Sanubari Teduh-298-Delapan Belas Keistimewahan Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, praktisi berharap melenyapkan kesesatan dan mencapai kesadaran. Jadi, inilah perbedaan orang awam dan yang sadar. Orang yang sadar tidak tersesat, tidak terjerumus dalam pandangan salah. Orang baik tidak bersekutu dengan yang jahat sehingga pikiran buruk tidak menodai hatinya. Ini karena ketamakan tidak merasuki batin. Manusia berbuat jahat karena batinnya penuh ketamakan dan nafsu Orang baik tak akan bersekutu dengan orang jahat. Dengan begitu, ketamakan juga tak akan masuk. Orang yang luhur tidak akan diliputi ketakutan. Kualitas luhur diri kita, jika dapat mendekati tingkatan “Yang Sadar”, maka tidak akan ada lagi ketakutan. Makhluk seperti kita kerap diliputi ketakutan karena kita tidak memiliki kualitas luhur. Kita tidak memahami apa-apa. Karena itu, berbagai hal membuat kita risau dan membuat kita takut
Jadi, tujuan melatih diri adalah mencapai kualitas tertinggi yang bebas dari ketakutan Kita tidak dapat mencapai kualitas tertinggi akibat kebencian dan kebodohan. Jika tak terjebak dalam kebencian dan kebodohan, secara alami kita akan mendekat pada kualitas tertinggi. Jadi, orang bijak tidak terjerat nafsu keinginan. Nafsu keinginan membuat kita tersesat, membuat kita dekat dengan kejahatan, dan membuat kita kehilangan kualitas luhur. Semua ini karena tidak adanya kebijaksanaan. Jika kita dapat mencapai kebijaksanaan, dengan sendirinya segala nafsu tak akan muncul. Ini berarti kemurnian Dengan begitu, batin kita tidak akan tercemar. Bagaikan bunga teratai, meski tumbuh di tengah lumpur, tetapi tetap tidak tercemar. Begitu pula dengan batin kita. Meski kita berlatih di tengah masyarakat, kita tetap harus menjaga kemurnian batin. Jika dapat menjaga kemurnian ini, kita tidak akan tercemar oleh berbagai noda. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati. Kita sudah membahas 12 aplikasi dalam tiga kali pemutaran roda Dharma yang berisi Empat Kebenaran Mulia
Dilandasi welas asih-Nya, Buddha membabarkan kebenaran di dunia yang diawali dari penderitaan. Tanpa penderitaan, pelatihan diri tak diperlukan. Berhubung ingin melatih diri, maka kita harus memahami penderitaan. Karena itu, Buddha menunjukkan ajaran kepada kita. Inilah yang disebut aplikasi penunjukan ajaran Buddha menunjukkan bahwa penderitaan bersifat menekan. Ini sudah dibabarkan Buddha sejak awal. Ada orang yang memahaminya, ada pula yang tidak. Kemudian, untuk kedua kalinya Buddha membabarkan penderitaan. Kali ini Buddha mengeluarkan nasihat agar semua orang memahami penderitaan secara menyeluruh. Apakah semua orang dapat memahaminya? Buddha membabarkan lagi untuk ketiga kalinya dalam bentuk kesaksian bahwa diri-Nya telah memahami penderitaan. Berhubung Beliau sudah memahami kebenaran, maka Beliau berbagi dengan semua orang dengan harapan semua orang turut paham. Jika paham, maka kita harus mulai berlatih, barulah dapat mencapai realisasi. Inilah tiga aspek dalam pemutaran roda Dharma
Buddha menyaksikan bahwa berbagai kekeliruan telah menyebabkan penderitaan di dunia. Akibat terakumulasinya berbagai faktor, maka terjadilah penderitaan. Sejak saat itu, kebenaran ini mulai diwariskan Di dalam Sutra dikatakan bahwa jika kita dapat memahami 12 aplikasi tadi, maka kita akan menyempurnakan 18 keistimewaan. Apa yang dimaksud 18 keistimewaan? Yang dimaksud istimewa adalah kebijaksanaan para Buddha dan kualitas luhur-Nya yang bebas rasa takut. Segala pahala kebijaksanaan ini tidak dimiliki oleh praktisi Dua Kereta ataupun Bodhisattva. Buddha telah mencapai kualitas luhur tertinggi. Meski Buddha terus mengajarkan praktik Bodhisattva, tetapi sesungguhnya Bodhisattva masih memiliki noda batin halus sehingga belum setara dengan Buddha. Intinya, 18 keistimewaan ini juga belum dicapai sepenuhnya oleh Bodhisattva karena Bodhisattva masih memiliki noda batin yang belum diputus, apalagi praktisi Dua Kereta, yakni Sravaka dan Pratyekabuddha, tentu lebih jauh di bawah Buddha. Terlebih lagi makhluk awam, tak perlu dibahas. Keluhuran di dalam diri Buddha telah sempurna dan penuh Karena itu, Beliau mampu menampakkan kualitas sempurna di luar. Jadi, inilah kesistimewaan Buddha yang berbeda dari Bodhisattva dan makhluk-makhluk di bawah-Nya
Karena itu, ini disebut 18 keistimewaan. Sesungguhnya, apa saja keistimewaan itu? Pertama adalah tubuh tanpa cela. Artinya, sejak berkalpa-kalpa yang lampau, Buddha selalu mengembangkan sila, samadhi, kebijaksanaan, cinta kasih, dan welas asih lewat tubuh sehingga pahala-Nya sudah sempurna. Segala noda batin telah diakhiri. Inilah yang disebut tubuh tanpa cela. sejak berkalpa-kalpa yang lampau, dalam waktu yang sangat panjang, Buddha sudah berlatih mengembangkan sila, samadhi, kebijaksanaan, cinta kasih, dan welas asih. Tentu, sila, samadhi, dan kebijaksanaan juga termasuk dalam lima bagian tubuh Dharma. Dengan adanya ketiga faktor ini, barulah pembebasan tercapai. Dengan tercapainya pembebasan, barulah pengetahuan tentang pembebasan dimiliki Semua ini telah dikembangkan lewat tubuh, terlebih lagi cinta kasih, welas asih, sukacita, keseimbangan batin, dll. Lima bagian tubuh Dharma dan empat pikiran tanpa batas ini sudah pernah kita bahas. Inilah proses yang dijalani Buddha sejak masa tanpa awal. Karena itu, Buddha terus menunjukkan dan membabarkan kebenaran ini kepada kita semua. Untuk mencapai tubuh tanpa cela ini, kita harus menjaga tubuh kita. Tubuh berarti perbuatan. Segala karma tercipta lewat tubuh. Jika tubuh kita dapat selaras dengan sila, selaras dengan kebijaksanaan, dan kita memiliki kekuatan samadhi yang cukup, maka kita tidak akan lengah dan berbuat salah
Jadi, kita harus belajar untuk mencapai tubuh tanpa cela. Dikatakan, “Tubuh adalah sarana pelatihan diri.” Untuk melatih diri, kita juga membutuhkan tubuh ini. Tanpa tubuh ini, bagaimana kita melatih diri? Jadi, kita harus sungguh-sungguh memperhatikan perbuatan lewat tubuh kita. Yang kedua adalah ucapan tanpa cela. Selain tubuh yang harus dijaga agar jangan sampai berbuat kesalahan meski kecil, ucapan dari mulut kita juga merupakan pintu karma. Karena itu, ucapan juga harus diperhatikan. Buddha sudah mencapai ucapan tanpa cela. Dikatakan bahwa Buddha memiliki kebijaksanaan dan kefasihan tanpa batas Dharma yang dibabarkan-Nya selalu sesuai dengan daya tangkap semua makluk sehingga mereka dapat mencapai realisasi. Inilah yang disebut ucapan tanpa cela. Dengan kebijaksanaan-Nya, Buddha secara fasih mengajar semua makhluk. Seperti apa pun daya tangkap makhluk hidup, Buddha selalu memberi ajaran yang tepat terhadap semua makhluk yang beragam itu. Sesuai daya tangkap semua makhluk, Buddha memberi ajaran yang tepat
Inilah kualitas ucapan Buddha. Yang Buddha ucapkan tidak ada omong kosong. Semuanya adalah kebenaran sehingga semua makhluk dapat meyakininya. Inilah kualitas ucapan Buddha. Ketiga adalah pikiran tanpa cela. Tubuh kita harus tanpa cela, ucapan kita harus tanpa cela, pikiran kita pun tentu harus kita jaga. Buddha telah mengembangkan samadhi yang dalam sehingga batin-Nya tidak kacau. Beliau berdiam di dalam Dharma, batin-Nya bebas dari kemelekatan, memperoleh kedamaian tertinggi, maka disebut pikiran tanpa cela. Batin Buddha selamanya berada dalam samadhi. Meski dunia ini penuh pertikaian, Batin-Nya tetap sangat teguh, hening, dan jernih. Jadi, batin-Nya tidak kacau. Di dalam kondisi apa pun, batin-Nya tidak kacau. Dengan batin yang tidak kacau, kondisi apa pun yang dihadapi dapat Beliau kuasai Buddha memahami segala kondisi dengan jelas. Jadi, Beliau mampu mengajar sesuai kondisi karena batin-Nya tidak kacau. Bukan hanya tidak kacau, Beliau juga tidak melekat terhadap kondisi apa pun. Digoda oleh kondisi apa pun, Beliau tetap tidak goyah. Ini karena batin-Nya yang bebas kemelekatan. Sebaliknya, segala Dharma terlihat jelas dalam batin-Nya. Inilah kedamaian tertinggi. Sebagai makhluk awam, jika kita berada di tempat yang hening, batin kita akan sangat tenang tanpa kerisauan. Namun, ketika sesuatu terjadi atau suatu kondisi muncul, batin kita langsung tidak tenang. Buddha tidak begitu. Dalam kondisi apa pun, batin-Nya tetap tenang tanpa kemelekatan. Inilah kedamain tertinggi. Di dalam kondisi sekacau apa pun, batin Buddha tetap tenang dan damai Inilah pikiran tanpa cela. Apakah kita bisa berlatih hingga tahap ini? Kita harus lebih berusaha. Keempat adalah pikiran tanpa diskriminasi
Artinya, pikirannya sangat hening dan teguh. Segalanya terlihat sebagai kesatuan, tidak ada yang di luar itu. Batin-Nya selalu tenang dan teguh tanpa diskriminasi. Kita manusia awam memiliki beragam persepsi. Sebuah ungkapan berbunyi, “Khayalan setinggi langit.” Artinya, jelas-jelas kenyataannya seperti ini, tetapi pikiran kita tidak terfokus di sini, melainkan berkelana ke tempat lain. Contohnya, saat saya berbicara di sini, mungkin pikiran sebagian orang tidak berfokus pada suara saya. Meski bisa mendengar suara saya, tetapi pikirannya memikirkan hal lain. Mereka mungkin sedang berkhayal. Pikiran mereka entah melayang ke mana. Begitulah makhluk awam. Sebaliknya, batin Buddha teguh pada kekinian. Pikiran Buddha bebas dari diskriminasi. Terhadap semua makhluk, Buddha memandang setara. Terhadap semua makhluk, Buddha memandang setara. Inilah pikiran tanpa diskriminasi Pikiran kita memiliki disriminasi, maka perlakuan kita berbeda-beda terhadap orang. Buddha tidak membedakan semua makhluk, sebaliknya memandang semua bagai putra tunggal
Jadi, saat batin bebas dari pikiran pengganggu dan memandang semuanya sebagai satu, inilah yang disebut pikiran tanpa diskriminasi. Setiap orang memiliki pikiran diskriminatif. Karena itu, banyak hal membuat kita risau. Buddha menganggap semua makhluk bagai anak-Nya sendiri. Jadi, kita harus bersungguh hati dalam hubungan antarmanusia. Kita harus peduli terhadap semuanya dengan setara dan memperlakukan semuanya dengan cinta kasih yang sama. Dengan begitu, barulah kita dapat perlahan berlatih untuk mencapai pikiran tanpa diskriminasi seperti Buddha. Kelima adalah pikiran tak lepas dari samadhi Artinya, dalam keseharian, saat berjalan, berdiam, duduk, dan berbaring, Buddha tidak lepas dari samadhi yang dalam. Inilah pikiran tak lepas dari samadhi. Dalam segala aktivitas sehari-hari, pikiran Buddha selalu terpusat. pikiran Buddha selalu terpusat. Terpusat di mana? Di dalam ketenangan dan keteguhan. Benar, ini disebut samadhi yang mendalam. Ketenangan dan keteguhan ini sangat dalam. Inilah letak perbedaan kita dengan Buddha. Bagi kita, saat ada sedikit suara di luar, kita langsung terpengaruh
Bukan hanya orang yang berbicara yang terpengaruh, orang yang mendengar juga ikut terpengaruh. Mau tidak mau, kita harus berhenti sejenak, membiarkan waktu berlalu dan suara itu menghilang. Kita harus menyesuaikan diri seperti ini. Buddha selalu berada pada samadhi yang dalam. Beliau tidak terintangi oleh kondisi luar. Inilah pikiran tak lepas dari samadhi Batin Buddha selamanya berada dalam samadhi. Keenam adalah mahatahu dan mampu melepas. Yang dimaksud melepas adalah melepas noda batin. Kita harus tahu bahwa Buddha mengetahui segalanya dengan jelas, maka mampu melepas. Manusia tidak terlalu memahami kebenaran, maka cenderung sulit untuk melepas. Apa yang dilepas? Segala noda batin. Tiada satu hal pun yang tidak diketahui Buddha. Dengan demikian, Buddha bisa melepas segalanya. Jadi, dikatakan, “Terhadap segala Dharma, Buddha mampu mengetahui dan melepas; tiada satu pun tak dipahami dan dilepas.” “Inilah mahatahu dan mampu melepas.” Setelah mengetahui segalanya, baru mampu melepas Jika kita tidak memahami Dharma, bagaimana kita mampu melepas? Apa yang harus dilepas? Segala kekotoran batin. Segala kekotoran batin. Jika terhadap suatu hal kita masih memiliki sedikit noda batin, berarti kita masih belum melepas. Buddha tak lagi memiliki noda batin sedikit pun, barulah Beliau dapat melepas segalanya. Jadi, Saudara sekalian, inilah yang disebut keistimewaan. Bahkan Bodhisattva pun masih memiliki sedikit noda batin halus yang belum dilepaskan. Sebaliknya, Buddha tidak lagi memiliki noda batin sehalus apa pun
Buddha mampu melepas karena Beliau mengetahui segalanya. Tiada yang tidak diketahui oleh-Nya. Karena itu, Beliau mampu melepas semuanya. Yang dilepas tentu adalah noda batin, barulah dapat memasuki samadhi yang dalam, barulah dapat berdiam dalam kedamaian tertinggi. Jika kita masih memiliki sedikit noda batin, batin kita tidak akan dapat tenang dan teguh Meski dengan noda batin yang hanya sedikit, kita tetap tak dapat mencapai kedamaian, terlebih memasuki samadhi yang dalam. Jadi, di sini ditunjukkan bahwa kebijaksanaan Buddha telah sempurna, barulah dapat menampakkan kualitas luhur yang sempurna. Ini karena segala noda batin sekecil apa pun sudah lenyap. Jadi, kualitas luhur Buddha sangat sempurna. Ketujuh adalah kehendak tidak kurang. Apa yang dimaksud kehendak tidak kurang? Noda batin telah dilepaskan seluruhnya. Lalu, bagaimana bisa kehendak tidak berkurang? Dikatakan bahwa dengan segala kebajikan yang sempurna, Buddha selalu ingin menyelamatkan semua makhluk tanpa merasa jemu. Inilah kehendak tidak kurang
Buddha selalu berharap demikian. Kehendak di sini berarti harapan. Harapan berarti tekad Tekad selamanya tidak berkurang. Meski telah mencapai kebuddhaan, Beliau terus datang ke dunia. Zaman kita dan zaman Buddha Sakyamuni berselang lebih dari 2.000 tahun, tetapi kini kita masih menyebut-Nya guru utama Dunia Saha. Buddha Sakyamuni masih tetap berada di Dunia Saha ini untuk menyelamatkan semua makhluk. Jadi, tekad-Nya adalah demi menyelamatkan semua makhluk di dunia ini, Buddha tetap terus datang kembali ke Dunia Saha ini. Ini adalah kekuatan tekad-Nya. Kekuatan tekad ini tidak berkurang. Inilah yang disebut kehendak. Kehendak di sini adalah ikrar agung Buddha. Jadi, dikatakan bahwa kebajikan Buddha begitu sempurna Buddha telah menyempurnakan segala kebajikan. Dengan adanya kebajikan, tiada kejahatan. Inilah kebajikan tertinggi. Kita sering menggambarkan kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Hanya Buddha yang memiliki kebenaran yang menyeluruh, kebajikan yang sempurna tanpa cela, dan keindahan yang cemerlang. Hanya Buddha yang memiliki kualitas ini. Namun, Beliau tetap bertekad untuk tidak meninggalkan semua makhluk
Jadi, Buddha selalu ingin menyelamatkan semua makhluk tanpa merasa jemu. Beliau selalu berusaha membimbing semua makhluk. Dengan kebajikan dan cinta kasih-Nya, Beliau tidak meninggalkan semua makhluk, Beliau tidak meninggalkan semua makhluk, bagai ibu yang tak meninggalkan anaknya. Jadi, Buddha selalu ingin menyelamatkan semua makhluk. Dalam hati-Nya tidak ada rasa jemu Dalam menyelamatkan semua makhluk, Bodhisattva juga tak peduli banyaknya makhluk. Meski makhluk hidup sangat banyak, Mereka tidak pernah merasa jemu. Mereka tidak pernah mengeluh mengapa Mereka tidak pernah mengeluh mengapa makhluk yang diselamatkan tak kunjung habis. Tidak. Inilah yang disebut tanpa merasa jemu. Inilah kehendak tidak kurang. Tekadnya tidak kendur. Selama apa pun waktu, seluas apa pun ruang, sebanyak apa pun makhluk hidup, tekad Buddha tidak pernah berkurang. Jadi, kita mempelajari ajaran Buddha, haruslah meneladani tekad ini. Jadi, mempelajari ajaran Buddha berarti meneladani segala kualitas Buddha, baik tubuh, ucapan, pikiran, maupun ketenangan dan keteguhan batin-Nya. Sekacau apa pun kondisi di luar, batin-Nya tetap sangat teguh. Sekeras apa pun watak semua makhluk, Sekeras apa pun watak semua makhluk, cinta kasih-Nya tetap tidak berkurang. cinta kasih-Nya tetap tidak berkurang. Inilah tekad dan ikrar-Nya. Kita harus ingat bahwa setelah tujuh faktor ini, masih ada sebelas lainnya. Harap semua lebih bersungguh hati.