Sanubari Teduh-277-Lenyapnya Noda batin dan Bangkitnya Kebijaksanaan
Saudara se-Dharma sekalian, di dunia ini banyak hal yang harus kita ketahui baik kondisi luar maupun kondisi dalam batin kita sendiri. Setelah semakin banyak melihat dan semakin banyak tahu, kita dapat merasa bahwa masih banyak hal yang belum kita lihat atau tahu. Jadi, kapan manusia selesai belajar? Sesungguhnya, waktu yang ada tidak pernah cukup. Begitu banyak rasa tidak sempat kita alami karena hal-hal menakjubkan di dunia ini sungguh terlalu banyak. Jadi, untuk mengetahui semuanya tidaklah mungkin. Saya mendengar laporan para tenaga medis dalam rapat badan misi. Setiap departemen melaporkan bahwa selain memeriksa pasien, selain memeriksa pasien, para dokter juga menjaga hubungan yang baik sehingga mendapat kepercayaan dari pasien. Para dokter berusaha menggunakan pengetahuan mereka untuk mendiagnosis sumber penyakit pasien dan menentukan cara penanganannya. Setiap departemen mencakup wawasan yang luas.
Banyak pula hal yang masih dalam penelitian. Ada juga yang tengah dibuktikan dan telah dipraktikkan dalam praktik pengobatan. Meski telah berhasil pada tubuh manusia, penelitian tetap masih dilanjutkan. Ini bagaikan secercah cahaya harapan baik dalam penanganan kanker, bedah plastik, perawatan rambut, dll. Di zaman sekarang ada banyak hal yang membuat orang risau baik masalah organ tubuh, masalah kerontokan rambut, maupun yang lainnya. Namun, dunia kedokteran saat ini masih memiliki batasan. Akan tetapi, mereka tak menyerah pada batasan. Para dokter masih terus melakukan penelitian baik dalam segi ilmu, keterampilan, perawatan, dan sebagainya. Dalam laporan mereka, mereka melaporkan berbagai penemuan dari berbagai cakupan dan departemen. Dengan banyaknya penemuan ini, manusia pun memiliki harapan masa depan, bahkan memiliki usia yang lebih panjang. bahkan memiliki usia yang lebih panjang. Mendengar laporan ini, saya bertanya kapan penelitian itu selesai. Mungkin dibutuhkan 10 tahun lagi, paling cepat 5 tahun lagi. Saya pun berkata itu terlalu lama. Saya merasa tidak sempat lagi. Sungguh, di dunia ini, terdapat banyak hal yang tak terhitung terdapat banyak hal yang tak terhitung dan tak habis dipelajari. Bahkan, sayuran yang kita makan sehari-hari Bahkan, sayuran yang kita makan sehari-hari hanya kita tahu cara menanam dan memasaknya. Kita tidak tahu kandungan yang terdapat di dalamnya. Kita tak tahu apa yang baik untuk tubuh dan apa yang buruk jika terlalu banyak. Kita tidak menyadarinya. Lewat penelitian, para ahli tahu manfaat sayur-sayuran itu beserta efek sampingnya jika dimakan terlalu banyak. Bukan hanya segala benda materi di dunia yang mengandung banyak hal yang tak habis kita pelajari.
Sepanjang hidup kita ini, dalam tubuh kita sendiri saja, dalam tubuh kita sendiri saja, ada sel apa yang lahir dan mati, sel mana yang sedang berubah, sel mana yang sedang berubah, sel mana yang saling bertabrakan sel mana yang saling bertabrakan sel mana yang saling bertabrakan sehingga kita menderita sakit, kita juga tidak tahu. Kita terus berada bersama tubuh ini, tetapi kondisi di dalamnya beserta berbagai istilah biologi yang rumit juga tidak kita pahami. Namun, para dokter terus mempelajarinya dan para ahli pendidikan klinis terus menelitinya dan para ahli pendidikan klinis terus menelitinya setahap demi setahap. Setiap kali mendengar laporan mereka, Setiap kali mendengar laporan mereka, yang saya dengar adalah kemajuan dari berbagai penemuan yang berguna bagi tubuh manusia. Mereka terus meneliti cara menangani berbagai penyakit dalam tubuh. Selain mengembangkan obat-obatan, mereka juga mampu mengambil zat dari dalam tubuh, seperti sel punca, untuk pengobatan. Penemuan seperti ini sangat banyak dan tidak terbatas. Ini sungguh membuat saya tersentuh. Mereka yang sedang meneliti bukan hanya melakukan riset klinis, tetapi juga pengujian pada tubuh manusia. Contohnya, seorang dokter kita, dr. Hu. Beliau berusaha agar pasien tidak perlu dioperasi ataupun diintubasi. Dalam proses penanganan, beliau juga selalu bercakap-cakap dengan pasien agar proses itu terasa cepat bagi pasien. Beliau memasukkan selang dari hidung pasien. Namun, sebelum melakukannya pada tubuh pasien, beliau terlebih dahulu mencobanya untuk mengetahui bagian mana yang kurang atau membuat tidak nyaman. Beliau memasukkan selang itu ke hidung sendiri Beliau memasukkan selang itu ke hidung sendiri hingga usus dua belas jari atau bagian lambung. Beliau mencobanya sambil berdiri dan duduk. Setelah dicoba, beliau merasa kurang nyaman. Baik posisi berdiri maupun duduk, semua beliau coba sendiri. Beliau melakukan pengujian pada tubuh sendiri. Akhirnya, saat mencoba dalam posisi berbaring, barulah beliau merasa lebih nyaman. Dengan begitu, saat beliau memasukkan selang dan menangani pasien, pasien tetap dapat relaks sambil berbincang dengan beliau. Saya sangat tersentuh mendengarnya. Saat melihat presentasinya yang memperlihatkan bagaimana beliau menguji selang pada tubuh sendiri, saya sangat tersentuh. Selain itu, beliau juga tengah meneliti metode untuk menyembuhkan penyakit, mengubah penampilan, dan memperpanjang usia di masa depan. Saya merasakan adanya secercah harapan. Beliau berkata, “Tingkat kemungkinan berhasilnya sangat tinggi.” “Saya terus melakukan penelitian.” “Mungkin akan selesai dalam sepuluh tahun.” Saya menjawab, “Tidakkah terlalu lama?” Beliau berkata, “Paling cepat lima tahun lagi.
” Namun, saya masih merasa kurang cepat. Peningkatan di berbagai bidang terus terjadi. Perbaikan dan penemuan Perbaikan dan penemuan terus berlangsung. Ilmu pengetahuan sungguh tanpa batas. Jadi, dalam kehidupan, siapakah yang dapat berkata telah memahami dan mengetahui segalanya? Siapa yang mampu? Hanya Buddha, Yang Mahasadar di Alam Semesta. Lebih dari dua ribu tahun lalu, Buddha telah menemukan kebenaran alam semesta dan telah membabarkan kotornya tubuh manusia yang mengandung banyak mikroorganisme. Di dalam semangkuk air saja terkandung 84.000 mikroorganisme. Bagaimana agar 84.000 mikroorganisme ini tidak mencemari tubuh? Buddha mengajarkan cara menyaring air. Buddha mengajarkan cara menyaring air. Ananda bahkan berkata, Ananda bahkan berkata, “Yang Dijunjung, air ini terlihat bersih.” Akan tetapi, Buddha mampu melihat adanya 84.000 mikroorganisme di dalamnya. adanya 84.000 mikroorganisme di dalamnya. Mata Buddha mampu melihat segala sesuatu. hingga yang sangat kecil sekalipun. Buddha mampu melihat semua bakteri.
Karena itu, Beliau disebut Yang Mahasadar. Buddha Sakyamuni mengetahui segala sesuatu di alam semesta yang tercakup dalam ilmu fisika dan biologi. Buddha memahami semua ini. Pengetahuan tentang tubuh manusia juga dipahami oleh Buddha. Jadi, sebagai murid Buddha, kita sungguh beruntung. Setiap kali, saya selalu mendengar laporan badan misi amal tentang banyaknya penderitaan di dunia dan bagaimana insan Tzu Chi bertekad untuk terjun memberi pertolongan. Wilayah selatan Malaysia juga dilanda banjir terparah pada tahun 2006. Meski kita sangat khawatir, tetapi di sana misi Tzu Chi telah berkembang. Selain meningkatkan kewaspadaan, para relawan juga terjun menolong mereka yang menderita. Melihat mereka menolong para korban banjir, saya juga sangat tersentuh. Saya berada di Taiwan, tetapi pikiran saya berada bersama mereka. Saat memahami kondisi mereka, kita pun merasa khawatir. Apakah kekhawatiran ini hanya pada daerah itu? Sesungguhnya, masih ada daerah lain. Saat memberi pertolongan, sesungguhnya apa yang harus dilakukan? Para penolong juga harus menjaga keselamatan diri. Agar yang ditolong bisa mendapat kehangatan dan bantuan yang cukup saat melewati masa-masa bencana, usaha yang harus dilakukan sungguh tidaklah mudah. Jadi, bagaimana makhluk awam dapat memiliki kebijaksanaan yang mendekati atau sama dengan Buddha? atau sama dengan Buddha? Semakin banyak tahu, kita malah merasa kita semakin jauh dari kebijaksanaan Buddha. Karena itu, saya sering berkata tidak cukup waktu lagi. Akibat banyaknya hal yang harus dilakukan dan diselesaikan, saya sungguh merasa tidak cukup waktu. Hal-hal yang perlu ditingkatkan juga masih banyak. Waktu yang ada sungguh tidak cukup. Untuk melenyapkan segala noda batin dan mendekati kebijaksanaan Buddha, jalan yang harus ditempuh masih panjang, mungkin tidak selesai dalam kehidupan ini. Waktu yang ada tetap tidak cukup. Waktu sangat terbatas.
Namun, di tengah keterbatasan waktu, kita harus memanfaatkan setiap waktu yang ada. Yang terpenting adalah kita harus meningkatkan kebijaksanaan dan pemahaman terhadap segala sesuatu. Satu-satunya cara untuk itu adalah melatih batin kita sendiri. Kita harus melenyapkan noda batin sehingga tidak lagi memikirkan untung rugi ataupun bertikai dengan orang lain. Dengan demikian, barulah kita bisa mendekat pada kebijaksanaan Buddha. Seperti para peneliti, mereka harus mengesampingkan berbagai hal dan berfokus pada penelitian mereka dengan semangat penuh di ruang laboratorium. dengan semangat penuh di ruang laboratorium. Dengan menggunakan mikroskop, mereka melihat berbagai mikroorganisme. Sama halnya, tugas kita adalah berusaha berlatih untuk memahami kebenaran di balik alam semesta dan diri kita. Karena itu, kini kita hanya memiliki satu cara, yaitu mengendalikan batin kita dan meneguhkan pikiran kita. dan meneguhkan pikiran kita. Pikiran hendaknya tidak terus liar. Batin kita tidak boleh terus bergejolak. Janganlah memicu masalah antarmanusia. Jika sudah terlanjur terjadi, lalu bagaimana? Begitu noda batin bangkit, ia akan terus berkembang. Lalu bagaimana? Seperti yang sudah kita bahas, kita harus bertobat. Pertobatan adalah pemurnian. Dengan memiliki hati yang bertobat, barulah kita dapat membangkitkan kebijaksanaan dan memahami segala kebenaran. Banyak hal yang merintangi kita sehingga kita tak dapat melangkah maju. Rintangan yang dimaksud adalah noda batin. Akibatnya, kita tak dapat berpikir jernih. Inilah tanda kurangnya kebijaksanaan. Kebijaksanaan tidak cemerlang karena banyaknya noda batin yang menutupi dan merintanginya. Jadi, untuk mendobrak noda batin, satu-satunya cara adalah bertobat, memperbaiki tabiat lama, dan membina masa depan. Kita sudah membahas bahwa mengubah tabiat buruk masa lalu disebut penyesalan. Terhadap kesalahan masa lalu, kita berani mengakui dan mengungkapkannya.
Setelah mengakuinya, dengan batin yang teguh, kita memperbaiki diri untuk masa depan. Sejak saat itu, kita harus memperbaiki diri secara menyeluruh. Kita harus mengubah pandangan hidup kita dan memperbaiki kesalahan masa lalu. Kita juga harus membuang kebiasaan untuk mengulangi kesalahan yang pernah diperbuat. Jadi, kita harus bertobat. Setelah bertobat, barulah kita dapat memahami empat kesadaran. Apa itu empat kesadaran? Dahulu empat kesadaran ini juga pernah dibahas. Kesadaran adalah bagian dari lima agregat. Dari lima agregat, kita dapat merasakan berbagai kondisi. Kesadaran berkaitan dengan kondisi luar dan dalam. Dahulu, sebelum membahas 108 noda batin, kita pernah membahas berbagai istilah yang tidak lepas dari lima agregat atau Panca Skandha. Di sini dibahas mengenai empat kesadaran. Jika masih ingat, kita tahu lima agregat terdiri atas rupa, perasaan, persepsi, dorongan karma, dan kesadaran. Benar, kesadaran ini juga berhubungan dengan rupa. Lihatlah lima indra kita, yaitu mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh. Lima indra ini mengalami kontak dengan rupa, suara, aroma, rasa, dan sentuhan di luar. Namun, tanpa fungsi kesadaran, kontak ini tidak akan berlanjut. Ambil orang buta sebagai contoh. Dia memiliki mata. Dia bisa membuka mata, tetapi jika kita mengambil benda ke hadapannya dan bertanya padanya apakah benda itu berwarna hijau atau merah, dia tidak bisa melihatnya. Dia tidak tahu apakah benda itu hijau atau merah.
Kita benar-benar melihat dia membuka matanya, tetapi saat benda diletakkan di hadapannya, dia tetap tak dapat membedakan warna benda itu. Ini terjadi akibat rusaknya saraf mata, Dalam ajaran Buddha disebut kesadaran penglihatan. Lewat contoh ini, kalian dapat memahami bahwa dalam lima agregat terdapat kesadaran. Kesadaran berfungsi untuk membedakan. Dengan adanya kesadaran yang membedakan ini, kita akhirnya memiliki berbagai perasaan, berbagai pemikiran yang melenceng, hingga perilaku yang menyimpang. Saudara sekalian, jika kita tidak bertobat, maka kebijaksanaan kita tak akan bertumbuh dan kita tak akan memahami kebenaran di balik segala sesuatu. Jika kita memiliki banyak noda batin, maka kebijaksanaan kita tak akan bertumbuh. Kesadaran kita akan membawa kita untuk terus melakukan kesalahan dalam keseharian. Dengan bertobat, barulah noda batin dari empat kesadaran dapat dilenyapkan. Dengan demikian, pahala akan tumbuh. Saudara sekalian, saya berharap kita semua memahami bahwa kesadaran sangat penting dalam keseharian. Di dalam kehidupan ini, Dharma amatlah banyak. Namun, kita hendaknya dapat menghimpun semua Dharma ini kepada satu fokus, yaitu menaklukkan pikiran kita sendiri. Dengan begitu, barulah kita dapat mendekat pada kebijaksanaan Buddha. Harap semua lebih bersungguh hati.