Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-282-Membangun Empat Keyakinan Bagian 4

Saudara se-Dharma sekalian, kita membutuhkan hati dan tekad untuk melatih diri dalam jangka waktu panjang. Dari tataran makhluk awam, kita membangkitkan tekad Bodhisattva dan berjalan maju menuju kebuddhaan. Untuk menapaki perjalanan ini, diperlukan hati dan tekad. Setiap hari kita membahas tentang hati dan pikiran. Apakah kita sudah memahami kebenarannya? Jika sudah, apakah kita mampu mempraktikkannya? “Ada, saya baru memulainya saat ini.” Benar, kita baru mulai saat ini karena kita baru bertekad pada saat ini, pada kehidupan ini. Entah apakah di kehidupan lampau kita sudah pernah bertekad atau belum. Mungkin saja kita sudah pernah bertekad. Jadi, pada kehidupan sekarang ini, kita melanjutkan perjalanan ini. Jadi, kita sudah berjodoh. Saya sering berkata bahwa kita harus memiliki tekad yang sama. Meski di kehidupan ini kita masih makhluk awam, Meski di kehidupan lalu kita sudah bertekad dan mungkin sudah berjalan di Jalan Bodhisattva, tetapi Jalan Bodhisattva ini sangat panjang. Perjalanan panjang di Jalan Bodhisattva ini Perjalanan panjang di Jalan Bodhisattva ini harus terus dilanjutkan. Jadi, semakin panjang waktu perjalanan ini, makhluk yang harus kita bimbing juga semakin banyak. Pelatihan kita pun semakin berakar. Jadi, kita bertekad untuk belajar ajaran Buddha. Jika tekad ini terus kita pertahankan, maka kita pasti dapat mencapai kebuddhaan. Tekad ini bukan hanya dibuat pada kehidupan ini saja, melainkan juga pada kehidupan lalu dan nanti. Jadi, batin kita harus terus dilatih. Dari tataran awam menuju kebuddhaan, kita harus menapaki Jalan Bodhisattva.

Untuk itu, kita harus mengorbankan jiwa raga. Artinya, kita harus menjalankan praktik nyata dan melepaskan noda batin serta keakuan. Jadi, kita harus membangkitkan kerelaaan, baru bisa benar-benar memasuki Jalan Bodhisattva. Jadi, ini juga merupakan praktik dari empat pikiran tanpa batas, yaitu cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Saya sering berkata, “Benih yang tak terhingga tumbuh dari satu.” Jalinan jodoh juga dimulai dari benih tekad kita yang semakin lama semakin meluas. Seperti saat insan Tzu Chi mendengar ajaran saya, mereka mendapat kebahagiaan, lalu mempraktikkan Dharma ini. Saat mereka mempraktikkan Dharma, mereka kembali menjalin jodoh dengan orang lain. Jalinan jodoh ini Jalinan jodoh ini terus meluas dan membentuk banyak jalinan baru. Jalinan dan kontak ini dapat terus meluas sampai tak terhingga. Bayangkan, jalinan jodoh awal kita juga hanya tiga puluh ibu rumah tangga dengan celengan bambu. Dari tiga puluh orang, bisa meluas hingga ke pasar. Orang yang bertekad pun semakin terhimpun. Inilah jalinan jodoh yang meluas tak terhingga. Baik, cinta kasih, welas asih, sukacita, maupun keseimbangan batin, empat pikiran tanpa batas ini harus dikembangkan dari satu jalinan awal. Jalinan ini juga memerlukan tekad. Tekad yang dibangkitkan pun setara. Jika cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin tidak setara, maka jalinan jodoh tidak dapat meluas. Jika cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin tidak setara, kita tidak bisa membimbing makhluk yang jumlahnya tak terbatas. Karena itu, kita harus membangkitkan tekad agar kita bisa memiliki pikiran yang setara. Ini berawal dari empat pikiran tanpa batas yang akan terus membentuk siklus dari kehidupan lampau, kehidupan sekarang, hingga kehidupan mendatang. Siklus ini akan terus berputar. Siklus ini akan terus berputar. Inilah yang disebut memutar roda Dharma.

Jadi, kita harus selalu bersungguh hati. Kalian tentu masih ingat dahulu kita pernah membahas tentang sepuluh keyakinan. Namun, kita masih terus mengulangnya. Keyakinan adalah ibu dari segala pahala yang dapat menumbuhkan segala akar kebajikan. Semua akar kebajikan dimulai dari keyakinan. Jadi, kita harus mulai dari membangun keyakinan. Karma berarti perbuatan. Tanpa keyakinan, kita tidak akan berniat dan bertindak. Jadi, kita harus memiliki keyakinan. Pertama adalah keyakinan pada akar. Artinya, kita harus tahu akar kita. Keyakinan harus dimulai dari akar. Akar ini adalah yang diyakini para Buddha, juga yang dipelajari para Buddha. Artinya, hati, Buddha, dan semua makhluk pada dasarnya tiada perbedaan. Kita harus yakin bahwa setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan. Apakah kalian masih ingat? Kita sebagai makhluk awam juga disebut Buddha yang masih terbelenggu. Kita memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Sayangnya, akibat sebersit kegelapan batin, kita menjadi makhluk awam. Berhubung kita adalah makhluk awam, maka kini kita harus membangun keyakinan, yakin setiap orang memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Jadi, kita harus mulai bertekad dan berikrar. Para Buddha di masa lampau juga memulainya seperti ini, dimulai dari keyakinan, yaitu yakin setiap orang dapat mencapai kebuddhaan. Kita harus yakin bahwa jika kita bertekad, berikrar, dan berlatih sesuai jalan yang ditunjukkan, maka kita juga bisa mencapai kebuddhaaan dan menjadi Buddha. Karena itu, akar ini disebut guru para Buddha, sesuatu yang harus dipelajari para Buddha dan dimulai dari membangun keyakinan. Akar ini juga disebut sumber praktik semua makhluk. Kita hendak mempelajari ajaran Buddha, tetapi pintu Dharma amat banyak. Sesungguhnya, pintu Dharma yang tak terhingga juga bergantung pada pikiran dan dimulai dari satu tekad. Jadi, kita semua harus tahu bahwa hati ini adalah sumber dari segala praktik.

Di dalam hati kita terdapat hakikat yang murni. Jika kita dapat meyakini ini, maka kita akan menemukan sumber dari praktik pelatihan diri ini. Jadi, keyakinan pada akar merupakan sumber. Sumber dari pelatihan diri kita adalah keyakinan. Yakin di sini berarti percaya setiap orang memiliki hakikat yang murni. Dengan demikian, kita baru bisa membangkitkan minat. Kita bertekad dengan sukacita dan menaruh minat di jalan ini. Jika kita memiliki minat, kita akan bersukacita dan akan belajar ajaran Buddha dengan tekun. Jika kita hanya percaya bahwa semua orang memiliki hakikat yang sama dengan Buddha, tetapi tidak membangkitkan minat ataupun sukacita, ataupun sukacita, maka dalam pelatihan diri ini, kita akan mudah malas. Jadi, keyakinan kita harus teguh. keyakinan kita harus teguh. Dengan keyakinan yang teguh, kita menemukan sumber Dharma. Setelah itu, kita harus bersukacita. Setelah itu, kita harus bersukacita. Inilah yang disebut keyakinan pada akar. Jika Anda hanya berkata, “Ada, saya percaya,” tetapi tidak tekun dan giat, kita tetap tak akan menemukan sumber itu. Jika kita ingin mencari sumber kebenaran, tetapi tidak menaruh minat, maka kita tidak akan dapat menumbuhkan semangat. Bodhisattva memiliki Enam Paramita. Enam Paramita membutuhkan kerelaan menjalankan berbagai praktik. Karena itu ada istilah “Enam Paramita dan puluhan ribu praktik”. Jalan yang harus kita tapaki sangat banyak, tetapi sumbernya tidak lain adalah hati atau tekad. Kita harus menapaki Jalan Bodhisattva dengan sepenuh hati. Kita harus mempraktikkan dana, sila, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Semangat datang dari pikiran penuh minat dan sukacita. Apa pun yang terjadi, kita tidak berhenti.

Kita tetap melangkah maju dengan sukacita dan selamanya tidak merasa lelah di jalan ini. Kita tetap bersemangat dan bersukacita. Ini baru disebut yakin pada akar. Jadi, mengenai empat keyakinan, keyakinan juga harus disertai perbuatan. Jika hanya yakin tanpa bertindak, itu juga tidak benar. Jadi, kita juga harus bertindak nyata. Kita harus membangkitkan keyakinan bahwa setiap orang memiliki benih kebuddhaan. bahwa setiap orang memiliki benih kebuddhaan. Kita semua memilikinya, tetapi kita juga harus bersemangat dan tidak malas. Para Buddha juga memulai pelatihan seperti ini. Keyakinan kedua adalah keyakinan pada Buddha, yang juga berarti yakin pada kualitas pahala Buddha yang tak terhingga. Kita harus selalu berusaha meneladani Buddha. Jika kita meyakini bahwa Buddha memiliki kualitas pahala tak terhingga, maka kita hendaknya selalu mengingat dan meneladani Beliau. Kita memberi persembahan dan menaruh rasa hormat serta membangkitkan akar kebajikan untuk mencari kebijaksanaan. Kutipan ini seharusnya kita cukup mengerti. “Yakin bahwa Buddha memiliki kualitas pahala yang tak terhingga.” Kita semua memiliki keyakinan ini. Kita semua adalah orang yang yakin pada Buddha. Bukan hanya itu, kita juga merupakan praktisi ajaran Buddha. Tanpa keyakinan, kita tak akan mempelajari ajaran Buddha. Jadi, yakin kepada Buddha berarti yakin bahwa kita dan Buddha memiliki hakikat sama. Buddha memiliki kualitas yang luhur, maka kita pun harus meneladani-Nya karena Beliau terlebih dahulu tercerahkan, sedangkan kita kini baru mulai bertekad untuk tercerahkan. Karena itu, kita harus menghormati yang telah tercerahkan. Kita harus yakin bahwa para Buddha memiliki kualitas pahala tak terhingga. Jadi, hati kita harus senantiasa berusaha untuk meneladani Buddha. Inilah yang disebut dekat dengan hati Buddha. Saya sering berkata bahwa kita hendaknya menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri. Bukan ingin dekat secara fisik, melainkan hati Buddha sudah kita satukan dengan hati kita sendiri. Hati kita sudah dekat dengan hati Buddha. Inilah empat pikiran tanpa batas yang tadi dibahas.

Jadi, kita harus dekat dengan hati Buddha dan selalu membangkitkan rasa hormat. Bukankah ada ungkapan “menghormati guru, mengingat ajaran”? Kita juga harus lebih maju selangkah dengan memandang semua orang sebagai Buddha dan merupakan mitra bajik bagi kita. Jadi, kita juga harus memiliki rasa hormat. Lihatlah, insan Tzu Chi memiliki pikiran setara. Baik kaum berpendidikan maupun bukan, baik orang pandai maupun orang dengan keterbatasan, insan Tzu Chi tetap membimbing dengan pikiran setara; mendidik, menginspirasi, dan menolong mereka. Terhadap siapa pun, kita tetap menaruh rasa hormat. Insan Tzu Chi bersumbangsih tanpa pamrih dengan rasa syukur, rasa hormat, dan cinta kasih. Jadi, rasa hormat ini harus kita perluas. Buddha sudah wafat dan mewariskan Dharma lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Sesungguhnya, tubuh Dharma-Nya tetap ada dan tersebar merata. Tersebar merata di mana? Di dalam diri setiap orang. Dengan pemahaman ini, berarti semua orang tengah membabarkan Dharma bagi kita. Jika kita melihat orang dengan hati Buddha, maka semua orang bagaikan Buddha. Buddha bukan hanya yang datang lebih dari 2.000 tahun lalu. Jika kita memandang semua orang dengan hati Buddha, maka kita akan memandang orang kurang mampu, menderita, dan memiliki keterbatasan juga bagaikan Buddha. Dengan begitu, kita dapat menghormati mereka. Kita bersumbangsih tanpa pamrih dan tetap menghormati mereka. Inilah yang disebut menumbuhkan akar kebajikan. Dengan begini, akar kebajikan kita baru bisa tumbuh. Jadi, kita harus memiliki hati yang dekat dengan Buddha, memberi persembahan, dan punya rasa hormat. Bukalah hati dan pandanglah setiap orang bagai Buddha. Dengan demikian, barulah akar kebajikan kita akan terus bertumbuh. Saudara sekalian, menumbuhkan akar kebajikan harus dilakukan di tengah masyarakat. Berada di tengah masyarakat, kita harus memiliki hati Buddha. Hati Buddha adalah welas asih agung. Dengan welas asih agung ini, barulah kita dapat menjalin jodoh baik di masyarakat. Jadi, dalam menghadapi setiap kondisi, dalam menghadapi setiap kondisi, dalam menghadapi semua makhluk, kita harus menggunakan welas asih.

Inilah akar kebajikan. Dengan menumbuhkan akar kebajikan di tengah masyarakat, barulah kebijaksanaan bisa terpupuk. Bukankah ini yang tertulis dalam Sutra Makna Tanpa Batas? “Pintu Dharma tanpa batas semua terpapar di hadapan.” Dengan begitu, kebijaksanaan kita baru bisa sempurna. Jadi, Saudara sekalian, kita harus ingat bahwa tiada cara lain dalam mempelajari ajaran Buddha, kecuali mencari sumber kebenaran dalam hati. Kita harus yakin kepada akar dan yakin kepada Buddha. Selain itu, kita juga harus yakin kepada Dharma. Kita harus meyakini dan menjalankan ajaran yang dibabarkan Buddha. Kita harus yakin bahwa ajaran Buddha pasti bermanfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi bagi semua makhluk yang tak terhingga. Ini disebut manfaat besar. Kita memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan demikian, barulah kita dapat selalu mengingat tekad pelatihan diri kita. Inilah Dharma. Kita harus bersandar pada Dharma untuk membina batin dan watak kita. Dharma terus diwariskan di dunia ini oleh Sangha. Jadi, untuk mempelajari Dharma, kita harus dekat dengan Permata Sangha. Permata Sangha senantiasa melatih diri. Jadi, kita harus dekat dengan orang-orang yang melatih diri, barulah bisa berjalan di jalan benar atau Dharma yang benar. Jadi, dengan meyakini Dharma yang benar, kita akan semakin dekat dengan Buddha. Jika kita bisa dekat dengan hati Buddha, barulah kita bisa kembali pada hakikat sejati. Jadi, empat keyakinan Jadi, empat keyakinan harus sungguh-sungguh kita bangun. Kita harus yakin setiap orang memiliki hakikat murni, yakin Buddha memiliki kualitas pahala tak terhingga, yakin Dharma merupakan jalan pelatihan bagi kita yang membawa manfaat, serta yakin Sangha dapat membimbing kita kepada jalan yang benar. Semuanya berhubungan erat satu sama lain. Semuanya berhubungan erat satu sama lain. Dengan demikian, Dharma dapat terus diwariskan. Dengan demikian, Dharma dapat terus diwariskan. Saudara sekalian, yang utama dalam mempelajari ajaran Buddha adalah pikiran. Harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888