Sanubari Teduh-279-Membangun Empat Keyakinan Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, dalam kehidupan sehari-hari kita harus mengendalikan tubuh dan pikiran. Mengenai kontak antara tubuh dan cuaca di luar, diri kita sendiri harus sangat memperhatikannya. Mengenai pikiran, setiap menit, setiap detik, bahkan setiap saat, pikiran tidak boleh melenceng dari kebenaran. Kita harus ingat untuk menjaga kesadaran pikiran kita. Kesadaran tidak boleh tercemar Kesadaran tidak boleh tercemar oleh kondisi atau objek luar. Setiap saat kita pasti mengalami kontak dengan rupa, suara, aroma, rasa, dan sentuhan dari luar. Banyak hal atau objek luar ini yang dianalisis melalui kesadaran pikiran kita. Karena itu, kita mengalami sensasi perasaan dan timbullah pemikiran atau persepsi yang akhirnya mendorong kita untuk bertindak. Jadi, kesadaran kita harus sungguh-sungguh dijaga Jadi, kesadaran kita harus sungguh-sungguh dijaga dan dikendalikan dengan baik. Kita berharap dalam keseharian kita, kita dapat memiliki empat pikiran setara. kita dapat memiliki empat pikiran setara. Kita sudah membahas hal ini. Terhadap semua manusia dan hal di dunia ini, kita tidak boleh bersikap diskriminatif. Dengan begitu, barulah kita dapat membangun empat keyakinan. Jika terhadap segala sesuatu kita dapat bersikap penuh pengertian dan toleransi, maka kita tidak akan mendiskriminasi dan pikiran kita tidak akan penuh kerisauan.
Dengan demikian, barulah kita dapat membangun empat keyakinan dengan tegak. Yang pertama adalah keyakinan terhadap akar. Kita harus yakin terhadap akar. Apa yang dimaksud akar? Yaitu sumber kebenaran dari Buddha. Kita tahu bahwa kebuddhaan tidak pernah berubah, disebut kebenaran mutlak atau Kedemikianan. Kita disebut makhluk awam karena meninggalkan akar ini. Kita semua memiliki hakikat kebuddhaan yang sama. Semua orang sudah tahu bahwa Semua orang sudah tahu bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada hakikatnya tiada perbedaan. Semua orang hanya tahu, tetapi entah apakah benar-benar yakin. Setelah yakin, apakah kita dapat mengasihi dan menghormati diri sendiri? Jangan biarkan diri kita terlepas dari hakikat sejati. Apakah diri kita selalu berpegang pada kebenaran dan Kedemikianan? Kedemikianan ini adalah guru dari para Buddha dan sumber praktik semua makhluk. Para Buddha bersandar pada Kedemikianan. Jadi, Kedemikianan ini adalah tujuan pelatihan para Buddha. Kita pun demikian. Bukankah tujuan kita setiap hari sama, yaitu mencari kebenaran mutlak yang menjadi sandaran kita? Kita semua hendaknya yakin bahwa semua orang memiliki hakikat murni yang sama dengan Buddha. Jika kita dapat meyakini ini, maka kita akan memiliki sandaran. Dengan bersandar pada kebenaran mutlak ini, jika kita mampu membangkitkan hakikat sejati, membangkitkan tiga kebijaksanaan, dan mencapai tiga penembusan, maka apa lagi yang dapat menyesatkan kita?
Jadi, kebenaran mutlak atau Kedemikianan adalah guru para Buddha, adalah guru para Buddha, juga merupakan guru hakiki setiap orang. Bukankah kita sering membahas Tiga Permata yang hakiki? Di dalam diri kita terdapat Buddha, Dharma, dan Sangha yang hakiki dan sempurna. Hanya saja, kita disesatkan oleh kondisi luar sehingga tidak mampu menemukan kembali hakikat ini. Jadi, kini kita harus mencari kembali hakikat ini. Inilah tujuan kita, juga merupakan akar yang kita yakini. Jika setiap orang dapat menemukan kembali akar ini, barulah kita akan mendapat kemajuan dalam praktik di jalan kebenaran. Jika praktik kita keluar dari jalur yang seharusnya, Jika praktik kita keluar dari jalur yang seharusnya, itu berarti kita tidak menghargai jalan kebenaran ini. Orang yang tak menghargai kebenaran akan menjauh. Jadi, kita harus tahu bahwa Kedemikianan adalah akar dari pelatihan diri. Kita harus selalu memiliki rasa menghargai. Kita harus selalu memiliki rasa menghargai. Kita harus sangat menghargai jalan kebenaran ini. Dengan mengerti untuk menghargai, barulah kita dapat tekun dan bersemangat; barulah kita dapat mengerti cara mencari jalan sesuai petunjuk Buddha dan para sesepuh yang terus memberi tahu kita. Jika kita menghargai jalan ini, Jika kita menghargai jalan ini, maka keyakinan akan bangkit. Tanpa keyakinan, kita tidak dapat melihat jalan kebenaran. Meski kebenaran ada di hadapan kita, kita tetap tak akan menghargainya dan tidak akan menaruh minat. Jadi, meski kita mengetahuinya, kita tetap tidak akan menghargainya. Dengan begitu, kita tidak akan mengikutinya. Jadi, keyakinan sangat penting bagi kita. Kita harus meyakini akar ini. Akar yang dimaskud adalah hakikat sejati atau Kedemikianan. Para Buddha dan Bodhisattva bersandar pada jalan ini. Jadi, kita harus meyakini akar ini, yaitu sumber yang merupakan kebenaran mutlak. Yang kedua adalah keyakinan pada Buddha. Kita semua adalah murid Buddha. Berhubung telah menjadi murid Buddha, bagaimana mungkin kita tidak meyakini Buddha? Jadi, kita harus yakin pada Buddha. Kita yakin Buddha memiliki kualitas pahala tak terbatas. Buddha telah mencapai realisasi sempurna. Beliau telah melatih diri dengan baik. Beliau telah melatih diri dengan baik. Karena itu, Beliau mencapai banyak realisasi dan mampu membuktikan kebenaran alam semesta. Inilah pahala. Beliau telah tekun berlatih ke dalam diri dan telah menampakkan keagungan ke luar.
Beliau mampu menunjukkan jalan bagi kita. Jadi, kita harus meyakini Buddha. Bukan hanya yakin pada kualitas pahala-Nya, tetapi juga harus selalu ingat dan merenungkan keluhuran Buddha serta meneladani praktik-Nya. Bukankah sering dikatakan bahwa melafalkan nama Buddha berarti membangkitkan hati Buddha? Benar, kita harus membangkitkan hati Buddha. Hati kita adalah hati Buddha. Dengan memiliki hati Buddha dan berada dekat dengan Buddha, kita akan dapat menjalankan ajaran Buddha. Jadi, kita harus meyakini Buddha, senantiasa merenungkan kualitas Buddha, dan mendekatkan diri pada Buddha. Bukan hanya itu, kita juga harus memberi persembahan dan menghormati Buddha demi membangkitkan akar kebajikan dan mengembangkan kebijaksanaan. Inilah yang disebut keyakinan pada Buddha. Kita yakin pada Buddha. Tanpa keinginan mendekatkan diri pada Buddha, tidak akan timbul rasa hormat. “Ada, saya yakin pada Buddha.” “Tetapi kamu tidak mendekatkan diri pada Buddha.” “Hatimu tidak dekat dengan hati Buddha.” Apakah ini bisa disebut hormat? Kita sering membahas apa yang disebut persembahan. Saya sering meminta kalian memberi persembahan berupa keharmonisan. Mengapa keharmonisan? Karena kita menghargai Dharma ini.
Dharma berisi ajaran untuk saling mengasihi dan saling menghormati. Kita harus memberi persembahan berupa tindakan, bukan berupa materi. Kita bukan harus menyembah Buddha dan memberi persembahan materi. Bukan. Kita harus memberi persembahan berupa tindakan. Jadi, dahulu kita juga pernah membahas bahwa ada persembahan materi, persembahan penghormatan, dan persembahan tindakan. Sesungguhnya, persembahan materi bukanlah yang terpenting. Meski persembahan penghormatan juga perlu, tetapi tidak lebih baik dari praktik nyata. Jadi, kita bukan hanya melakukan puja atau memberi penghormatan saja. Sesungguhnya, dalam hubungan antarmanusia, jika kalian dapat saling harmonis dan mengasihi, barulah merupakan persembahan yang sebenarnya. Jika kita dapat saling harmonis dan mengasihi, kita akan dapat menumbuhkan cinta kasih yang tidak membedakan. Ini karena kita meyakini Buddha. Berikutnya adalah keyakinan pada Dharma. Dharma adalah ajaran Buddha. Ajaran ini sangat bermanfaat bagi kita. Jadi, kita meyakini ajaran Buddha dan mempraktikkannya.
Ajaran ini menunjukkan jalan bagi kita. Jika dapat menapaki jalan ini sesuai petunjuk, kita tidak akan tersesat dan akan tiba pada tujuan kita. Jadi, kita harus yakin. Kita yakin bahwa ajaran Buddha pasti bermanfaat bagi kita semua. Dalam dunia masa kini, banyak orang yang menyimpang dari kebenaran. banyak orang yang menyimpang dari kebenaran. Karena itu, dunia ini kehilangan tatanan dan etika kekeluargaan. Kita harus meyakini ajaran Buddha. Bukan hanya itu, kita juga harus selalu merenungkan ajaran ini. Ajaran apa yang kita dengar hari ini? Setelah mendengar, kita harus memasukkannya ke dalam hati. Kita harus selalu mengingatnya. Bukan hanya memasukkannya ke dalam hati, kita juga harus mempraktikkannya. Sebelumnya kita sudah membahas mengenai mendengar, merenungkan, dan praktik. Ini adalah tiga kebijaksanaan. Setelah mendengar ajaran, kebijaksanaan kita bertambah. Setelah mendengar ajaran, kita harus merenungkannya. Setelah merenungkannya, kita harus mengingat dan mempertahankannya. Setelah merenungkan ajaran, kita harus menerapkannya dalam keseharian, saat berhadapan dengan kondisi dan orang. Kita harus bersungguh hati dalam mendengar dan merenungkan ajaran. Setelah mengetahui bahwa ajaran itu benar, kita harus mempraktikkannya. Jadi, selain merenungkan, kita harus mempraktikkannya. Inilah yang disebut meyakini Dharma. Berikutnya adalah keyakinan pada Sangha. Sangha adalah komunitas orang yang menjalankan ajaran Buddha. Mereka meninggalkan keduniawian untuk berlatih dan membimbing semua makhluk. Kita terus mencari Dharma dan berusaha memahami Dharma dengan tujuan menyebarkan Dharma ini di tengah masyarakat untuk membimbing semua makhluk. Jadi, Sangha membangun tekad Buddha dan mempraktikkan praktik yang dijalankan Buddha.
Inilah Sangha. Sangha juga merupakan ladang berkah. Ladang berkah bukan berarti hanya menerima persembahan. Sebagai ladang berkah, Sangha harus menjalankan praktik agung. Sangha juga harus menjadi petani batin bagi semua makhluk. Kalian harus menggarap ladang batin semua orang dan membuat para makhluk awam dapat mengembangkan berkah dan kebijaksanaan. Kita harus membimbing mereka bagaimana mengembangkan berkah dan bagaimana mengembangkan kebijaksanaan. Kita harus mencari cara untuk membantu mereka menanam benih. Jadi, Sangha juga merupakan petani batin bagi semua makhluk. Karena itu, kita percaya bahwa Sangha adalah ladang berkah. Sangha membimbing semua orang untuk mengembangkan berkah dan kebijaksanaan. Karena itu, kita harus meyakini Sangha. Sangha harus menjalankan praktik yang benar, harus menyucikan batin sendiri, harus menyucikan batin sendiri, dan tidak boleh menyimpang. Di saat yang sama, juga harus menyucikan batin orang lain. Semua ini diwujudkan dalam perilaku kita. Karena itu, kita harus sungguh-sungguh berlatih sesuai pandangan benar dan pikiran benar.
Dengan demikian, kita dapat memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kita sering membahas Jalan Mulia Beruas Delapan. Kita semua sudah menghafalnya. Sebagai praktisi pembina diri, kita tidak boleh menyimpang dari jalan benar ini. Jadi, kita harus selalu menaruh minat dan mempelajari jalan benar ini. Dalam Jalan Mulia Beruas Delapan yang diajarkan Buddha dan bermanfaat bagi semua makhluk ini, jika tidak memiliki arah yang benar, bagaimana kita bisa menapaki jalan ini? Jadi, kita harus meyakini Sangha. Inilah empat keyakinan, yaitu keyakinan pada akar, pada Buddha, pada Dharma, dan pada Sangha. Akar yang dimaksud adalah Kedemikianan. Kita semua harus bersungguh hati. Sesungguhnya, kita semua berjodoh. Dimulai dari masa-masa sulit, kita berharap dapat berbuat demi ajaran Buddha, demi semua makhluk. Ajaran Buddha tak lain bertujuan untuk membimbing semua orang memasuki jalan benar. Ajaran Buddha luas bagai samudra. Mana yang harus kita ambil? Kita harus membuat pilihan. Yang kita pilih adalah Jalan Bodhisattva. Namun, saat akan mulai melangkah, setiap langkah pasti terasa amat sulit. setiap langkah pasti terasa amat sulit. Akan tetapi, asalkan arah kita benar, maka sesulit apa pun jalan ini, kita tetap akan mampu menapakinya. Awalnya, kita tidak memiliki jalan. Setelah menemukan arah, jalan akan terbuka lurus dan lapang. Setelah mengetahui arah dari jalan ini dan setelah memahami kebenaran ini, maka setelah memantapkan arah, kita harus mulai melangkah dengan giat. Kita harus bersungguh hati sejak langkah awal hingga jalan terbuka. Kita harus memiliki semangat pelopor. Jalan ini mungkin sebelumnya tidak terlihat bagaikan dipenuhi semak belukar.
Namun, jika kita dapat berpegang pada kebenaran, maka kita akan memiliki keyakinan. Tadi sudah kita bahas bahwa tanpa keyakinan, kita tak dapat semakin dekat dengan Buddha. Jadi, kita harus terlebih dahulu yakin pada kebenaran mutlak. Kedemikianan atau kebenaran mutlak sangat murni. Dengan kebenaran ini, kita harus terjun ke masyarakat untuk menyucikan hati manusia. Jika hanya menyucikan hati sendiri, sedangkan sekeliling kita tetap penuh noda, maka ini tidak sesuai dengan semangat Buddha. maka ini tidak sesuai dengan semangat Buddha. Jadi, kita harus menyebarkan ajaran Buddha di tengah masyarakat untuk menyucikan hati manusia. Inilah arah tujuan kita. Perjalanan ini sangat sulit. Di dalam kondisi serba sulit, kita membangun ladang pelatihan ini. Kita telah membangun ladang pelatihan sejalan dengan jalan ini. Kita telah membangun ladang pelatihan dan membuka jalan. Cara atau alat apa yang kita gunakan? Cara atau alat apa yang kita gunakan? Tentu kita membangun di atas dasar keyakinan. Dengan tekad, kita membangun keyakinan Dengan tekad, kita membangun keyakinan tanpa kerisauan. Kita yakin sehingga bebas dari kerisauan. Kita tidak perlu takut. Inilah yang seharusnya, meski saat kita menapaki jalan ini, banyak orang yang ragu bagaimana silsilah ajaran Jing Si dapat bertahan, dapat menghimpun kekuatan besar, dan tetap berada pada arah yang benar. Untuk itu, dibutuhkan makanan spiritual untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan kita.
Dengan jiwa kebijaksanaan, batin kita akan mendapat nutrisi. Dengan begitu, barulah kita dapat benar-benar meyakini Kedemikianan. Jadi, kita harus membangun keyakinan. Empat keyakinan yang kita bahas membantu kita untuk tetap berada pada arah yang benar. Kita tidak perlu khawatir. Dengan tekad, kita membangun keyakinan tanpa kerisauan. Tekad kita pun harus sungguh teguh tanpa pamrih. Kita harus meneguhkan tekad kita. Jadi, dalam kehidupan Griya Jing Si, kita tidak meminta apa pun dari pihak luar. Kita sungguh-sungguh hidup mandiri. Jadi, kita sungguh harus teguh, barulah kita dapat maju dalam pelatihan kita. Dengan sikap seperti ini, dengan sendirinya kita akan bekerja keras dengan sukarela. Jadi, tekad kita harus sungguh teguh tanpa pamrih. Ke dalam diri, kita harus mengembangkan ketulusan tanpa penyesalan. Kita menjalankan semua ini dengan sukarela dan dengan kesatuan tekad. Dari lubuk hati yang terdalam, kita membangkitkan ketulusan. Berhubung sudah datang ke Griya Jing Si, kita harus menegakkan ajaran Jing Si tanpa penyesalan. Bukan hanya memperteguh keyakinan dan melangkah dengan mantap, dari dalam batin, kita juga harus membangkitkan rasa tanpa penyesalan meski menghadapi rintangan seberat apa pun. Berikutnya, batin dan perbuatan kita harus benar tanpa keluh kesah. Berhubung telah bertekad untuk berbuat demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk, maka batin dan perbuatan kita harus benar. Batin dan perbuatan harus benar. Bagaimana pun kondisi di luar, kita tetap tidak berkeluh kesah. Sesungguhnya, empat Dharma latihan ke dalam ini adalah inti ajaran Jing Si. Latihan praktik ke luar juga memiliki empat Dharma. Mazhab Tzu Chi kita dilandasi oleh cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin.
Selain memiliki cinta kasih, kita harus memiliki cinta kasih agung. Cinta kasih agung bebas dari penyesalan. Kita bersumbangsih demi semua makhluk, berharap dunia ini dapat menjadi Tanah Suci, setiap orang hidup damai dan tenteram, dan dunia bebas dari bencana. Inilah kebahagiaan. Kita hendak membangun kebahagiaan. Agar dunia tenteram dan penuh berkah, diperlukan cinta kasih untuk mengasihi semua makhluk di dunia. Cinta kasih ini harus tanpa penyesalan. Masalah apa pun yang kita temui, kita tetap tidak menyesal. Cinta kasih bebas dari penyesalan, welas asih bebas dari keluh kesah. Dalam kesulitan apa pun, kita tetap merasa senasib sepenanggungan dengan semua makhluk. Selama dapat melenyapkan penderitaan semua makhluk, berapa pun usaha yang harus dikeluarkan, kita tidak akan mengeluh. Apakah semua makhluk akan berterima kasih terhadap kita, itu tidak kita pikirkan. Jadi, welas asih bebas dari keluh kesah. Sukacita bebas dari kerisauan. Keseimbangan batin bebas dari pamrih. Inilah empat Dharma yang harus kita bangun di tengah masyarakat. Empat Dharma praktik ke luar adalah cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Dalam setiap hal yang kita lakukan, kita harus memiliki empat sifat ini. Dalam pelatihan ke dalam diri, kita harus memiliki keyakinan, kesungguhan, ketulusan, dan kebenaran. Inilah keyakinan yang hendak kita bangun. Saudara sekalian, kita harus bersungguh hati. Dalam ajaran Jing Si, kita semua harus melatih diri dengan berpegang pada empat Dharma ini. Dalam praktik ke luar, kita harus menerapkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Jadi, semua harus selalu bersungguh hati.