Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-276-Mengembangkan Kebajikan dan Memutus Kebencian

Saudara se-Dharma sekalian, pada pagi hari kondisi di luar sangat tenang. Yang ada hanyalah suara embusan angin. Suara angin dan kondisi hening itu adalah kondisi luar yang bersentuhan dengan kesadaran pikiran kita. Manusia tidak lepas dari kondisi luar dan pikiran. Jika pikiran dapat menyatu dengan kondisi, batin kita pun akan hening dan jernih. Mengenai masa kini, masa lalu, dan masa depan, kita pun dapat melihat dengan jelas. Kesalahan di masa lalu harus segera kita perbaiki. Untuk masa depan, kita harus sungguh-sungguh melatih diri. Apakah pelatihan diri sangat rumit? Sangat sederhana. Sederhana, tetapi sulit untuk teguh di dalamnya. Inilah letak kesulitannya. Di mana letak kesederhanaannya? Sederhana untuk mengubah cara bicara. Ada orang yang memilki kebiasaan berbicara dengan angkuh. Ucapan orang yang angkuh tidak mengandung kerendahan hati. Orang seperti ini sangat sombong dan tidak bisa rendah hati. Dirinya sendiri tidak merasa demikian, tetapi orang lain mungkin terluka karenanya. Ini adalah sebuah tabiat. Melatih diri berarti harus berbuat baik. Ada, kita ada berbuat baik, tetapi kita kurang berhati-hati sehingga kasar dalam bertindak. Meski kita melakukan perbuatan baik dan membantu orang, tetapi juga membuat orang lain tidak senang dan tidak bisa merasakan sukacita. Dengan begitu, rasa syukur tidak bisa bangkit. Rasa syukur orang lain tidak bisa bangkit karena cinta kasih kita tidak kita wujudkan ke dalam tindakan nyata. Inilah yang disebut praktik.

Kita harus melakukan praktik. “Ada, kita ada melakukan, hanya saja ada beberapa bagian kecil yang tidak kita lakukan.” Anda ada berbuat baik, ada berniat baik, hanya saja tidak ada yang melihat karena tabiat buruk Anda belum berubah baik dalam ucapan maupun tindakan. Saya sering mengatakan bahwa hati sebaik apa pun tidak bisa dilihat orang, tetapi jika perbuatan tidak baik, semua orang dapat melihatnya. Ini karena pikiran dan perbuatan kita tak selaras. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kondisi luar dan kondisi dalam batin harus selaras. Kondisi luar yang dimaksud termasuk dengan wujud perilaku kita. Jadi, berlatih sesungguhnya berharap kita dapat menaklukkan tabiat buruk dengan kesungguhan hati. Sebelumnya kita terus membahas tiga kebijaksanaan dan tiga penembusan. Kita semua harus menjinakkan pikiran kita sendiri hingga mencapai tiga kebijaksanaan. Mengenai mendengar, merenung, dan praktik, meski hanya tiga hal dan terasa bukan apa-apa, tetapi mengapa saya terus membahasnya hingga berhari-hari? Benar, ini harus diingatkan terus.

Mengapa? Karena kita semua mudah lupa. Jadi, harus terus diingatkan. Tiga kebijaksanaan ini sangat penting bagi praktisi pelatihan diri. Mendengar, merenung, dan praktik. Mendengar, merenung, dan praktik. Ini semua sangat penting. Memahami tiga kebijaksanaan berarti mengetahui kondisi masa lalu, mengetahui apa yang harus dilakukan saat ini, dan memahami apa yang harus dilakukan di masa depan untuk mencapai tujuan. di masa depan untuk mencapai tujuan. Inilah yang disebut memahami tiga kebijaksanaan. Bukan hanya diri sendiri yang tahu, tetapi juga memberi tahu seluruh dunia. Silsilah Dharma Jing Si kini telah menjadi suatu sistem pelatihan diri dengan didirikannya mazhab Tzu Chi yang mengutamakan praktik di tengah masyarakat agar setiap orang dapat menjalankan ajaran secara nyata. Inilah tiga kebijaksanaan. Dengan mendengar, merenung, dan praktik, barulah tiga penembusan dapat dicapai; barulah kita dapat memahami segala Dharma; barulah pikiran kita dapat terbuka. Jadi, tiga kebijaksanaan dan tiga penembusan sangatlah penting. Meski hanya dua istilah yang terdiri atas beberapa kata, ini dapat membuat batin kita lebih lapang ini dapat membuat batin kita lebih lapang, murni, dan cemerlang. murni, dan cemerlang.

Bukankah ini kondisi batin yang hening dan jernih? Bukankah ini kondisi batin yang hening dan jernih? Kondisi batin seperti ini sangat murni dan sangat sempurna. Dengan demikian, tiga penderitaan akan lenyap. Dengan batin yang jernih seperti ini, apakah kita akan melakukan kesalahan? Tidak. Saat batin kita jernih, akankah kita tidak dapat berpikir jernih saat kondisi yang tidak diharapkan terjadi? Kita pasti dapat berpikir jernih. Selama batin kita jernih, maka saat kondisi yang tak diinginkan muncul, kita akan dapat segera mengatasinya. Saat dapat berpikiran terbuka dan jernih, maka saat masalah terjadi, kita tetap tak akan begitu menderita. Kita sudah membahas tiga penderitaan. Apa saja? Derita sengsara, derita pelapukan, derita perubahan. Benar, mengenai derita sengsara, jika kita dapat mencapai tiga kebijaksanaan dan tiga penembusan, maka meski kita datang ke dunia ini dengan membawa karma, maka kita akan tetap dapat berpikiran terbuka saat merasakan penderitaan. Kita akan tetap merasa damai. Mengenai derita pelapukan, fase lahir, tua, sakit, mati memang tak terhindarkan. Jika demikian, bukankah kita hendaknya berpikiran terbuka? Kita harus menggenggam waktu yang ada. Setiap orang pasti mengalami fase tua, sakit, mati. Berhubung semua orang pasti menua dan waktu pasti berlalu, maka segeralah memanfaatkan waktu yang ada, jangan menyia-nyiakan waktu. Kita harus bisa memanfaatkan waktu dengan baik karena waktu terus berlalu hari demi hari. Seiring berlalunya hari, usia hidup kita pun berkurang. Kita hendaknya terus mengingatkan diri sendiri, “Bagai ikan yang kekurangan air, apakah kebahagiaan yang didapat?” Untuk apa kita terus terbuai dalam kenikmatan duniawi? Cepat lambat derita pelapukan pasti menghampiri.

Jadi, kita harus menumbuhkan rasa sukacita dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat. Dengan demikian, kita akan bebas dari derita pelapukan. Kita semua juga tahu tentang perubahan. Proses perubahan tidak bisa dihentikan. Berhubung proses ini tidak bisa dihentikan, berhubung kondisi luar, kondisi tubuh kita, berhubung kondisi luar, kondisi tubuh kita, kondisi fisika, dan kondisi biologis juga terus mengalami perubahan, maka semua ini juga membawa penderitaan. Banyak hal yang membuat saya merasa tiada waktu lagi. Saat memiliki banyak pekerjaan, kita merasa tidak sempat lagi. Mengapa tidak sempat lagi? Perasaan tidak sempat ini juga membuat batin menderita. Ini karena adanya proses yang terus berjalan. Waktu tidak bisa menunggu dan tidak bisa berhenti. Waktu tetap terus berlalu. Karena itu, kita yang punya banyak pekerjaan, punya banyak tugas, dan punya banyak hal yang ingin dicapai selalu merasa tiada waktu lagi. Inilah proses perubahan. Jika kita dapat memahami tiga penderitaan ini Jika kita dapat memahami tiga penderitaan ini dengan kebijaksanaan dan penembusan tadi, maka kita akan dapat melenyapkannya. Kita akan mengatasi tiga penderitaan dan menyempurnakan tiga ikrar. Kita semua harus memiliki ikrar. Jika kita tidak memiliki harapan, maka kita akan terlalu pasif. Buddha memberi tahu para murid-Nya untuk tidak berlatih demi pencapaian pribadi saja atau demi mencapai pembebasan diri sendiri. Ini tidak benar. Kita harus bertekad menyelamatkan semua makhluk. Kita juga sudah membahas bahwa ikrar para Buddha dan Bodhisattva sangat banyak, ada dua belas ikrar Bhaisajyaguru, ada pula Empat Ikrar Agung Bodhisattva. Ini kita lantunkan pada setiap kebaktian malam. “Berikrar menyelamatkan semua makhluk yang tak terbatas.” Selain itu, masih ada tiga ikrar lainnya. Apakah kita telah merealisasikan semuanya? Terlebih lagi, kita masih memiliki tiga ikrar. Saat kita mencapai kebuddhaan, kita berharap dapat memberi manfaat bagi semua makhluk, membuat semua makhluk memperoleh pembebasan lahir batin, dan mewujudkan dunia yang bebas dari bencana. Ini juga merupakan ikrar. Untuk dapat menyempurnakan tiga ikrar, Untuk dapat menyempurnakan tiga ikrar, Untuk dapat menyempurnakan tiga ikrar, terlebih dahulu kita harus bertobat.

Tanpa batin yang murni, kita tak akan mencapai kebijaksanaan cemerlang dan merealisasi penembusan. Jadi, kita harus terlebih dahulu bertobat. Pertobatan adalah pemurnian. Bertobat berarti mengikis kegelapan batin. Kita sering membahas bahwa hakikat sejati kita yang murni tertutup oleh kegelapan batin. Kita sering melakukan kesalahan dalam keseharian. Kita memiliki kesalahan masa lalu dan juga kesalahan baru. Tabiat buruk sudah terpupuk sejak masa lampau. Sesungguhnya, banyak kesalahan yang telah kita perbuat akibat tabiat buruk ini. Tabiat yang dipupuk dari masa lampau ini terus membuat kita berbuat kesalahan di masa kini. Karena itu, kita harus bertobat. Pertobatan dan penyesalan pada bahasa aslinya, yaitu Sanskerta, disebut “Ksama”. Ini adalah istilah yang digunakan saat penahbisan. “Ksama” berasal dari bahasa Sanskerta. Dalam bahasa kita disebut pertobatan. Penyesalan berarti menyesali kesalahan. Di masa lalu kita melakukan banyak kesalahan baik saat menghadapi orang maupun masalah. Kita sering menjalin jodoh buruk dan melakukan banyak hal yang kurang baik. Semua ini kita lakukan pada masa lalu. Kita harus berintrospeksi terhadap masa lalu. Kita pun harus mengakui kesalahan kita. Ini yang disebut penyesalan, yakni menyesal atas kesalahan masa lalu. Banyak orang menyesal karena salah bertindak. Hukuman terbesar dalam hidup adalah penyesalan, menyesal karena tidak berpikir panjang sebelum bertindak. Setelah kesalahan sudah dilakukan, baru kita menyesal. “Saya tidak seharusnya melakukannya.”

Namun, setelah menyadari kesalahan ini, bukankah kita hendaknya mengutarakan kepada orang lain apakah setelah kita melakukan sesuatu di masa lalu, kita telah melukai orang tersebut, kita telah melukai orang tersebut, membuatnya marah, atau membuatnya salah paham. Kita harus meminta maaf dan bertobat, bukan hanya menyesal. Jika hanya menyesal, kita akan menderita. Hukuman terbesar bagi manusia adalah penyesalan. Setelah melakukan kesalahan, kita memendam perasaan bersalah di dalam hati. Sesungguhnya, penyesalan juga bisa timbul karena kita tidak melakukan sesuatu. Ini juga merupakan penyesalan. Setelah melakukan kesalahan di masa lalu, kita mungkin merasa bersalah dan ingin berubah, tetapi kesalahan sudah terlanjur dibuat, lalu bagaimana? Kita harus bertobat. Jika hanya menyesal dan menyimpan rasa bersalah di dalam hati, kita akan menderita dan risau. kita akan menderita dan risau. Jadi, kita harus bertobat, bukan hanya menyesal. Menyesal berarti menyimpan kesalahan di dalam hati. Setelah menyadari kesalahan, kita hendaknya bertobat. Kita harus menyadari kesalahan di masa lalu.

Kita harus bertobat dengan sungguh-sungguh. Inilah yang disebut pertobatan. Di dalam bahasa Sanskerta disebut “Ksama”, sedangkan di dalam bahasa kita disebut pertobatan, artinya menyesali kesalahan masa lalu dan memperbaiki diri untuk masa depan. Kita mungkin berkata, “Saya dahulu pernah berbuat salah terhadapmu.” “Namun, saya akan berubah.” “Namun, saya akan berubah.” “Saya akan berubah” di sini adalah pertobatan. Bertobat berarti memperbaiki diri untuk masa depan. Di masa lalu kita sudah berbuat kesalahan dan kita menyadarinya. Kita mengakuinya. Setelah mengakuinya, kita bertekad untuk berubah. Setelah bertekad, kita harus benar-benar berubah. Ini barulah menjadi pemurnian. Dengan begitu, kita bisa melepas belenggu batin. “Semua orang sudah tahu kesalahan yang saya lakukan di masa lalu.” kesalahan yang saya lakukan di masa lalu.” “Harap kalian semua dapat menjadi saksi bahwa saya pasti akan berubah.” Lihatlah, setiap hari kita dapat mendengar Lihatlah, setiap hari kita dapat mendengar insan Tzu Chi berbagi kisah bagaimana mereka melakukan kesalahan di masa lalu dan bagaimana mereka kini telah berubah hingga mendapat pujian dari semua orang. Dahulu semua orang mungkin takut dengan orang ini, tetapi kini semua orang sangat mengasihinya.

Inilah “memperbaiki masa lalu dan membina masa depan”. Untuk itu, kita harus sungguh-sungguh bertobat. Prinsip pertobatan adalah menyesali dan mengakui kesalahan masa lalu menyesali dan mengakui kesalahan masa lalu menyesali dan mengakui kesalahan masa lalu dan bertekad untuk memperbaiki diri. Inilah pertobatan yang sesungguhnya. Jadi, Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha sangatlah sederhana. Kita harus menghindari kesalahan. Saat berbuat kesalahan, kita harus memperbaiki diri. Inilah orang yang benar-benar bertobat. Di zaman Buddha hidup, di India terdapat perbedaan empat kasta. Namun, di dalam Sangha yang dibentuk Buddha, Buddha menggunakan prinsip kesetaraan. Buddha menggunakan prinsip kesetaraan. Setiap orang adalah setara. Buddha hendak mendobrak sistem kasta. Setelah mencapai kebuddhaan, Buddha kembali ke istana, membabarkan Dharma, dan berhasil menyadarkan banyak anggota keluarga kerajaan, terutama ayah-Nya. Beliau melihat putranya telah menjadi seorang Yang Tercerahkan dan berharap Sangha dapat berkembang pesat agar dapat menyebarkan ajaran ke berbagai penjuru dunia. Karena itu, ayah dari Buddha ini menjadi penyokong Sangha. Beliau mengimbau bahwa keluarga kerajaan yang memiliki putra lebih dari satu dapat mengizinkan satu putra untuk menjadi anggota Sangha. Pada masa itu, selain mendengarkan Dharma, banyak orang ingin menjalani kehidupan suci dan melatih diri dengan damai. Banyak orang ingin meninggalkan keduniawian. Ditambah lagi dengan imbauan ayah-Nya yang berharap setiap keluarga yang memiliki lebih dari satu putra dapat mengizinkan putranya memasuki Sangha. Jadi, banyak anggota keluarga kerajaan yang meninggalkan keduniawian.

Tentu, di antaranya terdapat saudara tiri Buddha, yaitu Nanda, juga ada sepupu Buddha, Ananda, ada pula putra dari bibi-Nya, dan masih banyak lagi. Namun, banyak dari mereka yang masih menyimpan tabiat buruk. Salah satunya adalah Tissa. Dia memiliki kesombongan yang tinggi. Saat berada bersama-sama dengan yang lain, dia masih membedakan kasta. Meski telah masuk ke dalam Sangha, dia masih merasa lebih tinggi karena merupakan sepupu Buddha. Jadi, saat berkumpul bersama yang lain, dia bersikap angkuh bagaikan memiliki kekuasaan yang besar. Dia suka banyak bicara, tetapi saat orang lain berbicara sedikit saja, dia langsung memberi tekanan. Dia selalu merasa lebih tinggi dari orang lain. Begitulah sikapnya di dalam Sangha. Di luar pun demikian. Dia memamerkan statusnya sebagai sepupu Buddha dan membeberkan hal-hal yang dia tahu. Dia selalu banyak bicara, tetapi saat orang lain berbicara sedikit saja, dia langsung memberi tekanan. Para anggota Sangha merasa jika dia berbuat begitu di dalam Sangha, mungkin semua orang masih bisa bersabar, tetapi jika dia terus berbuat begitu di luar, maka ini juga tidak baik. Jadi, mereka melapor kepada Buddha. Mendengar hal ini, Buddha memanggil Tissa.

Dia tetap memberi hormat kepada Buddha. Buddha lalu bertanya apakah benar Tissa bersikap seperti yang diceritakan para anggota Sangha. Tissa pun mengakuinya. “Benar, saya bersikap begitu.” Buddha lalu berkata, “Jika kau mengaku sebagai sepupu-Ku, kau seharusnya menghormati para orang tua dan senior.” “Kau sendiri harus memiliki rasa malu.” “Terhadap para sesepuh di dalam Sangha, kau hendaknya selalu membangkitkan rasa malu.” “Malulah terhadap diri sendiri dan orang lain.” “Berapa lama kau sudah meninggalkan keduniawian?” “Berapa banyak yang sudah kau mengerti?” “Yang orang lain mengerti mungkin belum kau mengerti/” “Jadi, kau harus selalu membangkitkan rasa malu.” “Kurangi bicaramu.” “Janganlah terlalu banyak bicara.” “Kita harus mendengarkan orang lain.” “Kita harus mendengar, merenung, dan praktik.” “Jika mendengar sesuatu yang tidak kau suka, kau harus bersabar.” “Kau harus belajar bersabar.” Jadi, pada saat itu, begitulah Buddha menasihati Tissa, kemudian Beliau mengucapkan syair yang berbunyi, “Kembangkan kebajikan dan hindari kebencian.” “Kau harus selalu berlatih dengan sungguh-sungguh.” “Jangan membangkitkan rasa benci.” “Bangkitnya kebencian adalah ketidakbaikan.” “Jika engkau marah, berarti engkau tidak baik.” “Tissa, kini dengarlah perkataan-Ku.”

“Hendaklah engkau memutus kebencian dan kesombongan.” Inilah nasihat Buddha kepada Tissa. “Lakukan segala kebajikan dan kembangkan kehidupan suci.” “Barang siapa melakukan ini akan membuat-Ku bersukacita.” “Jika kau dapat melakukan ini, Aku akan memberi selamat kepadamu.” “Pelatihan diri adalah kebajikan.” “Kembangkan kehidupan suci.” “Sucikan hati, jangan lagi ada kesombongan.” “Jika engkau dapat melakukan ini, aku akan turut bersukacita.” “Inilah yang harus engkau latih.” Saudara sekalian, pelatihan diri sangatlah sederhana. Kita cukup melenyapkan tabiat buruk kita. Dengan begitu, maka secara alami kebajikan akan tumbuh. Jadi, “Kembangkan kebajikan dan hindari kebencian.” Mengapa kita sering marah-marah? Karena kita tidak punya hati yang bertobat. Dengan bertobat, barulah kita bisa membangkitkan kesabaran. Tanpa pertobatan, kita tak akan punya kesabaran. Tanpa kesabaran, kebajikan tak akan tumbuh. Jadi, saya berharap setiap orang selalu bertobat. Bersungguh-sungguhlah selalu.

Leave A Comment