Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 248 – Enam Belas Pandangan Bagian 04

Saudara se-Dharma sekalian, berkah adalah ketika kita dapat hidup dengan tenteram. Bisa hidup tenteram merupakan sebuah berkah. Bagaimana manusia merasakan sukacita dari berkah? Bagaimana merasakan derita malapetaka? Dua hal ini ada dalam kehidupan. Sukacita berkah dan derita malapetaka ada dalam alam manusia. Di alam manusia, para manusia yang hidup ini bisa saling berinteraksi, bisa saling berselisih, dan saling melukai. Sebenarnya, mengapa demikian? Karena kemelekatan. Demi kelangsungan hidup dan keuntungan pribadi, manusia melekat terhadap keyakinannya ataupun terhadap reputasi dan kedudukan. Dengan demikian, timbullah sikap mementingkan diri sendiri. Akibatnya, manusia saling bertikai dan saling melukai. Inilah manusia. Ada makhluk bernyawa, maka akan banyak bencana. Jadi, Buddha memberi tahu kita bahwa yang keempat dari Enam Belas Pandangan adalah yang keempat dari Enam Belas Pandangan adalah pandangan tentang yang bernyawa. Mengenai nyawa, saya hidup, berarti saya memiliki nyawa. Anda hidup, berarti Anda memiliki nyawa. Dia hidup, berarti dia memiliki nyawa. Dengan begitu, manusia berpandangan salah. Mereka menganggap ada “aku”. Mereka berpandangan salah tentang nyawa dan indra. Nyawa terletak pada lima agregat, yakni rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, kesadaran. Kita berkutat dengan ini dalam keseharian.

Mengenai nyawa dan indra, indra yang dimaksud adalah enam indra. Dengan adanya nyawa, lima agregat mengaktifkan enam indra. Dengan demikian, manusia bersikeras pada kemelekatannya sendiri. Mereka menolak orang yang tidak sejalan. “Jika tidak akrab dengan saya, tidak sependapat dengan saya, tidak berdiri di pihak saya, maka akan saya singkirkan.” Diskriminasi seperti ini membuat orang saling melukai. Jika sesama manusia bisa seperti ini, maka apalagi terhadap makhluk lain selain manusia, terutama hewan. Akibat kemelekatan yang dimiliki, manusia pun memanfaatkan hewan seakan merekalah yang paling berkuasa. Manusia memakan dan memanfaatkan hewan. Lihatlah, kerbau dan kuda bekerja keras demi manusia. Dalam bidang pertanian zaman dahulu, jika kerbau lambat menarik bajak, maka akan dicambuk. Jika kuda berjalan lambat, orang yang menungganginya juga akan mencambuknya. Perlakukan seperti ini juga sangat buruk. Manusia menganggap bahwa semua hewan dapat dimanfaatkan oleh manusia. Bahkan, demi memenuhi nafsu makan, manusia memakan segala jenis hewan. Mereka tak penah menghitung berapa banyak hewan yang telah dikorbankan. Mereka hanya tahu bahwa mereka adalah manusia, mereka hidup, mereka bernyawa, dan memiliki perasaan.

Dalam hubungan antarmanusia, mereka kadang tidak berpikir bahwa orang lain juga hidup, juga memiliki nyawa, dan juga memiliki perasaan. Manusia kadang tidak memiliki empati, hanya memikirkan diri sendiri. Jika dalam hubungan antarmanusia saja tidak ada empati, maka terlebih lagi terhadap hewan. Manusia tidak akan menghargai hewan, maka memakan dan memanfaatkan mereka. Manusia juga membunuh dan menindas hewan. Banyak orang yang hanya memikirkan diri sendiri. Manusia hanya berpikir untuk membuat diri sendiri senang. Lihat, manusia memelihara ayam untuk disabung. Mereka membiarkan ayam saling berkelahi dan menggigit. Ayam saling menggigit hingga bulu-bulu mereka rontok. Ini membuat orang senang. Begitu pula dengan adu banteng. Manusia sengaja menggunakan pakaian merah untuk merangsang banteng agar marah. Manusia juga memanahnya. Mengapa demikian? Karena itu membuat manusia senang. “Saya senang.” “Perasaan saya sangat gembira.” Mereka tidak merasa sayang pada makhluk lain. Ini semua menciptakan karma buruk. Manusia tidak sadar bahwa nyawa makhluk lain juga berharga. Tentu, nyawa siapa yang tidak berharga? Kita sering mengimbau untuk menghormati kehidupan. Tidak hanya menghargai kehidupan manusia, tetapi juga menghormati kehidupan hewan. Adakalanya hewan juga lebih pintar dari manusia. Walau bentuk tubuh mereka berbeda dengan manusia, tetapi kebijaksanaan mereka bisa melebihi manusia.

Selain itu, kesetiaan mereka juga sangat tinggi, sangat menggemaskan. Di dalam Sutra Buddha banyak dikisahkan hewan yang bijaksana. Kini saya akan membahas tentang sebuah berita mengenai seorang perempuan muda mengenai seorang perempuan muda di Inggris. Awalnya dia memiliki keluarga yang bahagia dengan seorang suami dan sepasang putra putri. Dia sendiri adalah seorang ibu rumah yang tangga yang baik. Suaminya bekerja dan anaknya pergi bersekolah, sungguh merupakah keluarga yang bahagia. Namun, 10 tahun yang lalu terjadi sebuah tragedi. Dia mengidap penyakit sklerosis ganda yang membuat sekujur tubuhnya kaku dan kehilangan fungsi gerak. Keluarga yang mulanya bagai alam dewa hancur dalam sekejap. Keluarga ini telah kehilangan sosok ibu rumah tangga. Bagaimana keluarga ini dapat bertahan? Anaknya masih kecil, suaminya bekerja. Mereka harus bagaimana? Beruntung, ada sebuah organisasi yang membantu orang yang berketerbatasan fisik. Organisasi ini biasanya melatih hewan, seperti anjing, dll. untuk membantu manusia. Mereka mengerti bahwa keluarga ini harus dipertahankan kebahagiaannya. Namun, penyakit si ibu tidak bisa disembuhkan. Meski ilmu kedokteran di Inggris sangat maju, tetapi penyakit seperti itu belum bisa disembuhkan. Jadi, orang yang berketerbatasan gerak diberikan seekor anjing oleh organisasi ini. Anjing ini juga diberi nama. Ia berasal dari jenis Labrador. Anjing jenis ini sangat pintar. Jadi, ia datang ke keluarga ini dan mulai mengubah nasib keluarga ibu rumah tangga ini. Anjing ini sangat pintar, ia dapat menggantikan majikannya melakukan banyak hal. Ia membantu banyak dalam kehidupan ibu ini, seperti membantunya duduk di kursi roda, mencuci pakaian suami dan anaknya yang kotor. mencuci pakaian suami dan anaknya yang kotor. Majikannya duduk di kursi roda, sehingga tidak bisa mencuci baju, tidak bisa bergerak. Anjing ini bisa membantu majikannya. Ia bisa memasukkan helai demi helai pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Setelah itu, ia juga bisa menekan tombolnya agar mesin cuci menyala. Jika baju telah selesai dicuci, mesin cuci akan berhenti secara otomatis, dan baju pun sudah hampir kering. Anjing ini juga bisa membuka kembali mesin cuci, lalu mengeluarkan helai demi helai baju dari dalam. Kemudian, ia menjemurnya di bawah terik matahari agar bisa kering. Setelah itu, ia juga bisa mengangkat pakaian kering.

Setelah itu, ia bisa melipatnya satu per satu dengan sangat rapi. Bahkan jika ada orang datang menekan bel pintu, ia juga bisa segera membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. Jika sang majikan merasa haus, ia dapat membawakan segelas air. Ia juga bisa membawa cangkir. Dengan demikian, ia membuat hidup sang majikan tidak kekurangan apa pun. Seluruh tugas sang majikan dapat digantikan oleh anjing ini. Ia melayani majikannya dengan baik, bahkan bisa mendorong kursi roda dan menemani sang majikan keluar agar terkena sinar matahari atau untuk bersosialisasi. Dengan adanya anjing ini, maka kehidupan orang ini tidak ada kekurangan apa pun. Ibu ini bertambah satu teman. Anjingnya adalah teman yang paling setia. Ia dapat menemaninya, dapat menggantikannya melakukan banyak hal. Seekor anjing Labrador ini adalah penolong dalam hidupnya. Lihatlah, hewan juga bisa menjadi penolong hidup manusia. Tanpa anjing yang membantunya, dia pasti kesulitan karena seorang penderita sklerosis ganda tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya, mungkin berbicara juga semakin sulit. Jika begitu, suaminya tidak bisa bekerja. Keluarga ini akan kehilangan tumpuan. Belum lagi anaknya yang masih kecil. Intinya, manusia hendaknya senantiasa menghargai kehidupan. Buddha juga mengajarkan kepada kita seperti itu. Suatu kehidupan bukan dinilai dari kemampuan bernapas, bisa bersenang-senang, bisa makan dan minum. Bukan ini yang disebut hidup. Kehidupan yang sesungguhnya adalah bersumbangsih bagi orang lain. Banyak penderitaan di dunia ini. Jika kita mampu menolong orang yang menderita, inilah nilai kehidupan. Manusia umunya bukanhanya tidak membantu orang yang menderita, tetapi juga melukai mereka. Lihatlah kejamnya bencana akibat ulah manusia. Setelah bencana alam alam, orang-orang bisa pulih kembali, membangun kembali rumah, dan dapat melewati hari dengan tenteram. Meski dunia mengalami pergantian musim, meski adakalanya turun salju lebat atau terjadi panas terik, tetapi juga adakalanya bertiup angin musim semi sehingga setiap orang bisa menggunakan hidupnya di dunia yang alami ini untuk saling membantu. Kehidupan seperti ini sangatlah mengagumkan. Bencana alam mudah dilalui, tetapi kerusakan akibat ulah manusia sulit dipulihkan. Semua ini bermula dari pikiran manusia. Jadi, Buddha membimbing kita dengan harapan agar setiap orang dapat menghargai dan memanfaatkan hidup ini. Buddha mengajarkan kita cara untuk mengikis noda batin kita, melenyapkan niat buruk, dan mengembangkan niat baik yang pada hakikatnya sudah kita miliki agar kita semua dapat mengubah kejahatan menjadi kebaikan. Inilah ajaran Buddha kepada kita. Terhadap kehidupan dan nyawa, kita hendaknya memiliki misi. Misi kita adalah memikul misi Buddha, yakni menyebarkan ajaran Buddha dan kebijaksanaan Buddha.

Kita harus senantiasa membimbing makhluk hidup menuju jalan yang penuh cahaya kebijaksanaan. Inilah misi kita. Jadi, kita harus memanfaatkan tubuh manusia ini. Kita telah membahas bahwa sulit terlahir sebagai manusia, sulit untuk terlahir di pusat negeri, dan sulit untuk berada dekat dengan Bodhisattva. Kini kita memiliki organisasi Bodhisattva dunia yang besar. Kita harus menghargainya. Setiap orang adalah Bodhisattva hidup. Karena itu, kita harus mengembangkan rasa hormat dan menghormati semua orang sebagai Bodhisattva. Tentu, kita sendiri berhati Bodhisattva dan membangun ikrar Bodhisattva. Kita harus lebih giat mengembangkan praktik Bodhisattva, memanfaatkan nyawa lingkungan, dan hubungan antarsesama untuk melatih diri. Inilah yang harus kita genggam dengan baik. Jadi, kita harus tahu bahwa kita memiliki kesadaran, tahu bahwa diri sendiri juga memiliki perasaan. Saat melihat sesuatu, kita tidak senang. Saat mendengar sesuatu, kita juga bisa marah. Kita hendaknya memaklumi orang. Mereka mungkin juga tidak senang terhadap kita, mereka juga bisa marah terhadap ucapan kita. Inilah empati, perasaan senasib dan sepenanggungan. Jadi, kita harus bersumbangsih ke luar dengan cinta kasih yang tidak membedakan. Dengan begini, kita membangun kehidupan. Meski orang lain tidak punya hubungan darah dengan kita, kita tetap berharap mereka bahagia. Inilah cinta kasih yang tidak membedakan. Cinta kasih berarti menanam berkah. Ke dalam diri, kita harus mengembangkan welas asih. Kita harus membangun welas asih di dalam diri kita. Terhadap orang yang memiliki hubungan dengan kita, kita harus lebih memberi perhatian. Kita harus saling mengasihi, harmonis, dan bersatu hati. Jadi, ke dalam diri, kita harus mengembangkan welas asih. Dengan demikian, rasa empati kita akan menciptakan keharmonisan. Dengan begitu, segala prasangka tidak akan ada lagi. Jadi, cinta kasih adalah menciptakan berkah, sedangkan welas asih adalah memaklumi, memaklumi perasaan orang, perasaan diri sendiri, kesedihan orang lain, dan kesedihan diri sendiri. Kebahagiaan orang lain merupakan kebahagiaan kita. Kita harus memiliki empati dalam berinteraksi. Dengan begitu, bukankah hidup akan bahagia? Saudara sekalian, kehidupan harus digenggam dengan baik, harus digunakan untuk yang bermanfaat, dan berguna bagi banyak orang. Dengan demikian, kehidupan ini barulah berharga. Tidak hanya manusia, hewan pun sama. Harap setiap orang lebih bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888