Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-333-Sepuluh Paramita

Saudara se-Dharma sekalian, Dharma bagaikan air yang dapat membersihkan kotoran. Segala sesuatu di alam tidak bisa kekurangan air. Sebagai manusia yang hidup, jika kekurangan air, kita tidak dapat membersihkan kotoran. Bukankah kehidupan kita akan menderita? Terlebih lagi, jika alam kekurangan air, tanaman pangan tentu tak dapat bertumbuh. Jika tubuh kekurangan air, manusia tidak dapat bertahan hidup. Batin kita, jika tidak dibasahi air Dharma, maka jiwa kebijaksanaan kita sulit bertumbuh. Jadi, air di alam ini sangat penting bagi kehidupan manusia, sangat penting bagi kehidupan manusia, sedangkan air Dharma juga tidak boleh kurang bagi jiwa kebijaksanaan kita. Sebelumnya kita sudah membahas cara berjalan di jalan Buddha. Tentu kita sudah membahas banyak istilah. Selama ini, topik yang setiap hari kita bahas, apakah kalian semua mengingatnya? Ingatan kita tentu terbatas. Terlebih lagi, dalam jangka waktu yang panjang, setiap hari kita terus mengulang dan membahas berbagai istilah. Namun, saya juga pernah berkata bahwa asalkan dapat memahami satu kebenaran, maka segala Dharma akan dapat dipahami. Sesungguhnya, semua ini juga sangat mudah dan sangat sederhana.

 Kita semua hanya perlu memahami bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada hakikatnya tiada perbedaan. Batin kita sebagai makhluk awam pada hakikatnya sama dengan hati buddha. Hanya saja, hati Buddha adalah hati yang sadar, sedangkan batin makhluk awam diliputi delusi. Bedanya ada pada kesadaran dan delusi. Jika makhluk awam dapat melepaskan delusi, maka akan kembali pada kesadaran. Apa yang dimaksud kembali pada kesadaran? Setiap orang pada dasarnya memiliki hakikat kesadaran yang murni tanpa noda dan sama dengan Buddha. Kita semua memilikinya. Hanya saja, sebersit kegelapan batin membuat kita ternoda. Akibat kontak dengan kondisi luar, muncullah enam aspek kasar. Jadi, rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, dan objek mental di luar memengaruhi mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran kita. Demikianlah, enam indra bersentuhan dengan enam objek. Enam objek luar ini membangkitkan ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan kita. Semudah itu. Dengan adanya ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan, timbullah banyak bencana alam dan ulah manusia. Meski kita berkata bahwa manusia sangat kecil, tetapi begitu kegelapan batin manusia bangkit, maka dampaknya akan sangat besar. Manusia akan saling bertikai dan jauh dari kedamaian. Karena itu, setiap tahun, pada acara pemberkahan akhir tahun, kita selalu mengajak setiap orang untuk berdoa dengan tulus semoga dunia terbebas dari bencana. Kita berdoa semoga masyarakat damai dan harmonis, semoga setiap keluarga rukun, semoga semua orang dapat bersatu hati, harmonis, saling mengasihi, dan bergotong royong. Apakah doa ini hanya setahun sekali? Sesungguhnya, kita juga berharap setiap hari setiap orang dapat menenangkan hati, setiap keluarga rukun, dan masyarakat dapat harmonis.

 Semoga dunia terbebas dari bencana. Inilah kedamaian dunia yang sesungguhnya dan berkah bagi umat manusia. Apakah ini tidak mungkin? Mungkin, pasti mungkin. Asalkan setiap orang dapat meninggalkan kesesatan dan kembali pada hakikat kesadaran Buddha, maka secara alami kita dapat mencapai kebahagiaan yang didasari kedamaian dunia. Intinya, semua ini hanya sesederhana itu. Namun, noda batin semua makhluk tak terbatas. Di dalam ajaran Buddha ada sebuah bilangan yang menggambarkan banyaknya noda batin, yaitu 84.000. Ini adalah bilangan yang mewakili suatu makna, yaitu tak terhingga. Jadi, dengan begitu banyaknya noda batin, bagaimana kita dapat paham sepenuhnya dan kembali pada hakikat sejati yang murni? Dengan welas asih-Nya, Buddha memberi kita metode yang mudah untuk membantu kita. Asalkan kita memahami kesadaran yang murni ini, maka kita akan ingin kembali padanya. Asalkan kita ingin kembali padanya, maka meski di dalam prosesnya kita memiliki berbagai noda batin yang rumit, kita dapat mengatasinya dengan berbagai metode.

 Sesungguhnya, berbagai metode itu bertujuan untuk membantu kita. Karena itu, disebut 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Asalkan kita dapat mengingat 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan, berarti kita memiliki 37 metode untuk membersihkan noda batin untuk membersihkan noda batin di dalam batin kita. Jadi, Dharma bagaikan air yang dapat membersihkan kotoran. Demikianlah artinya. Untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan, batin kita harus dibasahi oleh air Dharma. Bukan hanya membersihkan noda batin, tetapi setelah itu, kita juga harus menabur benih yang baik kita juga harus menabur benih yang baik dan menggarap lahan dengan sepenuh hati. Selain menggarap lahan batin, kita juga harus memberinya air. Di ladang batin kita, air Dharma sangat dibutuhkan. Jadi, 37 Faktor Pencerahan sama dengan benih dan air. Kita harus menggarap lahan batin dengan berbagai metode. Jadi, 37 Faktor Pencerahan tidak boleh tidak ada. 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan ini harus kita ingat satu per satu. Ketika ditanya apa itu empat landasan perenungan, di dalam pikiran kita sudah harus terbayang.

 Merenungkan bahwa tubuh tidak bersih, merenungkan bahwa perasaan membawa derita, merenungkan bahwa pikiran tidak kekal, merenungkan bahwa fenomena tanpa inti. Berbagai istilah yang singkat ini, di dalamnya terkandung banyak ajaran bagi kita untuk mengamati tubuh kita ini. Tubuh kita memiliki enam indra yang lengkap. Enam indra kerap terbuai oleh enam objek luar. Akibatnya, tubuh ini menciptakan berbagai karma. Namun, kita harus memahami jelas tubuh kita ini. Ingatkah kalian bahwa saya mengatakan bahwa tubuh ini tidak kekal? Bukan hanya kehidupan tidak kekal, tetapi juga tubuh kita. Pada tubuh manusia, berbagai rupa terus berubah. Saat kita tua, kita memiliki rupa tua. Berhubung sudah berusia lanjut, Berhubung sudah berusia lanjut, orang tua mengakui bahwa dirinya sudah tua. Orang lain juga bisa melihat dari rupanya bahwa dia sudah tua. Sesungguhnya, orang tua juga pernah melewati masa paruh baya. Orang paruh baya memiliki pemikiran yang matang. Orang paruh baya memiliki pemikiran yang matang.

 Inilah ciri orang paruh baya. Orang paruh baya juga pernah melewati masa remaja. Remaja pernah melewati masa kanak-kanak. Dari kanak-kanak, remaja, paruh baya, hingga tua, rupa manusia selalu berubah. Jadi, tubuh manusia ini, terus berubah dari lahir hingga tua. Setelah tua, apakah berhenti di sana? Tidak. Masih ada fase sakit, lalu meninggal. Sesungguhnya, orang tidak harus melewati fase tua untuk meninggal. Tidak harus. Kehidupan tidak kekal. Selain kehidupan tidak kekal, tubuh juga tidak kekal. Begitulah hukum alam yang terjadi pada tubuh kita. Jika kita kita sepenuh hati merenungkannya, kita akan memahami banyak kebenaran, terlebih lagi mengingat pada akhirnya tubuh ini akan meninggal. Pada saat meninggal, tubuh akan menjadi sesuatu yang paling kotor. Ia akan membusuk. Bau tidak sedap di dunia tiada yang mengalahkan bau jenazah. Jadi, pada tubuh ini, adakah yang bernilai yang patut kita kejar? Banyak orang terus mengejar dan terbuai asmara. Banyak orang terus mengejar dan terbuai asmara. Adakalanya ini membawa keretakan rumah tangga dan kekacauan masyarakat. Mengapa harus demikian? Dalam kehidupan sehari-hari saja, tujuh lubang pada wajah sering mengeluarkan kotoran. Pada tubuh ini seluruhnya ada sembilan lubang.

 Sembilan lubang sering mengeluarkan kotoran. Coba hitung dengan saksama lubang pada tubuh kita, berapakah jumlahnya? Jadi, kita harus tahu bahwa begitu banyak kotoran yang keluar dari tubuh kita. yang keluar dari tubuh kita. Dari tubuh ini, kita bisa belajar banyak kebenaran. Kita tidak boleh mengabaikannya. Jadi, jika kita dapat menghafal semua bagian dari 37 Faktor Pencerahan ini, maka kita akan memperoleh banyak pemahaman. Dari pengamatan atas tubuh yang tidak bersih saja, kita dapat memahami banyak hal, belum lagi dari pengamatan atas tidak kekalnya pikiran. Sesungguhnya, pikiran tidak kekal dan selalu berubah-ubah. Jika pikiran kita kekal, maka tekad kita akan selalu teguh; maka tekad kita akan selalu teguh; setiap orang yang melatih diri, pasti akan berhasil. Kenyataannya, pikiran tidaklah kekal, senantiasa timbul, berlangsung, berubah, lenyap. senantiasa timbul, berlangsung, berubah, lenyap. Intinya, semua ini hanya sesederhana itu. 37 faktor pencerahan ini, asalkan dapat kita pahami satu per satu asalkan dapat kita pahami satu per satu dan kita dalami, maka akan dapat membantu kita untuk kembali pada jalan menuju kesadaran.

 Ini akan menjadi nutrisi penting dalam pelatihan diri. Agar ladang batin kita subur, diperlukan berbagai faktor ini yang membantu kita. Kita harus berlatih dengan sungguh-sungguh, dengan begitu ladang batin kita akan subur dan penuh nutrisi untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Jadi, semua ini mudah dihafal, harap semua lebih bersungguh hati. Berikutnya kita akan membahas bagian terakhir dari jilid pertama Syair Pertobatan Air Samadhi. Setelah membahas 37 faktor pencerahan, selanjutnya ada Sepuluh Paramita. 37 faktor pencerahan membantu kita menumbuhkan jiwa kebijaksanaan sehingga secara alami sepuluh paramita tercapai. Sepuluh Paramita bukanlah semata-mata melatih dan menyelamatkan diri sendiri, melainkan juga membimbing semua makhluk. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus tahu bahwa kita tidak semata-mata mencari pencapaian pribadi. Kita harus membawa manfaat bagi orang lain. Karena itu, ada praktik Sepuluh Paramita. Kita sering membahas Enam Paramita, tetapi di sini dibahas tentang Sepuluh Paramita. Sepuluh Paramita adalah Enam Paramita ditambah empat Paramita lainnya. Kita semua sudah tahu Enam Paramita, yaitu dana, sila, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan.

 Ini disebut Enam Paramita. Enam Paramita harus ditambah empat Paramita, yaitu Paramita metode terampil, Paramita ikrar, Paramita kekuatan, dan Paramita pengetahuan. Inilah empat Paramita tambahan. Paramita berarti “menyeberang”. Paramita berarti “menyeberang”. Dari tataran makhluk awam yang penuh kegelapan, kita ingin menuju tataran kesadaran Buddha. Di antara keduanya ada sebuah jarak. Kita sering mengatakan, “Riak gelombang sungai keinginan menyebabkan gulungan ombak lautan penderitaan.” Inilah ungkapan yang biasa digunakan untuk menggambarkan gejolak lautan penderitaan. Kita yang berada di tengah lautan penderitaan, bagaimana bisa tiba di pantai seberang? Kita harus menggunakan 37 faktor pencerahan tadi sebagai nutrisi bagi kita. Kita harus menggunakan Sepuluh Paramita untuk memperkuat semangat Mahayana hingga batin kita benar-benar murni, terbebas dari enam alam kelahiran kembali, dan dapat datang dan pergi dengan bebas.

 Inilah kebuddhaan. Buddha datang ke enam alam kehidupan bukan dibawa oleh kekuatan karma, melainkan oleh kekuatan ikrar. Tanah suci Buddha Amitabha dikatakan ada di barat, sedangkan tanah suci Bhaisajyaguru ada di timur, tetapi tanah Buddha Sakyamuni ada di dunia ini. Ini karena setiap Buddha memiliki ikrar sebelum mencapai kebuddhaan. Karena welas asih-Nya, Buddha Sakyamuni tidak tega melihat penderitaan semua makhluk, maka Beliau bermanifestasi di Dunia Saha ini. Jadi, selain melatih diri sendiri, Beliau juga membimbing semua makhluk. Beliau membimbing semua makhluk. Penderitaan semua makhluk, selain berkaitan dengan kemiskinan, ada pula bencana yang tak terduga. Selain itu, ada pula kemiskinan batin atau bencana batin. Karena itu, Buddha mengajarkan berdana. Bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, kita juga harus berdana dan menolong orang lain. Inilah Paramita, bermakna “menyeberangkan”. Kita menyeberangkan diri sendiri dan orang lain. Inilah Paramita yang berarti menyeberang ke pantai seberang. Kita menolong orang lewat berdana. Berdana juga dapat menolong diri sendiri. Kita dapat menyadari berkah setelah melihat penderitaan. Selain berdana dan memberi, kita harus menjaga sila.

 Jika pikiran kita tidak dijaga dengan baik, bagaimana kita bisa membimbing orang lain? Kita harus mendisiplinkan diri sendiri dan tidak berbuat kesalahan. Tanpa sila, kita mungkin akan membunuh, berbuat asusila, berdusta, dll. Dengan begitu, bagaimana kita bisa berbuat baik? Untuk berbuat baik, kita harus lebih dahulu menjadi orang baik. Untuk menjadi orang baik, kita harus mengendalikan diri sendiri. Inilah yang disebut menjaga sila. Menjaga sila tidaklah mudah. Untuk membuat batin kita tidak terpengaruh kondisi luar, tidak goyah akibat godaan dari luar, atau tidak bergejolak saat menghadapi kondisi yang tidak diinginkan, sungguh tidak semudah itu. Jadi, kita harus melatih kesabaran. Selain kesabaran, dalam pelatihan ini kita juga harus pantang mundur. Berhubung telah bertekad dan berikrar, Berhubung telah bertekad dan berikrar, kita harus tetap melangkah maju. Dalam langkah ini, yang ditakutkan adalah godaan Mara atau ajaran sesat yang menjerumuskan. Karena itu, pikiran kita harus teguh. Keteguhan pikiran inilah konsentrasi atau Dhyana. Kita harus memiliki pikiran yang teguh untuk dapat mengembangkan kebijaksanaan. Jika kebijaksanaan tumbuh, maka Enam Paramita akan lengkap.

 Dengan adanya kebijaksanaan, kita dapat membimbing semua makhluk yang menderita. Untuk membimbing kita, Buddha menggunakan berbagai metode terampil. Selama 49 tahun membabarkan Dharma, 42 tahun pertama Buddha membabarkan metode terampil. Jadi, kita harus menggunakan kebijaksanaan dan berbagai metode terampil untuk menyelami batin semua makhluk. Kita harus mendekati semua makhluk. Agar ucapan kita dapat mereka mengerti dan terima, kita tentu harus menggnakan berbagai cara. Contohnya di Tzu Chi, kita menggunakan berbagai cara melalui Empat Misi dan Delapan Jejak Langkah. Salah satunya adalah pelestarian lingkungan. Lihatlah di posko daur ulang Tzu Chi, para relawan sangat penuh sukacita. Mereka dapat belajar menghargai berkah, bahkan dapat mengubah tabiat buruk dan memulihkan kesehatan. Itu menjadi cara memulihkan tubuh dan batin. Selain itu, mereka dapat bersumbangsih. Semua itu adalah metode terampil. Lihatlah, dengan metode terampil ini, posko daur ulang menjadi ladang pelatihan yang membawa kebahagiaan. Apakah inti dari Tzu Chi? Tzu Chi adalah pintu kebajikan. Di balik pintu kebajikan ini, ada pintu ajaran Buddha. Semua orang memasuki pintu ajaran Buddha lewat pintu kebajikan ini. Setelah masuk, mereka dapat mengenal Dharma.

 Jadi, ini juga merupakan cara untuk membimbing semua makhluk. Terlebih lagi, kini orang-orang baru tahu bahwa kegiatan daur ulang bukan hanya membimbing sesama, tetapi juga dapat menolong bumi dan melindungi semua makhluk. Jadi, setiap cara ini bertujuan untuk membimbing dan menyelamatkan manusia. Demikian pula, metode terampil bertujuan untuk menolong semua makhluk, menyayangi alam, mengasihi umat manusia, dll. Semua ini tentu juga termasuk Paramita, metode untuk membimbing semua makhluk. Selain itu, ada Paramita ikrar. Jika kita tidak bertekad dan berikrar, maka setelah mengerjakan sesuatu dan kelelahan, kita akan berhenti, ingin beristirahat, dan akhirnya menyerah. Ini bagaikan ladang yang gagal panen karena kita tidak terus menggarapnya. Selain ikrar, kita harus memiliki kekuatan. Jadi, kita harus memiliki Paramita ikrar dan Paramita kekuatan. Selain itu, diperlukan Paramita pengetahuan. Empat Paramita ini ditambah Enam Paramita di awal, seluruhnya disebut Sepuluh Paramita. seluruhnya disebut Sepuluh Paramita. Saudara sekalian, jika Sepuluh Paramita bisa lengkap, kita akan dapat menyeberangkan diri sendiri dan orang lain dari kondisi makhluk awam yang tersesat kembali pada kesadaran murni yang sama dengan Buddha. Untuk itu, kita harus menggenapi 37 Faktor Pencerahan dan Sepuluh Paramita.

 Tanpa 37 Faktor Pencerahan, kita tidak bisa mengembangkan Sepuluh Paramita. Jadi, setelah memahami ini, kita harus selalu membangkitkan hati yang bertobat. Jika dapat bertobat dan berikrar, barulah kita dapat memahami begitu banyak Dharma. Jadi, kita semua harus memiliki rasa hormat dan keyakinan yang tulus. Kita harus dengan tulus meyakini dan menghormati Tiga Permata yang hakiki. Berhubung mengaku memiliki keyakinan, maka apa pun keyakinan agama kita, kita harus mewujudkannya dalam tindakan nyata. Jangan berpikir, “Yang penting hati saya tulus, untuk apa saya memberi hormat?” Pelatihan di dalam batin harus diwujudkan ke luar. Karena itu, saya sering berpesan bahwa ketulusan, kebenaran, keyakinan, kesungguhan adalah pelatihan ke dalam; cinta kasih, welas asih, sukacita, keseimbangan batin  adalah praktik ke luar. Kita harus menjalankannya secara bersamaan.

 Berhubung kita sudah memiliki keyakinan sebagai umat Buddha, maka keyakinan dan penghormatan kita terhadap Tiga Permata harus tulus. Kita harus membangkitkan keyakinan yang tulus. Tubuh kita pun harus memberi penghormatan terhadap Tiga Permata yang hakiki. Saudara sekalian, keyakinan agama adalah keyakinan terhadap tujuan hidup. Jadi, di manakah tujuan hidup kita? Umat Buddha harus memiliki citra sebagai umat Buddha. Jadi, ketulusan ini harus selalu ada di dalam kehidupan kita. di dalam kehidupan kita. Kita harus mengendalikan diri dan memulihkan nilai-nilai luhur. Harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment