Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 247 – Enam Belas Pandangan Bagian 03

Saudara se-Dharma sekalian, dunia sangat besar dan makhluk hidup sangat banyak. Sesungguhnya, di dunia yang besar dengan makhluk hidup yang berjumlah banyak, panjang atau singkatnya usia kehidupan, mulia atau rendahnya status sosial, semua itu sangat beragam dan kompleks. Apa sesungguhnya tujuan dan manfaat kehidupan manusia di dunia? kehidupan manusia di dunia? Kita hanya tahu lahir, tua, sakit, dan mati. Saat lahir, orang yang melahirkan bersukacita. Namun, orang yang dilahirkan malah menderita. Siapa yang tidak menangis saat dilahirkan? Pada saat dilahirkan, kita sangat menderita dan sakit. Jadi, kita sering mendengar tentang penderitaan. Kesengsaraan ditambah rasa sakit, jadilah penderitaan. Saat manusia datang ke dunia, yang pertama dirasakan adalah sakit. Berikutnya, berbagai penderitaan mengikuti. Akan tetapi, manusia cenderung terbalik. Jika seseorang tidak memiliki anak, dia akan terus memohon agar bisa memiliki anak untuk meneruskan keturunan. Namun, apa manfaat dari meneruskan keturunan? Namun, apa manfaat dari meneruskan keturunan? Namun, apa manfaat dari meneruskan keturunan? Ini hanya sejenis kemelekatan pada wujud. Begitulah kehidupan. “Jika kita bisa meneruskan garis keturunan, barulah kita disebut bertanggung jawab.” Sepertinya inilah pandangan orang pada umumnya. Namun, dalam kehidupan di dunia, berapa banyak kesulitan, kerisauan, dan penderitaan yang dapat tercipta? Ini pun terjadi karena adanya kehidupan. Jadi, manusia cenderung melekat pada fase lahir, tua, sakit, dan mati. Inilah yang paling dirisaukan semua manusia.

Buddha juga berkata demikian. Kehidupan sebagai manusia sulit didapat. Kita hendaknya memahami tiga alam sengsara. Alam manusia juga tidak terlepas dari kondisi alam neraka, setan kelaparan, dan binatang karena begitu pikiran kita bergejolak, maka akan mudah jatuh dalam kondisi tiga alam sengsara. Jika bukan alam neraka, maka alam setan kelaparan atau alam binatang. Ini semua bergantung pada pikiran kita. Jadi, Buddha berkata, “Makhluk hidup menjerumuskan diri ke tiga alam sengsara.” Makhluk hidup yang diulas di sini adalah mayoritas manusia yang pikirannya bergejolak, tidak memiliki niat baik, dan tidak membangun ikrar luhur. Karena itu, manusia mudah jatuh ke tiga alam sengsara. Namun, terlahir sebagai manusia, juga memiliki banyak kesulitan. Untuk terlahir sebagai manusia saja sudah sulit, terlebih setelah terlahir sebagai manusia, apakah bisa hidup beradab? Sulit untuk terlahir di negeri tengah yang beradab. Yang dimaksud negeri tengah adalah ibu kota negara. Apa keunggulan ibu kota negara? Ia memiliki banyak budaya humanis sehingga kita mudah mendapat pendidikan, mudah mendapatkan ajaran budaya humanis, serta mudah mendengar prinsip kehidupan manusia. Jadi, sulit terlahir di negeri tengah. Maksudnya, sulit untuk terlahir di pusat negara. Terlebih lagi, sebagai manusia, selain sulit untuk terlahir di pusat negara, selain sulit untuk terlahir di pusat negara, selain sulit untuk terlahir di pusat negara, sulit pula untuk memiliki enam indra yang sempurna. Sulit untuk terlahir dengan indra yang sempurna. Untuk memiliki indra yang lengkap dan sempurna, sungguh sangat sulit. Meski indra mata berkondisi baik, tetapi saat melihat sesuatu, pikiran kita memiliki persepsi berbeda. Mengenai indra, objek, dan kondisi, indra kita bersentuhan dengan objek dan kondisi luar sehingga membuat pikiran kita bergejolak. Jadi, timbul rasa senang, marah, sedih, dan bahagia. Ini semua bermula dari enam indra. Jadi, meski enam indra sempurna, mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran sempurna, kita masih terbelenggu perasaan senang, marah, sedih, dan bahagia. Perasaan dan emosi ini timbul akibat fungsi enam indra.

Namun, jika ingin enam indra sempurna Namun, jika ingin enam indra sempurna juga sungguh tidak mudah. Jadi, sulit untuk lahir di negeri yang mengenal Dharma. Untuk lahir di negeri yang memiliki Dharma juga sangat sulit. Selanjutnya, untuk dekat dengan Bodhisattva juga sangat sulit. Untuk dapat bertemu dan meyakini Sutra Buddha juga sangat sulit. Kemudian, untuk menjelaskan Dharma saksama juga sangat sulit. Makna Sutra sangat dalam. Setelah bisa memahaminya, untuk dapat menjelaskannya secara sederhana sehingga orang yang mendengar dapat memahami dan bisa menyelami Sutra yang dalam ini, juga merupakan hal yang sangat sulit. Jadi, Buddha memberi tahu kita bahwa terlahir sebagai manusia, kita hendaknya menghargai dan menghormati tubuh ini. Jangan kita hanya membiarkan tubuh ini menua, sakit, hingga mati. Ini sungguh disayangkan karena sulit untuk terlahir sebagai manusia. Setelah terlahir sebagai manusia, kita berharap dapat terlahir di negara yang beradab. yang beradab. Sulit untuk terlahir di tempat seperti itu. Meski sudah terlahir di negara beradab, jika enam indra kita tidak lengkap atau tidak sempurna, maka juga akan menyulitkan. Jadi, untuk memiliki indra dan pikiran yang sempurna sangatlah sulit. Yang paling sulit adalah terlahir di negara yang memiliki Dharma. Sesungguhnya, di alam semesta ini, di dunia internasional, negara mana yang paling memiliki kebenaran? Sulit dikatakan. Terlebih lagi, kita bisa berada bersama para Bodhisattva, ini lebih sulit lagi. Lebih sulit lagi untuk membangkitkan rasa sukacita ketika bertemu Sutra Buddha. Jadi, sulit untuk bertemu, meyakini, dan mendalami Sutra Buddha. Namun, lebih sulit lagi untuk menjelaskan Sutra secara sederhana.

Jadi, Buddha berkata bahwa jika kita dapat memiliki salah satu dari kondisi yang sulit didapat tadi, kita hendaknya bersukacita, bersyukur, menghargai, dan menggenggamnya dengan baik. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati. Di dalam Enam Belas Pandangan, yang ketiga adalah pandangan tentang jiwa. Pandangan tentang jiwa ini juga berkaitan dengan Lima Agregat. Lima Agregat berkaitan dengan indra dan perasaan yang dapat membangkitkan kekeliruan dalam suatu rentang waktu. Maksudnya, di dalam kehidupan ini, manusia sering memiliki banyak kemelekatan. Kekeliruan ini juga merujuk pada kemelekatan. Banyak orang memiliki rencana hidup. Mereka merencanakan ini dan itu. Setiap orang memiliki rencana masing-masing yang berbeda-beda. Ini menandakan bahwa setiap orang memiliki kemelekatannya masing-masing. Di dalam kehidupan, kita selalu melekat pada perasaan. kita selalu melekat pada perasaan. Karena itu, kemelekatan semakin kuat. Kemelekatan ini berlangsung lama dalam satu rentang waktu. Banyak orang berkata, “Dalam hidup ini, saya ingin melakukan ini, saya ingin mendapatkan hasil itu.” Sebab akibat bukan hanya ada dalam ajaran Buddha. Sesungguhnya, dalam kehidupan masyarakat atau di dalam rencana setiap orang, rencana itu sendiri adalah sebab atau benih. Saat rencana dijalankan, yang pertama diperhatikan adalah hasilnya. Setiap orang bersikap seperti ini. Ini yang disebut ambisi. Semua orang memiliki buah periodik. Saat kita memiliki rencana dalam periode tertentu, maka periode pertama akan memiliki hasil. Setelah periode pertama selesai, ada periode kedua, lalu ketiga. Rencana keberapa pun itu, setiap periode pasti memiliki hasil. setiap periode pasti memiliki hasil.

Namun, dalam kehidupan kita, kita hanya memikirkan kehidupan ini. kita hanya memikirkan kehidupan ini. Kita merasa dalam kehidupan ini kita harus mencapai ini dan itu. kita harus mencapai ini dan itu. Manusia selalu berpikir, “Keinginanku harus tercapai.” Mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan. Inilah yang diperhitungkan manusia dalam rentang kehidupannya. Jadi, mereka tidak peduli panjang pendeknya usia. “Baik panjang maupun pendek, yang penting sekarang saya hidup.” Saat hidup, mereka perhitungan dan terus berambisi terhadap masa depan. Kehidupan seperti ini mendorong kita untuk melakukan kebaikan dan kejahatan. Sedikit yang merenungkan panjang pendeknya kehidupan. Terhadap panjang atau pendeknya usia, relatif lebih sedikit orang yang merenungkannya. Namun, panjang atau singkat, setiap orang tetap berpegang pada kekeliruan. Mereka melekat pada rentang usia. “Ini benar-benar ada.” “Ini adalah saya.” “Selain diri saya di kehidupan ini dan usaha saya saat ini, saya juga ingin meneruskan keturunan.” “Setelah meneruskan keturunan, saya juga ingin mewariskan usaha.” Inilah pandangan orang zaman sekarang. “Apa yang harus saya lakukan di kehidupan ini?” “Saya harus mewariskannya kepada generasi mendatang.” Mereka tidak berpikir bahwa setelah kehidupan ini, ada kehidupan berikutnya. Mereka tidak memikirkan kehidupan mendatang. Mereka hanya berpikir untuk meneruskan keturunan dan beranak cucu. Mereka tidak memikirkan di mana mereka lahir pada kehidupan mendatang. Mereka tidak tahu. Jadi, Buddha mengingatkan kita bahwa semua orang harus waspada terhadap pandangan ini. Jangan perhitungan atas panjang pendeknya usia. Jangan pula melekat pada kenikmatan. Saat masih memiliki nyawa, kita harus segera meningkatkan kesadaran. Buddha mengulas mengenai lima atau enam alam. Selain alam surga dan manusia, masih ada tiga alam sengsara. Hidup sebagai manusia, kita hendaknya merenungkan bahwa segala pilihan yang kita tentukan tidaklah mudah dicapai. Ada banyak kesulitan yang harus dihadapi. Terlebih lagi, sebagai manusia, kita masih memiliki dua puluh kesulitan. Saya pernah membabarkan kepada kalian bahwa terlahir sebagai manusia, kita memiliki dua puluh kesulitan. Kini ditambah lagi dengan kesulitan yang baru kita bahas.

Buddha berkata bahwa sulit terlahir di pusat negara. Sulit untuk terlahir di negara yang beradab. Di negara yang beradab, juga sulit untuk memiliki tubuh sehat dengan enam indra yang sempurna. Pada bulan September 2006, saya melihat sebuah berita. Berita itu sungguh memprihatinkan. Amerika Serikat merupakan negara yang beradab. Di sana ada sepasang anak kembar. Bukan kembar biasa, melainkan kembar siam. Bukan hanya itu, yang menempel adalah bagian belakang kepala mereka. yang menempel adalah bagian belakang kepala mereka. Yang satu lahir dengan kondisi kaki kurang baik. Semakin besar, tubuhnya semakin bungkuk. Jadi, bayi kembar siam ini saling membelakangi. Yang satu bungkuk dan tak dapat berjalan. Dia harus duduk di kursi roda. Ini adalah bawaan sejak lahir. Yang satu duduk di kursi roda, sedangkan yang lain harus mendorongnya. Namun, wajah mereka saling membelakangi. Mengapa kembar siam ini tidak dapat dipisahkan? Ilmu kedokteran di Amerika Serikat begitu maju, tetapi mengapa tidak bisa berbuat banyak? Ini karena tiga puluh persen bagian otak mereka saling menempel. Karena itu, mereka tidak bisa dipisahkan. Mereka hidup berdua hingga kini. Mereka telah berusia 45 tahun. Sejak lahir, mereka tidak bisa saling melihat. mereka tidak bisa saling melihat. Kepala mereka saling membelakangi. Saat salah satu dari mereka ingin melihat wajah saudaranya, dia harus menggunakan cermin yang diletakkan di belakang, lalu dipantulkan lagi ke cermin yang diletakkan di depan. Bayangkan, kehidupan seperti ini sungguh menderita. Terlebih lagi, salah satu dari mereka bungkuk dan sulit bergerak. Karena itu, yang lainnya harus mendorong kursi roda. Dua orang ini memiliki minat dan kebiasaan hidup yang berbeda.

Satu contoh yang sederhana adalah yang satu senang mandi di pagi hari, sedangkan yang lain senang mandi di malam hari. Mereka harus saling menyesuaikan diri. Jadi, yang satu ingin mandi di pagi hari, yang lainnya ingin mandi di malam hari. Jika yang satu ingin mandi, yang satunya harus menemani. Saat yang satu ingin mandi, mereka menggunakan handuk untuk membatasi tubuh mereka agar yang lainnya tidak terkena air. Begitulah. Coba renungkan. Kedua orang itu saling menempel, sedangkan kebiasaan mereka berbeda. Apakah kehidupan seperti ini tidak menderita? Saya teringat di Filipina, kita juga menemukan sepasang kakak beradik berusia sekitar 30 tahun yang saling menempel pada bagian panggul. Kita terus menyarankan untuk dilakukan operasi, tetapi mereka tidak berani. Warga setempat juga menyarankan agar mereka dioperasi, tetapi mereka tidak mau. Kehidupan mereka juga menarik. Saya ingat saya pernah menceritakannya. Ini adalah kasus yang kita tangani. Insan Tzu Chi juga berulang kali menyarankan mereka untuk dioperasi. Namun, mereka tetap tidak berani. Saat yang satu ingin pergi ke kamar kecil, yang lainnya juga harus ikut. Saat yang satu keluar, yang lainnya masuk. Mereka bekerja sama dengan baik, tetapi mereka memiliki minat yang berbeda. Suatu saat, mereka ingin mengendarai motor. Insan Tzu Chi merasa mereka membutuhkan helm. Jadi, relawan mengajak mereka membeli helm. Warna yang mereka pilih saling berbeda. Yang satu ingin warna merah jambu, sedangkan yang lainnya ingin warna biru. Minat mereka juga berbeda, selera pakaian mereka juga berbeda.

Namun, mereka rela hidup seperti itu dan tidak ingin dipisahkan. Ada juga kasus lain di Filipina, yakni sepasang kembar siam berusia sekitar tiga tahun. Jantung dan hati mereka saling menempel. Mereka masih kecil. Setelah menerima kasus ini, kita segera mengadakan rapat bersama para dokter. Kita menunjukkan foto kepada para dokter dan bertanya apakah pemisahan memungkinkan. Para dokter menjawab mungkin. Meski sedikit berbahaya, tetapi pembedahan bisa dijalankan. Namun, mungkin perlu transfusi darah. Berhubung keyakinan mereka mengatakan bahwa mereka tidak boleh menerima darah dari luar, maka mereka tidak diizinkan untuk dioperasi. Meski sudah dibujuk, orang tuanya tetap tidak mau. Kita juga sangat bersungguh hati. Para dokter mengajukan cara lain, yakni saat darah mereka keluar, darah itu akan dimasukkan kembali setelah melewati proses pembersihan. setelah melewati proses pembersihan.

Namun, orang tua mereka berkata bahwa selama darah sudah keluar dari tubuh, ia tak boleh lagi dimasukkan ke dalam tubuh. Jadi, keputusan ada di tangan orang tua si kembar. Jadi, keputusan ada di tangan orang tua si kembar. Keputusan itu didasarkan pada keyakinan yang keliru. Mereka yakin bahwa kedua anak ini tidak bisa hidup lama. Inilah penderitaan. Apakah usia kehidupan mereka panjang? Kalaupun panjang, apa yang dapat dilakukan? Jadi, sulit untuk memiliki enam indra yang sempurna. Kita semua memiliki enam indra yang lengkap. Namun, apakah enam kesadaran kita selalu sehat? Kini banyak orang memiliki kesadaran pikiran yang tidak sehat. Ini juga membawa derita. Intinya, begitu banyak kesulitan dalam kehidupan manusia. Kini, kita semua sehat, tenteram, dan memiliki jalinan jodoh di dalam keyakinan yang sama. Kita semua melatih diri bersama. Bayangkan, ini sungguh tidak mudah. Jadi, kita harus selalu menghargai jalinan jodoh ini. Bukan hanya itu, kita juga harus selalu memiliki rasa syukur, rasa hormat, dan cinta kasih. Kita harus saling menghormati. Usia kehidupan kita di dunia harus kita manfaatkan dengan baik. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888