Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-278-Empat Pikiran Setara

Saudara se-Dharma sekalian, keseharian kita tak lepas dari lima agregat, yaitu rupa, perasaan, persepsi, dorongan karma, dan kesadaran. Berhubung tak dapat lepas dari lima agregat, maka kita hendaknya mampu mengendalikan bagaimana kesadaran pikiran kita menganalisis objek rupa dari luar. Mengenai objek rupa, di dunia ini terdapat wujud kebahagiaan dan penderitaan. Selama suatu hal itu berwujud, ia akan dapat bersentuhan dengan kesadaran pikiran kita. Saat melihat sesuatu yang kita sukai, yang mana sesuatu ini tentu berwujud, pikiran kita langsung bergejolak. Ini pun karena adanya kontak antara kesadaran pikiran dan objek rupa. Terjadinya kontak menimbulkan perasaan, entah itu perasaan suka ataupun perasaan tidak suka. Setelah perasaan, muncul persepsi dan pemikiran. Kita mulai berpikir bagaimana mendapatkan atau menghilangkan sesuatu tersebut. Ini melewati proses berpikir dan pencerapan. Berikutnya, kita mulai berniat atau terdorong untuk bertindak. Demikianlah, rupa, perasaan, persepsi, dan dorongan karma tidak terlepas dari kesadaran. Empat hal ini ditambah kesadaran, seluruhnya disebut lima agregat. Lima agregat ini memungkinkan adanya kebocoran. Kebocoran ini terus terjadi dalam diri kita lewat empat agregat yang tadi kita bahas ditambah fungsi agregat kesadaran. Diri kita terusun oleh 4 agregat atau unsur. Kita dapat melihat bahwa diri kita juga memiliki rupa. Kondisi luar juga memiliki rupa. Perasaan juga dirasakan dalam diri kita. Saat tubuh kita bersentuhan dengan kondisi luar, barulah muncul perasaan. Setelah munculnya perasaan, kita mulai membentuk persepsi dan membedakan, lalu membangkitkan dorongan untuk bertindak. Inilah empat agregat yang dimaksud.

Namun, empat agregat ini, termasuk segala yang diri kita rasakan, pasti harus bergantung pada satu faktor. Apakah itu? Kesadaran. Kesadaran menjadi sandaran bagi rupa, perasaan, persepsi, dan dorongan karma. Tanpa kesadaran, meski mata terbuka, kita tetap tak bisa melihat. Demikian pula, saat pikiran kita kacau, kita juga tak dapat menelaah kondisi luar dengan tepat. Jadi, kesadaran kita dan kondisi luar berhubungan sangat erat. Diri kita mengeluarkan sinyal apakah kondisi yang kita lihat berwarna merah, berwarna hijau, terlihat baik, terlihat tidak baik, apakah itu kita inginkan, tidak kita inginkan, atau membuat kita mengeluarkan tindakan, dll. Semua ini bergantung pada kesadaran. Semua ini bergantung pada kesadaran. Semua ini bergantung pada kesadaran. Keseharian kita tak lepas dari kesadaran ini. Karena itulah, empat agregat lainnya bisa berfungsi. Jadi, jika kita mampu memahami empat agregat atau empat kesadaran ini, maka dengan sendirinya banyak noda batin tidak akan terwujud ke dalam perbuatan kita. tidak akan terwujud ke dalam perbuatan kita. Noda batin juga muncul dari kesadaran. Jika kita mampu mengendalikan empat kesadaran, dengan sendirinya kita akan mampu mengembangkan empat pikiran setara. Apa yang dimaksud empat pikiran setara? Empat pikiran setara adalah empat pikiran yang dilandasi kesetaraan. Jika kesadaran pikiran kita benar dan lurus, maka pemikiran dan pandangan kita akan membuat kita melihat segala sesuatu dengan benar. Apakah yang tidak setara di dunia ini? Satu ketidaksetaraan saja dapat menambah penderitaan manusia. Sering kita bahas bahwa di zaman Buddha terdapat perbedaan kasta yang mencolok.

Di masa itu, Buddha menyelidiki cara untuk mendobrak sistem yang tidak setara ini. Jadi, Buddha meninggalkan keduniawian. Bukan hanya menyadari ketidaksetaraan manusia, Beliau juga menyadari bahwa perasaan manusia terhadap segala hal juga tidak setara. Karena itu, muncullah ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Dengan adanya diskriminasi, tak ada kesetaraan. Jadi, kita harus memiliki hati yang lapang. Sebelum bisa melakukan ini, kita harus meluruskan pandangan kita. kita harus meluruskan pandangan kita. Jika pandangan kita dapat diluruskan, maka kita akan mampu mengembangkan empat pikiran setara. Empat pikiran setara yang dimaksud, antara lain pertama adalah kesetaraan segala sesuatu. Segala sesuatu pada dasarnya adalah setara. Hakikat sejati kita semua pun setara. Jika kita mampu menggali hakikat sejati ini, kita akan menemukan bahwa tiada lagi yang tidak setara di dunia. Jika kita memandang dunia dengan pikiran setara, maka segala hal juga akan terlihat setara, tiada diskriminasi atas yang baik dan buruk. Saat pikiran kita benar dan lurus, akankah ada kejahatan yang terwujud? Tidak ada. Jadi, hanya dengan hakikat sejati inilah kita mampu memandang setara segala sesuatu. Inilah yang disebut kesetaraan segala sesuatu.

Berikutnya, yang kedua adalah kesetaraan tekad. Sesungguhnya, asalkan kita memiliki cinta kasih yang tulus, maka itulah yang disebut cinta dan welas asih. Cinta dan welas asih tak punya ukuran besar kecil. Asalkan memiliki cinta kasih, manusia akan dapat mengasihi tanpa syarat. Asalkan memiliki welas asih yang tulus, manusia mampu merasakan penderitaan sesama. Jadi, cinta dan welas asih tak dibedakan besar atau kecilnya. Dalam skala kecil, saat melihat seseorang kedinginan, meski tidak mengenalnya, kita segera mengambilkan pakaian untuk menghangatkan tubuhnya. Di saat ada orang yang tak memiliki pakaian Di saat ada orang yang tak memiliki pakaian dan kita memberi pakaian yang dia butuhkan itu, bukankah ini adalah wujud cinta dan welas asih? Entah itu hanya sebuah tindakan kecil Entah itu hanya sebuah tindakan kecil yang didasari niat sederhana ataupun pertolongan bencana besar ataupun pertolongan bencana besar yang memerlukan himpunan yang memerlukan himpunan kekuatan banyak orang, keduanya sama-sama didasari cinta dan welas asih yang bermula dari niat atau tekad satu orang. Dengan adanya tekad masing-masing orang yang dihimpun menjadi banyak, maka akan dapat menolong banyak orang. Praktik welas asih sebesar apa pun, semua bermula dari satu orang. Tekad atau niat individu ini mengandung cinta kasih tanpa pamrih dan welas asih yang tulus.

Cinta kasih dan welas asih bukanlah sebatas membantu orang yang menderita untuk mendapat makanan, mendapat pakaian, mendapat tempat tinggal, atau memiliki penghidupan yang stabil. Bukan hanya itu. Yang tak kalah penting adalah menenangkan batin. Pada pertemuan pagi relawan setiap hari, kita dapat mendengar cerita para relawan dari RS Tzu Chi Dalin, Xindian, dan Hualien serta Griya Jing Si. Kisah-kisah yang setiap hari kita dengar banyak berisi cerita tentang pasien yang menderita akibat penyakit berat. Penderitaan para pasien itu bukan hanya dari segi fisik, tetapi juga dari segi batin. Lihatlah, para dokter merawat fisik pasien, sedangkan para relawan menenangkan batin pasien. Jadi, baik relawan maupun tim medis, semuanya bekerja sama. Di setiap sudut rumah sakit kita, tim medis dan relawan berusaha merawat dan menghibur pasien. Kita berusaha melenyapkan penderitaan mereka dan menenangkan hati mereka. Begitu pula di dalam misi pendidikan. Saya melihat sebuah pemandangan yang membuat saya tersentuh.

Saat berdiri di atas panggung Auditorium Konferensi Internasional di Aula Jing Si kita, saya sangat tercengang. Saya melihat para ayah dan ibu yang berkumpul bersama dengan begitu agung dan begitu indah. Di mana letak keindahannya? Di dalam kebenaran dan kebajikan. Inilah kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Orang-orang ini datang dari seluruh Taiwan. Mereka adalah para ayah dan ibu dari para mahasiswa universitas kita. Apakah mereka ayah dan ibu kandung para siswa? Mereka tak kalah dari orang tua kandung. Mereka adalah para Tzu Cheng dan anggota komite yang menjadi pendamping para mahasiswa dan dikenal dengan nama “Ayah Tzu Cheng” dan “Ibu Yi De”. Sekali setiap bulan mereka berkumpul bersama keluarga para mahasiswa. Satu kelompok kecil terdiri atas delapan sampai sepuluh mahasiswa, didampingi satu atau dua ayah atau ibu. Artinya, ada tiga keluarga yang mendampingi anak-anak. Delapan sampai sepuluh anak Delapan sampai sepuluh anak yang masih belia ini mungkin saja memiliki kegundahan di hati mungkin saja memiliki kegundahan di hati dan tidak memiliki tempat untuk bercerita. Mereka mungkin tak berani bercerita kepada guru ataupun orang tua kandung mereka. Namun, para ayah dan ibu Yi De ini dapat berperan sebagai guru, ayah, ibu, dan juga teman. sebagai guru, ayah, ibu, dan juga teman.

Saat mereka menghadapi kesulitan, ayah dan ibu pendamping ini akan berbagi pengalaman untuk membimbing mereka seperti guru. Saat hati mereka dilanda kesedihan, para ayah dan ibu ini memberi perhatian seperti orang tua kandung. Saat batin mereka diliputi kegalauan, para ayah dan ibu ini juga bisa menjadi teman. Para ayah ibu ini dapat berperan sebagai guru, orang tua, dan juga teman. Inilah kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Mereka adalah teladan bagi anak-anak. Saya sering berkata bahwa orang tua adalah contoh bagi anak. Jika kita ingin anak kita memiliki kepribadian yang baik, maka orang tua harus memberi contoh. Jadi, para ayah Tzu Cheng dan ibu Yi De kita berperan sebagai guru, orang tua, dan teman bagi anak-anak ini serta memberi teladan nyata kepada anak-anak. Mereka datang dari seluruh Taiwan dan berkumpul sekali dalam sebulan. Mereka terus mengembangkan wawasan dan kebijaksanaan lewat pelatihan sekali sebulan ini. Mereka masih harus mengikuti pelatihan.

Menjadi orang tua pendamping juga tidak mudah. Mereka harus terus belajar agar dapat mengikuti perkembangan anak-anak. agar dapat mengikuti perkembangan anak-anak. Di dalam diri mereka, saya melihat sosok Bodhisattva. Sebagai orang tua, mereka menjadi ayah yang penuh kehangatan dan ibu yang penuh welas asih. Mereka berbagi suka duka bersama anak-anak. Saya sungguh tersentuh melihatnya. Jadi, kita harus bertekad dengan pikiran yang setara. Anak orang lain sama dengan anak kita sendiri. Yang ketiga, tekad melatih diri juga harus dilandasi kesetaraan. Saat bertekad, kita harus memiliki pikiran setara. Ini juga berlaku bagi tekad melatih diri. Kita tidak perlu mendiskriminasi mana metode Dharma yang dalam atau dangkal. Sesungguhnya, kita harus melakukan praktik nyata. Metode Dharma apa pun itu, selama mengandung kebenaran, hendaknya kita terima. Jangan kita merendahkan orang yang berpendidikan rendah karena kita berpendidikan lebih tinggi. Meski berpendidikan rendah, Meski berpendidikan rendah, seseorang tetap bisa memiliki budi pekerti baik. Sebaliknya, orang yang berpendidikan tinggi Sebaliknya, orang yang berpendidikan tinggi juga bisa memiliki budi pekerti yang biasa saja. Kita hidup untuk belajar. Karena itu, kita tidak perlu mendiskriminasi.

Dahulu saya pernah bercerita tentang ujian masuk di sebuah sekolah perempuan di Kyushu, Jepang. Mereka memiliki sebuah ketentuan, yaitu calon siswi harus bisa memegang sumpit, harus bisa mengambil tahu dengan sumpit. Bukankah menggunakan sumpit adalah hal biasa? Dalam sehari, paling tidak kita menggunakan sumpit sebanyak tiga kali. Ini sudah dijalankan sejak kecil hingga dewasa. Namun, apakah cara memegang sumpitnya benar? Hal yang sudah biasa dilakukan pun diuji apakah dilakukan dengan benar atau tidak. Sama halnya, relawan Tzu Chi yang baru masuk organisasi Tzu Chi harus mengikuti pelatihan pertama yang mengajarkan cara memegang mangkuk dan memegang sumpit. Inilah langkah awal dalam perjalanan kita. Kini kita bisa melihat dalam dunia pendidikan, khususnya di Jepang, juga menekankan cara hidup, seperti memegang sumpit, memegang mangkuk, mengenakan pakaian, dan berjalan. Semua ini adalah pendidikan cara hidup. Karena itu, ini tidak boleh dipandang remeh. Pendidikan cara hidup ini mungkin kita kira sangatlah dangkal, tetapi tidak. Sebagai manusia, kita harus belajar segala sesuatu dari dasar. Jadi, kita harus belajar tentang pandangan kesetaraan.

Kita semua tengah belajar ajaran kesetaraan. Jalan ini tiada diskriminasi. Selama mengarah pada tujuan, berarti jalan ini adalah benar. Yang keempat adalah kesetaraan welas asih. Ini sama dengan yang tadi kita bahas. Anak sendiri dan anak orang lain sama-sama kita kasihi. Semuanya kita anggap sebagai anak sendiri. Welas asih yang dimaksud di sini adalah kesetaraan dalam pelatihan diri kita yang didasari rasa hormat. Selain memiliki cinta kasih yang setara terhadap semua makhluk, kita juga harus memiliki pikiran setara dalam mempelajari jalan kebenaran. Dengan pikiran setara ini, Dengan pikiran setara ini, kita akan dapat selalu memiliki cinta kasih yang penuh rasa hormat terhadap siapa pun. Saya sering menceritakan sebuah kisah tentang seorang anak yang bermain membangun kota dengan pasir. Saat itu Konfusius ingin melintas. Zi-lu dengan tergesa-gesa berkata, “Nak, ayo meminggir.” Namun, anak ini mendongak dan berkata, “Kuda yang harus mengalah pada tembok ataukah tembok yang harus mengalah pada kuda?” Mendengarnya, Konfusius segera turun dari kuda dan membungkuk dengan penuh hormat kepada anak itu. kepada anak itu. Beliau menganggapnya sebagai guru. Sebagai orang dewasa, beliau merasa hal tadi tidak terpikirkan. Meski kota itu hanya mainan dari pasir, Meski kota itu hanya mainan dari pasir, ia tetap saja sebuah kota yang bertembok. ia tetap saja sebuah kota yang bertembok. Karena itu, beliau merasa sudah selayaknya beliau yang menunggang kuda memutar untuk menghindari tembok. Lihatlah, Konfusius yang merupakan orang bijak, begitu mendengar suatu kebenaran, langsung membangkitkan rasa hormat. Ini juga termasuk welas asih. Welas asih bukan semata-mata memberi.

Kita juga harus tahu bahwa segala yang kita lakukan harus dilandasi kesetaraan, termasuk dalam belajar. Yang terpenting adalah praktik nyata. Karena itu, kita sering berkata bahwa rasa hormat sangatlah penting. Tanpa ada orang yang memberi petunjuk, bagaimana kita bisa membangkitkan pengetahuan kita sendiri? Karena itu, saya sering mengulang kalimat “berbagai pintu Dharma tanpa batas terpapar di hadapan”. Siapa pun yang memberinya, Dharma tetaplah Dharma. Karena itu, kita harus membangkitkan welas asih dan rasa hormat terhadap siapa pun. Inilah pikiran setara. Untuk dapat membangkitkan kebijaksanaan dan memahami kebenaran, batin kita harus suci dan jernih terlebih dahulu. Setelah batin kita tersucikan, barulah di dalam kehidupan sehari-hari kita mampu menganalisis dengan jelas segala rupa, perasaan, persepsi, dorongan karma, dan kesadaran. Dengan begitu, barulah kita dapat memiliki pikiran setara dalam menghadapi orang dan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kita memandang setara terhadap segala Dharma, setara di dalam tekad kita, setara di dalam tekad kita, setara di dalam pelatihan diri kita, juga setara terhadap segala sesuatu di dunia, baik manusia, hal, maupun yang lainnya. Kita harus setara dalam cinta kasih dan rasa hormat. Jadi, semua hendaknya selalu bersungguh hati.

Leave A Comment