Sanubari Teduh – 249– Enam Belas Pandangan Bagian 05
Saudara se-Dharma sekalian, sebenarnya berapa panjang kehidupan manusia? Sesungguhnya, kehidupan tidaklah kekal. Selain itu, proses metabolisme terus berlangsung. Hari kemarin telah berlalu, hari ini kita bagai dilahirkan kembali. Di dalam tubuh kita selalu terjadi proses kematian dan kelahiran sel. Kapan kita memiliki kehidupan yang kekal? Jadi, kita harus menggenggam waktu yang ada. Kita harus selalu mengamati pikiran kita. Kehidupan tidaklah lama. Satu-satunya yang harus kita capai adalah moralitas. Kita berlatih dengan harapan lewat semangat kita, kita dapat memupuk kualitas bajik. Kualitas ini dipupuk dalam keseharian. Bukankah kita sering membahas tentang “gong de” (pahala)? Tanpa “gong”, maka tidak akan mencapai “de”. Jadi, kita harus senantiasa lebih tekun. “Gong” adalah sikap rendah hati di dalam diri. “De” adalah tata krama yang terwujud keluar. Melatih diri berarti melatih ke dalam diri. Jika batin tidak bergejolak, tidak membangkitkan niat buruk, tidak ditutupi oleh kegelapan batin, maka kita akan mendapatkan kedamaian Nirvana. Nirvana adalah kondisi yang hening dan jernih. Nirvana adalah kondisi yang hening dan jernih. Jadi, jika bisa demikian, maka inilah yang disebut kehidupan abadi atau disebut jiwa kebijaksanaan. Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha berarti harus melihat ke dalam diri. Apakah pikiran kita bergejolak? Apakah dalam pikiran kita selalu timbul kegelapan batin? Jika ada, kita harus segera melatih ke dalam diri. Ini akan bermanfaat saat kita menghadapi orang dan masalah. Inilah “de” yang harus kita kembangkan. Kehidupan sungguh sangat singkat. Karena itu, kita harus selalu menghargai setiap waktu saat kita masih hidup. Kita sering membahas kelahiran kembali. Kita sering membahas kelahiran kembali. Kelahiran dan kematian terus berlangsung tanpa batas waktu. Buddha mengajarkan kepada kita bahwa selama kita masih hidup, kita harus sungguh-sungguh memupuk kebajikan. Yang kelima dari Enam Belas pandangan adalah pandangan tentang yang dilahirkan. Artinya, setelah dilahirkan, kita selalu membahas kelahiran dan kematian.
Sesungguhnya, di antara lahir dan mati ada kehidupan. Inilah yang harus benar-benar kita perhatikan. Saat lahir, kita tidak tahu masa depan kita. Kita juga tidak tahu dari mana kita lahir. Semua ini berada di luar kendali kita. Dengan orang tua mana kita berjodoh, maka kita akan lahir di keluarga mereka. Kelahiran terjadi dalam sekejap. Fase berikutnya adalah kehidupan. Setelah lahir, maka kita harus hidup. Jadi, waktu dalam hidup inilah yang penting. Kehidupan tak lepas dari lima agregat. Dalam keseharian, indra selalu bersentuhan dengan objek. Karena itu, kita mulai perhitungan. Saat menghadapi masalah hari ini, kita memikirkan hari esok dan banyak hal di masa depan yang belum pasti. Pikiran keliru terus timbul. Selain itu, kita juga perhitungan dengan masa lalu. “Kamu dahulu pernah begini terhadap saya.” “Orang yang baik terhadap saya, akan saya perlakukan lebih baik.” Bahkan ada orang yang meski orang lain baik terhadapnya, dia dengan cepat melupakannya. Kasus air susu dibalas air tuba seperti ini juga banyak. Ini semua ada di dalam kehidupan. Manusia hendaknya saling mempelakukan dengan baik, saling bersyukur, dan saling membalas budi. Hendaknya ini bisa kita lakukan dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan. Bukankah saling membalas budi seperti ini merupakan hal baik?
Namun, hanya segelintir orang yang berpikir begini. Kebanyakan orang malah membalas air susu dengan air tuba. Artinya, di dalam hidup kita, jika orang memperlakukan kita dengan baik, kita akan segera melupakan kebaikannya. Apalagi kebaikan orang pada kehidupan lampau, tentu lebih sulit kita ingat. Akibatnya, manusia terus menciptakan karma buruk dan tidak memupuk kualitas bajik. Apa yang disebut memupuk kualitas bajik? Kita tadi mengulas tentang balas budi. “Saya membalas budi Anda, Anda membalas budi saya.” Dalam interaksi ini, kebaikan saling terakumulasi dan saling memupuk. Ini yang disebut menjalin jodoh baik. Jika setiap orang dapat terus memupuk jalinan jodoh baik, maka kehidupan kita akan berkualitas. Jika kualitas tinggi kehidupan manusia terus terakumulasi, ini juga merupakan pemupukan kualitas bajik, jodoh baik, dan benih baik. jodoh baik, dan benih baik.
Namun, sayangnya manusia memiliki pemikiran menyimpang. Dengan pemikiran ini, budi bisa berubah menjadi dendam. Seseorang mungkin sebelumnya baik terhadap kita, tetapi adakalanya saat terjadi gesekan dalam hidup, kita mudah melekat pada keakuan. “Tak peduli bagaimana sikapmu terhadap saya dahulu, yang pasti kini kamu tidak baik pada saya.” Dengan begitu, timbullah pertikaian. Inilah pandangan tentang yang dilahirkan. Demi kelangsungan hidup, manusia saling bertikai. manusia saling bertikai. Ini akibat kekeraskepalaan dan sikap perhitungan manusia. Inilah yang disebut pandangan tentang yang dilahirkan. Dikatakan, “Berpikir tentang diri yang datang ke alam manusia karena dilahirkan.” Manusia berhitungan mengapa mereka dilahirkan. “Mengapa saya harus lahir dalam kondisi ini?” “Mengapa orang tua saya seperti itu?” “Setelah orang tua melahirkan saya, mengapa mereka membesarkan saya dengan kondisi seperti ini?” Mereka membandingkan diri dengan orang lain. Mereka membandingkan diri dengan orang lain. Mereka terus mengeluh dan selalu tidak puas. Ini yang disebut pandangan tentang yang dilahirkan. Maksudnya adalah terhadap kehidupan kita saat ini, kita selalu merasa tidak puas dan terus mengeluh. Kegelapan batin kita pun terus bangkit. Jadi, kita hendaknya selalu bersyukur.
Jika kita dilahirkan oleh orang tua yang kurang mampu, untuk merawat kita, mereka lebih kesulitan dibandingkan dengan orang tua berada. Orang berada bisa mempekerjakan pengasuh untuk merawat anaknya. Jadi, orang berada tidak terlalu sulit untuk membesarkan dan merawat anak. Namun, orang tua yang kurang mampu pasti kesulitan saat anaknya lahir, terlebih untuk membesarkannya. Terlahir dalam keluarga yang kekurangan, kita harus lebih bersyukur dan berterima kasih atas jerih payah orang tua. Namun, manusia pada umumnya tak berpikir demikian. Mereka terus bersikeras dan berkata, “Mengapa saya lahir di keluarga miskin?” “Mengapa saya berada di lingkungan seperti ini?” Jika terus mengeluh seperti itu, manusia akan sangat menderita. Kekayaan yang sesungguhnya bukan diukur dari segi materi, juga bukan dari kondisi tempat tinggal. Kekayaan yang sesungguhnya ada di dalam pikiran kita. Kaya atau miskin bergantung pada diri sendiri. Saya sering membahas orang yang kaya materi, tetapi miskin hatinya. Meski seseorang terlahir di keluarga kaya, tetapi dia tidak berpuas hati. Dengan begitu, meski berada di lingkungan yang kaya, dia tidak ada bedanya dengan orang miskin. Saya ingat belum lama ini saya pernah bercerita tentang program acara tukar peran di Tiongkok. Anak keluarga kurang mampu diminta tinggal bersama keluarga berada, sedangkan anak keluarga berada itu harus tinggal bersama keluarga kurang mampu. Kedua anak remaja ini hidup dalam kondisi yang sama sekali berbeda daripada biasanya. Saat anak keluarga berada tinggal bersama keluarga kurang mampu, dia baru sadar ada orang yang hidup begitu sulit. Di dalam keluarga kurang mampu ini, dia harus menimba air saat ingin minum. Menimba air sangatlah sulit. Untuk memasak, dia harus mencari kayu bakar. Mencari dan memotong kayu sangat sulit. Kondisi keluarga ini sangat memprihatinkan dan sulit. Dia bersyukur kepada orang tuanya yang telah memberikan kehidupan baik baginya. Setelah pulang, dia ingin segera berterima kasih kepada orang tuanya. Namun, bagi keluarga kurang mampu, Namun, bagi keluarga kurang mampu, tidak mudah untuk membesarkan anak. Kehidupan seperti itu membuat anak orang berada itu sadar.
Jadi, saat akan meninggalkan rumah keluarga itu, anak orang berada tadi bersujud dan berterima kasih kepada si empunya rumah yang telah menjadi orang tuanya selama 7 hari karena telah membuatnya sadar. Bagaimana dengan anak keluarga kurang mampu yang tinggal di rumah keluarga berada? Saat tinggal di sana, dia selalu naik mobil saat keluar rumah. Selain itu, dia juga memiliki telepon seluler. Saat ingin meminta orang melakukan sesuatu, dia cukup memanggilnya dengan telepon itu. Di dalam keseharian, dia bisa minum teh kapan pun. Pelayan akan datang begitu dia memintanya. Kehidupan seperti ini sangat nikmat. Dia teringat orang tuanya yang hidup sulit. Dia pun membangkitkan semangat juang. “Kelak, saya juga harus memiliki kehidupan seperti ini.” “Saya harus giat belajar sepulangnya dari sini dan harus berbakti kepada orang tua saya.” “Suatu saat, saya juga akan membuat orang tua saya memiliki kehidupan yang nyaman.” Ini juga merupakan bentuk pendidikan. Apa itu miskin? Apa itu kaya? Di dalam lingkungan seperti apa pun, apakah keluarga yang kekurangan akan miskin selamanya? Tidak benar. Saat anak orang berada tadi tinggal di rumahnya yang mewah, tinggal di rumahnya yang mewah, dia tidak merasa bahwa dirinya bernasib baik. Hal yang dia keluhkan sangat banyak, hal yang membuatnya tidak puas sangat banyak. Jadi, dia miskin meski kaya materi. Saat anak keluarga kurang mampu datang ke keluarga berada, dia mendapat pengetahuan dan berpikir, “Saya tidak akan miskin seumur hidup.” “Saya bertekad untuk tekun belajar, saya harus berjuang.” “Suatu hari nanti, saya juga bisa seperti keluarga kaya ini.” miskin atau kaya bergantung pada pikiran kita. Jadi, di dalam Sutra Bunga Teratai ada suatu bab perumpamaan tentang anak miskin. Kalian semua seharusnya sering membacanya. Kita semua tahu kisah ini. Anak ini mulanya tinggal dalam keluarga berada. Namun, dia kehilangan arah dan pergi dari rumah sehingga harus hidup sulit. Dia melewati kehidupan yang sulit. Namun, dia tidak sadar bahwa sesungguhnya dirinya adalah anak orang kaya. Ayahnya terus mencarinya, tetapi dia tidak tahu. Suatu hari, dia bertemu ayahnya di depan rumahnya yang penuh dengan harta, tetapi dia juga masih belum sadar. Ini adalah perumpamaan dalam Sutra Bunga Teratai. Sesungguhnya, lewat perumpamaan ini, Buddha mengajarkan kepada kita bahwa meski anak ini terlantar di luar, tetapi ayahnya sungguh-sungguh terus meminta orang untuk mencarinya. terus meminta orang untuk mencarinya. Demi mendekati anaknya, sang ayah menanggalkan pakaian mewahnya dan menggantinya dengan pakaian kotor. Dia mengenakan pakaian kotor agar bisa mendekati anaknya. Dia bekerja bersama anaknya. Dia bekerja bersama anaknya.
Dengan cara ini, sang ayah perlahan-lahan ingin memberi tahu anaknya bahwa dia juga adalah orang kaya. Perumpamaan ini menggambarkan Buddha yang berusaha membimbing semua makhluk. Beliau datang ke Dunia Saha dan menjadi sama dengan makhluk awam. Setelah lahir di dunia, barulah Beliau menyelami kebenaran dunia. Jadi, Beliau memanifestasikan pencapaian kebuddhaan. Sama dengan manusia pada umumnya, Beliau menjalani tahap-tahap kehidupan dan meninggalkan banyak kisah. Beliau pun harus belajar dan berusaha memahami kebenaran. Jadi, di India, Beliau berguru kepada banyak brahmana. Namun, Beliau merasa ada yang belum sempurna. Sesungguhnya, Beliau sudah mencapai kebuddhaan, hanya saja Beliau datang bermanifestasi dan harus melewati tahapan hidup seperti kita. Beliau pernah berguru kepada banyak guru, tetapi belum memperoleh kebenaran mutlak, maka Beliau meninggalkan semua ajaran itu. Setelah itu, dengan kemampuan pikiran-Nya sendiri, Beliau menyatu dengan kebenaran alam semesta. Setelah itu, Beliau kembali membuktikan kebenaran itu dan membabarkannya kepada semua makhluk. dan membabarkannya kepada semua makhluk. Inilah yang disebut manifestasi, yakni menampakkan wujud yang sama dengan kita makhluk awam, dimulai dari kelahiran. Beliau lahir pada kondisi zaman-Nya dan merasakan perbedaan empat kasta. Demi mewujudkan kesetaraan dan memahami kebenaran sejati, Beliau meninggalkan keduniawian. Melalui proses pencarian yang panjang, Beliau akhirnya dapat menyatukan diri-Nya dengan alam semesta. Beliau lalu mengajarkan kebenaran kepada semua makhluk. Namun, banyak orang yang meski telah menerima ajaran, tetapi tetap tidak bertekad untuk ikut menapaki jalan menuju kebuddhaan.
Mereka hanya tahu kehidupan tidak kekal, semu, dan sementara. Mereka tahu bahwa tubuh bersifat semu dan kehidupan tidaklah kekal. Namun, mereka tidak tahu cara memupuk kualitas luhur dan cara melatih diri. Di mana kualitas luhur dipupuk? Di tengah masyarakat, bukan di dalam praktik penyepian. Mereka yang berlatih dengan menutup diri hanya mencari pencapaian pribadi. Meski sudah tahu kebenaran ini, mereka tetap menutup diri. Mereka tahu bahwa manusia harus segera berlatih, tahu bahwa tubuh bersifat semu, tahu bahwa kehidupan tidak kekal, tahu bahwa pelatihan diri tidak dapat ditunda, tetapi mereka hanya mementingkan diri sendiri. Mereka tidak mengerti pentingnya menapaki jalan menuju kebuddhaan. Akibatnya, mereka tidak dapat menyelami prinsip Mahayana. Mereka berhenti pada pencapaian pribadi. Mereka tidak mengembangkan kebajikan luhur Mahayana. Inilah makna perumpamaan tadi. Seperti orang tua yang mencari anak tadi, demi mendekati orang dengan mental Hinayana, Buddha harus menanggalkan “pakaian agung” dan menjadi sama dengan mereka. Sesungguhnya pakaian agung ini menggambarkan kualitas luhur Mahayana. Pelatihan dan keharuman kualitas luhur dapat mengharumkan segalanya. Kita harus membangkitkan keagungan dan keharuman kualitas luhur? Keharuman menggambarkan keagungan.
Jadi, praktisi Hinayana tidak memiliki keagungan kualitas luhur Mahayana. Seperti anak tadi, dia kekurangan pakaian, makanan, dan kebijaksanaan. Kita harus berusaha membangkitkan keagungan dengan mengembangkan kebijaksanaan. Saya sering berkata, “Tanpa melewati masalah, kebijaksanaan tak akan bertumbuh.” Jika kita takut menghadapi masalah dan hanya menutup diri, maka meski telah memasuki ajaran Buddha, kita bagaikan anak miskin tadi. Jadi, kita harus memupuk kebijaksanaan. Kita harus berani terjun ke dalam masyarakat untuk menjalin jodoh baik dengan semua makhluk. Untuk menjalin jodoh baik dengan semua makhluk, kita harus selalu bersyukur. Rasa syukur ini sangat penting. Sulit untuk terlahir sebagai manusia. Setelah terlahir sebagai manusia, dalam kehidupan ini, sesungguhnya berapa panjang usia kita? Kita tidak tahu. Jadi, kita harus menggenggam kehidupan ini dengan baik. Kita harus selalu bersungguh hati.