Sanubari Teduh

Sanubari Teduh–281-Membangun Empat Keyakinan Bagian 3

Saudara se-Dharma sekalian, musim semi adalah saat-saat alam kembali bersemi. Batin kita sebagai praktisi Buddhis seharusnya pun demikian. Sebuah ungkapan berbunyi, “Waktu setahun direncanakan di musim semi, waktu sehari direncanakan di pagi hari.” Di masa lalu, kalaupun ada kerisauan atau hal-hal yang berhubungan dengan perasaan yang membuat kita tidak senang, semua itu sudah berlalu. Bagai musim dingin, semuanya telah berlalu. Mulai hari ini, musim semi telah tiba. Ini adalah awal yang baik. Jadi, setiap hari kita harus menjernihkan batin kita. Kita sering menyebut “hati lapang, pikiran murni”. Benar, setiap hari kita harus membuka hati dan memperhatikan niat pikiran kita agar senantiasa murni. Kondisi batin harus seperti musim semi. Segala kegelapan batin harus selalu dikikis. Jadi, dalam pembahasan “Dharma bagaikan Air” ini, kita harus tahu bahwa air berfungsi untuk membersihkan kotoran. Benda kotor seperti apa pun, asalkan dicuci dengan air, ia akan dapat bersih kembali. Demikian pula, jika dalam hati ada Dharma, maka apa pun kerisauan yang ada dalam batin kita, maka apa pun kerisauan yang ada dalam batin kita, semuanya akan dapat dibersihkan. Jika memiliki pandangan keliru terhadap orang lain, kita harus segera bertobat. Jika kita melakukan kesalahan, kita juga harus segera bertobat. Jika ada orang yang mengritik kita, kita harus berintrospeksi dan bertobat. Pertobatan adalah pemurnian.

Dengan bertobat, segala noda batin dapat terkikis. Tanpa pertobatan, saat mendengar perkataan orang lain, kita mungkin bersikap perhitungan dan semakin risau. Sikap perhitungan merusak hubungan baik. Jika kita bersikap sederhana, tidak perhitungan, dan berlapang dada, maka tidak akan ada kerisauan yang menambah kekotoran batin kita. Batin kita tidak akan semakin tercemar. Jadi, dalam setiap kebaktian pagi, kita terlebih harus membersihkan batin. Tentu, bukan hanya saat kebaktian pagi, melainkan setiap saat. Jadi, dengan kekuatan pertobatan, kita harus mengikis berbagai noda batin kita kita harus mengikis berbagai noda batin kita dan menumbuhkan Dharma dalam hati. dan menumbuhkan Dharma dalam hati. Air Dharma bagaikan inti sari jiwa kebijaksanaan kita. Jika inti sari dari jiwa kebijaksanaan ini tidak tumbuh, maka jiwa kebijaksanaan kita tidak mungkin sehat. Seperti tubuh manusia, jika kehilangan darah, tubuh ini tidak mungkin sehat. Jadi, kita harus memiliki rasa bertobat untuk melenyapkan noda batin, barulah Dharma dalam hati bisa berkembang. Mengenai empat kesadaran, apa yang dimaksud empat kesadaran? Rupa, perasaan, persepsi, dan dorongan karma. Rupa adalah segala kondisi luar yang terlihat mata kita. Saat ini, indra telinga Anda mendengar suara saya. Ini juga merupakan kesadaran. Kemudian, perasaan dalam batin kalian, baik setelah melihat sesuatu maupun setelah mendengar sesuatu, berkaitan dengan kesadaran pikiran. Dengan adanya indra, kesadaran akan berfungsi. Ini tak lepas dari rupa, perasaan, persepsi, dan dorongan karma. Jika saat kita bersentuhan dengan berbagai macam objek luar, lalu timbul noda batin atau kerisauan, ini juga berkaitan dengan kesadaran pikiran kita. Jika pikiran kita sempit atau kita bertabiat buruk, kita akan dengan mudah menganggap sesuatu yang baik sebagai yang tak kita senangi. sesuatu yang baik sebagai yang tak kita senangi. Perasaan seperti ini sangat tidak nyaman. Perasaan ini diungkapkan lewat kemarahan. Kita menampilkan mimik wajah tidak senang. Bukan senyuman yang kita tampilkan, melainkan wajah marah. Ini adalah dorongan karma atau niat.

Dorongan ini sangat halus. Strukur tubuh kita sesungguhnya amat menakjubkan. Kita memiliki indra mata. Saat mata bersentuhan dengan objek rupa, kesadaran pikiran kita segera membuat kita menampilkan mimik tertentu. Di sinilah peran kesadaran. Apa pun perasaan kita, ia akan memicu perilaku kecil seperti perubahan raut wajah. Tindakan sekecil apa pun, ia adalah reaksi yang dipicu oleh kesadaran kita saat indra kita bersentuhan dengan kondisi luar. bersentuhan dengan kondisi luar. Kesadaran pikiran ini dalam ilmu kedokteran berkaitan dengan saraf otak. Suatu hari, saya bertanya kepada kepala RS Tzu Chi mengapa manusia begitu mudah marah. Ada orang yang tabiatnya begitu buruk. Saya bertanya adakah cara menanganinya dalam spesialisasi saraf. Beliau menjawab saya bahwa itu merupakan gen atau sifat bawaan. Saya berkata, “Jika itu adalah bawaan, bukankah berarti tiada jalan mengobatinya?” Beliau menjawab, “Ada, lingkungan.” Tabiat manusia yang tidak baik Tabiat manusia yang tidak baik tak dapat diobati dengan obat apa pun. Hanya dengan lingkungan yang baiklah, perlahan-lahan orang tersebut dapat berubah dan tidak berkesempatan untuk marah. Lama-kelamaan, ini menjadi kebiasaan. “Bukankah ini juga yang Master katakan?” “Benar, semua yang Anda jelaskan sama dengan yang sering saya katakan.” Benar, sains, ilmu kedokteran, dan ajaran Buddha mengandung prinsip kebenaran yang sama. Jadi, kesadaran kita harus sungguh-sungguh dibina. Lingkunganlah yang dapat membinanya. Itulah mengapa kita harus melatih diri. Kita melatih diri di vihara, di tempat yang penuh aturan hidup suci. Setiap orang harus menjalankan pedoman ini. Untuk menciptakan lingkungan yang suci, kita harus mengembangkan batin yang murni.

Jika batin setiap orang dari kita murni, maka saat kita berkumpul menjadi satu, kita tidak akan tercemar. Batin Anda murni, batin saya murni, batin dia juga murni. Saat setiap orang memiliki batin yang murni, tanpa pamrih, hening, dan jernih, maka dengan sendirinya lingkungan yang tercipta akan sangat indah. Jadi, kita sering mengatakan bahwa dengan hati lapang dan pikiran murni, kehidupan akan indah dan bajik. Sesederhana itu. Sesungguhnya, dalam melatih diri, kita harus mengembangkan hati yang lapang dan pikiran yang murni. Dengan demikian, saat kesadaran pikiran kita bersentuhan dengan kondisi luar, batin kita akan dapat tetap tenang sehingga kita tidak menciptakan karma buruk. Kita sudah bertobat atas kesalahan masa lalu, maka janganlah membuat kesalahan baru. Ini bergantung pada pikiran dan kesadaran kita. Singkat kata, ini adalah tabiat. Segala reaksi kita terhadap kondisi luar dipengaruhi oleh tabiat kita. Saudara sekalian, empat kesadaran membawa banyak kerisauan karena kita adalah makhluk awam. Bagi makhluk awam, saat indra dan objek bertemu, saat indra dan objek bertemu, akan membawa kerisauan yang tak terbatas. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, yang terpenting bagi kita adalah mengubah keburukan menjadi kebajikan dimulai dari empat kesadaran. Jika dapat mewujudkan ini, segala kerisauan dan noda batin akan lenyap dan kita akan menumbuhkan pahala (gong de). “Gong” adalah pelatihan ke dalam diri, sedangkan “de” adalah praktik ke luar. Kita hendaknya mengarahkan empat kesadaran ini agar apa pun kondisi atau masalah yang kita hadapi, kita tetap dapat menaruh perhatian penuh. Kondisi batin kita, perilaku kita, ekspresi kita, dan tutur kata kita harus tetap dapat kita kendalikan. Untuk itu, dibutuhkan pelatihan ke dalam diri. Ini berarti kerendahan hati di dalam diri.

Rendah hati berarti mengecilkan ego dan melapangkan hati. Jika kita mampu mengecilkan ego, Jika kita mampu mengecilkan ego, dengan sendirinya hati kita akan menjadi lebih lapang. Orang yang rendah hati tidak akan menyombongkan diri. Dalam segala hal mereka akan berkata, “Tidak, ini bukan jasa saya.” “Tidak, saya tidak sebaik itu.” Dan sebagainya. Mereka tidak menghitung jasa, tidak akan mengatakan bahwa mereka berjasa. tidak akan mengatakan bahwa mereka berjasa. tidak akan mengatakan bahwa mereka berjasa. Tidak. Mereka hanya terus bersumbangsih dan mengembalikan jasanya kepada semua orang. dan mengembalikan jasanya kepada semua orang. Benar, inilah kerendahan hati. Berikutnya, hati harus terbuka dan lapang. Jika mampu berpengertian dan berlapang dada, ini menunjukkan batin kita telah terlatih. Jika kita memiliki kerendahan hati, sikap penuh pengertian, dan sikap lapang dada, maka saat kita berinteraksi dengan orang lain, bagaimanakah kesan orang lain terhadap segala ekspresi dan perilaku kita? Tentu terlihat berbudi pekerti baik. Ini memberikan kesan terhadap orang lain bahwa Ini memberikan kesan terhadap orang lain bahwa pelatihan diri dan kualitas batin kita sangat baik. Karena itu, ada istilah “angin pelatihan dan keharuman kualitas”. Energi dan wujud pelatihan diri akan membuat orang merasa hangat dan ingin mendekat. Dengan begitu, jalinan jodoh baik akan terbentuk. Dengan begitu, jalinan jodoh baik akan terbentuk. Jadi, kita harus tahu apa yang disebut pahala. Kita harus melatih ke dalam diri, barulah kualitas akan tampak ke luar. Jadi, asalkan kita mampu mengendalikan empat kesadaran sehingga saat pikiran bersentuhan dengan kondisi luar kita memandang yang negatif dari sisi positif, maka kita akan dapat mengikis noda batin. Pahala pun akan tumbuh. Semuanya saling terkait. Jadi, batin kita dapat memutar roda Dharma. Inilah Dharma. Dengan Dharma, kita dapat mengubah kondisi luar yang negatif. Dengan Dharma, kita mengubah kondisi ini. Dharma yang merasuk ke dalam hati akan menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Inilah pahala. Jiwa kebijaksanaan dan pahala ini bertumbuh dari kehidupan ke kehidupan, dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan. Jika dirunut panjang, masa lalu mencakup kehidupan lampau. Jika dirunut pendek, masa lalu mencakup waktu yang baru berlalu. Semuanya termasuk masa lalu. Sekarang, kita berada dalam momen saat ini. Sekarang saya sedang berbicara dan kalian mendengarkan.

Apakah kalian memasukkannya ke dalam hati? Setelah memasukkannya ke dalam hati, kemudian kita harus menerapkannya. kemudian kita harus menerapkannya. Jadi, waktu mencakup masa lalu, masa kini, dan masa depan. Setelah mendengar Dharma saat ini, kelak bagaimana pelatihan diri kalian? Bagaimana indra dan kesadaran kalian bereaksi terhadap objek luar? Itu bergantung pada diri kalian sendiri. Jika kalian menyerap Dharma ke dalam hati, maka saya yakin dalam interaksi antarsesama, kalian pasti saling menghormati dan bersyukur. Segala keburukan pun akan berubah. Ini berlangsung dari kehidupan ke kehidupan, baik di masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Setiap saat dalam hidup kita mengandung masa lalu, masa kini, dan masa depan. Hal yang baru saja kita bahas juga telah menjadi masa lalu. Hal yang saat ini kita bahas juga akan menjadi masa lalu di masa depan. Jadi, dari kehidupan ke kehidupan, baik dalam rentang waktu pendek maupun rentang waktu panjang selama miliaran kalpa yang tak terhitung, pasti terkandung masa lalu, masa kini, dan masa depan. Prinsipnya sama. Prinsipnya sama. Bedanya hanya pada rentang waktunya saja. Sebutannya tetap “tiga masa”. Bukan hanya tiga masa, di dalam Sutra bahkan dibahas tentang masa ke masa, setiap kehidupan, setiap masa, setiap saat, setiap perbuatan. Semua ini disebut “dari masa ke masa”. Ini mencakup waktu dan ruang. Apa yang dimaksud empat pikiran setara? Seharusnya semua orang masih ingat. Empat pikiran setara mencakup empat pikiran tanpa batas. Apa yang dimaksud empat pikiran tanpa batas? Tahukah kalian? Cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Apa arti dari empat pikiran setara? Artinya adalah objek yang mengalami kontak dengan kita memiliki jumlah tanpa batas. Indra kita, objek luar, kesadaran kita, dan lima agregat kita saling bersentuhan dan bereaksi. Kita bersentuhan dan mengalami kontak dengan objek luar yang sangat banyak. Karena itu, saya sering mengatakan bahwa waktu tidaklah terhitung. Lihatlah, berapa panjang usia kita, sebanyak itulah waktu yang kita miliki.

Namun, apakah kehidupan berakhir begitu saja? Tidak. Masih ada kehidupan-kehidupan yang akan datang. Di dalam kehidupan seumur hidup ini, benarkah kita tidak punya waktu? Waktu tidaklah terhingga. Meski kehidupan kita saat ini berakhir, tetapi jiwa kebijaksanaan kita tetap abadi. Kata “abadi” tentu merujuk pada waktu yang sangat panjang. Bagaimana dengan ruang? Sangat luas. Ruang ini mencakup seluruh alam semesta. Ruang ini mencakup seluruh alam semesta. Kini kita hanya akan membahas kondisi luar yang mengalami kontak dengan kita. Ada orang yang memiliki kontak ruang yang sangat luas. Bagaimana mereka melakukan itu? Mereka bertamasya, berwisata, bermain, dan sebagainya. Ruang yang mereka jelajahi sangat luas. Setelah bersentuhan dengan kondisi ini, apakah mereka memupuk manfaat bagi hidup mereka? Sebagian orang berkata, “Ada, itu akan menambah wawasan saya.” “Baiklah, menambah wawasan.” “Ke mana saja Anda pergi?” “Saya sudah pergi ke beberapa negara.” “Saya sudah pergi ke beberapa negara.” “Apakah hasilnya dibawa pulang?” “Tidak, saya hanya melihat-lihat, tentu tidak membawa pulang.” “Jadi, apa yang Anda dapatkan?” “Ada, saya membawa beberapa foto.” “Mari kita lihat foto-fotonya.” “Tempat apa ini?” “Coba saya ingat-ingat.” “Saya harus mengingat-ingat terlebih dahulu karena saya sudah pergi ke banyak negara.” “Di negara-negara itu ada banyak tempat.” Orangnya memang sudah pergi ke banyak negara, tetapi setelah merasakan berbagai kondisi itu, apakah diri kita dapat memetik manfaat dan Dharma dari sana? Apakah kita telah menyerap inti sari Dharma? Jika dapat menyerap inti sari Dharma, barulah ini bermanfaat bagi jiwa kebijaksanaan kita. Jika sebaliknya, maka ini hanyalah menyia-nyiakan waktu. Kondisi yang kita temui seiring waktu sungguh tidak terhingga. Inilah kondisi yang ditemui makhluk awam di dalam ruang dan waktu. Kita mempelajari ajaran Buddha untuk menjadi Bodhisattva. Tujuan kita adalah mencapai pencerahan. Tujuan kita adalah mencapai pencerahan. Untuk itu, kesadaran kita harus sangat jernih. Seperti yang tadi kita bahas, kita memerlukan pelatihan ke dalam kita memerlukan pelatihan ke dalam dan praktik ke luar. Dalam waktu dan kondisi apa pun, kita harus memetik hikmah yang bermanfaat bagi jiwa kebijaksanaan kita. yang bermanfaat bagi jiwa kebijaksanaan kita. Ini disebut nutrisi spiritual. Nutrisi spiritual berguna untuk membuat jiwa kebijaksanaan tetap hidup. membuat jiwa kebijaksanaan tetap hidup. Jadi, makanan spiritual harus kita serap dari setiap kondisi yang kita temui.

Saat bersentuhan dengan suatu kondisi, kita harus menggenggam waktu yang ada untuk memanfaatkan lingkungan tersebut guna menumbuhkan cinta kasih yang tak berkondisi dalam hati kita. Jadi, inilah hubungan antara objek dan subjek. Jadi, inilah hubungan antara objek dan subjek. Subjek berinisiatif melakukan kontak terhadap objek atau kondisi sehingga menimbulkan reaksi dalam batin. Saat melihat berbagai kondisi, apakah yang ada dalam pikiran kita? Apakah pikiran buruk ataukah pikiran baik? Inilah hubungan antara subjek dan objek. Jadi, objek atau kondisi berjumlah tak terhingga. Pikiran yang bisa timbul karenanya juga tanpa batas, entah itu pikiran baik atau pikiran buruk. Pikiran ini tidak terbatas. Namun, sebagai praktisi Buddhis, kita harus mengembangkan cinta dan welas asih. Pikiran yang harus kita bangkitkan adalah cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kita telah membuka dan melapangkan hati kita sehingga memandang semua orang dengan setara. Tanpa membedakan diri sendiri dan orang lain, kita hidup berdampingan sebagai satu kesatuan. Cinta kasih kita terhadap sesama manusia adalah cinta kasih universal. Dengan begitu, kita akan dapat turut merasakan penderitaan orang lain. Setiap orang adalah setara. Inilah yang disebut empat pikiran setara. Empat pikiran setara Empat pikiran setara berhubungan dengan interaksi subjek dan objek. Pikiran kita bereaksi saat kita bersentuhan dengan objek. Namun, pikiran seperti apa yang timbul? Ini bergantung pada diri kita sendri. Inilah subjek dan objek. Untuk dapat mempraktikkan kesetaraan, kita harus mengembangkan empat pikiran tanpa batas. Saudara sekalian, dengan empat pikiran tanpa batas, semua makhluk dan segala sesuatu akan terlihat setara. Jika kita dapat bebas dari sikap diskriminatif, maka batin kita akan dapat senantiasa damai. maka batin kita akan dapat senantiasa damai. Dengan begitu, dunia ini akan menjadi Tanah Suci. Saudara sekalian, semoga dalam batin setiap orang terdapat Tanah Suci. Kita harus giat melatih ke dalam diri. Ke luar, terhadap setiap orang, kita harus menjalin jodoh baik. Harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment