Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-332-Tujuh Faktor Pencerahan

Saudara se-Dharma sekalian,Buddha berarti Yang Sadar.Kita mempelajari ajaran Buddha dengan tujuan untuk menjadi tercerahkan.Jadi, jika kesadaran kita bertambah sedikit,maka kesesatan juga akan berkurang sedikit.Dengan begitu, kita akan memperoleh kedamaiandan berada dalam sukacita.Inilah yang ingin kita capai.Ketika bertambah sedikit kesadaran,berkuranglah sedikit kesesatan.Jika kita dapat mengurangi noda batin,bukankah kita akan memperoleh kedamaian?Jika dapat senantiasa berada dalam kedamaian,itulah sukacita dalam kesadaran.Kondisi inilah yang dituju praktisi Buddhis.Sebelumnya kita sudah membahas lima akar dan lima kekuatan.Akar harus tertanam dalam, barulah kekuatan bisa bertambah besar.Jika kita kekurangan akar dan kekuatan keyakinan,maka dalam memplejari ajaran Buddha, kita tidak dapat berjalan jauh.Jadi, akar dan kekuatan kita harus besar.Seperti seseorang yang berjalan kaki,otot dan tenaga kakinya harus kuat,barulah dia dapat berjalan jauh.Ada berbagai metode yang harus kita pahami di arah yang benar iniagar kita dapat berjalan jauh dan tak menyimpang.Ini sudah pernah kita bahas sebelumnya.Ini adalah cara untuk membantu kita mendalami ajaran Buddhadan berjalan di Jalan Bodhisattva.Jadi, kita harus menekuni dan meyakininya.

Kini kitaakan membahas tujuh faktor pencerahan.Tujuh faktor berarti ada tujuh jenis.Faktor atau cabang di sinimerujuk kepada bagian demi bagian,keseluruhannya berjumlah tujuh.Semua ini membantu agar tekad kita semakin teguh.Jika akar dan kekuatan kita cukup,barulah kita dapat tercerahkandan tidak akan tersesatkan.Jadi, ada tujuh faktoryang dapat membantu kita di arah yang benar ini.Yang pertama adalah faktor penilikan ajaran.Menilik berarti memilih,apakah suatu ajaran benar atau palsu.apakah suatu ajaran benar atau palsu.Sebelumnya sudah ada banyak contohyang membuat kita dapat membedakan mana yang benar mana yang palsu,bahkan juga membuat kitatahu arah yang benar dan yang sesat.Ini membuat kita tahu apakah pelatihan diri kitaberada di jalan benar atau jalan sesat.Semua orang seharusnya sudah jelas tentang ini.Jadi, kita mengandalkan penilikan.Kita harus memilih yang benarKita harus memilih yang benardan jangan menyimpang.Kita harus memilih yang benar,bukan yang palsu.Inilah yang disebut faktor penilikan ajaran.Inilah yang disebut faktor penilikan ajaran.Untuk lebih jelasnya, penilikan ajaran berartimemilih ajaran menuju kesadaran.

Inilah faktor penilikan.Yang kedua adalah cabang semangat.Cabang sama dengan faktor.Dulu kita pernah membahas tujuh faktor pencerahan,kini di sini dibahas tentang tujuh cabang pencerahan.Keduanya adalah sama.Jadi, cabang semangatsama dengan faktor semangat.Artinya, dalam berlatih segala metode Dharma,kita harus penuh semangat.Demikian pula,Sebelumnya kita sudah membahas tentang semangat ini.Berhubung sudah memilih jalan yang benar,tidak menyimpang, dan tidak palsu,maka kita tidak boleh berjalan di tempat.Kita harus melangkah maju sesuai arah ini.Kita semua tahu bahwaseiring berlalunya hari, usia kehidupan berkurang.Kehidupan kemarinbukanlah kehidupan hari ini.Dibanding kehidupan kemarin,kehidupan hari ini sudah berkurang satu hari.Berapa lama sisa waktu kehidupan kita,tiada orang yang tahu.Berhubung kita telah memilih Dharma yang benar,Kita harus tekun dan bersemangat.Janganlah menyia-nyiakan waktu.Inilah yang disebut faktor semangat.Dalam mempraktikkan Dharma,kita tidak boleh malas.Yang ketiga adalah faktor sukacita.

Sukacita di sini adalahsukacita yang diperolehsetelah menyadari Dharma yang sejati.Kita sering membahas sukacita dalam Dharma dan kebahagiaan meditasi. Setiap hari, saat melakukan persembahan,kalian mengucapkan kalimat yang berbunyi,”Makanan nutrisi sukacita dalam Dharma dan kebahagiaan meditasi.”Inilah sukacita.Sukacita merupakan nutrisi bagi tubuh kita,juga merupakan nutrisi bagi pelatihan diri kita.Nutrisi batin ini dapat menumbuhkan jiwa kebijaksanaansehingga jiwa kebijaksanaan kita bertumbuh.Jika kita dapat selalu berada dalam kedamaian,maka jiwa kebijaksanaan kita akan sehatdan selalu berada dalam sukacita Dharma.Dengan begitu, jiwa kebijaksanaan kita bertumbuh.Ada sesuatu yang bisa membunuh atau melukai jiwa kebijaksanaan kita.Apakah itu?Noda batin.Apakah noda batin itu?Setiap hari kita sudah membahasnya, yaituketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan.

Akibat sebuah ketamakan,dapat membuat pikiran kita kacau.Akibat ketamakan, pikiran kita menjadi liardan terus berkeliaran di luar.Demi memenuhi ketamakan,pikiran kita menjadi buyarpikiran kita menjadi buyardan terus berkeliaran mengikuti kondisi luar.Pikiran kita tidak fokus.Terlebih lagi, saat ketamakan bangkit,manusia akan terus berusaha memenuhinyadengan menghalalkan segala cara.Saat kebencian bangkit,pikiran kita tidak bisa tenang dan damai.Saat kebodohan bangkit,batin kita akan dipenuhi kegelapanbatin kita akan dipenuhi kegelapansehingga tak bisa membedakan benar dan salah.Inilah kebodohan.Saat kesombongan bangkit,kita bisa meremehkan orang laindan meninggikan diri sendiri.Dengan begitu, kita menjalin jodoh buruk dengan banyak orang,Dengan menjalin jodoh buruk dengan banyak orang,bagaimana kita bisa bahagia?Berikutnya adalah keraguan.Akibat sebersit keraguan pada Dharma,kita berhenti di tempat dan malas.Dengan begitu, kita akan merosot.Jadi, begitu lima noda batin timbul,jiwa kebijaksanaan kita akan terluka,bahkan bisa terbunuh.

Untuk memperoleh sukacita dalam Dharmakita harusmelenyapkan noda dan kegelapan batin ini.Untuk itu, tentu dibutuhkan Dharma.Dharma bagaikan air.Untuk terus mengikis noda batin ini,kita membutuhkan usaha keras.Setiap pagi, segala yang kita bahastidak lepas dari carauntuk melenyapkan berbagai noda batinuntuk melenyapkan berbagai noda batinyang bersumber dari lima noda batin utama itu.Noda batin utama tadibisa menumbuhkan banyak cabang noda batin.Sebelumnya kita sudah pernah membahasnya.Jadi, jika kita memahami semua inidan memahami akar dari semua noda batin itu,maka itulah Dharma.Setelah memperoleh Dharma,barulah kita bisa merasa sukacita.Inilah yang disebut menyadari Dharma sejati.Jika kita dapat tersadarkan,batin menyatu dengan Dharma,Dharma meresap ke dalam batin kita,Dharma meresap ke dalam batin kita,selalu kita praktikkan dalam keseharian,dan Dharma ini tidak terpisahdari kehidupan kita sehari-hari,maka inilah kesadaran terhadap Dharma sejati.Bisakah Dharmamenyatu dengan kehidupan sehari-hari?Bisa.Bukankah para master Chan berkata begitu?Memikul kayu bakar dan mengangkut air,semuanya adalah meditasi.

Dalam keseharian, hati seperti apa yang kita gunakan?Kita harus menggunakan hati Buddha.Segala sesuatu dalam hidup mengandung Dharma.Jadi, kita harus mempelajari dan menjalankan Dharma di saat ini juga.Dharma ada di tengah kehidupan kita.Inilah yang disebut menyadari Dharma sejati.Dharma dan batin kita tidak terpisahkan.Dengan begitu, kita memperoleh kebahagiaandan penuh sukacita.Inilah sukacita Dharma dan kebahagiaan meditasi.Jika berada dalam Dharma,pikiran kita akan teguh.Kita memiliki akar samadhi dan keyakinan.Bukankah kita sudah membahasnya?Dengan memiliki akar samadhi dan keyakinan,maka akan ada akar dan kekuatan kebijaksanaan.Jadi, Saudara sekalian,ingatlah,setelah melangkah dari lima akar dan lima kekuatan,kini kita tiba pada tujuh faktor pencerahan,maka kita harus memahami dengan lebih jelasmetode menuju kesadaran dan pencerahansehingga kita dapat bersukacita dalam kondisi apa pundan tidak goyah saat dilanda masalah.Kita dapat selalu berada dalam kebahagiaan meditatif.Inilah sukacita di dalam Dharmayang dapat mengembangkan jiwa kebijaksanaan.Berikutnya,yang keempat adalah faktor pengikisanMengikis berarti melenyapkan.Artinya, kita harus melenyapkan noda batin.

Bukankah sebelumnya juga sudah dibahas?Untuk senantiasa merasakan sukacita Dharma,kita harus melenyapkan segala noda batin pandangan.Berbagai pandangan tentang diri, individu, makhluk,dan lain-lain inimembuat batin kita memiliki diskriminasi.Dengan adanya pandangan diskriminasi ini,sungguh dapat mengacaukan batin kita.Jadi, untuk dapat mencapai kesadaran,kita harus terlebih dahulu mengikisnya.Karena itu, disebut faktor pengikisan.Kita harus mengikis berbagai noda batin pandangan.Berikutnya,yang kelima adalah faktor pelepasan.Melepas berarti meninggalkan,yakni meninggalkan kemelekatan.Saya sering mengatakan bahwaketika kaki depan menapak, kaki belakang harus melangkah.Masalah kemarin sudah berlalu.Untuk apa kita masih melekat padanya?Hal-hal kemarin tidak dapat digenggamkarena sudah berlalu.karena sudah berlalu.Apa lagi yang kita risaukan?Apa lagi yang ingin kita kejar?Janganlah kita terpaku pada masa lalu.

Meski sempat ada kerisauan, itu juga sudah berlalu.Meski ada rasa sukacita dan kegembiraan,itu juga sudah berlalu.Kita harus melepaskan kemelekatan.Janganlah selalu berhitungan untung rugi.Hal-hal yang sudah berlalujanganlah selalu disimpan di dalam hati.Dunia ini berproses sesuai hukum alam,kita harus menyadarinya.Jalinan jodoh baik, jalinan jodoh buruk,hal baik, ataupun hal buruk,semuanya merupakan buah karmayang kita bawa dari kehidupan lampau.Saat kita melihat orang lainatau saat orang lain melihat kita, bisa timbul rasa gembira.Orang lain mungkin bersedia membantu kitaatau kita yang membantu orang lain.Interaksi yang penuh kebahagiaanatau sikap saling membantu inijuga merupakan hasil dari tabungan kita di masa lalu.Kita hendaknya bersyukur.Kita cukup mensyukurinya.Dalam hubungan antarmanusia,saat kita mengasihi seseorang secara istimewa,apakah dia akan selamanya berada di sisi kita?Tidak.Buddha memberi tahu tentang delapan penderitaan.Selain lahir, tua, sakit, dan mati, masih ada deritaakibat berpisah dengan yang dikasihi, berkumpul dengan yang dibenci,tidak tercapainya keinginan, dan sebagainya.Masih ada lahir, tua, sakit, dan mati.

Bayangkan,delapan penderitaan dalam hidup ini,manakah yang tidak akan kita temui?Saat kita bertemu dengan penderitaan itu,kita juga tidak perlu melekatinya.kita juga tidak perlu melekatinya.Yang berlalu biarlah berlalu.Jika tidak, kita akan terbelenggu kemelekatan.Jika kita mampu melepasdan tidak menyimpannya di dalam hati,maka hati kita akan dipenuhi kedamaiandan bebas dari beban.Pertemuan dengan yang dibenci,perpisahan dengan yang dikasihi,harapan yang tak terwujud,jika kita melekat pada semua ini,jika kita melekat pada semua ini,jika kita melekat pada semua ini,kita tentu akan sangat menderita.Jadi, kita harus melepas kemelekatan ini.Yang keenam adalah faktor samadhi.Setiap hari kita membahas tentang samadhi ini.Benar,Batin kita harus damai dan teguh.Dimulai dari empat landasan perenungan,empat usaha benar, empat landasan kekuatan batin,lima akar, hingga lima kekuatan,manakah yang bisa lepas dari samadhi?Samadhi berarti pikiran kita tidak goyah.

Jika batin kita tidak goyahdalam jalan benar yang telah kita pilih,maka bagaimana pun kondisi di luar,batin kita akan tak akan terpengaruh.Dengan begitu, barulah kita dapat bergerak majudari tataran awam menuju kebuddhaan.Jika batin kita goyah sedikit sajadan kekuatan samadhi kita tidak cukup,maka akan mudah untuk terpengaruh.maka akan mudah untuk terpengaruh.Akibatnya, di dalam batin kitaakan terus muncul kegelapan batindan lima akar noda batin.Berbagai noda batin turunan juga akan tumbuh.Jadi, samadhi ini sangatlah penting.Tanpa samadhi, kita tak akan mencapai kesadaran.Yang ketujuh adalah faktor perhatian.Mengenai perhatian,jika kita memiliki samadhi,barulah pikiran kita bisa benar.Pikiran harus selalu berada dalam keheningan.Batin yang hening dan jernih,inilah landasan dalam pelatihan diri.inilah landasan dalam pelatihan diri.Dengan batin yang hening dan jernih, barulah tekad bisa luas dan luhurdan teguh tak tergoyahkan dalam masa tak terhingga.Inilah jalan pelatihan diri kita.Jadi, faktor perhatian merujuk pada pikiranyang selalu mengingat jalan pelatihan diri.

Kita mengingat bahwakehidupan pada dasarnya penuh penderitaan.Kita harus mengikis noda batin,Kita harus mengikis noda batin,melepas kemelekatan,dan meneguhkan pikiran dalam samadhi.Semua ini bergantung pada apakahpola pikir kita sudah benar.Lihatlah,insan Tzu Chi mempraktikkan Jalan Bodhisattva.Di Jalan Bodhisattva,kita harus terus belajar.Belajar apa?Ajaran Buddha.Kita harus mencari jalan Buddhaatau Dharma yang benar.Jalan yang lapang dan luas iniharus terus kita tuju.Jadi, kita terus belajar menuju pencerahan.Selain itu, kita juga terus membimbing semua makhluk.Jadi, keduanya harus dijalankan bersamaan.Inilah kewajiban kita.Kita harus terjun ke masyarakatuntuk bisa membimbing semua makhluk.Buddha datang ke duniademi melenyapkan penderitaan semua makhluk.Untuk melenyapkan penderitaan semua makhluk,Beliau harus menggunakan berbagai cara.Berhubung kita juga merupakan makhluk awam,maka kita harus menerima ajaran Buddhadan memikul misi Buddha.Di satu sisi, kita belajar dan menerima ajaran,di sisi lain kita membimbing semua makhluk.Buddha sudah wafat lebih dari 2.000 tahun lalu.Bagaimana ajaran-Nya dapat terus diwariskan?Bagaimana agar kita dapat terjun ke masyarakatdan melenyapkan noda batin semua makhluk?dan melenyapkan noda batin semua makhluk?Bagaimana kita dapat membantu mereka?Kita harus menjalankan ajaran Buddha.Kita telah melihat banyak orang yang menderitakarena kekurangan materi.

Kita membantu mereka.Saat membantu dari segi materi,kita juga berusaha membuka belenggu batin mereka.Seperti saat terjun ke tengah masyarakat,para relawan kita menjangkau orang-orang yang menderitadan melihat berbagai jenis penderitaan.dan melihat berbagai jenis penderitaan.Di Malaysia,ada seorang nenek bermarga Lin.Nenek ini telah menjalani kehidupan yang sulit.Nenek ini telah menjalani kehidupan yang sulit.Dia lahirĀ  di zaman perang.Di masa kecilnya, dia melewati masa Perang Dunia Ke-2 yang penuh penderitaan.Keselamatan orang-orang pada masa itu sangat sulit diprediksi.Pada masa Perang Dunia Ke-2 itulahnenek ini tumbuh besar.Dia sangat menderita.Pada akhir Perang Dunia Ke-2,kondisi keluarganya sangat sulit.Bekerja di luar pun sulit.Lewat perantaraan orang, dia mengenalseorang paruh baya yang jauh lebih tua.Mereka pun akhirnya menikah.Namun, suaminya inisering bolak-balik antara Thailand dan Malaysiauntuk berbisnis.untuk berbisnis.Hingga sang istri ini mengandung,dia baru menemukan bahwa dirinyaternyata adalah istri kelimadari suaminya itu.Saat itu dia sangat terpukul.Apa yang harus dia lakukan?Pada zaman itu, perempuan amat menjaga kesucian.Berhubung telah menikah,maka dia hanya bisa menerima nasib.Jadi, dia adalah istri kelima.Suaminya pun tetapbolak-balik untuk berbisnis.Saat dia mengandung anak keempat,suaminya jatuh sakitdan akhirnya meninggal.

Dia pun kehilangan tempat bersandar.Dia sudah memiliki tiga anakdan tengah mengandung anak keempat.Bagaimana dia dapat melanjutkan hidup?Jadi, dia hanya bisa menitipkan ketiga anaknyauntuk dibesarkan oleh istri kedua.Lagi pula, dia sendiri masih harus bertahan hidupdan di dalam rahimnya masih ada seorang anak.Setelah anaknya lahir,dia harus bekerja dan membesarkan anaknya.Hingga saat anaknya berusia sekitar 20-an tahun,setelah susah payah disekolahkan,dia akhirnya lulusdan mulai bekerja di luar.Anaknya ini pergi ke luar kotadan jarang pulang menengok ibunya.Ibu ini semakin menua.Dia hidup seorang diri,siapa yang bisa membantunya?Beruntung, ada seorang temannya.Temannya ini berkata,”Mari,makan saja di tempat saya.”Jadi, untuk makan sekali setiap hari,dia harus berjalan selama sekitar 30 menit.Tubuhnya lambat laun melemah,sendinya juga sakit.Meski demikian,dia tetap berjalan selama sekitar 30 menit.Dia harus pulang pergi sekitar 1 jam hanya untuk sekali makan.Para tetangganyamerasa iba melihat kondisinyasehingga melaporkan kasus inikepada cabang Tzu Chi di Penang.

Setelah Tzu Chi menerima kasus ini,relawan mulai mengunjunginya.Mereka menemukan bahwa nenek ini sangat menderita.Sejak saat itu, relawan Tzu Chidua kali dalam sebulan mengantarkan barang,bahkan juga memperhatikan kesehatannya.Sejak tahun 2003,insan Tzu Chi terus memberi perhatian.Hingga tahun 2005,relawan mengajaknya mengikuti acara pemberkahan akhir tahununtuk menerima angpau.Relawan mulai memberitahunyaasal usul angpau itu dan bagaimana Tzu Chi dimulaidengan semangat celengan bambu.Para relawan juga bercerita bahwa di Penang,Tzu Chi memiliki pusat cuci darahyang dana operasionalnyaberasal dari kegiatan daur ulang.Begitu mendengar bahwa barang daur ulang dapat membantu pasien cuci darahdan bagaimana sulitnya saya mendirikan Tzu Chi,maka sejak saat itu,saat melakukan perjalanan untuk makan,meski dirinya menderita radang sendisehingga sendinya terasa sakitdan harus memakai tongkat saat berjalan,dia tetap memungut setiap botol plastikyang dia temukan di jalan.Begitu melihat botol plastik atau kertas,dia pasti memungutnya.Sepanjang jalan selama 30 menit itu,dia mengumpulkan barang daur ulangdan membawanya pulang.

Sepulangnya ke rumah,barang daur ulang yang kotor itudicucinya dengan airhingga bersih.Kertas koran pun perlahan-lahan dia lipathingga sangat rapi.Dia berharap saat relawan Tzu Chi datang,mereka dapat membawanya untuk didaur ulang.Saat relawan Tzu Chi datang ke rumahnyadan melihat dia mencuci dan merapikanbarang daur ulang hingga sangat rapi,relawan kita berkata,”Posko daur ulang kamibahkan tidak serapi ini.”Nenek itu menjawab,”Tempat saya terbatas,maka saya harus merapikannya setiap hariagar kalian mudah membawanya.””Dengan begitu, tempat saya juga lebih bersih.”Lihatlah,selain itu,dia juga mengambil sampah dapur yang dibuangoleh restoran,mencucinya, menjemurnya,lalu menjualnyaseharga 5 ringgit per kilogram.Setiap bulan dia bisa menjual sekitar20 hingga 30 ringgit Malaysia,20 hingga 30 ringgit Malaysia,yakni sekitar 200 hingga 300 dolar NT (Rp90 ribu).Dia berkata,”Master bilang, punya sepuluh harus memberi satu.”Jadi, dari hasil penjualannya,sepersepuluhnya dia sumbangkan ke Tzu Chi.Saudara sekalian, saat punya sepuluh, kita harus memberi satu.Inilah yang dilakukan nenek tersebut.Dia mengumpulkan sampah dapur,lalu mengolah dan menjualnya.

Dari sana, dia mendapat penghasilandan menyisihkannya untuk berdonasi.Dia melakukannya dengan sukacita.Jadi, bagaimana kondisi hidup kita di masa lalu,tidak perlu kita keluhkan.Yang berlalu biarlah berlalu.Penderitaan pun telah dilalui.Kini, setelah mendapat bantuan dari orang lain,nenek itu dapat membantu orang lain.Meski tubuhnya menderita,tetapi hatinya gembira dan penuh kerelaan.Dia melakukan dengan sukarela dan menerima dengan sukacita.Setiap hari dia harus berjalan bolak-balik.Jika bukan memiliki kekuatan perhatian dan samadhi,bagaimana mungkin dia dapat melakukannya?Jadi, setelah melihat penderitaan orang lain,kita harus menyadari berkah.Setelah melihat penderitaan, kita harus sadar.Jadi, dalam membina tujuh faktor pencerahan,kita harus bersungguh hati.Faktor penilikan, faktor semangat, faktor sukacita,faktor pengikisan, faktor pelepasan,faktor samadhi, dan faktor perhatiandisebut tujuh faktor pencerahan.Kita semua harus saling belajar.Senantiasalah bersungguh hati.

Leave A Comment