Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 250– Enam Belas Pandangan Bagian 06

Saudara se-Dharma sekalian, praktisi Buddhis harus selalu mengukir dalam hati dan senantiasa mengingat empat budi luhur. Kita harus tahu bahwa dalam hidup ini kita dapat memperoleh pendidikan, memiliki kesehatan tubuh dan batin, serta memiliki segala sesuatu, semua itu berkat budi luhur semua makhluk. Hidup di tengah masyarakat, tidak dalam satu hal pun kita tidak bergantung pada budi luhur makhluk hidup. Saya sering mengambil contoh dari sandang, pangan, papan, dan transportasi kita, manakah yang tidak datang dari masyarakat? Jadi, kita harus selalu mengingat budi luhur semua makhluk. Berhubung lahir di dunia, hendaknya mengingat budi luhur semua makhluk. Namun, bagaimana kita bisa memiliki tubuh ini? Tentunya dari kedua orang tualah kita memiliki tubuh ini. Jadi, budi luhur orang tua setinggi langit. Kita harus selalu mengingat budi luhur orang tua. Terlebih lagi, kita memiliki tubuh ini, serta jiwa dan raga yang sehat. Hidup di dalam lingkungan yang istimewa ini, selain harus bersyukur, kita juga bisa memahami sumber kebenaran hidup manusia. Inilah budi luhur Tiga Permata, yakni Buddha, Dharma, dan Sangha. Buddha datang ke dunia dan telah menembus kebenaran alam semesta. Seluruh kebenaran yang Beliau pahami telah Beliau babarkan kepada dunia agar setiap orang dapat mengetahui hukum sebab akibat, agar setiap orang tahu bahwa sebagaimana benih yang ditanam, demikianlah buah yang akan dituai. Beliau membimbing kita kembali ke hakikat murni. Sejak masa lalu, mungkin sejak masa tanpa awal, kita terus mengakumulasi karma hingga saat ini. Apakah kehidupan menderita? Ya. Meski hidup dalam kenikmatan dan memiliki harta yang berlimpah, dan memiliki harta yang berlimpah, belum tentu manusia merasa damai dan bahagia.

Jadi, ada banyak kekurangan dalam hidup. Dari mana sumber kekurangan ini? Buddha dengan kebijaksanaan-Nya menjelaskan satu per satu kepada kita. Jadi, kita harus tahu budi luhur Tiga Permata, termasuk pengajaran dari Buddha dan pewarisan oleh Sangha. Jadi, dengan adanya Buddha, Dharma, dan Sangha, kita bisa memahami banyak kebenaran. Kita bisa hidup di lingkungan seperti ini berkat orang tua kita. Masyarakat menyediakan barang kebutuhan yang baik untuk kehidupan kita. Terlebih lagi, kita bisa mendengar Dharma. Tentunya, untuk itu kita membutuhkan lingkungan yang damai dengan iklim dan kondisi alam yang baik sehingga kita memiliki hari-hari yang damai dan cuaca yang bersahabat. Ini yang disebut budi luhur raja dan negara. Kita harus bersyukur atas semua ini setiap hari. Jadi, hidup di dunia, kita menerima pemeliharaan. Karena itu, kita harus senantiasa memiliki rasa syukur. Jadi, di dalam Enam Belas Pandangan, yang keenam adalah pandangan tentang yang dikembangkan. Kita hendaknya tahu bahwa hidup di bumi, kita menerima pemeliharaan dan pengasuhan. Siapakah orang di dunia ini yang tidak dilahirkan oleh orang tua dan terus berada dalam masyarakat? Setiap hari, segala kebutuhan kita, bukankah disokong oleh semua makhluk? Jadi, kita hendaknya mengucap syukur. Sebagian orang berkata, “Siapa bilang?” “Kain saya beli sendiri dengan uang, maka saya bisa punya pakaian.” “Saya memiliki pakaian karena saya membelinya dengan uang.” “Soal makan, saya juga membeli beras dan sayur dengan uang atau membayar makanan saya saat makan di restoran.” “Di mana budi luhur makhluk lain?” Sesungguhnya, uang hanyalah kata ganti. Kita berharap mendapatkan lebih banyak uang. Kita selalu menginginkan lebih banyak harta. Dalam hidup ini, kita terus tamak terhadap angka. Berapa banyak orang bersusah payah demi mengejar angka ini? Mereka hanya mengejar lebih banyak harta, memiliki tanah lebih luas, dan memiliki rumah yang lebih mewah. dan memiliki rumah yang lebih mewah.

Inilah nafsu dalam batin manusia. Nafsu ini adalah sumber dari noda batin. Sesungguhnya, dalam pertemuan pagi kita juga mendengar salah satu relawan kita melaporkan tentang kunjungan kasih yang Tzu Chi lakukan. Di rumah itu ada orang tua sebatang kara. Dia adalah seorang veteran yang telah berusia 90 tahun. Saat relawan kita mengunjunginya, tubuhnya masih sehat dan kuat, matanya terang, dan pendengarannya masih tajam. Mendengar bahwa ada orang datang menjenguknya, dia segera kembali ke rumah. Sambil memegang tongkat, dia berjalan dengan cepat. Dia sangat gembira melihat sekelompok orang telah sampai di depan rumahnya. Dia senang melihat orang datang dan segera mengundang mereka duduk di dalam rumah. Dia lalu berkata, “Tunggu sebentar.” Dia mengambil sebuah bungkusan dan berkata, “Saya telah lama menunggu kalian.” “Saya tahu kalian akan datang.” “Saya telah menunggu berhari-hari.” Kemudian, dia menyerahkan bungkusan itu. Ternyata isinya adalah uang. Relawan kita berkata kepadanya, “Paman, kami datang ingin melihat apakah Anda sehat, bukan ingin mengambil uang.” “Ambillah kembali untuk digunakan.” Dia lalu berkata, “Yang penting hidup cukup.” “Hemat sedikit dalam keseharian.” “Harus tahu cara menggunakan uang.” Dia berkata tentang berhemat dan tahu cara menggunakan uang. “Kita harus tahu cara menghemat dan cara menggunakan uang.” Kita telah mendengar lansia berusia 90 tahun ini. Dia adalah seorang veteran yang sebatang kara. Dia berkata, “Hemat sedikit dalam keseharian.” “Kita harus tahu cara menggunakan uang.” Dia memiliki banyak filosofi dan memiliki banyak kebijaksanaan. “Untuk apa uang hanya didiamkan saja?” Saat uang yang dia dikumpulkan dapat menolong orang, itulah saat yang paling membahagiakan baginya. Meski telah hidup selama 90 tahun, dia juga tahu untuk membalas budi semua makhluk.

Himpunan cinta kasih semua orang dapat membantu orang yang kekurangan. Jadi, orang lain menyokong kita, kita juga menyokong mereka. Orang lain memberi kita pendidikan, kita juga memberi mereka pendidikan. Orang membuat kita kenyang dan hangat, kita juga membuat orang merasa kenyang dan hangat. Orang memberi kita rumah yang kokoh, Orang memberi kita rumah yang kokoh, kita juga hendaknya memberi orang lain tempat berteduh. Karena itu, insan Tzu Chi bersatu hati dan bergotong royong membantu orang yang menderita di masyarakat. Bagi mereka yang tidak memiliki rumah atau yang rumahnya rusak, kita sering melihat insan Tzu Chi segera pergi memperbaiki, mengganti atap, atau memperbaiki dindingnya. Bagi orang yang rumahnya hancur, insan Tzu Chi membangunnya kembali. Apakah orang-orang ini memiliki hubungan dengan insan Tzu Chi? Tidak. Mereka bukan saudara, juga tidak saling mengenal. Mengapa kita terus bersumbangsih bagi mereka? Kita hendaknya berpikir, orang-orang yang membantu kita membangun rumah, apakah mereka mengenal kita? apakah mereka mengenal kita? Mereka juga tidak mengenal kita, tetapi mereka membantu kita membangun rumah sehingga kita memiliki tempat berteduh. Kain yang kita jadikan pakaian diproduksi oleh pabrik. Apakah para buruh pabrik mengenal kita? Juga tidak. Mereka bekerja, kita menggunakan hasilnya.

Jadi, kita telah melihat semua ini. Karena itu, kita juga menghampiri orang-orang yang menderita. Bagaimana bisa kita tidak ingin bersumbangsih bagi mereka? Jadi, dalam hidup ini, kita harus membalas budi. Kita menerima barang kebutuhan yang disediakan orang lain, maka kita juga hendaknya senantiasa memberi bagi orang yang kekurangan. Inilah kehidupan yang paling bijaksana, juga merupakan kehidupan yang paling kaya. Inilah budi luhur pemeliharaan. Kalian mungkin merasa aneh. “Master, bukankah pemeliharaan hanya dilakukan oleh orang tua?” Tidak. Orang tua tentu termasuk. Mereka mengasuh kita, kita hendaknya membalas budi luhur orang tua. Berhubung telah menerima ajaran Buddha, kita juga hendaknya membalas budi Tiga Permata. Dharma menumbuhkan jiwa kebijaksanaan kita. Orang tua memelihara hidup kita. Namun, semua makhluk di dunia menyediakan kebutuhan hidup kita. Iklim yang bersahabat membuat hidup kita bahagia dan memelihara hidup kita. Jadi, semua makhluk hidup di dunia tidak lepas dari empat budi luhur. Karena itu, kita hendaknya senantiasa bersyukur. Jadi, yang keenam adalah pandangan tentang yang dikembangkan. Kita memang dipelihara atau diasuh. Ini harus selalu kita ingat di dalam hati.

Namun, orang awam pada umumnya melekat pada rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran. Kita berpikir bahwa kita pemelihara orang lain. Artinya, kita merasa bahwa kita mampu memberi. “Mereka adalah orang yang menerima pemberian saya, disokong oleh saya.” Ini tidaklah benar. Tadi saya mengatakan bahwa bukan karena kita punya uang, maka kita bisa melakukan apa saja. Sebaliknya, selama yang kita butuhkan tersedia, maka kita harus bersyukur. Jadi, adakah orang yang tidak menerima sokongan dari orang lain? Setinggi apa pun status sosial kita, sebanyak apa pun uang kita, para buruh, cendekiawan, petani, pekerja, dan pedaganglah yang membantu memenuhi kebutuhan kita. Jadi, janganlah kita berpikir, “Sayalah yang menyokong orang lain.” Saat orang tua membesarkan anak, mereka juga tidak mengharapkan imbalan. Lihatlah, betapa banyak orang tua yang mengasuh anaknya. Jika anak tidak sehat, bagaimana mereka menjaganya? Mereka terus bersumbangsih bagi anak. Di Hualien juga ada seorang veteran yang terus menjaga putrinya. Putrinya berusia 40 tahun. Dia sendiri berusia 70 tahun lebih. Putrinya memiliki keterbelakangan mental. Terlebih lagi, pertumbuhannya tidak normal. Setiap hari ayahnya ini harus menggendongnya, sejak dia lahir hingga berusia 40 tahun. sejak dia lahir hingga berusia 40 tahun. Ketika ditanya apakah merasa lelah, ayah dan ibunya menjawab dengan gembira, “Tidak.” “Kami harus bersyukur dan menganggapnya seperti boneka mainan.” dan menganggapnya seperti boneka mainan.” “Saat kami berbicara padanya, dia akan tersenyum.

” Dengan begitu saja, mereka sudah senang. Meski merekalah yang harus membersihkan tubuh anak ini sekaligus kotorannya sejak kecil hingga berusia 40 tahun, mereka tetap rela dan tidak mengharapkan mendapat apa-apa dari anaknya. Sebaliknya, mereka bersyukur, bersyukur dapat mendampinginya dan berbicara kepadanya. “Dia masih bisa tertawa pada kami meski tidak bisa berbicara.” Begitulah orang tua yang berjiwa besar. Orang tua sama sekali tidak berharap untuk mendapatkan balasan. Tidak. Namun, sebagai anak, kita wajib membalas budi. Inilah yang disebut membalas budi luhur pemeliharaan. Jadi, kita hendaknya tidak terpengaruh oleh kondisi lingkungan yang negatif. Kini berapa banyak anak muda yang tak berbakti? Mereka tidak mengingat budi luhur orang tua, malah menganggap orang tua cerewet. Akibatnya, mereka membangkang. Semua ini bermula dari lima agregat, yaitu rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran. Jika diri sendiri merasa antipati terhadap orang tua, kita tak akan dapat merasakan budi pemeliharaan orang tua. Kita hanya tahu orang tua kita sudah lanjut usia dan kitalah yang mengasuh mereka. Pemikiran kita menjadi terbalik. Selain itu, terhadap orang yang kurang mampu, kita juga bisa merasa kita telah menolong mereka. Terhadap karyawan, kita merasa mereka bergantung hidup pada kita. Semua ini tidaklah benar. Kita selalu merasa kitalah yang bersumbangsih, merasa kitalah yang memelihara orang lain. Ini akan membuat kita menderita. Buddha berkata bahwa ini tidaklah benar. Kemelekatan pada pandangan seperti ini adalah penyimpangan.

Jadi, kita harus menyadari budi luhur orang tua. Budi luhur pemeliharaan orang tua sangat besar. Mereka hanya berharap anaknya hidup tenteram. Terhadap anak, orang tua hanya berharap mereka dapat hidup tenteram dan bebas dari masalah. Lihatlah, ada banyak dokter dari Rumah Sakit Tzu Chi di Hualien yang kita lihat menyampaikan pesan bagi orang tua mereka lewat program acara Da Ai TV. Para dokter kita, contohnya Kepala RS Wang Zhi-hong, dapat kita lihat dia berkata pada orang tuanya, dapat kita lihat dia berkata pada orang tuanya, “Ayah, Ibu, maaf.” “Saya tidak sempat pulang menjenguk kalian.” Ibunya mendengar ucapannya dan berkata, “Tidak apa-apa.” “Asalkan kamu baik-baik saja sudah cukup.” “Kami juga bangga kamu bisa menolong orang.” “Kami sangat bangga.” “Semua orang memujimu, kami juga sangat gembira.” “Kamu tidak perlu mengkhawatirkan kami.” “Kami bisa menjaga diri sendiri.” Lihatlah, sang anak berkata kepada orang tuanya, “Terima kasih.” “Saya tidak sempat pulang menjenguk kalian.” Orang tuanya tahu bahwa anaknya sibuk menolong orang. Mereka berkata, “Kami sudah puas.” “Kami sangat gembira.” “Kamu tidak perlu mengkhawatirkan kami.” Sesungguhnya, orang tua tidak berharap anak memenuhi kebutuhan materi mereka, melainkan berharap anak bisa menjenguk mereka setiap hari, berharap agar anak bisa menjadi orang berguna. Tubuh kita dilahirkan oleh orang tua. Kita hendaknya menggunakan tubuh ini untuk mengembangkan cinta kasih di dunia. Inilah yang membuat orang tua paling bahagia. Dalam tayangan itu kita melihat beberapa orang tua menyemangati anak mereka. Inilah kasih sayang orang tua. Orang tua membesarkan anak, hanya berharap anak dapat hidup tenteram, berharap agar anak bisa sehat. Meski anak mereka adalah dokter, mereka tetap berkata, “Kamu harus menjaga kesehatan.” Inilah isi hati orang tua. Jadi, orang tua tidak takut menderita. Mereka hanya berharap dapat membesarkan anak mereka. Ibu bagaikan bumi, ayah bagaikan langit. Kita semua hidup di atas bumi dan di kolong langit. Langit dan bumi sangat luas. Berapa banyak budi yang telah kita terima? Jadi, saat memiliki kemampuan, kita harus bersumbangsih. Inilah tujuan hidup kita yang sesungguhnya. Kita juga harus memiliki hati Bodhisattva.

Kita harus memiliki hati Buddha dan menjalankan praktik Bodhisattva. Kita juga harus memiliki hati orang tua. Kita harus memiliki cinta kasih yang besar. Jadi, di dunia ini, kita harus bersumbangsih. Kita harus menyokong orang lain. Kita juga harus bersyukur. Janganlah kita menganggap, “Saya mampu bersumbangsih, saya adalah orang yang membantu orang lain.” Bukan begitu. Yang dimaksud “mengembangkan” di sini juga berarti memberi, yakni berdana. Jika kita dapat berpikir positif, maka kita akan dapat berdana tanpa pamrih. Jangan berpikir kita telah berdana bagi orang lain, maka orang lain harus berterima kasih. Kita hendaknya berpikir bahwa banyak orang yang telah bersumbangsih bagi kita. Mereka juga tidak mengharapkan imbalan. Saat sudah membangun rumah kita, para tukang tidak berkata, “Bangunan ini saya yang dirikan, apakah Anda tahu?” “Tahukah Anda lampu ini saya yang pasang?” “Tahukah Anda sayalah yang memasang instalasi air dan listrik?” Tidak. Semua itu adalah jasa banyak orang. Saat rumah telah selesai dibangun, mereka merasa mereka sudah selesai berkarya. Mereka tidak peduli rumah itu untuk siapa. Jadi, kita juga tidak tahu siapa yang membangun rumah kita. Kita tidak tahu orang yang mana yang merancang bangunan itu. Jika dalam bersumbangsih, kita berpikir orang lain harus membayar kita, maka kita akan menderita.

Jadi, inilah pandangan tentang yang dikembangkan. Pandangan ini adalah kemelekatan. Saat bersumbangsih, kita masih memiliki kemelekatan. Inilah pandangan tentang yang dikembangkan. Jadi, kita harus menyadari empat budi luhur. Kita tentunya harus membalas budi karena berkat empat budi inilah kita berkembang. Kita harus berpikir bahwa kitalah yang disokong, jangan malah selalu berpikir kitalah yang menyokong orang lain. Jika kita berpikir bahwa kitalah orang yang menyokong orang lain, berarti kita memiliki kemelekatan. Jadi, kita harus menganggap bahwa kita telah menerima sokongan dari orang lain. Dengan begitu, kita akan dipenuhi rasa syukur. Sudah seharusnya kita bersumbangsih setiap saat. Apakah kalian semua paham? Jadi, pandangan tentang yang dikembangkan ini adalah kemelekatan dalam keseharian kita, yakni perhitungan dalam rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran. Jadi, dalam mengerjakan hal apa pun, kita harus memiliki rasa syukur. Kita harus berpikir bahwa orang lain telah menolong kita, maka kini giliran kita membantu orang lain. Manusia sudah seharusnya saling membantu dan saling bersyukur. Jadi, kita harus senantiasa bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888