Sanubari Teduh-258-Delapan Belas Elemen
Saudara se-Dharma sekalian, jika batin kita hening dan tenang, kondisi alam terasa sangat lapang. Dalam keseharian, kita berharap batin kita bisa terbuka lapang, damai, dan bersahaja seperti ini. Ini adalah kondisi pelatihan diri. Jika kita dapat merasakan kondisi batin yang digambarkan dalam Sutra Makna Tanpa Batas ini, bahkan bukan hanya merasakan, tetapi kondisi ini bisa bertahan dalam keseharian kita, maka inilah kondisi yang terindah, terbaik, dan teragung. Mempelajari ajaran Buddha bertujuan menyucikan batin kita. Bagaimanakah kondisi batin yang suci? Inilah yang disebut tubuh Dharma. Tubuh Dharma adalah hakikat murni setiap orang yang merujuk pada pikiran dan tindakan kita. Batin yang murni dan tak tercemar itu disebut tubuh Dharma atau Dharmakaya, sedangkan yang dimaksud Mahasattva adalah Bodhisattva. Siapa yang berhak disebut sebagai Bodhisattva? Orang yang memiliki empat pikiran tanpa batas. Empat pikiran tanpa batas terdiri atas cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Intinya, ini adalah kondisi batin yang lapang, yang penuh cinta kasih dan welas asih agung. Jika setiap orang memiliki cinta dan welas asih seperti ini, maka batin kita secara alami akan kembali murni. Inilah Dharmakaya-Mahasattva.
Mengenai kondisi batin meditatif, kondisi ini seharusnya ada dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah mazhab Chan selalu mengatakan bahwa mengambil kayu dan mengangkut air, semuanya adalah Chan (meditasi)? Dalam kehidupan sehari-hari, jika pikiran kita bisa hening dan tenang, maka secara alami kita akan selalu berada dalam samadhi. Samadhi adalah perhatian benar. Pikiran kita tidak kacau. Inilah yang disebut meditasi, yakni kondisi di mana pikiran kita tidak tercemar atau terganggu oleh kondisi luar. tidak tercemar atau terganggu oleh kondisi luar. Kondisi luar tidak bisa mengacaukan pikiran kita. Ini yang disebut perhatian benar. Jika kita bisa menjaga pikiran seperti ini, kita akan mampu “hidup tenteram bersahaja, bebas dari segala kondisi dan nafsu”. Tak ada lagi hal yang kita kejar. Sesungguhnya, keinginan duniawi kita dan kebutuhan sehari-hari kita belum tentu berhubungan. Nafsu keinginan duniawi begitu banyak, sedangkan kebutuhan hidup kita begitu sederhana. Jadi, kita hendaknya hidup tenteram bersahaja, sangat tenang, dan damai. Kita tidak berselisih dengan orang, dengan hal, ataupun dengan dunia. Dengan demikian, pikiran kita pasti tenteram bersahaja, bebas dari segala kondisi dan nafsu. Tiada hal yang kita pertentangkan ataupun ingin kita kejar. Ini karena keinginan kita sangat sedikit. Kita mampu merasa puas. Dengan begitu, kita tak akan lagi terjerumus dalam pemikiran keliru. Asalkan batin kita mencapai kondisi seperti ini, bagaimana pun kacaunya kondisi di luar atau apa pun masalah yang ada di sekeliling kita, pikiran kita tak akan tergoyahkan.
Jadi, ini adalah sejenis kondisi batin. Bukankah setiap hari kita melakukan puja dan bermeditasi demi mencapai kondisi seperti ini? Apakah kondisi batin ini kita harapkan ada hanya pada pagi hari? Tidak. Kita berharap bahwa pikiran kita dapat tenang seperti ini setiap saat. Saat berada di tengah masyarakat batin kita pun hendaknya tetap hening dan jernih, tekad kita tetap luas dan luhur serta tidak tergoyahkan. Ini hendaknya dimiliki setiap orang yang mempelajari ajaran Buddha. Jadi, ajaran Buddha berada di dalam keseharian kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus mengendalikan pikiran kita agar tetap bertekad luhur tanpa tergoyahkan. Sesungguhnya, batin murni yang dimiliki setiap orang awalnya begitu damai. Pada dasarnya tiada yang perlu diperhitungkan dalam hidup. Lalu, mengapa kini di tengah masyarakat kita menjadi makhluk awam yang penuh noda batin? Ini juga tentu berawal dari hati atau pikiran kita. Karena itu, kita sering membahas Dharma hati. Kita juga telah mengulas berapa banyak noda batin yang membelenggu kita, berapa banyak pandangan yang mengganggu kita. Semua ini tak lepas dari pikiran. Setelah enam belas pandangan, kita akan membahas delapan belas elemen. Delapan belas elemen meliputi tiga bagian, yakni indra, objek, dan kesadaran. Mendengar istilah delapan belas elemen ini, kalian semua tentunya dapat memahaminya. Ada enam indra, enam objek, dan enam kesadaran, jika dijumlahkan berjumlah delapan belas. Delapan belas elemen ini bagaikan susunan Delapan belas elemen ini bagaikan susunan lapisan demi lapisan. Kondisi batin kita selalu berkelanjutan. Sesungguhnya, indra, objek, dan kesadaran bisa dikategorikan sebagai dalam, tengah, dan luar. Kesadaran berada di dalam, yaitu di dalam pikiran kita. Indra berada di tengah, sedangkan objek berada di luar. Bukankah demikian? Lihatlah kondisi luar. Yang berada di hadapan saya, di hadapan kalian, dan di atas meja ini, bukankah termasuk kondisi luar? Ini yang disebut objek. Ia berada di luar pikiran kita dan terpisah dari indra kita. Ini disebut objek luar. Ini disebut objek luar. Berhubung ia diletakkan di tempat ini, seandainya saya tidak berjalan ke sini, ia tidak ada hubungannya dengan saya. Ini ada di luar diri. Jika saya datang ke tempat ini, tetapi mata saya tidak melihat benda ini, maka benda ini juga tak ada hubungan dengan saya. Indra mata saya, jika tidak bersentuhan langsung dengannya di tempat ini, maka kesadaran pikiran saya tak dapat menganalisis pot bunga di hadapan kita ini berisi berapa kuntum bunga berwarna kuning, berapa kuntum bunga berwarna putih, dan berapa yang berwarna hijau. Kini saya bisa membedakannya. Indra hanyalah perantara dalam kontak dengan objek. Sesungguhnya, yang menganalisis adalah otak atau kesadaran kita. Dahulu kita pernah membahas tentang kesadaran yang membedakan.
Kini kita sudah lebih memahami bahwa fungsi ini juga berkaitan dengan organ otak. Saraf otak membedakan kondisi luar. Sesungguhnya, jantung dan otak juga saling terhubung. Jadi, gizi yang dibutuhkan otak juga diangkut oleh kerja jantung. Ini semua ada di dalam kita. Dengan perantaraan indra, kita dapat melihat kondisi luar. Jadi, kita semua hendaknya memahami tahapan ini. Ada objek luar yang bersentuhan dengan indra kita, lalu dianalisis oleh kesadaran kita. Inilah pembentuk delapan belas elemen. Objek luar menjadi pengondisi bagi kita untuk berbuat karma buruk. Mengapa di dunia ini ada banyak kekacauan? Karena semua makhluk menciptakan banyak karma buruk yang dipicu oleh berbagai objek atau kondisi luar, seperti materi dan lain-lain. Jadi, timbulnya ketamakan dalam batin manusia juga dipicu oleh objek-objek luar ini. juga dipicu oleh objek-objek luar ini. Lihatlah perselisihan antarnegara sering terjadi karena negara yang satu melihat negara yang lain menyimpan sumber daya alam. Contohnya, negara-negara Arab memiliki banyak minyak bumi. Banyak negara yang kekurangan minyak ingin merebutnya. Ini juga ada terjadi. Akibatnya, timbullah perang antarnegara. Semua orang hendaknya mengecilkan ego.
Di dalam masyarakat kita, negara kita, sumber daya alam apa pun, seperti emas, perak, timah, atau yang lainnya, kerap membuat para pengusaha mengadakan eksploitasi yang mendatangkan masalah. Sesungguhnya, gunung, sungai, dan tanah memiliki hubungan apa dengan manusia? Di bumi ini, semua itu memiliki banyak kegunaan bagi manusia. Namun, kita tidak menyadarinya. Gunung yang tinggi dan sungai yang luas memiliki hubungan erat dengan manusia. Namun, manusia tidak menyadarinya. Gunung adalah sarana konservasi air dan tanah. Sungai memastikan cukupnya persediaan air. Sesungguhnya, alam adalah penunjang kehidupan manusia. Namun, manusia tidak sadar bahwa hubungan manusia dengan alam sangat erat. Sebaliknya, manusia merasa berhak atas segalanya. Apakah ini mungkin? Mustahil. Manusia malah mengejar hal-hal yang mustahil. Karena itu, timbullah banyak kekacauan. Berapa banyak materi yang mampu kita kuasai? Kita hanya memiliki dua tangan. Berapa banyak tenaga yang diperlukan untuk menaklukkan lautan dan gunung? Ini mustahil.
Namun, manusia tidak hanya ingin menaklukkannya, tetapi juga ingin memilikinya. Inilah yang dimaksud objek luar sebagai pengondisi bagi terciptanya karma buruk. Di dalam kondisi seperti ini, manusia menciptakan banyak karma buruk. Ketamakan memicu manusia untuk melakukan karma buruk. Bukankah saat membahas enam belas pandangan, kita sudah membahas bahwa manusia sering kali mengelompok manusia sering kali mengelompok dan saling berselisih antarkelompok. Mulanya, kondisi yang ada sangat tenang. Namun, telah menjadi mengikuti segala karma. Banyaknya karma buruk yang tercipta dipicu oleh adanya materi di dunia ini. dipicu oleh adanya materi di dunia ini. Jadi, objek luar adalah pengondisi terciptanya karma buruk, sedangkan indra adalah pemicu terciptanya karma buruk. Indra adalah pemicu terciptanya karma buruk. Kita harus memahami objek yang tadi kita bahas. Pada mulanya, langit, bumi, dan manusia adalah selaras. Jika langit, bumi, dan manusia bisa harmonis, Jika langit, bumi, dan manusia bisa harmonis, maka kita bisa hidup di dunia dengan damai dan tenteram. Kita akan bisa bebas dari kondisi dan nafsu. Apa lagi yang kita kejar? Jadi, karena kita memiliki indra yang meliputi mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran, maka maka saat indra-indra ini bersentuhan dengan kondisi luar, bersentuhan dengan kondisi luar, maka timbullah gejolak pada pikiran yang mulanya tenang, damai, dan bersahaja ini. Mulanya tiada yang membuat kita terbuai. Namun, karena memiliki indra, maka kondisi di luar, seperti bunga yang indah membuat kita ingin memetik saat kita melihatnya. Saat mata melihat kondisi luar, ini bisa memicu kita melakukan tindakan. Kita menggunting tangkai bunga itu dan memetiknya. Demikian pula, di luar terdapat banyak materi yang bisa menggoda kita. Kontak materi dengan indra mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh bisa memicu tindakan. Manusia akan memikirkan cara untuk mendapatkan materi itu. Ini menumbuhkan keserakahan di dalam pikiran. Jadi, indra juga membentuk kondisi. Tanpa indra, objek luar hanyalah objek luar, kondisi luar hanyalah kondisi luar, sama sekali tiada hubungannya dengan diri kita. Justru karena ada indra, kita bisa bersentuhan dengan objek luar. Selanjutnya, apa yang akan timbul? Kesadaran. Enam kesadaran kita berfungsi akibat kontak antara indra dan objek luar. Jadi, setelah objek bersentuhan dengan indra, manusia mulai melakukan aksi. Ini yang disebut penyebab langsung.
Jika kesadaran pikiran kita murni, maka saat indra bersentuhan dengan objek, maka saat indra bersentuhan dengan objek, objek atau kondisi luar tidak akan membangkitkan ketamakan kita. tidak akan membangkitkan ketamakan kita. Tiada lagi karma buruk yang tercipta. Kita tidak akan mengulangi segala karma buruk. Kita tidak akan mengulangi segala karma buruk. Ini karena kehidupan kita damai dan bersahaja. Kita tidak lagi terbelenggu oleh semua hal tadi. Kondisi luar hanyalah kondisi luar. Kita harus bersyukur atas adanya kondisi luar. Hidup di dunia ini, kita bisa melihat alam yang begitu indah. Gunung, sungai, dan alam sangatlah indah. Kita hendaknya bersyukur karena bumi bisa menumbuhkan segala sesuatu untuk memelihara kehidupan kita. Kita harus sangat bersyukur. Kita juga harus bersyukur karena dalam hubungan antarsesama, kita dapat saling menyokong, sehingga kita hidup berkecukupan. Kita harus bersyukur kepada orang dari segala bidang. Jika kesadaran pikiran tidak tercemar oleh ketamakan, maka indra dan objek tidak akan menjadi masalah. Jika begitu, akankah karma buruk tercipta? Adakah karma buruk pada gunung, sungai, dan alam? Dalam segala objek dan kondisi di alam, adakah potensi karma buruk? Objek apakah patut yang dilekati? Objek apakah patut yang dilekati? Objek apakah patut yang dilekati? Suatu objek mulanya memang sudah ada. Kemudian, kontak terjadi antara diri dengan objek itu. Melalui apa? Melalui indra dan kesadaran. Karena itu, kondisi ini disebut objek pengondisi. Setelah terlibat kontak dengan objek, timbul ketamakan dalam pikiran kita. Dengan begitu, karma buruk tercipta. Jika tidak ada ada objek tadi, kita tidak akan berpikir untuk memilikinya. Dengan begitu, karma buruk tidak tercipta. Akibat ketamakan terhadap objek tadi, barulah karma buruk tercipta. Sebagian orang mungkin berkata, “Siapa suruh benda itu diletakkan di sana?” “Karena ada di sana, maka saya bisa mengambilnya.” “Karena ada di sana, maka saya bisa mengambilnya.” Awalnya, tiada karma yang tercipta karena tidak ada benda apa pun. karena tidak ada benda apa pun.
Namun, dengan adanya benda yang ada tadi, pikiran kita mulai menginginkannya. Kita melekat pada kondisi luar itu sehingga menciptakan banyak karma buruk. Jadi, dikatakan, “Kesadaran adalah penyebab langsung terciptanya karma buruk.” Ini membuat manusia terus mengejar. Seberapa pun jauhnya materi yang dikejar, asalkan manusia mendengar bahwa di suatu tempat ada sebuah tambang emas, manusia pasti ingin berinvestasi dan mengeksploitasi emas, berlian, atau apa pun itu. Meski materi itu jauh dari kita, Meski materi itu jauh dari kita, tetapi di dalam kesadaran kita sudah timbul ketamakan. Manusia berpikir, “Di tempat itu ada emas.” “Hanya dengan mengeluarkan modal, “Hanya dengan mengeluarkan modal, saya bisa mendapat lebih banyak.” Setelah mengeluarkan modal, dia mulai menghalalkan segala cara, baik dengan melakukan kecurangan sendiri maupun meminta orang lain melakukannya. Hal-hal seperti ini mulai terjadi. Jadi, penyebab langsung seperti ini bersumber dari ketamakan di dalam batin. Akibatnya, kita melekat pada objek dan menciptakan karma buruk. Intinya, dunia awalnya begitu murni dan sederhana. Alangkah baiknya jika langit, bumi, dan manusia selaras. Alangkah baiknya jika langit, bumi, dan manusia selaras. Alangkah baiknya jika langit, bumi, dan manusia selaras. Alangkah baiknya jika langit, bumi, dan manusia selaras. Sesungguhnya, adakah hubungan antara langit dengan kita? Ada. Namun, apakah kita bisa merasakannya? Jika pertanyaan ini tidak diajukan, saya tidak bisa merasakannya. Langit sepertinya jauh dari kita. Sesungguhnya, di manakah langit ada? Langit hanyalah persepsi penglihatan kita. Alam semesta ini sangat luas. Kadang kita menyebut kondisi langit terang, gelap, berawan, dan sebagainya. Rupa ini seakan terlihat di angkasa, di tengah alam semesta yang luas. di tengah alam semesta yang luas. Cakupan yang dapat dijangkau mata kita hanya sebatas itu. Di manakah objek yang sesungguhnya berada? Mungkin sangat jauh dari kita. Mungkin langit hanyalah sebuah ruang kosong di tengah alam semesta. ruang kosong di tengah alam semesta.
Di dalam ruang alam semesta ini, kita bersentuhan dengan objek pengondisi ataupun pendukung yang pada awalnya memang sudah ada. Jadi, saat kondisi pemicu timbul, nafsu keinginan bangkit dalam batin kita. Ini menyebabkan kita melakukan perbuatan yang didasari kegelapan batin sehingga mendatangkan banyak karma buruk. Berikutnya dikatakan, “Segala faktor pikiran dan mental adalah kondisi penyambung terciptanya karma buruk. Baik objek, indra, maupun kesadaran, semuanya adalah penyambung terciptanya karma buruk. Semua ini adalah faktor-faktor berurutan penyusun faktor mental. Faktor mental ini terbentuk karena empat jenis kondisi tadi. Selain tiga jenis kondisi yang dibahas tadi, masih ada kondisi penyambung. Kondisi penyambung ini merangkai ketiga kondisi sebelumnya. Bersatunya empat kondisi ini menciptakan segala karma buruk. Saudara sekalian, kedengarannya hal ini sangat rumit, tetapi sesungguhnya sangat sederhana. Kita hendaknya tahu bahwa saat kondisi luar bersentuhan dengan mata, telinga, hidung, atau lidah kita, maka pikiran kita akan bergejolak. maka pikiran kita akan bergejolak. Jika timbul ketamakan, kita akan mudah menciptakan karma buruk. Jika pikiran kita murni, kondisi batin kita pun akan damai. Kita pun tak akan melakukan karma buruk. Jadi, harap setiap orang dapat bersungguh hati dan menjaga baik pikiran.