Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-280-Membangun Empat Keyakinan Bagian 2

Saudara se-Dharma sekalian, mempelajari ajaran Buddha dimulai dari keyakinan. Keyakinan adalah ibu dari segala pahala dalam ladang pelatihan yang menumbuhkan segala akar kebajikan. Kita sudah membahas tentang empat keyakinan. Kita harus yakin terhadap akar. Apa yang dimaksud akar? Kebenaran mutlak atau hakikat sejati. Kita yakin setiap orang termasuk kita pada dasarnya memiliki hakikat sejati yang murni. Jadi, kita semua harus yakin. Siapa yang memberi tahu tentang hakikat ini? Buddha. Kita harus meyakini Buddha. Buddha adalah Yang Mahasadar Di Alam Semesta. Segala ajaran-Nya adalah benar, tidak mungkin bohong. Jadi, kita harus meyakini ajaran yang dibabarkan Buddha. Artinya, kita harus meyakini Dharma. Dari manakah kita mendengar Dharma? Dari para pewaris dan penyebar Dharma, yaitu Sangha yang merupakan para murid Buddha. Mereka mengikuti jejak Buddha dan Bodhisattva. Mereka meninggalkan keluarga kecil dan melepaskan cinta individual serta ego. dan melepaskan cinta individual serta ego. Setelah melepaskan cinta individual, mereka bertekad untuk terjun ke masyarakat dengan rasa syukur. Sebelum terjun ke masyarakat, mereka harus terlebih dahulu melatih diri. Mereka sepenuh hati melatih diri dan tidak berkeluarga. Namun, mereka menganggap semua makhluk sebagai keluarga. Seluruh dunia adalah satu keluarga. Begitu banyak makhluk yang menderita di dunia. Buddha terus datang ke dunia demi semua makhluk.

Karena itu, Beliau disebut guru agung Dunia Saha. Buddha adalah guru agung Dunia Saha, juga merupakan ayah semua makhluk dari empat jenis kelahiran. Jadi, sebagai murid Buddha, kita semua harus tahu hal ini. Buddha adalah ayah semua makhluk dari empat jenis kelahiran. Karena itu, kita juga harus menganggap semua makhluk sama dan dekat dengan kita. sama dan dekat dengan kita. Jadi, kita harus mengembangkan cinta kasih tanpa pamrih dan memandang semua makhluk bagai keluarga. Jadi, kita harus memiliki cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Ini juga yang sering kita bahas. Untuk dapat bersumbangsih dengan empat sifat luhur ini, tentu kita harus terlebih dahulu membangun keyakinan, kesungguhan, ketulusan, dan kebenaran di dalam batin. Jika kita tidak membangun keyakinan terhadap akar, Buddha, Dharma, dan Sangha secara mendalam, kita tak mungkin bisa sungguh-sungguh melangkah di tengah masyarakat dengan mantap. Jika kita kurang keyakinan dan kesungguhan, bagaimana bisa kita membangun ketulusan dan kebenaran? Jadi, ketulusan dan kebenaran bertujuan membangun teladan di masyarakat. Keyakinan dan kesungguhan bertujuan meneguhkan tekad pelatihan kita. Ketulusan dan kebenaran adalah teladan di tengah masyarakat. Inilah kualitas luhur yang harus kita bangun sebagai praktisi. Yang harus dilatih ke dalam adalah keyakinan, kesungguhan, ketulusan, dan kebenaran, sedangkan yang harus dipraktikkan ke luar adalah cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Cinta kasih yang dimaksud adalah cinta kasih agung. Cinta kasih agung bebas dari penyesalan, welas asih agung bebas dari keluh kesah, sukacita agung bebas dari kerisauan, keseimbangan batin agung bebas dari pamrih. Kita hendaknya dapat mewujudkan ini.

Kita harus bersumbangsih tanpa pamrih. Cinta dan welas asih adalah kewajiban kita. Sukacita dan keseimbangan batin akan melapangkan hati kita. Kita harus memiliki hati seluas jagat raya. Hati seluas jagat raya inilah yang disebut hati yang benar-benar lapang yang mampu merangkul seluruh dunia. Dengan kelapangan hati inilah, batin kita baru dapat benar-benar melepas dan seimbang. Jadi, pintu Dharma yang tak terhingga harus dimulai dari batin kita yang penuh ketulusan, kebenaran, keyakinan, dan kesungguhan. Ke luar, praktik di masyarakat tak dapat lepas dari cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Ini adalah jalan yang harus dilatih Bodhisattva. Di dunia ini, kita harus membangun jalan untuk melatih diri. Sutra adalah jalan, dan jalan harus dipraktikkan. Kita harus menapaki Jalan Bodhisattva. Dalam perjalanan itu, kita hendaknya bebas dari penyesalan, keluh kesah, kerisauan, dan pamrih. Untuk itu, kita harus membangun keyakinan. Kita sudah membahas tentang empat keyakinan yang harus dibangun untuk dapat bebas dari empat alam kelahiran. Kita tahu ada enam alam kelahiran. Alam ini juga merupakan jalan dan arah. Enam alam ini juga biasa disebut enam jalur kelahiran. Artinya sama saja. Meski istilahnya berbeda, tetapi maknanya sama. Alam dewa dan manusia adalah alam baik. Namun, banyak penderitaan di alam manusia. Di alam manusia, suka duka silih berganti. Ada kebajikan, ada kejahatan. Karena itu, alam manusia masih tergolong alam baik. Namun, di alam manusia, orang yang menderita juga tidak sedikit. Karena keburukan dan kebaikan saling bercampur, maka alam manusia ini adalah alam yang tepat untuk mendukung pencapaian Buddha dan Bodhisattva. Karena itu, alam manusia tak termasuk alam buruk. Hanya saja, ia memang penuh penderitaan.

Alam rendah atau buruk meliputi alam asura, setan kelaparan, binatang, dan neraka. Empat alam ini penuh penderitaan tak terkira. Asura tersebar di enam alam. Asura yang memiliki berkah lahir di alam dewa dan manusia. Asura di alam dewa sering diliputi ketidaksenangan dan tidak memiliki sikap pengertian. Karena itu, kebencian sering menguasai mereka. Mereka gemar marah. Meski lahir di alam dewa, mereka tetap menderita bagai berada dalam neraka batin. Adakah asura di alam manusia? Ada. Tabiat mereka sama dengan asura di alam dewa. Setiap hari kita bisa melihat banyak orang yang gemar mencari masalah atau mabuk-mabukan sehingga pikiran terganggu. Setelah mabuk, mereka membuat masalah. Ini juga termasuk asura di alam manusia. Mereka telah kehilangan sifat luhur manusia. Inilah yang disebut asura. Namun, mereka masih memiliki berkah karena pernah menanam berkah di kehidupan lampau. Itulah sebabnya, di alam dewa dan di alam manusia ada asura. Namun, asura tidak hanya ada di dua alam ini. Ada pula asura yang sangat menderita di alam setan kelaparan, binatang, dan neraka. Mereka juga termasuk asura. Terlahir di alam binatang sudah sangat menderita, ditambah lagi perangai mereka begitu buruk. Kita sering melihat hewan yang mengandung racun. Lihatlah saat orang tersengat lebah. Meski lebah itu sangat kecil, mereka bisa menyengat orang dengan berkelompok, seperti manusia yang juga membentuk kelompok. Mereka selalu mencari orang untuk dilukai. Ini sama dengan lebah.

Sedikit saja Anda mengusik mereka, sekelompok lebah akan keluar dan menyengat seluruh bagian kepala Anda. Apakah luka sengatan itu mudah sembuh? Jika tak segera ditangani, juga akan membahayakan nyawa. Beginilah lebah jenis tabuhan yang beracun. Sedikit diusik, mereka akan melukai orang. Begitu pula dengan ular. Karena itu, dalam hidup ini, kita hendaknya tidak hanya berusaha membina keharmonisan dengan sesama manusia dan selalu menjalin jodoh baik. Lebih jauh, terhadap semua makhluk, baik yang lahir lewat rahim, telur, kelembapan, ataupun lahir spontan. Inilah yang disebut empat jenis kelahiran. Makhluk asura sangat banyak dalam empat kelahiran ini. Jadi, terhadap semua makhluk, kita harus menjalin jodoh baik. Dalam berjalan kita juga harus hati-hati. Jangan sampai kita menabrak sarang lebah. Jangan pula sampai dipatuk ular. Singkat kata, kita harus waspada terhadap empat jenis kelahiran. Kadang, saat insan Tzu Chi akan pergi ke daerah bencana di luar negeri, saya akan berpesan kepada mereka untuk memperhatikan keperluan sehari-hari. Selain itu, juga memperhatikan sarana transportasi. Jangan sampai mereka digigit nyamuk. Ini pun saya pesankan kepada mereka. Jangan sampai mereka digigit nyamuk. Demikianlah makhluk dari empat jenis kelahiran. Kita harus hidup damai dan berdampingan dengan mereka. Ada orang yang bertanya, “Kita diminta hidup damai dengan semua makhluk, tetapi Master berpesan jangan sampai kita digigit nyamuk, lalu bagaimana?” Kita harus melakukan pencegahan. Cegahlah agar nyamuk tidak mendekat. Waspadalah agar tidak menabrak sarang lebah. Berhati-hatilah saat berjalan. Banyak hal yang harus kita waspadai agar tidak terusik oleh kehadiran kita. Asura sangat mudah marah. Asura sangat mudah marah. Kita sering mendengar berita orang-orang yang terlibat perkelahian hanya karena saling berpapasan, saling menatap, dan merasa tidak senang. Jadi, di dalam kehidupan ini, kita sendiri harus bisa meningkatkan kewaspadaan.

Kita harus tahu cara mewaspadai empat kelahiran dan enam alam. Jadi, terlahir di alam manusia, kita tidak mencari kelahiran di alam dewa karena begitu berkah itu habis, kita tetap akan kembali jatuh ke alam lain. Kita pun tidak ingin terlahir sebagai asura, apalagi setan kelaparan, binatang, atau makhluk neraka. Jadi, kini kita harus memanfaatkan kehidupan sebagai manusia ini. Kita sudah memiliki guru dan ayah yang baik, seorang Yang Mahasadar, Buddha Sakyamuni. Kita harus meyakini ajaran Buddha. Dengan membangun empat keyakinan, barulah kita dapat menghindari empat alam rendah. Tiada orang yang ingin terlahir di empat alam rendah. Berhubung tidak mau terlahir di alam rendah, maka sebagai manusia, kita harus waspada. Hindari segala kejahatan, lakukan segala kebajikan. Hanya dengan menghindari kejahatan, kita baru dapat melakukan kebajikan. Jadi, Saudara sekalian, berlatih ajaran Buddha berarti harus waspada terhadap sumber timbulnya kejahatan. Dari kebodohan dan ketamakan, terwujudlah alam rendah. Akibat ketamakan, kebencian, dan kebodohan, kita akan jatuh ke alam rendah. Kita tidak akan berdaya karena ini adalah pilihan kita sendiri. Mengapa disebut pilihan kita sendiri? Karena kita memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Jadi, kita harus mengantisipasi ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Saat masih ada di dunia, Buddha juga tak hentinya mengajarkan bahwa jangan mengira kita yang sudah meninggalkan keduniawian pasti terbebas dari empat alam rendah. Tidak semudah itu.

Jika hanya berpenampilan layaknya bhiksu/bhiksuni, tetapi batin tidak benar-benar meninggalkan keduniawian, tidak melatih diri, tidak membangun keyakinan, kesungguhan, ketulusan, dan kebenaran, tidak mempraktikkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin, hanya tampak luarnya saja yang seperti bhiksu/bhiksuni, maka tidak ada bedanya dengan orang awam. Pada masa Buddha hidup, suatu hari sekelompok bhiksu mengumpulkan dana makanan di kota. Saat memasuki kota, mereka mendapat suatu kabar tentang seorang bhiksu bernama Hastaka. Meski telah menjadi bhiksu dan hidup sezaman dengan Buddha, tetapi dia akhirnya meninggalkan kelompok tetapi dia akhirnya meninggalkan kelompok dan hidup sebagaimana orang awam. Dia berlaku baik di hadapan orang lain demi memperoleh persembahan dan demi mencari nama serta keuntungan. Dia telah mendengar ajaran Buddha dan mengetahui banyak Dharma, maka dia juga membabarkan Dharma kepada umat. Semua orang menghormatinya sebagai murid Buddha dan memberinya banyak persembahan. Karena menerima banyak persembahan, batinnya semakin jauh dari pelatihan diri, tetapi penampilannya masih seperti bhiksu pada umumnya. Dia pun tetap menerima persembahan.

Namun, kehidupan juga tidak kekal. Dia menderita sakit, lalu meninggal. Jadi, para bhiksu yang masuk ke kota ini mendengar kabar kematiannya. mendengar kabar kematiannya. Setelah makan, mereka berkumpul bersama Buddha dan memberi hormat. Mereka meminta petunjuk Buddha. Mereka berkata, “Yang Dijunjung, saat memasuki kota hari ini, kami menerima kabar bahwa Bhiksu Hastaka menderita sakit dan meninggal.” Bhiksu Hastaka menderita sakit dan meninggal.” “Yang Dijunjung, kiranya Yang Dijunjung dapat memberi tahu kami di alam mana Bhiksu Hastaka terlahir.” Buddha lalu menjawab, “Dengarkan dengan saksama.” “Ketahuilah bahwa barang siapa melakukan tiga hal bukan Dharma, maka setelah meninggal pasti terlahir di alam rendah.” “Setelah meninggalkan kedunawian, dia bukan hanya tidak mengubah tabiat buruk masa lalunya, tetapi malah menumbuhkannya.” “Didasari ketamakan akan nama dan keuntungan, dia menerima persembahan dari orang.” “Ketamakannya bertumbuh.” “Ini adalah tiga hal bukan Dharma.” Tiga hal ini mencakup ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Inilah tiga hal bukan Dharma. Setelah meninggalkan keduniawian, ketamakan bhiksu ini tidak berkurang. Kebencian dan kebodohannya juga tidak berkurang, malah sebaliknya bertambah. Orang seperti ini pasti jatuh ke alam neraka. Orang seperti ini pasti jatuh ke alam neraka. Jadi, kepada para bhiksu itu, Buddha mengucapkan sebuah gatha, Buddha mengucapkan sebuah gatha, “Jika timbul niat buruk dan menumbuhkan ketamakan, kebencian, serta kebodohan, maka kejahatan akan dilakukan dan mencelakai diri sendiri, bagai pohon pisang raja yang melukai dirinya saat berbuah.” “Tanpa ketamakan, kebencian, dan kebodohan, itulah yang disebut kebijaksanaan.” “Tidak mencelakai diri sendiri, itulah manusia unggul.” “Karena itu, hendaklah mengakhiri bencana ketamakan, kebencian, dan kebodohan.”

Dengan demikian, kita paling tidak sudah sedikit paham. Jika kita membangkitkan niat tidak baik, ketamakan, kebencian, dan kebodohan akan bangkit. Saat ketamakan, kebencian, kebodohan muncul, jika tidak segera kita lenyapkan, maka kejahatan akan tercipta lewat tubuh atau perbuatan kita. Perbuatan ini akan bertentangan dengan Dharma. Bagi praktisi yang telah meninggalkan keduniawian, ketamakan, kebencian, dan kebodohan tentu tidak boleh ada. Begitu pikiran tamak, benci, dan bodoh ini muncul, segala ucapan dan tindakan kita akan melawan Dharma. Tindakan melawan Dharma ini disebut kejahatan. Jika begini, siapa yang celaka? Diri sendiri. Demi melatih diri dan terbebas dari enam alam kelahiran, kita memasuki Sangha, tetapi kini kita malah melanggar Dharma. Ini tentu mencelakai diri sendiri. Sesungguhnya, kehidupan tidaklah kekal. Suatu saat manusia pasti meninggal. Namun, di dalam hidup ini, tiga hal yang bukan Dharma senantiasa ada dalam keseharian kita. Kita mengira kita memiliki banyak pencapaian, padahal tidak. “Bagai pohon pisang raja yang melukai diri sendiri saat berbuah.” Kita tahu bahwa pohon pisang mati setelah berbuah. Saat pohon pisang sudah besar dan sudah berbuah, ia menunggu waktu untuk dipotong. Pohon pisang hanya dapat berbuah sekali. Dengan kata lain, saat buah pisang tumbuh, saat buah pisang tumbuh, berarti pohon pisang melukai dirinya sendiri dan menanti saat untuk mati.

Berikutnya dikatakan, “Tanpa ketamakan, kebencian, dan kebodohan, itulah yang disebut kebijaksanaan.” Jika ketamakan, kebencian, dan kebodohan dapat kita lenyapkan, berarti kita dapat disebut sebagai orang bijaksana. Saudara sekalian, bukankah tujuan belajar ajaran Buddha adalah mendapat kebijaksanaan? Untuk mendapat kebijaksanaan, kita harus melenyapkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Dengan begitu, barulah tiga kebijaksanaan dan tiga penembusan dapat tercapai. Dengan adanya kebijaksanaan, kita tidak akan mencelakai diri sendiri. kita tidak akan mencelakai diri sendiri. Meski kehidupan tidaklah kekal, tetapi jiwa kebijaksanaan selalu ada selamanya. Jadi, kita harus tahu bahwa untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan, kita harus melenyapkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Dengan demikian, seiring berlalunya hari-hari, barulah kita tak akan melukai jiwa kebijaksanaan. Inilah yang disebut manusia unggul. Inilah yang disebut manusia unggul. Meninggalkan keduniawian memang merupakan perkara manusia agung dan sulit dilakukan.

Jadi, kita harus melenyapkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan agar bisa menjadi manusia unggul. “Karena itu, hendaklah mengakhiri bencana ketamakan, kebencian, dan kebodohan.” Ketamakan, kebencian, dan kebodohan merupakan bencana bagi kita. Kita bisa jatuh ke empat alam rendah karena ketamakan, kebencian, dan kebodohan ini. Jadi, kita harus benar-benar melenyapkannya. Mendengar pembabaran dari Buddha, para bhiksu memperoleh pemahaman bahwa ternyata meninggalkan keduniawian bukanlah pembebasan. Meninggalkan keduniawian hanyalah awal dari pelatihan diri. Ini hanyalah cara untuk belajar mengikis ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Jadi, setelah mempelajari semua ini, jika kita malah mencari nama dan keuntungan, maka pasti akan jatuh ke tiga alam rendah. Meski seseorang hidup sezaman dengan Buddha, meski dia adalah murid yang diterima langsung oleh Buddha, jika dia tidak sungguh-sungguh berlatih, Buddha juga tidak dapat membantunya. Saudara sekalian, kita harus bersungguh hati. Manusia terjatuh ke tiga alam rendah akibat melakukan hal yang melanggar Dharma. Mengenai asura, meski asura tersebar di enam alam, tetapi juga tergolong alam tersendiri. Jadi, Saudara sekalian, kita harus sangat waspada dalam berlatih ajaran Buddha dalam keseharian. Harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment