Sanubari Teduh-299-Delapan Belas Keistimewahan Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, di dalam Sutra Makna Tanpa Batas dikatakan bahwa Dharma bagaikan air yang dapat membersihkan kotoran. Baik air sungai, air kolam, maupun air kali, semuanya dapat membersihkan kotoran. Sama halnya, dunia ini membutuhkan air. Buddha datang ke dunia dengan mengandalkan Dharma. Sejak masa tanpa awal, Dharma dapat melindungi kemurnian hati kita agar tidak tercemar. Air Dharma dapat menjaga kemurnian hati. Kita dapat melihat program “All About Health” mengulas bahwa otak kita pasti membutuhkan air. Dengan menjaga kandungan air yang cukup di dalam otak, baru kita tidak mengalami gegar otak. baru kita tidak mengalami gegar otak. Ini karena kandungan air telah membantu menjaga keselamatan otak kita
Di dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam segala hal, untuk dapat berpikir dengan baik, kita membutuhkan otak yang jernih. Seluruh bagian di dalam otak membutuhkan air. Sama halnya dengan kehidupan di dunia ini. Kita tidak bisa hidup tanpa air. Ini adalah prinsip yang sama. Tanpa memiliki Dharma di dalam hati, kita akan sangat mudah terpengaruh oleh kondisi luar dan tercemar oleh rupa. Suara dan rupa sangat mudah membuat kita tercemar. Pencemaran separah apa pun hanya bisa diselamatkan dengan air. Jadi, di dalam hati kita tidak boleh tidak ada Dharma. Buddha berkata kepada kita untuk bersatu sepenuh hati dan tekad guna melindungi delapan belas keistimewaan. Sebelumnya kita mengulas tentang bunga tujuh kemurnian, lalu dua belas aspek roda Dharma. Selangkah demi selangkah kita terus berjalan maju. Sama halnya dengan tahapan kita pada saat bersekolah. Kita sudah mengulas sebelas kecenderungan umum dan delapan belas keistimewaan
Semuanya harus kita pelajari. Kita harus mencegah sebelas kecenderungan umum masuk ke dalam pikiran kita. Kita harus dapat menjadi bunga teratai yang tidak tercemar meski tumbuh di tengah lumpur. Jika tidak ada kemurnian seperti ini, mungkin kita juga akan terbuai oleh suara dan rupa. Sebelumnya, kita sudah mulai membahas tentang delapan belas keistimewaan. Kita sudah pernah membahas bahwa Buddha memiliki delapan belas pahala kebijaksanaan yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Bodhisattva masih memiliki sedikit noda batin yang belum terlenyapkan sehingga belum memiliki delapan belas keistimewaan seperti Buddha. Sesungguhnya, delapan belas keistimewaan ini sangatlah sederhana. Pertama, tubuh kita harus tanpa cela, ucapan kita harus tanpa cela, pikiran kita pun harus tanpa cela. Bukankah ini yang sering kita katakan bahwa kita harus menjaga kemurnian tubuh, ucapan, dan pikiran? Buddha juga selalu mengingatkan kita untuk menjaga kemurnian tubuh, ucapan, dan pikiran. Inilah yang harus kita usahakan. Di dalam delapan belas keistimewaan Buddha juga terdapat tubuh tanpa cela, ucapan tanpa cela, dan pikiran tanpa cela. Inilah yang masih kita usahakan meski belum dapat semurni dan sejernih Buddha. meski belum dapat semurni dan sejernih Buddha. Jadi, dari sini saja kita dapat memahami bahwa keistimewaan ini diawali dari hal-hal sederhana
Untuk dapat memiliki tubuh yang murni tanpa noda, diperlukan pikiran tanpa diskriminasi. Pikiran dan tekad kita harus terpusat. Batin kita harus hening dan jernih,tekad kita harus luas dan luhur, terlebih lagi harus teguh tak tergoyahkandalam masa tak terhingga. Batin yang hening dan jernih berarti batin yang terpusat dan sangat murni. Yang luhur dan tak tergoyahkan adalah tekad kita. Jadi, selain pikiran dan tekad ini, tidak ada pemikiran lain. Singkat kata, inilah keteguhan batin Buddha. Karena itu, disebut pikiran tak lepas dari samadhi. Batin-Nya sangat teguh dan berada dalam samadhi. Samadhi ini sangat dalam, tidak terombang-ambing. Kita sering mendengar orang berkata, “Saya ingin bertekad dan berikrar.” “Ya, saya telah bertekad dan berikrar.” Namun, meski kita telah bertekad, tetapi saat bertemu kesulitan, kita juga mudah untuk mundur
Kita tidak dapat sungguh-sungguh memusatkan pikiran dan tekad tanpa tergoyahkan. Ini sungguh sulit, terlebih lagi untuk mencapai samadhi yang dalam. Kita semua tahu tentang praktik meditasi, tetapi saat bermeditasi, apakah kita benar-benar mampu mencapai samadhi? Buddha sudah mencapaikedalaman samadhi yang sempurna, bahkan mencapai kondisi mahatahu dan mampu melepas. Beliau mengetahui segalanya dan mampu melepas. dan mampu melepas. Jika kita tidak memahami penderitaan dalam kehidupan, kita tidak akan mampu melepas. Sejak masa tanpa awal, Buddha sudah memahami penderitaan hidup. Buddha sudah memahami segala kebenaran, maka mampu melepas segalanya. Beliau mengetahui masa lalu. Beliau telah banyak merelakan dan mengorbankan diri demi mencari kebenaran. Tiada yang tak mampu Beliau relakan. Sebelumnya kita sudah membahas hal ini. Berikutnya adalah kehendak tidak kurang. Artinya, pantang mundur membimbing semua makhluk
Untuk menolong semua makhluk di dunia, kita tidak boleh mengeluh mengapa yang harus ditolong tiada habisnya. Lihatlah Bodhisattva Ksitigarbha yang berikrar tidak akan menjadi Buddha sebelum neraka kosong. Beliau ingin menyelamatkan semua makhluk di neraka sebelum menjadi Buddha. Betapa besar ikrar ini. Ikrar ini tidak pernah berkurang. Namun, apakah sudah tercapai? Juga belum. Namun, menolong semua makhluk di neraka saja misi Bodhisattva Ksitigarbha tak kunjung selesai karena jumlah makhluk hidup begitu banyak. Semua makhluk terus menciptakan karma buruksehingga terjatuh ke neraka. Buddha ingin menyelamatkan semua makhluk hidup, bukan hanya makhluk di neraka. Karena itu, kita sering berkata bahwa Bodhisattva Ksitigarbha sangat bersusah payah. Jika kita dapat berdiri di depan pintu neraka untuk mencegah orang masuk ke dalamnya, menyucikan dunia ini, serta mengubah kejahatan menjadi kebaikan, maka tiada makhluk yang akan jatuh ke neraka. Bodhisattva Ksitigarbha pun akan terbantu. Beliau bisa terus membimbing makhluk-makhluk di sana, tetapi jumlahnya tidak bertambah
Ini tentu lebih baik. Jadi, Buddha juga memiliki kehendak yang tidak kurang. Kehendak di sini adalah tekad. Kehendak di sini adalah tekad. Tekad-Nya adalah membimbing semua makhluk. Tekad ini tidak pernah berkurang. Inilah yang kita sebagai makhluk awam ataupun Bodhisattva belum mampu menyamai. Tekad ini begitu agung. Yang kedelapan adalah semangat yang tidak kurang. Jika memiliki kehendak yang tidak kurang, maka semangat pun harus ada. Ini juga berkaitan dengan semua makhluk yang tiada habisnya menanti untuk dibimbing. Yang tengah dibimbing pun masih banyak. Bahkan, yang sudah terbimbing dan bertekad untuk menjadi Bodhisattva pun masih harus dibimbing lebih lanjut oleh Buddha. masih harus dibimbing lebih lanjut oleh Buddha. Jika tidak, Bodhisattva juga bisa mundur. Jadi, Buddha juga masih harus bersemangat Jadi, Buddha juga masih harus bersemangat demi semua makhluk ini. Semangat tubuh dan pikiran Buddha begitu sempurna. Bagaimana cara mencapai kesempurnaan semangat? Kita harus berusaha membimbing semua makhluktanpa henti. Adakalanya orang lain berkata, “Kamu sudah berbuat banyak.” “Belum, masih banyak yang belum saya lakukan.” Demikian pula, kita sering melihat orang lain yang sudah berbuat banyak, sangat rajin, dan sangat layak untuk beristirahat, tetapi belum mau beristirahat dan masih menganggap yang diperbuatnya belum cukup. Buddha pun demikian
Meski Buddha sudah membimbing semua makhluk sejak masa tanpa awal, tetapi masih banyak makhluk yang belum terbimbing. Ada pula yang sudah berjodoh, tetapi belum tuntas dibimbing. Karena itu, Buddha harus tetap bersemangat tanpa kurang. Bukan berarti setelah mencapai kebuddhaan, seorang Buddha bisa bersantai. Meski batin-Nya damai tanpa beban, tetapi tekad-Nya menolong semua makhluktak pernah berhenti. Kini kita sering membahas tentang prinsip 4 in 1 Tzu Chi. Struktur 4 in 1 bukanlah vertikal, melainkan horizontal agar semakin menyebar lebih luas. Demikian pula batin Buddha. Buddha selalu bersemangat untuk memenuhi ikrar-Nya terhadap semua makhluk. Kesembilan adalah perhatian tidak kurang. Dengan Dharma para Buddha di tiga masa, Buddha memiliki kebijaksanaan yang terhubung dan sempurna memiliki kebijaksanaan yang terhubung dan sempurna serta tidak akan mundur. Dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan, Buddha Sakyamuni memiliki tekad yang sama, yaitu mengajarkan praktik Bodhisattva. Bukankah Sutra Bunga Teratai mengatakan ini? Sutra Bunga Teratai mengatakan bahwa para Buddha di masa lalu, masa kini, dan masa depan datang untuk membimbing semua makhlukdengan Kereta Tunggal. Kereta Tunggal ini adalah Jalan Bodhisattva. Buddha masa kini, Buddha masa lalu, dan Buddha masa depansama dalam hal ini, Mereka semua telah memiliki kebijaksanaan yang terhubung dan sempurna
Apa yang disebut kebijaksanaan yang terhubung dan sempurna? Kutipan Sutra Makna Tanpa Batas berbunyi, “Pintu Dharma tanpa batas semua terpapar di hadapan.” Jika tidak terjun ke tengah masyarakat dan menghadapi masalah, kebijaksanaan tak akan tumbuh. Jadi, Buddha harus terus terjun ke tengah umat manusia hingga akhirnya mencapai kebijaksanaan sempurna. Lihatlah, zaman terus berganti. Kondisi batin semua makhluk juga terus berubah seiring zaman. Orang zaman sekarang dan zaman dahulu tentu memiliki wawasan yang berbeda. Pola hidup zaman dahulu dan zaman sekarang tentu juga berbeda. dan zaman sekarang tentu juga berbeda. dan zaman sekarang tentu juga berbeda. Jadi, jika menggunakan metode lama untuk membimbing orang masa kini, mungkin kurang sesuai. Lihatlah, saat seorang ayah memberi tahu anaknya cara mereka melakukan sesuatu pada zaman dahulu, anaknya akan menjawab, “Itu yang berlaku di zaman kalian, sekarang sudah berbeda.” Jadi, dalam membimbing anak, seorang ayah juga harus mengikuti zaman, barulah dapat memahami pemikiran anak zaman sekarang. barulah dapat memahami pemikiran anak zaman sekarang. Bukankah guru juga demikian? Menggunakan metode pendidikan zaman dahulu untuk mendidik anak zaman sekarang tak akan berhasil. untuk mendidik anak zaman sekarang tak akan berhasil
Kalian tahu artinya? Kita harus memberi bimbingan sesuai sifat dan daya tangkap masing-masing makhluk, barulah mereka dapat terbimbing. Jadi, kita harus tahu bahwa para Buddha di tiga masa memiliki kebijaksanaan yang terhubung dan sempurna. Hati, Buddha, dan semua makhluk harus terhubung. Untuk membimbing semua makhluk, semuanya harus terhubung. Dengan demikian, barulah tekad Buddha dapat terpenuhi. Jadi, tekad Buddha juga tidak berkurang. Buddha juga merasa misinya belum selesai, maka tidak pernah mundur dan masih terus melangkah maju. Jadi, Buddha tidak pernah mundur. Jika kita merasa tekad kita sudah terpenuhi, maka kita akan berhenti di tempat. Tekad Buddha untuk membimbing semua makhlukbelum berakhir karena masih banyak makhluk yang harus dibimbing. Jadi, perhatian dan tekad Buddha juga tidak berkurang. Tekad-Nya untuk membimbing semua makhluktidak akan berkurang. Kesepuluh adalah kebijaksanaan tidak kurang. Buddha telah memiliki segala kebijaksanaan yang tiada batas dan tiada akhir, maka pembabaran Dharma-Nya juga tiada akhir seiring dengan kebijaksanaan-Nya. Ini disebut kebijaksanaan tidak kurang. di dalam Sutra Makna Tanpa Batas dikatakan bahwa para Buddha dan Bodhisattva adalah guru yang tak diundang bagi semua makhluk
Saat semua makhluk memiliki kerisauan atau kesulitan yang beragam, atau kesulitan yang beragam, meski tidak diminta, para Buddha dan Bodhisattva tidak sampai hati melihat penderitaan itu. Dengan kebijaksanaan yang sempurna, Mereka memberikan Dharma sesuai kondisi, sifat, dan daya tangkap masing-masing makhluk. Meski tanpa diundang, Mereka tetap membabarkan Dharma bagi semua makhluk. Dengan berbagai cara, baik metode terampil maupun kebenaran sejati, Mereka menjadi sandaran fisik dan batin semua makhluk. Inilah kebijaksanaan untuk membuat semua makhluk memiliki sandaran. Inilah guru yang tak diundang. Kesebelas adalah pembebasan tidak kurang. Buddha sudah meninggalkan dari segala kemelekatan dan memiliki dua jenis pembebasan. Buddha telah terbebas dari kemelekatan. Jika memiliki kemelekatan, berarti Buddha sama dengan Bodhisattva, Pratyekabuddha, Sravaka, ataupun makhluk awam. Bodhisattva masih memiliki sedikit noda batin. Bodhisattva saja masih memiliki sedikit noda batin, apalagi kita makhluk awam, tentu masih terbelenggu. Praktisi Sravakayana dan Bodhisattva terus berusaha menuju pembebasan, tetapi masih memiliki noda batin halus. Sebaliknya, Buddha telah mencapai pembebasan sempurna. Jadi, pembebasan-Nya tentu tidak kurang. Namun, Buddha tetap melangkah maju
Buddha benar-benar telah bebas dari kemelekatan. Buddha benar-benar telah bebas dari kemelekatan. Jika masih terbelenggu, Beliau tidak akan mencapai pembebasan. Jadi, ada dua jenis pembebasan. Kita harus memperhatikan keduanya. Pertama adalah pembebasan berkondisi. Ini berkaitan dengan kebijaksanaan tanpa celah. Berkondisi berarti berkaitan dengan dunia ini. Di dunia ini terdapat berbagai kondisi yang membawa banyak penderitaan. Baik rasa cinta maupun benci, semuanya merupakan sesuatu yang berkondisi. Buddha telah terbebas dari semua ini. Segala yang kita lakukan di dunia ini bersifat relatif atau berkondisi. Segala sesuatu di dunia tidak lagi menjadi belenggu bagi Buddha. tidak lagi menjadi belenggu bagi Buddha. tidak lagi menjadi belenggu bagi Buddha. Kita tentu masih ingat pada pembahasan sebelumnya bahwa semua orang memiliki hakikat kebuddhaan, hanya saja kita terbelenggu oleh berbagai noda batin
Kita terbelenggu oleh berbagai hal duniawi. Kita terbelenggu oleh berbagai hal duniawi. Contohnya, kita sering mengatakan bahwa berbakti dan berbuat kebajikan tidak dapat ditunda. Dalam hal berbuat kebajikan dan berbakti ini, banyak orang tak dapat menentukan prioritas. Banyak orang yang ingin sekali berbakti pada orang tua, tetapi juga masih sibuk dengan banyak hal yang harus dilakukan. Bagaimana mereka membuat prioritas? Banyak pula orang yang bertanya-tanya, Banyak pula orang yang bertanya-tanya, “Buddha adalah putra mahkota kerajaan, juga menjadi sandaran bagi rakyat-Nya, lalu mengapa Beliau pergi dari istana begitu saja?” “Bukankah ini berarti tidak berbakti dan tidak bertanggung jawab?” Ada juga yang bertanya demikian. Namun, Buddha juga mengatakan bahwa bakti terdiri atas bakti besar dan bakti kecil. terdiri atas bakti besar dan bakti kecil. Ini adalah pilihan yang membutuhkan kebijaksanaan. Intinya, dalam menghadapi hal yang berkondisi atau relatif, Beliau mampu memilih dengan kebijaksanaan. Karena itu, Beliau terbebas dari hal-hal yang berkondisi. Kedua adalah pembebasan tak berkondisi. Yang tak berkondisi merujuk pada Dharma atau kebenaran. Begitu banyak Dharma dibabarkan, mana yang kita pilih? Apakah memilih kekosongan atau eksistensi? Buddha tidak memilih di antara kekosongan ataupun eksistensi. Beliau memahami nondualitas dari keduanya. Karena itu, segala noda batin dapat diakhiri seluruhnya. Karena itu, segala noda batin dapat diakhiri seluruhnya. Noda batin telah tersucikan tanpa sisa
Beliau tak lagi ternoda oleh apa pun meski sedikit. Inilah yang disebut pembebasan tidak kurang. Saudara sekalian, baik pembebasan berkondisi maupun pembebasan tak berkondisi, baik hal-hal duniawi maupun kebenaran tertinggi di dalam ajaran Buddha, bagi Buddha sendiri, semuanya tak lagi membelenggu Buddha. Mengenai kekosongan dan eksistensi, Buddha tidak lagi melekat pada konsep itu. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, Dharma bagaikan air. Jika di dalam batin kita ada Dharma, apa pun pencemaran yang ada di luar, kita akan tetap dapat menjaga batin kita. Teratai di dalam batin kita bagai berada di tengah lumpur. Namun, berkat adanya air Dharma, teratai ini tidak ternoda oleh lumpur. Berkat adanya Dharma, kita tidak terpengaruh oleh berbagai kondisi luar. kita tidak terpengaruh oleh berbagai kondisi luar. Jadi, kita harus menghargai Dharma ini. Harap selalu bersungguh hati.