Sanubari Teduh-259-Dua Puluh Lima Aku
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita memiliki sebuah harapan, yakni untuk bisa lebih mengerti sedikit tentang ajaran Buddha. Ajaran Buddha bagai lautan luas. Bagaimana agar tetesan air dari lautan itu dapat membasahi semua makhluk? Inilah harapan kita. Namun, semua makhluk terus terbelenggu dalam kelahiran di tiga alam dan menerima buah karma. Akibat jeratan buah karma, semua makhluk mengalami kelahiran kembali di tiga alam dan sulit memperoleh pembebasan. Jadi, Buddha tahu bahwa pikiran manusia sangat mudah terpengaruh. Akibat pikiran yang mudah berubah ini, semua makhluk mengalami banyak penderitaan. Orang yang menderita baru ingin mengejar kebahagiaan. Saat ingin mengejar kebahagiaan, adakalanya pikiran kembali menyimpang. Kegembiraan yang berlebihan juga bisa berujung pada duka. Satu langkah salah membawa penyesalan panjang
Artinya, jika pikiran tidak benar, juga akan berbahaya. Jadi, Buddha Yang Mahasadar memberi ajaran sesuai kemampuan setiap makhluk. Di dunia ini, semua makhluk memiliki kemampuan berbeda-beda. Kita sering membahas bahwa semua makhluk memiliki 84.000 jenis noda batin. Dengan kata lain, noda batin ini disebut 84.000 penyakit batin. 84.000 penyakit batin ini memerlukan 84.000 resep obat. Obat ini digunakan sesuai penyakitnya
Inilah yang Buddha lakukan di dunia demi menolong semua makhluk di dunia. Jadi, untuk menolong semua makhluk, dibutuhkan welas asih dan cinta kasih. Saat semua makhluk dilanda penderitaan, kita harus berempati dan bergerak untuk menolong. Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Karena itu, dibutuhkan cinta kasih dan welas asih. Kita juga sering mengatakan bahwa cinta kasih berarti membuat semua orang bahagia. Bagaimana agar bahagia? Bagi orang-orang yang mampu, kita harus membuat mereka menyadari berkah agar mereka bahagia di tengah kekayaan mereka. Jika tidak, banyak orang berada yang hanya mementingkan uang. Ini sangat menderita. Ketamakan membuat mereka semakin tersesat
Mereka hidup dalam kesesatan. Jadi, untuk menolong semua makhluk yang menderita, Buddha juga harus menjalankan cinta kasih. Jadi, kita selalu berusaha untuk mendidik yang mampu untuk membantu yang kurang mampu. Orang yang mampu harus kita bimbing untuk menolong orang yang tidak mampu. Orang yang sehat dan memiliki tenaga kita bimbing untuk membantu orang yang menderita akibat keterbatasan fisik. Orang yang bisa saling membantu, barulah merupakan orang yang benar-benar kaya. Mereka menyadari bahwa diri sendiri penuh berkah. Di tengah kelimpahan, mereka sadar bahwa begitu banyak yang mereka miliki. Dengan begitu, di tengah kekayaan, mereka dapat merasakan kebahagiaan dari pembebasan. Ini yang disebut menjalankan welas asih dengan cinta kasih
Kita juga berharap dapat membimbing orang-orang yang kurang mampu dapat membimbing orang-orang yang kurang mampu bahwa mereka juga dapat membantu sesama. Tetesan air juga dapat menyatu di lautan. Demikian pula, doa kecil setiap orang dapat menyatu bagai lautan luas. Artinya, kita juga bisa membimbing warga kurang mampu untuk turut bersumbangsih sedikit bagai tetesan air yang menyatu di sungai lalu mengalir ke laut. Di dalam air yang mengalir itu, ada tetesan air dari mereka. Dengan begitu, mereka akan tahu bahwa ternyata mereka juga bisa membantu orang lain. Dengan begitu, di tengah kekurangan, mereka dapat menciptakan berkah. Ini disebut menjalankan cinta kasih dengan welas asih. Saudara sekalian, bagaimana kita bisa benar-benar membantu orang yang membutuhkan? Setelah mendapat air Dharma di dalam batin, kita harus terlebih dahulu menyebarkannya ke dalam hati setiap orang. Inilah yang disebut menyelamatkan dunia. Tujuan kita adalah menyelamatkan semua manusia di dunia. Baik menjalankan welas asih dengan cinta kasih maupun menjalankan cinta kasih dengan welas asih, semua harus disesuaikan dengan kondisi setiap makhluk
Dengan cinta kasih dan welas asih, Buddha telah datang ke dunia untuk memberikan ajaran. Kita harus memanfaatkan ajaran itu dengan sepenuh hati. Jadi, begitu banyak istilah dan terminologi. Kita harus memahami semuanya. Sebelumnya kita sudah membahas delapan belas elemen. Berikutnya dikatakan, “Adakalanya menciptakan segala karma buruk akibat dua puluh lima aku.” Ada dua puluh lima jenis “aku”. Mengapa begitu banyak? Kita sudah membahas “aku” dalam waktu lama. Ya, jika tidak ada masalah “aku”, maka apa lagi yang perlu dibahas? Jika masing-masing dari kalian tidak memiliki “aku”, siapa yang mendengar? Anda dan saya, masing-masing dari kita memiliki “aku”. Karena itu, kita menciptakan banyak “aku” yang semu sehingga tersesat dan membuat banyak karma buruk
Jadi, kita harus selalu berintrospeksi. Kita harus berintrospeksi apakah dalam kondisi pikiran “tanpa aku” batin kita tersesat ataukah jernih. Apakah kita dapat mengembangkan “aku” ini menjadi “aku” universal ataukah malah semakin tersesat dan menimbulkan kesombongan? Kita harus bisa membedakannya. Di antara kita mungkin ada yang bertanya, “Jikat tidak ada aku, untuk apa kita membahasnya?” Benar, yang ditakutkan adalah penyimpangan pandangan tentang “aku”. Kita hendaknya bisa mengubah “aku” yang egois menjadi “aku” universal, dari sikap mementingkan diri sendiri menjadi sikap penuh empati, dari sikap individualistis menjadi mampu memikirkan keluarga, lalu memikul tanggung jawab lebih dari sebatas keluarga hingga meluas ke komunitas. Jika komunitas tenteram, barulah keluarga kita juga bisa tenteram. Dari komunitas, meluas lagi ke masyarakat. Jika masyarakat damai dan bebas dari bencana, ini barulah kebahagiaan seluruh masyarakat. Ini pulalah ketenteraman bagi diri kita sendiri. Jika kita bisa memperluas “aku” hingga mencakup seluruh dunia, mengubah “aku” yang egois menjadi “aku” universal, maka “aku” ini akan menjadi “kesadaran agung”. Bukankah kita mempelajari ajaran Buddha demi mencapai kesadaran agung? Jadi, mengenai “aku” ini, “aku” yang egois dan yang universal sama-sama “aku”
Jika kita tersesat, kita akan menjadi makhluk awam. Dalam siaran berita, setiap hari kita melihat berita tentang kehidupan yang penuh kesesatan. Banyak orang yang tersesat dan berbuat hal yang merugikan. Banyak berita seperti ini di masyarakat. Jadi, Buddha ingin membuat kita lebih paham. Jika kita memahami kebenaran dengan lebih jelas, Jika kita memahami kebenaran dengan lebih jelas, kita tidak akan tercemar. Jadi, mengenai dua puluh lima aku, dalam ajaran luar juga ada dijelaskan dan dijabarkan. dalam ajaran luar juga ada dijelaskan dan dijabarkan. Buddha tidak ingin kita mengalami kebingungan. Jadi, Buddha menjelaskan dua puluh lima aku ajaran luar ini agar dapat kita pahami dengan benar. Yang pertama adalah “hakikat awal”. Kini kita akan membahas dua puluh lima aku
Yang pertama ini berkaitan dengan pandangan ajaran luar tentang hal di luar 84.000 kalpa terakhir. Mereka tidak jelas terhadap hal ini sehingga buta akan hakikat sejati, maka menggunakan istilah hakikat awal. Penganut ajaran luar menganggap mereka mengetahui segala hal dalam kurun 84.000 kalpa. Mereka tahu itu, tetapi tidak lebih jauh dari itu. Mereka tidak tahu yang lebih jauh dan tidak mampu menjelaskannya. Jadi, mereka menggunakan sebuah istilah, yakni hakikat awal
Sesungguhnya, apa yang dimaksud hakikat awal? Sejujurnya, mungkin para penganut ajaran luar dapat menjelaskan tentang banyak hal dalam kurun 84.000 kalpa terakhir dalam kurun 84.000 kalpa terakhir sesuai dengan isi kitab, tetapi saya percaya meski bisa menjelaskan banyak hal yang mencakup waktu 84.000 kalpa atau 80.000 kalpa, tetapi diri sendiri juga tidak tahu pasti apa yang akan terjadi besok. Mereka juga tak tahu apa yang akan terjadi pada diri mereka. Meski saya duduk di sini dan menjelaskan kebenaran yang mencakup 84.000 kalpa dan menjelaskan kebenaran yang mencakup 84.000 kalpa kepada kalian sesuai teks kitab suci, kepada kalian sesuai teks kitab suci, tetapi sejujurnya, apa yang akan terjadi pada saya di waktu-waktu selanjutnya, saya pun tidak tahu. Setiap orang tidak bisa menjamin kehidupannya sendiri, Setiap orang tidak bisa menjamin kehidupannya sendiri, terlebih lagi kondisi masa depan
Perubahan apa yang akan terjadi, kita belum tentu dapat mengetahuinya. Kalau begitu, bagaimana mungkin kita ingin mengetahui hal-hal di luar kurun 84.000 kalpa lalu. Jadi, saya sering berkata bahwa yang penting adalah menggenggam momen saat ini. Jika kita ingin menjabarkan segala hal yang ada dalam kurun 84.000 kalpa, maka akan memakan waktu yang sangat panjang. Kita juga tak akan memahaminya secara menyeluruh. Intinya, kita semua memiliki hakikat yang murni yang Buddha katakan ada sejak masa tanpa awal
Namun, Buddha juga tidak mengatakan bahwa hakikat ini memiliki awal pada lebih dari 80.000 kalpa lalu. Buddha hanya menjelaskan dengan ungkapan ”Sejak masa tanpa awal.” Sesungguhnya, kapankah manusia pertama kali muncul? Ada orang yang bertanya demikian kepada Buddha. Dari mana manusia berasal? Kapan manusia pertama kali muncul? Sejak masa tanpa awal. Bagaimana bisa muncul? Mengikuti karma. Semua ini bergantung pada diri kita sendiri. Kita mungkin ingin bertanya tentang diri kita dalam banyak kehidupan lampau tentang diri kita dalam banyak kehidupan lampau yang berada di luar jangkauan kita. Kita mungkin ingin tahu apa yang pernah kita lakukan. Jika kita bertanya kepada Buddha tentang apa yang pernah kita lakukan, maka seperti yang kita lihat di dalam Sutra, Buddha bisa mengetahui berbagai hal berkalpa-kalpa tak terhitung yang lalu. Buddha hanya menggunakan istilah ”Berkalpa-kalpa yang lalu” atau “pada kehidupan lampau”. Jika lebih lama daripada itu, Buddha menyebutnya “kalpa tanpa awal” atau “sebanyak kalpa yang tak terhitung”
Mengenai hal-hal di kehidupan lampau, Buddha bisa menjelaskannya kepada kita, tetapi tanpa batasan awal keberadaan waktu. tetapi tanpa batasan awal keberadaan waktu. Jadi, yang kita harus tahu adalah Jadi, yang kita harus tahu adalah apa yang dimaksud dua puluh lima aku. Kita akan menjabarkannya secara sederhana Istilah hakikat awal ada karena ajaran luar tidak memahami hakikat sejati di luar 84.000 kalpa terakhir. Seharusnya dikatakan bahwa kita semua memiliki hakikat sejati yang selalu ada. Kini kita akan mulai membahas dua puluh lima aku dimulai dari hakikat awal. Dari hakikat awal, timbul potensi kecerdasan. Ini juga berarti kesadaran. Dari hakikat awal, timbul kesadaran
Dari sana timbul keakuan. Apakah yang paling besar? Tentu keakuan. Dengan adanya kesadaran terhadap “aku”, keakuan akan semakin besar. Jadi, dari keakuan, timbullah lima elemen dasar. Dengan kesadaran terhadap keakuan yang besar, Dengan kesadaran terhadap keakuan yang besar, timbullah lima elemen dasar. Lima elemen dasar disebut juga lima elemen halus. Elemen ini sangat halus. Ini seperti yang sering kita bahas, “Sebersit kegelapan batin melahirkan tiga aspek halus; kontak dengan kondisi luar melahirkan enam aspek kasar
” Prinsipnya sama. Jadi, lima elemen dasar ini melahirkan tiga aspek halus. Apa yang disebut lima elemen dasar? Rupa, suara, aroma, rasa, dan sentuhan. Inilah lima elemen dasar. Berikutnya, lima elemen dasar melahirkan lima unsur. Dengan adanya rupa, suara, aroma, rasa, dan sentuhan, maka berikutnya timbullah lima unsur. Lima unsur terdiri atas tanah, air, api, angin, dan ruang. Inilah lima unsur. Dari lima unsur, lahirlah lima indra. Apa yang disebut lima indra? Mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh
Inilah lima indra. Indra mata bersentuhan dengan objek rupa, begitu pula dengan indra lainnya. Inilah lima indra. Dari lima indra, lahirlah lima organ aktivitas. lahirlah lima organ aktivitas. Apa yang disebut lima organ aktivitas? Mulut, tangan, kaki, saluran kencing, dan anus. Inilah lima organ aktivitas. Lihatlah, agar tubuh sehat, manusia harus makan. Lihatlah, betapa banyak orang di dunia yang memakan banyak nyawa hanya demi nafsu mulut. Hanya karena emosi sesaat, mereka menciptakan banyak karma buruk lewat mulut
Ini dilakukan oleh organ aktivitas. Mengenai tangan, lihatlah, tangan ini bisa melakukan banyak hal baik, bisa membantu orang, dan menolong orang. Ini juga termasuk menciptakan karma. Ada ungkapan berbunyi, “Tangan bisa melakukan apa saja.” Benar, tangan bisa menciptakan berkah, juga bisa menciptakan karma buruk. Kedua tangan dapat membunuh banyak nyawa di dunia dan merusak berbagai benda di dunia. Agar tangan ini bisa melakukan perbuatan buruk dengan lancar, kaki harus bisa berlari. kaki harus bisa berlari. Jadi, mulut, tangan, dan kaki, semuanya termasuk organ aktivitas. Berikutnya masih ada saluran kencing dan anus. Ini cukup sederhana
Mengapa kedua organ ini juga bisa menjadi organ aktivitas? Benar, kedua organ ini melayani kebutuhan tubuh kita. Lihatlah, setelah kita makan, tentu sisa pencernaan harus dibuang, barulah tubuh bisa sehat dan mencapai keseimbangan. Apakah tubuh sehat atau sakit, ini berhubungan dengan dua saluran pembuangan tadi. Saudara sekalian, setiap hari, buang air besar dan kecil sangat penting. Alangkah baiknya jika tubuh kita sehat, lima indra dan lima organ aktivitas kita tidak mengalami gangguan. Jika mulut sehat, kita bisa selalu mengatakan hal baik. Apakah makanan yang kita makan terserap menjadi gizi yang berguna atau tidak, ini berkaitan erat dengan pembuangan. Jika sisa pencernaan tidak bisa dibuang dengan lancar, juga akan mendatangkan masalah. Demikianlah, dengan contoh ini seharusnya semua orang mengerti. Inilah yang disebut lima organ aktivitas
Berikutnya adalah organ pikiran. Buddha mengatakan bahwa organ jantung kita juga harus sehat. Jika jantung tidak sehat, maka juga sulit bagi otak untuk berpikir dengan benar. Jadi, jantung kita juga harus sehat. Jantung dan otak yang berkaitan dengan pikiran juga harus sehat. Ini juga termasuk indra. Jika ada lima indra terganggu, tiga indra terganggu, atau satu indra terganggu, maka kesehatan fisik dan batin kita akan terganggu. maka kesehatan fisik dan batin kita akan terganggu. Berikutnya adalah jiwa atau roh. Jika mendengar istilah jiwa atau roh, apa yang ada di dalam pikiran kalian? Ajaran luar menganggap adanya jiwa atau roh dalam bentuk makhluk gaib yang tak terhitung di dunia. Karena itu, mereka gemar menyembah dan memohon kepada para dewa
Namun, mereka tidak tahu bahwa segalanya bergantung pada diri sendiri. Kita harus mengubah pola pikir agar bisa hidup berdampingan dengan semua makhluk dan segala sesuatu di dunia. Kita telah membahas tentang dua puluh lima aku. Kita seharusnya menerapkan kebenaran yang didapat dari pembahasan ini dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu tak lepas dari pikiran kita. Bukankah kita sudah membahas dua puluh lima aku. Coba hitung dengan sungguh-sungguh mulai dari hakikat awal. Dari hakikat awal, muncullah potensi kecerdasan. Setelah itu, muncullah keakuan
Berikutnya, muncullah lima elemen dasar, lima unsur, lima indra, dan lima organ aktivitas. Berikutnya adalah organ pikiran, dan terakhir adalah jiwa atau roh. Semuanya berjumlah dua puluh lima. Saudara sekalian, Dharma begitu sederhana asalkan kalian bersungguh hati. Jika tidak, maka saya harus kembali menjabarkannya dan memakan waktu panjang. Jadi, harap semua orang memahami Dharma ini dengan pikiran sederhana, murni, dan jernih. Dharma ini memang agak rumit, tetapi kita hendaknya menyerapnya dengan pikiran sederhana dan selalu mengingatkan diri sendiri dalam keseharian. Baik rupa, suara, Baik rupa, suara, tanah, air, api, angin, maupun ruang, jika semuanya selaras, maka kehidupan akan tenteram. Saat indra mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh kita bersentuhan dengan dunia luar, bagaimana cara kita menyikapinya sangatlah penting. Berikutnya, terhadap organ tubuh seperti mulut, tangan, kaki, saluran pembuangan, dll., kita juga harus berhati-hati. Organ tubuh tidak boleh disalahgunakan, jangan sampai melakukan penyimpangan, dan jangan sampai tidak selaras
Dengan begitu, barulah kita bisa hidup tenteram. Yang terpenting, batin kita harus seimbang. Pikiran kita harus dijaga dengan baik, pemikiran kita pun harus berimbang. Semua ini harus kita jaga sendiri. Jangan sampai tersesat, karena sekali tersesat, sulit untuk kembali meski daLam 80.000 kalpa. Selamanya kita akan berada dalam kegelapan
Selamanya kita akan berada dalam kegelapan. Selamanya kita akan berada dalam kegelapan. Selamanya kita akan berada dalam kegelapan. Jadi, kita harus kembali dari kegelapan ke kesucian. Kita harus berjalan menuju kecemerlangan. Inilah yang benar. Untuk itu, harap semua selalu bersungguh hati.