Sanubari Teduh -257-Enam Belas Pandangan Bagian 13
Saudara se-Dharma sekalian, mungkin ada orang yang perasaannya selalu sama setiap hari. Mungkin ada orang yang dalam kesehariannya, baik pada kondisi kini, kondisi masa lampau, maupun kondisi yang akan datang, batinnya tidak dapat berfokus pada saat itu. Inilah batin makhluk awam yang selalu terbelenggu oleh objek luar. Jadi, Buddha selalu mengingatkan kita semua Jadi, Buddha selalu mengingatkan kita semua untuk menjaga pikiran kita dengan baik. Jika tidak, kondisi di luar baik pada masa lalu maupun sekarang, baik dekat maupun jauh, ditambah kondisi yang akan datang, akan membangkitkan noda batin kita. Sebelumnya, kita telah membahas sepuluh ikatan. “Adakalanya menciptakan segala karma buruk akibat sepuluh ikatan.” Sepuluh ikatan ini mengikat kita sehingga kita tidak dapat membebaskan diri. Terlebih lagi dikatakan, “Adakalanya menciptakan segala karma buruk akibat sebelas kecenderungan umum.” Mengenai sebelas kecenderungan umum, belakangan ini saya sering mengingatkan semua orang agar tidak terdorong oleh sebelas kecenderungan umum.
Di dalam keseharian, sebelas kecenderungan umum selalu mengikuti dan mendorong kita. Ini sangatlah umum baik di masa lalu, kini, maupun masa depan. “Adakalanya menciptakan segala karma buruk akibat dua belas pintu masuk.” Baik indra maupun objek, semua dapat mengacaukan pikiran kita. Saat mata melihat objek di luar, gambaran itu akan masuk ke dalam pikiran kita. Jadi, jika kita tidak menjaga pikiran dengan baik, maka semua ini dapat menjadi akar penyebab karma buruk. Baik noda dalam batin maupun kondisi luar, semuanya dapat mengacaukan pikiran kita. Beginilah makhluk awam. Sebelumnya, kita juga telah mengulas tentang enam belas pandangan. Mengapa kondisi luar dan pikiran kita selalu membelenggu dan mendorong kita? Ini sangat sederhana. Masalahnya terletak pada indra dan objek. Indra dan objek dapat bereaksi karena di dalam batin kita ada pengetahuan dan pandangan. ada pengetahuan dan pandangan. Tahu berarti bisa membedakan banyak hal Tahu berarti bisa membedakan banyak hal saat indra kita bersentuhan dengan objek luar. Pandangan adalah pemahaman kita. Anda tahu mengenai semua hal ini. Anda ingin memilih yang baik atau yang tidak baik, berkata yang baik atau yang tidak baik, semua bergantung pada pandangan Anda. Jadi, jika kita memahami hal ini dengan jelas, saya rasa tiada yang rumit dalam kehidupan ini.
Namun, sayangnya, kita makhluk awam hanya sebatas tahu. Untuk menjalankan sepenuhnya kebenaran tentang indra dan objek ini, kebenaran tentang indra dan objek ini, pada kenyataannya lebih sulit. Di dalam Sutra Buddha, ada sepenggal perumpamaan ada sepenggal perumpamaan yang diceritakan oleh Buddha. Buddha bercerita tentang seseorang yang bodoh di masa lalu. Orang ini cenderung bodoh dan lugu. Orang lugu ini suatu hari berjalan menuju tepi kolam. Dia berjalan di sepanjang tepi kolam. Karena air kolam sangat tenang, maka secara alami terlihat bayangan. Ada bayangan yang terlihat di permukaan kolam. Dari tepi kolam orang ini melihat bentuk sepotong emas pada permukaan air. Dia pun merasa kesempatan itu sangat langka. Jadi, dia melompat ke dalam air. Dia terus meraba dan mencari di dalam air. Air pun beriak dan menjadi keruh sehingga tidak terlihat apa-apa lagi. Sekujur tubuhnya menjadi basah dan kotor. Dia lalu keluar dari air dan duduk. Dia merasa sangat lelah. Air perlahan-lahan tenang kembali. Air kembali tenang dan lumpur kembali mengendap. Karena lumpur mengendap, maka air menjadi jernih kembali. Dia kembali melihat-lihat. Ternyata ada. Dia jelas-jelas melihat ada bentuk emas pada air. Karena itu, dia kembali melompat ke dalam air. Air pun kembali bergejolak. Dengan kedua tangannya, dia terus mencari dan meraba. Lumpur kembali naik dan air kembali menjadi keruh. Dia tetap tidak bisa menemukan apa-apa. Namun, sekujur tubuhnya penuh lumpur. Dirinya juga sangat lelah. Dia lalu naik dan duduk kembali. Pada saat-saat itu, waktu sudah berlalu cukup lama. Ayah anak ini pun mencarinya. Sang ayah bertanya-tanya ke mana perginya anak lugu ini. Sang ayah terus mencarinya.
Dari jauh dia melihat seseorang yang tubuhnya dipenuhi lumpur. Sangat memalukan. Sang ayah ini menghampirinya. Ternyata orang itu adalah anaknya. Dia lalu bertanya kepada anaknya, “Kamu kenapa?” “Mengapa kelihatannya begitu lelah?” “Mengapa sekujur tubuhmu kotor serta dipenuhi oleh lumpur?” “Sesungguhnya, apa yang terjadi?” Anak ini menunjuk kolam itu dan berkata, “Lihatlah, jelas-jelas di dalam kolam ada emas.” “Jadi, setelah melihat itu, saya turun untuk mencarinya.” “Namun, tidak ada apa-apa.” “Saya bolak-balik keluar masuk kolam.” “Saya sungguh lelah.” Sang ayah kemudian melihat ke kolam. Ternyata memang bayangan emas. Namun, sang ayah berkata, “Ada, saya melihat bayangan emas di dalam air.” “Namun, kau harus tahu bahwa itu hanya bayangan, bukan benar-benar emas yang ada di dalam air.” “Emas itu seharusnya berada di atas pohon.” “Mungkin ada burung yang membawanya ke sana atau ada sebab lain.” “Emas itu bukan ada di dalam kolam.” Saat mereka menengadah ke atas, ternyata benar. Bentuknya seperti medali yang terikat oleh tali dan tergantung di atas pohon. Sang anak berpikir, “Benar, benda itu ada di atas pohon.” “Mengapa saya terus mencarinya di dalam air?” “Saya terus mencari hingga tubuh saya penuh lumpur.” “Saya tinggal memanjat pohon untuk mengambilnya, mengapa saya harus sampai begini?” Benar, inilah yang disebut makhluk awam.
Bukankah kita makhluk awam seperti ini? Seperti anak itu, ke mana kita mencari emas? Bukankah kita mencarinya ke dalam lumpur? Kita manusia bagaikan masuk ke dalam lumpur. Saat air kolam menjadi keruh, akhirnya apa yang kita dapatkan? Bukankah manusia seperti ini? Kita sering berkata, “Kehidupan bersifat semu bagai gelembung dan bayangan.” Namun, kita sebagai manusia selalu melekat pada nama, keuntungan, dll. Demi semua ini, kita bersusah payah dan bekerja keras. Beginilah makhluk awam. Makhluk awam diliputi kebodohan dan tidak memiliki kebijaksanaan. Mereka kurang kebijaksanaan. Lihatlah, sang ayah berjalan menghampiri anaknya. Dia melihat anak ini merasa lelah dan kotor di sekujur tubuhnya. Saat anak itu menunjukkan bayangan emas, begitu melihatnya, sang ayah langsung tahu bahwa di dalam kolam tidak ada benda apa pun. Benda itu seharusnya terletak di atas. Bayangan di kolam hanyalah pantulan. Sang ayah bagaikan orang bijaksana yang memberi tahu orang awam bahwa segala sesuatu di dunia bersifat semu dan tidak kekal. Meski kita tahu tentang hal ini, tetapi kita tetap tenggelam dalam lima agregat. Apakah di dalam lima agregat ada “aku”? Enam belas pandangan dimulai dari pandangan keakuan, lalu pandangan tentang manusia, pandangan tentang ras manusia, dan lain-lain. Semuanya mengacu pada satu pemahaman dan satu pemikiran yang tidak luput dari lima agregat.
Namun, semua ini merupakan pandangan yang membawa penderitaan. Akibat apa yang didapat? Segala yang kita perbuat akibat belenggu lima agregat hanya menghasilkan benih karma buruk. Tiada yang lain. Jadi, segala kebodohan dan ketidakbijaksanaan kita, semua terletak pada lima agregat yang sesungguhnya “tanpa aku”. Pada dasarnya semua orang seharusnya tahu bahwa tiada “aku” yang berdiri sendiri. Kapan “aku” itu benar-benar eksis? Saat ini kita merasa ada “aku”, tetapi apakah “aku” ini terus sama hingga masa depan? Sesungguhnya, pemikiran tentang “aku” ini menciptakan banyak noda batin. menciptakan banyak noda batin. Jadi, di sini dikatakan, “Berbagai masalah timbul karena adanya konsep “aku” yang bagaikan bayangan emas di permukaan air.” Kita terus merasa bahwa “aku” benar-benar ada. Kita terus merasa bahwa “aku” benar-benar ada. Pemahaman tentang “aku” seperti ini Pemahaman tentang “aku” seperti ini membuat kita selalu berada dalam noda batin. Jelas-jelas tahu bahwa “aku” tidak nyata, tetapi kita masih tidak rela melepas. Bukankah ini sama dengan anak lugu tadi? Ketenaran dan keuntungan duniawi bersifat semu, seperti bayangan di permukaan air. Kita semua terus mencari semua itu dengan susah payah. Inilah makhluk duniawi. Saudara sekalian, makhluk awam sangat menderita.
Di dalam dunia yang penuh penderitaan, cara apa yang hendaknya kita gunakan agar tidak tercemar di tengah kekeruhan dunia ini? di tengah kekeruhan dunia ini? Apa yang seharusnya kita lakukan agar tidak disesatkan oleh segala ilusi tadi? Inilah tujuan kita mempelajari ajaran Buddha. Jika bukan untuk mencapai pencerahan, kita tidak perlu mempelajari ajaran Buddha. Kita terus berada dalam kebodohan dan ketidaksadaran. Kita telah mengetahui satu kebenaran Kita telah mengetahui satu kebenaran bahwa kehidupan seperti ini disebut kehidupan awam. Di dalam Sutra juga telah dijelaskan. Orang bijak zaman dahulu juga telah mengingatkan kita. Kita sudah tahu. Namun, ajaran yang ditinggalkan orang bijak dan orang suci hanya sebatas kita dengar. Manusia pada umumnya demikian. Namun, berhubung kita telah membangkitkan tekad yang langka ini, maka kita harus meninggalkan noda batin dan kembali pada kesadaran. Kita harus mencari pencerahan. Meski telah menjadi anggota Sangha, meski tengah mempelajari Dharma, dan bisa membabarkan Dharma dengan lancar, tetapi kita masih terbelenggu berbagai pandangan dan kecenderungan umum yang sudah kita bahas. Pandangan kita dalam satu hari dari pagi hingga malam sering kali didorong oleh noda batin yang terus membelenggu kita. Ini sungguh membuat kita tak berdaya. Meski bertekad mencari kesadaran, makhluk awam mudah kembali pada kebodohan. Karena itu, kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Ajaran yang telah diwariskan oleh orang suci, seperti ajaran yang telah diwariskan oleh Buddha, dari segi waktu telah berjarak jauh dari kita, yakni sekitar lebih dari dua ribu tahun.
Namun, jika kita bertekad mengikuti Buddha dengan tulus, maka sesungguhnya Buddha ada di dalam hati kita. maka sesungguhnya Buddha ada di dalam hati kita. Kita harus selalu waspada. Buddha adalah Yang Sadar. Kesadaran hakiki sesungguhnya ada dalam hati kita. Lalu, mengapa kita bisa tersesat? Meski kita berada di tengah orang banyak, di dalam Dunia Saha, di tengah makhluk awam, bukankah kita dapat menjadi bagai bunga teratai yang tumbuh di tengah kolam teratai? Bunga teratai tumbuh di lumpur, tetapi tak tercemar. Mungkin ada orang yang berkata bahwa bunga teratai juga perlu benih. Benar. Kita semua memiliki benih, hanya saja kita telah melupakannya. Setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan. Hakikat kebuddhaan ini sangat murni. Hanya saja, kita masih terbelenggu. Bukankah beberapa hari lalu kita telah membahas bahwa setiap orang memiliki hakikat kesadaran yang cemerlang atau hakikat Tathagata? Namun, kita telah mengubah pikiran kita ke arah belenggu yang akhirnya mengikat diri sendiri. Sepuluh ikatan membelenggu kita sehingga meski kita memiliki hakikat kebuddhaan, kita tetap terbelenggu.
Jadi, kita harus tahu bahwa di tengah kolam yang keruh, kita masih memiliki benih teratai yang murni. Kita harus memanfaatkan kondisi keruh itu untuk menumbuhkan benih teratai ini. Lihatlah teratai. Ia terdiri atas bunga, akar, dan benih. Bunga teratai sangat indah. Saat bunganya mekar, benihnya sudah terbentuk kembali. Sesungguhnya, semua itu dimulai dari akar. Lihatlah tiga jenis benda pada teratai itu. Saat kita melihat bunga teratai, pasti ada akarnya. Saat Anda melihat bunga teratai mekar, di saat yang sama benihnya pun sudah terbentuk. Di tengah kolam, bunga teratai tetap bersih dan tidak tercemar oleh lumpur. Saudara sekalian, walau kita juga berada di dalam dunia yang keruh, meski kita berada di tengah makhluk awam yang penuh kebodohan dan kegelapan batin, kita sendiri juga harus mengembangkan kesadaran. Kita memiliki hakikat kebuddhaan yang murni. Jadi, Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus senantiasa mengingatkan diri sendiri untuk tidak seperti orang lugu tadi yang menganggap bayangan di air sebagai emas. Dia berusaha mengambil emas itu dengan susah payah sehingga mengalami kelelahan fisik dan batin. Sekujur tubuhnya pun menjadi kotor. Ini sungguh sia-sia. Saudara sekalian, kita memiliki hakikat kesadaran yang murni serta tubuh Dharma yang agung. Jadi, harap semua senantiasa bersungguh hati.