Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-334-Batin Hening Tanpa Rintangan

Saudara se-Dharma sekalian, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus senantiasa menjaga pikiran dengan baik. Pikiran ini bagaikan seekor binatang buas di tengah hutan. Di saat kita kurang berhati-hati, di sekeliling kita akan ada bahaya mengintai. Tujuan kita mendalami ajaran Buddhaadalah untuk menjaga pikiran dengan baik. Dalam keseharian, kita harus sangat mawas diri. Ketamakan, kebencian, dan kebodohanbagaikan aliran keruh yang dapat menghancurkan tanggul pikiran. Hanya dengan mawas diri dan berhati tulus, baru kita dapat mempertahankan kemurnian hati. Intinya, saya ingin memberi tahu kalian bahwa tujuan kita melatih diri setiap hari adalah untuk mengendalikan pikiran. Saya berharap semua orangdapat senantiasa berhati-hati. Jika tidak, saat ketamakan, kebencian,dan kebodohan bangkit, maka pikiran kita akan dipenuhi aliran keruh. Gelombang air keruh yang besar akan meruntuhkan tanggul pikiran kita. Kita sering mengulas tentang pelatihan diri. Melatih diri bagaikan membangun sebuah tanggul untuk mengantisipasi dan menghalau terjangan ombak. Saat terjangan ombak meruntuhkan tanggul, maka konsekuensinya sungguh tak terbayangkan.

Saat ketamakan, kebencian, kebodohan terbangkitkan, maka tanggul pikiran kita akan roboh. Kekuatan karma kita sangat kuat bagaikan gelombang ombak yang menerjang satu demi satu hingga tak terbendung. Apa yang harus kita lakukan? Kita harus mawas diri dan berhati tulus. Kita harus senantiasa membangkitkan ketulusan. Selama waktu yang panjang ini, kita terus mengulas tentang Syair Pertobatan Air Samadhi. Kita harus senantiasa menggunakan air Dharma untuk membasahi batin kita. Janganlah kita melakukan kesalahan. Jika melakukan kesalahan, kita harus berani untuk menghadapinya dan segera bertobat. Bertobat berarti memurnikan hati. Setelah bertobat,adakah kita tidak meningkatkan kewaspadaan sehingga kembali melakukan kesalahan? Jika kita selalu mengulangi kesalahan, lalu kembali bertobat, maka ia tidak akan ada habisnya. Tabiat melakukan kesalahan akan terus mengikuti kita. Saat sedikit kurang berhati-hati, niat untuk melakukan kesalahan kembali timbul. Jika demikian, berapa lama waktu yang kita miliki untuk melatih diri? Berapa waktu yang kita miliki untuk bertobat? Setelah bertobat atas kesalahan yang diperbuat, Setelah bertobat atas kesalahan yang diperbuat, kita hendaknya jangan pernah mengulanginya kembali. Sebelumnya kita sudah mengulas banyak terminologi untuk mengingatkan orang-orang agar senantiasa waspada. Kita berharap dapat menyadarkan orang-orang dari perbuatan keliru. Jika melakukan kesalahan, kita harus segera memurnikan hati dan bertobat.

Untuk itu, dibutuhkan hati yang sangat tulus. Cara terbaik untuk memperlakukan orang adalah bersikap tulus pada setiap saat. Jika kita senantiasa bersikap tulus terhadap orang, maka orang lain tidak akan mengganggu kita. Jika orang tidak mengganggu kita, maka kita tidak akan melukai orang lain. Manusia merupakan makhluk sosial. “Saya bersikap sopan terhadap Anda, Anda juga bersikap sama terhadap saya.” Jadi, kita harus mengendalikan diridan memperbaiki etika. Kita harus senantiasa mengendalikan diri dan bersikap santun terhadap sesama. dan bersikap santun terhadap sesama. Inilah bentuk ketulusan. Kita juga harus senantiasa mawas diri. Dalam melakukan segala sesuatu,kita harus senantiasa mengingatkan diri untuk menghindarkan diri dari perbuatan salah. Kita juga harus senantiasa melindungi pikiran agar tidak terlepas dari sila. Jika pikiran terlepas dari sila, maka kita akan melakukan kesalahan. Ini yang disebutmenghindarkan diri dari perbuatan salah. Kita harus menjaga pikiran agar tidak melewati batas dan melakukan perbuatan salah. Inilah yang disebut mawas diri. Kita harus sangat berhati-hati agar kondisi batin kita dapat senantiasa hening dan jernih. Untuk memiliki kondisi batin yang hening, kita harus senantiasa berhati tulusdan bersikap mawas diri.

Dengan demikian, pikiran kitaakan sangat jernih dan murni tanpa ternoda oleh ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Jadi, bersikap mawas diridan berhati tulus sangat penting. Ini merupakan metode terbaik untuk melatih diri. Kita sudah selesai mengulas jilid pertama dari Syair Pertobatan Air Samadhi. Mulai sekarang, kita harus senantiasa membangkitkan ketulusan. kita harus senantiasa membangkitkan ketulusan. Selain bersikap tulus terhadap sesama, kita juga harus tulus terhadap ajaran Buddha. Karena itu, setiap hari kita melakukan puja dengan hati yang tulus di aula altar utama. Saya juga berharap belas kasih kitaterhadap semua makhluk dapat senantiasa dibangkitkan karena kita menghormati Buddhadan meneladani Buddha. Dengan penuh cinta kasih dan welas asih, Buddha datang ke dunia untuk membimbing kita agar dapat membangkitkancinta kasih dan welas asih. Cinta kasih dan welas asihmerupakan esensi dari semua ajaran.

Jika semua orang dapat memiliki rasa hormat dan berbelas kasih kepada semua makhluk, maka kita tidak akan melakukan kesalahan. Inilah esensi dari semua ajaran. Jika melakukan kesalahan,kita harus segera memperbaiki diri dan membangkitkan cinta kasih. Rangkuman dari semua perumpamaan dan penjelasan ini adalah ladang pelatihan cinta kasih dan welas asih. Kita sungguh harus membangkitkan cinta kasih dan welas asih terhadap semua makhluk. Setelah itu, kita harus meningkatkan kualitas diri dan menghindarkan diri dari perbuatan salah. Dengan begitu, barulah kita sungguh-sungguh melatih diri dan meneladani Buddha. Setelah menyatakan perlindungan, maka kita semua adalah murid Buddha. Sebagai murid Buddha, kita harus senantiasa bersandar pada Buddha. Inilah yang dimaksud berlindung. Saya sering berkata bahwa arti “berlindung” adalah bertolak dari kegelapanmenuju kecemerlangan. Mungkin dahulu hati kita penuh kegelapan. Setelah membasuh pikiran dengan air Dharma, apakah noda batin kita terbersihkan? Setelah noda batin terbersihkan, seharusnya sisi gelap di dalam batin kita pun ikut terlenyapkan. Jadi, kita harus bertolak dari kegelapanuntuk menuju kecemerlangan. Kita jangan kembali terbelenggu kegelapan batin. 

Untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan,  kita harus berlindung kepada para Buddha. Semua Buddha memiliki jalan.Jalan para Buddha adalah sama, yakni bertujuan untuk menginspirasi kita agar membangkitkan hati penuh welas asihterhadap semua makhluk. Karena itu, Buddha tak henti-hentinyaberbagi dengan kita tentang cinta kasih dengan welas asih. Buddha berharap dapat mewariskan semangat cinta kasih dan welas asih kepada semua orang. Jadi, kita harus tekun mendalami Dharma. Setelah mendalami Dharma, kita harus menyelamatkan semua makhluk. Karena itu, kita harus senantiasa memuja para Buddha dengan tulus. Tujuan kita memuja Buddha bukan demi meminta agar berkah dan kebijaksanaan kita bertambah. “Buddha, tolong berkati saya agar bencana jauh dari saya.” agar bencana jauh dari saya.” Kita jangan hanya berdoasemoga diri kita dapat bebas dari bencana, tetapi hendaknya kita berdoa semoga dunia terbebas dari bencana. Yang kita harapkan adalah dapat membangkitkan cinta kasih semua orang. Inilah tujuan kita sesungguhnya dalam melakukan puja bagi Buddha. Jadi, kita harus senantiasamenggunakan hati yang tulus untuk melakukan puja bagi Buddha. Inilah niat yang harus selalu kita pertahankan.

Selain melakukan puja bagi Buddha, kita harus terus bertobat. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita membuat orang tidak gembira, tak peduli dengan hanya sepatah kata ataupun sebuah tindakan. Karena tidak menyadarinya, maka kita tidak tahu harus bertobat kepada siapa. Karena itu, kita harus bertobat di hadapan Buddha. Karena itu, kita harus bertobat di hadapan Buddha. “Saya tidak tahu apakah hari ini saya melakukan kesalahan yang tidak disadari.” Karena itu, jangan kita berkata, “Saya tidak salah.” “Mengapa saya harus bertobat?” Terkadang kita melakukan kesalahanyang tidak disadari. Himpunan kesalahan yang kecil dapat mendatangkan masalah yang besar. Jika orang lain menyimpan rasa tidak suka kepada kita, rasa tidak suka kepada kita, maka suatu hari nanti, rasa dendam itu akan menjadi rintangan bagi kita. Jadi, pada setiap saat, baik menyadari kesalahan maupun tidak, kita harus senantiasa bertobat. Baik di hadapan Buddha maupun di hadapan sesama, kita harus senantiasa berkata, “Saya tidak tahu apakah sayamelakukan kesalahan atau tidak.” “Saya tidak tahu apakah sayabersikap tidak sopan terhadap kamu atau tidak.” Dalam berinteraksi dengan sesama,kita harus selalu menggunakan hati yang tulus.

Jadi, dengan hati yang bertobat, baru kita dapat senantiasa mempertahankan ketulusan hati. Dengan hati yang tulus,secara alami kita akan memiliki hati yang bertobat. Jadi, pada saat ini, kita semua hendaknya memiliki fisik dan batin yang heningserta bebas dari sanjungan kosong dan rintangan. Saat duduk di sini, fisik dan batin setiap orangpastilah sangat hening dan jernih. Mengapa disebut kondisi fisik dan batinyang hening dan jernih? Apakah sekarang kalian duduk di sini dengan hati yang tenang? Sekarang kita tidak perlu berpikir, “Apa yang harus saya lakukan selanjutnya?” Tidak perlu. Pada saat duduk di sini, kita harus sangat berfokus. Saya juga harus berfokus. Saat tubuh saya berada di sini, pikiran saya juga harus terfokus untuk berbagi dengan kalian. Saat ini, kalian juga duduk di sini Saat ini, kalian juga duduk di sini untuk mendengar dengan penuh konsentrasi. Karena itu, pada saat ini, fisik dan batin kitasangat hening dan jernih. Kondisi fisik dan batin yang hening dan jernih merupakan petanda bahwa kita sangat sehat. Kalian dapat duduk di sini, begitu pula dengan saya. Tubuh yang sehat menunjukkan batin yang sehat pula karena kita dapat berfokus. Jika tak dapat berfokus, itu berarti pikiran kita tidak teguh.

Pikiran yang tidak teguh merupakan penyakit batin. Jadi, karena memiliki fisik dan batin yang sehat, kini kita dapat duduk di sini dengan tenang. kini kita dapat duduk di sini dengan tenang. Pikiran kita sangat hening dan jernih tanpa terganggu oleh kondisi luar. Dengan pikiran yang hening dan jernih, kita duduk di sini untuk mendengar Dharma tanpa ada sanjungan kosong dan rintangan. Pikiran kita sangat hening dan jernih. Sang pembicara juga bukan berbicara untuk kepentingan pihak tertentu, juga bukan berbicara untuk menyenangkan seseorang. Kita jauh dari sanjungan kosong dan rintangan. Pikiran seperti ini tidak hanya bertahan pada momen ini saja. Kita selalu berada di saat ini. Momen barusan baru saja berlalu. Apakah momen barusan sama dengan saat ini? Saat akan meninggalkan tempat ini, Saat akan meninggalkan tempat ini, itulah momen pada saat itu. Inilah makna dari “saat ini”. “Saat ini tubuh dan batin kami amat hening.” Setiap momen pada setiap saat disebut “saat ini”. Jadi, tadi kita sudah membahas beberapa kata. Kita sudah membahas “saat ini”, juga sudah membahas “masa lalu”. Namun, selain masa lalu dan saat ini, masih ada “masa depan”.

Jadi, setiap momen, setiap menit, dan setiap detik akan menjadi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kuncinya ada pada saat ini. Dengan adanya saat ini, baru ada masa lalu. Dengan adanya saat ini, baru ada masa depan. Jadi, perkataan yang kalian dengar sekarang apakah ada pada saat ini? apakah ada pada saat ini? Saat suara kereta api yang belum tiba mulai terdengar, itu adalah masa depan. Saat kereta api melintas di hadapan kita, suara yang terdengar adalah masa kini. Setelah suara berlalu, bukankah itu adalah masa lalu? Akan tetapi, kita tetap ada pada saat ini. Inilah “masa kini”. Karena itu, ia disebut “saat ini”. Pada saat mendengar Dharma, kita harus saksama. Janganlah membiarkannya berlalu begitu saja. Sesungguhnya, masa lalu juga merupakan masa kini karena jalinan jodoh masa lalumenjadi penentu masa kini dan jalinan jodoh pada masa kinimenentukan masa depan kita. Dalam mendalami ajaran Buddha, kita harus belajar untuk menjaga fisik dan batinagar senantiasa hening dan damai. Kita harus senantiasa menjagakeheningan dan kedamaian tubuh dan batin. Setiap saat kita harus bersikap tulus dan tidak menjilat orang lain. Menjilat berarti kita bertutur kata manis untuk mencari muka. Karena orang itu suka mendengar kata-kata manis, kalian terus mengatakannya. Meski orang itu tidak baik, kalian terus memujinya demi membuatnya senang. Ini tidaklah benar.

Kita jangan menganggap remeh orang lain, tetapi kita juga jangan memberi sanjungan kosong. Sungguh, kita harus memperlakukan sesama dengan tulus. Bukankah saya sering berkata bahwa kita harus melatih ketulusan, kebenaran,keyakinan, dan kesungguhan hati? Dalam berinteraksi dengan sesama, kita harus tulus, benar, yakin, dan sungguh-sungguh. Ini berarti kita tidak menjilat.  Bagaimana seharusnya sikap kita pada sesama?   Penuh cinta kasih, welas asih,sukacita, dan keseimbangan batin.   Dengan begitu, kita akan bebas dari rintangan.   Jika setiap orang dapat tidak menjilat  dan tidak bersikap sombong,  maka inilah yang terbaik.  Ini yang disebut Jalan Tengah. Kita hendaknya mempraktikkan cinta kasih,welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Inilah yang harus kita pelajari. Karena itu, saya terus menekankan pentingnya ketulusan dan pertobatan dengan harapan setiap orangdapat meningkatkan kesadaran. Saya sering berkata bahwasaat kegelapan batin terlenyapkan, barulah kesadaran dapat terbangkitkan.  Jadi, kita harus berhati tulus dan bertobat.  Terhadap orang lain, kita harus bersikap tulus.  Terhadap diri sendiri, kita harusberintrospeksi dan bertobat.  Dengan demikian, baru kesadaran hakiki kitadapat terbangkitkan untuk membimbing fisik dan batin kita. Kita juga harus bersyukur setiap saat.

Saat empat unsur alam berjalan selaras, maka hidup kita juga akan aman dan tenteram. Empat unsur meliputi tanah, air, api, dan angin. Saat empat unsur berjalan selaras, maka tubuh kita akan sehat. Dengan tubuh yang sehat, kita harus senantiasa menjaga keheningan pikiran. Saat enam indra kita bersentuhan dengan enam objek luar, tidak akan timbul masalah. Hati kita dapat senantiasa damai dan tenang. Karena tidak memiliki ketamakan,kebencian, dan kebodohan, kita tidak mudah terpengaruh oleh kondisi luar. Kondisi luar tidak memengaruhi kita untuk membangkitkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Jadi, enam indra kita tetap sangat aman. Enam indra kita tidak akan ternodai oleh enam objek. Jadi, kita harus senantiasa berhati tulus dan bertobat. Dengan demikian, baru kita dapat jauh dari rintangan dan sanjungan kosong. Sikap mencari muka timbul karena enam indra kita terpengaruh oleh enam objek sehingga timbullah ketamakan. Karena itu, kita menjilat orang lain dan bertutur kata manis. Orang yang suka mencari muka adalahorang yang pikirannya tidak lurus. Pikiran yang lurus merupakan ladang pelatihan. Orang yang suka menjilatadalah orang yang  pikirannya tidak lurus. Mengapa pikirannya tidak lurus? Karena ada ketamakan, kebencian, kebodohan.

Akibat itu semua, maka kita terpengaruh kondisi luar sehingga mengalami berbagai rintangandalam keseharian. Untuk menjauhkan diri dari rintangan, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Jangan sampai kita terpengaruh kondisi luar. Tanpa adanya Mara yang menjilat di dalam batin, maka tak akan ada Mara penyakityang merintangi di luar. Apa yang dimaksud Mara di dalam batin? Ketamakan, kebencian, kebodohan,kesombongan, dan keraguan. Semua ini dapat mengacaukan pikiran kita. Mara di dalam hati meliputi ketamakan, kebencian, kebodohan,kesombongan, dan keraguan. Semua ini adalah Mara di dalam hati kita. Semua ini adalah Mara di dalam hati kita. Ia sama seperti aliran keruh di dalam hati kita. Karena itu, disebut sebagai Mara di dalam batin. Jika di dalam batin tidak ada Mara, secara alami kita tidak akan menjilat dan kita akan bebas dari rintangan Mara penyakit. Saat empat unsur alam berjalan selaras, maka tubuh kita akan sehat. Bayangkan, jika menderita penyakit, maka akan sulit bagi kita untuk melatih diri. Kita semua duduk di sini tanpa bergerak. Kita semua duduk di sini tanpa bergerak. Saat punggung terasa pegal, kita harus bisa bertahan. Jika tidak, kita tak dapat duduk lama. Jika kita dapat menahannya,berarti kita terbebas dari Mara batin. Dengan dapat bertahan, baru hati kita dapat merasa tenang. Jadi, hanya dengan tubuh yang sehat, baru kita dapat melatih diri.

Jadi, saat tidak ada penyakit yang menyerang kesehatan kita, yang menyerang kesehatan kita, baru kita dapat melatih diri dengan baik. Jadi, diperlukan tubuh yang sehat untuk melatih diri. Tubuh ini adalah sarana pelatihan diri. Untuk beranjak dari tataran makhluk awam menuju tataran kesadaran Buddha, kita harus melewati lautan kegelapan batin. Untuk mengarungi lautan itu, kita membutuhkan alat. Bukankah saya berkata bahwa untuk mempraktikkan Sepuluh Paramita, kita juga memerlukan tubuh yang sehat? kita juga memerlukan tubuh yang sehat? Jadi, tanpa Mara penyakit, baru jalan kita tidak akan terintangi sehingga kita dapat terus melangkah maju. Jadi, tanpa Mara di luar dan di dalam, inilah saat yang tepat untuk segera bertobat. Jadi, intinya kita harus kembali pada pertobatan. Kita juga hendaknya menyadari bahwa terkadang kita terlambat untuk bertobat. Ada banyak hal yang tidak sempat kita lakukan. Terlambat bertobat merupakan hukuman yang terbesar. Ini mendatangkan penyesalan. Kita menyesal karena terlambatmengungkapkan pertobatan kepada orang dan terlambat untuk memupuk ketulusan terhadap sesama dan Tiga Permata. Kita terlambat untukmempraktikkan ajaran Buddha. Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak hal yang terlambat untuk dilakukan. Ini merupakan hukuman yang terbesar. Berhubung sekarang kitasehat secara fisik dan batin, maka kita harus segera bertobat. Jadi, saya berharap kita jangan membiarkan aliran ketamakan, kebencian, dan kebodohan merobohkan tanggul pikiran kita. Hanya dengan mawas diri dan berhati tulus, kita dapat mencapai kondisi batinyang hening dan murni. Untuk itu, kita harus senantiasa bersungguh hati. 

Leave A Comment