. Lihatlah, di dalam Sutra, selain membahas tentang alam manusia, Buddha juga membahas tentang alam binatang. Binatang juga memiliki semangat pelatihan diri
Di alam binatang juga ada raja yang memimpin. Prinsipnya sama. Kita harus memahami bahwa selain di alam manusia, di alam binatang juga terdapat pemimpin. Di dalam Sutra tentang Rusa Betina terdapat banyak kisah yang sudah kita dengar. Ada kisah tentang raja gajah, raja rusa, raja singa, dan lain-lain. Selain makhluk-makhluk itu, Selain makhluk-makhluk itu, binatang yang kecil seperti semut dan serangga juga memiliki kehidupan. Setiap kehidupan memiliki “aku”. Karena adanya “aku”, maka ada ketamakan Karena adanya “aku”, maka ada ketamakan akan hidup ini. Setelah ketamakan akan hidup terbangkitkan, Setelah ketamakan akan hidup terbangkitkan, maka akan timbul ketamakan akan kebutuhan hidup. Jika demikian, maka kita akan tamak akan persembahan. Ini semua terjadi di semua alam kehidupan. Kini kita akan mengulas tentang pandangan makhluk hidup
Pandangan makhluk hidup adalah pandangan kedua yang muncul dari perpaduan Lima Agregat. Kita semua tahu bahwa Lima Agregat meliputi rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran. Ini semua tak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Perpaduan dari Lima Agregat ini membuat kita menjadi keras kepala dan terjerat kemelekatan. Inilah kegelapan batin. Sifat keras kepala ini merupakan kegelapan batin. Kemelekatan pada pandangan makhluk hidup membuat kita berpikir, “Kamu adalah kamu.” “Saya adalah saya.” Di tengah kehidupan masyarakat saja terdapat perbedaan empat kasta, yakni kasta Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Umat manusia saja sudah memiliki perbedaan empat kasta. Selain itu, menurut kepercayaan di India, orang dari kaum Sudra atau yang disebut kaum budak akan menjadi budak dari kehidupan ke kehidupan. akan menjadi budak dari kehidupan ke kehidupan. Orang dari golongan bangsawan akan hidup sebagai bangsawan dari kehidupan ke kehidupan
Benarkah demikian? Buddha berkata bahwa ini adalah pandangan makhluk hidup. Perbedaan kasta seperti ini tidaklah benar. Perbedaan ini timbul karena kegelapan batin manusia. Ini tidaklah benar. Ini disebut pandangan emosional. Jika terdapat sikap membeda-bedakan antarmanusia, maka secara alami akan timbul pandangan emosional. Sebelumnya kita sudah membahas kisah anak muda dari kasta tinggi dan kasta rendah yang saling memiliki perasaan. Kedua anak muda itu bersikeras menikah tanpa mengindahkan tentangan orang tua. Ini karena perasaan cinta. Ini karena perasaan cinta. Ada pula diskriminasi yang menimbulkan rasa benci. Rasa benci bisa menimbulkan niat untuk melenyapkan kasta tertentu. Sering kali, saat terjalin hubungan antara pria dan perempuan, akan timbul rasa benci dari kasta yang lebih tinggi
Mereka akan memikirkan cara untuk melenyapkan pihak lainnya, baik pria, wanita, kerabatnya, maupun keluarga besarnya. Rasa benci mendorong mereka melakukan tindakan pembunuhan. Inilah pandangan emosional yang penuh kemelekatan. Karena itu, kasta tinggi sering menindas, bahkan membunuh kasta rendah. Mereka berpikir, “Meski melakukan pembunuhan, kelak saya akan tetap terlahir dalam kasta tinggi dan mereka tetap berada di kasta rendah.” Mereka tidak percaya tentang hukum sebab akibat. Asalkan melatih diri, orang dari kaum budak juga bisa terlepas dari kemiskinan dan penderitaan. Jadi, kondisi hidup diciptakan oleh diri sendiri. Kita terlahir ke dunia ini Kita terlahir ke dunia ini dengan membawa benih karma masa lalu. dengan membawa benih karma masa lalu. Karena itu, kita harus menerima buah karma dengan sukarela. Pada kehidupan ini, kita harus perlahan-lahan mengikis noda dan kegelapan batin. Meski ada orang menindas kita, berbuat salah kepada kita, dan memiliki pandangan terhadap kita, asalkan bisa bersabar dan menerimanya, maka kita bisa menghentikan berkembangnya kegelapan batin turunan. Saat bersentuhan dengan kondisi luar, jika kita bisa bersabar, maka kegelapan batin turunan tidak akan berkembang lagi
Kita harus melenyapkannya dan tidak menyimpannya di dalam hati. Janganlah terus berpikir bagaimana sikap orang terhadap kita. Kita jangan menyimpan rasa benci, menyimpan rasa dendam, dan berpikir untuk membalas dendam. Asalkan tidak ada pemikiran seperti itu, secara alami masalah akan selesai dan kegelapan batin akar bisa terlenyapkan. Bagaimana cara melenyapkan kegelapan batin akar? Haruslah dimulai dari menebang kegelapan batin turunan. Saat indra bersentuhan dengan objek luar, kita jangan perhitungan dan terus memikirkannya. Jika terus memikirkannya, maka noda batin kita akan bertambah. Jika demikian, meski sudah bersabar, kegelapan batin tetap belum terlenyapkan. Ia masih terus tersimpan di dalam hati. Suatu hari nanti, mungkin ia akan “meledak” sehingga karma buruk kembali bertambah. Jika karma buruk semakin bertambah, Jika karma buruk semakin bertambah, maka kehidupan kita yang mendatang tidak akan lebih baik. Jadi, saya harap kalian bisa memahami apa yang disebut kegelapan batin akar. Ia adalah pandangan sesat yang menimbulkan sikap membeda-bedakan
Sikap membeda-bedakan akan melahirkan perasaan, yakni perasaan senang, perasaan tidak senang, perasaan cinta, perasaan benci, dan lain-lain. Jika semua perasaan ini terbangkitkan, maka akan membuat kita menderita. Jika kegelapan batin akar Jika kegelapan batin akar terus bertambah besar, maka kita akan sulit mengendalikannya. Karena itu, saya sering berkata kepada kalian bahwa ini adalah salah satu jenis tabiat. bahwa ini adalah salah satu jenis tabiat. Kita harus melatih diri dengan baik. Saat indra kita bersentuhan dengan objek luar, kita harus mengendalikan diri dengan penuh kesabaran dan menganalisis perasaan dengan baik. Janganlah terus menciptakan kegelapan batin. Kita hendaknya bersabar dan berusaha melenyapkan kegelapan batin. Jika tidak, maka kehidupan kita akan sama seperti sebelumnya. Sebagai seorang praktisi, kita harus menganggap pelatihan diri sebagai misi kita
Ini berlaku untuk semua hal. Selain menunaikan kewajiban, kita juga harus menjalankan misi. Artinya, kita harus tekun dan bersemangat. Kita harus tekun dan bersemangat. Setiap hari dan setiap saat, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Saat pikiran mulai berkeliaran, kita harus segera menariknya kembali. Selain mencari tahu mengapa ia berkeliaran, kita juga harus mengendalikannya. Dengan begitu, baru kita bisa terselamatkan
Apakah kalian paham? Inilah yang disebut pandangan makhluk hidup. Ia juga berasal dari pandangan keakuan Ia juga berasal dari pandangan keakuan yang tak terlepas dari Lima Agregat. Jadi, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Asalkan sumbernya terjaga dengan baik, maka kita tidak akan berbuat keliru. Jadi, harap kita semua lebih bersungguh hati.