Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-335-Empat Jenis Pengamatan Bagian 1

 Saudara se-Dharma sekalian, semua makhluk memiliki rahim Tathagata. Kita semua tahu bahwa semua makhluk memiliki hakikat kebuddhaan. Setiap orang memiliki benih kebuddhaan  yang tanpa noda dan sama dengan Buddha. Hanya saja, akibat sebersit kegelapan batin, maka timbullah berbagai rintangan. Ini akhirnya menutupi hakikat sejati kita yang murni. Jadi, jika kita dapat melenyapkan noda batin, maka kebodhian akan bangkit. Setiap orang pada hakikatnya memilikipikiran benar. Jika setiap orang memiliki pengetahuan, pandangan, dan pikiran benar serta niat yang baik yang dapat senantiasa dibangkitkan di dalam hati, maka tindakan kita juga akan baik. Dengan demikian, kita tidak akan menciptakan karma buruk. Tanpa kesalahan dan keburukan,itulah pahala kebajikan. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus selalu ingat bahwa di hati kita ada benih kebuddhaan yang sama dengan Buddha. Potensi kebajikan ini harus selalu kita kembangkan agar keburukan bisa terkikis. Jika keburukan telah dikikis, barulah kebajikan bisa terus berkembang. Dengan begitu, tiada lagi rintangan. Rintangan berasal dari pikiran buruk yang kemudian terwujud ke dalam tindakan yang mengganggu orang lain.

Dengan adanya hukum sebab akibat, kita pun akan mendapat halangan dari orang lain. Tanpa sebab, tidak akan ada akibat. Inilah hukum sebab akibat. Berikutnya dikatakan, “Tanpa sanjungan palsu dan rintangan.” “Inilah saat untuk membangkitkan kebajikandan memadamkan keburukan.” Tanpa sanjungan kosong berarti tiada omong kosong. Ini menggambarkan pikiran yang lurus dan tulus. Sebagian orang berkata, “Saya hanya bicara dengan lebih lugas, tidak ada maksud melukainya.” Benar, saat manusia sangat lugas dan blak-blakan, jika tidak dibarengi tumbuhnya niat baik, kadang sikap lugas itu akan mengandung kebencian dan kebodohan. Jika kebencian dan kebodohan tidak dilenyapkan, sikap lugas juga bisa melukai orang lain. Ada seorang murid Konfusius, yaitu Zigong, bertanya kepada Konfusius tentang orang yang miskin tetapi tidak menjilatdan orang yang kaya tetapi tidak sombong. Dia meminta pendapat dari Konfusius. Kita semua tahu bahwa di antara murid-murid Konfusius, Zigong adalah yang paling berada yang sering mendengar nasihat Konfusius. Jadi, dia tahu bahwa orang yang kurang mampu juga harus memiliki budi pekerti yang baik, tidak boleh karena miskin, lalu terus menjilat orang berada. Jika begitu, Konfusius menganggapnya tidak berbudi pekerti. Itulah orang miskiyang tidak berpegang pada prinsip. Jadi, Zigong memahami nasihat Konfusius.

Ajaran Konfusius sangat benar. Jika orang miskin tidak menjilat dan orang berada tidak sombong, bukankah baik sekali? Tentu. Miskin tetapi tidak menjilat,kaya tetapi tidak sombong tentu baik. Namun, Konfusius juga berkata, “Lebih baik lagi jika miskin tetapi tetap bahagiadan kaya tetapi tetap bertata krama.” Meski hidup kekurangan, kita tetap bahagia. Kita semua tahu kondisi kehidupan kita sendiri. Kita tidak akan risau hanya karena miskin. Kita tetap dapat hidup bahagia. Jika dapat hidup bahagia dan damai meski dalam kondisi kekurangan, dan damai meski dalam kondisi kekurangan, maka akan seperti Yan Hui yang meski kekurangan, tetapi tetap memegang teguh kewajiban dan sangat giat. Karena itu, Konfusius sering memuji Yan Hui. Dia tidak merisaukan kondisi kehidupannya. Jika orang lain berada dalam posisinya, maka belum tentu sanggup bertahan. Namun, Yan Hui tetap bahagia. Mengapa demikian? Karena dia dapat menyebarkan kebenaran. Jadi, dia tetap dapat hidup damai dan bahagia di jalan kebenaran. Karena itu, Yan Hui juga menjadi murid yang sering dipuji Konfusius. Dengan demikian, Zigong merasa Konfusius sering memuji Yan Hui yang kekurangan tetapi tidak menjilat. Yan Hui menerima kondisi kehidupannya, tetapi tidak akan menjilat orang lain.

Konfusius memuji hal ini sebagai sikap terpuji. Namun, Zigong juga merasa meski dirinya berada, jika dirinya tidak sombong, maka pasti juga dipuji oleh Konfusius. Namun, Konfusius berkata bahwa selain dapat tetap bahagia meski miskin dan tidak sombong meski kaya, yang lebih penting adalah bertata krama. Bukan hanya tidak sombong, kita juga harus bertata krama terhadap orang lain. Inilah yang benar. “Tanpa sanjungan kosong” di sini berkaitan dengantetap bahagia meski miskin. Ini adalah kondisi batin yang murni dan sederhana. Ini adalah hati yang lurus. Meski hidup kekurangan, dia tetap dapat menjaga sila dan prinsip. Inilah yang disebut tanpa sanjungan kosong. Dengan kata lain, dalam hubungan antarmanusia, semua orang dapat menjaga pikiran yang baik dan mempertahankan hakikat yang murni dan tanpa noda yang sama dengan Buddha. Dengan begitu, semua manusia dipandang setaratanpa harus menjilat. Inilah kondisi yang harus kita bina. Meski kita juga tidak kekurangan materi atau apa pun dalam hidup ini, tetapi kita juga harus mengembangkan welas asih dan niat baik yang sama dengan Buddha. Terhadap orang lain, kita berpikiran lurus dan tulus, maka tidak akan terjadi kesalahan. maka tidak akan terjadi kesalahan.

Di sisi lain, saat kita mendengar bahasan bahwa tanpa sanjungan kosong, maka tidak ada rintangan, kita mungkin berpikir, “Saya paling lurus.” “Saya bicara apa adanya.” “Tak peduli kamu senang atau tidak senang, saya akan bicara lugas apa adanya.” Ini malah akan menjalin banyak jodoh buruk. Meski ucapan kita lugas apa adanya, tetapi entah apakah pikiran kita benar-benar lurus atau tidak. Jika pikiran kita sendiri tidak lurus dan benar, maka ucapan lugas kita hanya akan melukai orang. Jadi, kita harus bersungguh hatimemahami dua hal ini. “Tanpa sanjungan kosong” harus kita pahami. Jika kita memiliki hati yang baik, maka sikap lurus dan tulus adalah benar. Jika pikiran kita tidak benar, maka sikap lugas akan melukai orang lain. Jadi, “tanpa sanjungan kosong dan rintangan” yang kita bahas di sini merujuk pada hati yang lurus, tulus, dan bajik. Inilah yang membuat kita bebas dari rintangan. Jika dalam batin kita selalu memiliki pikiran benar, maka kita tidak akan menjilatdan bebas dari rintangan. Benar di sini berarti menumbuhkan kebaikan. Benar di sini juga berarti lurus. Benar dan lurus berarti tidak menjilat. Benar adalah saat untuk membangkitkan kebajikandan memadamkan keburukan.

Jadi, kita harus memahami semua ini. Jika kita membawa Syair Pertobatan Air Samadhi, Jika kita membawa Syair Pertobatan Air Samadhi, yang dimaksud bukanlah “inilah saat”, bukan, melainkan “kebenaran ini” adalah saat untuk membangkitkan kebajikandan memadamkan keburukan. Artinya, jika kita memiliki pengetahuan benar, pandangan benar, pikiran benar, barulah kita bisa benar-benarmembangkitkan niat baik. Dengan sikap tidak menjilat, kita akan dapat memadamkan keburukan. Jadi, pikiran kita harus selalu berada di atas Jalan Mulia Beruas Delapan. Sebelumnya kita membahas 37 Faktor Pencerahan. Kita harus sungguh-sungguh mempertahankannya dan mengembangkan empat jenis pengamatan. Sebelumnya kita sudah membahas banyak hal, tetapi yang dikhawatirkan adalah kita makhluk awam hanya mendengar sambil lalu dan melupakannya. Karena itu, kini kita kembali diingatkan untuk selalu memiliki empat jenis pengamatan. Apakah empat jenis pengamatan itu? Ini adalah pengamatan yang senantiasa dilakukan untuk dapat melenyapkan kesalahan. Empat jenis pengamatan ini juga merupakan metode untuk membimbing kita. 37 Faktor Pencerahan bertujuan membantu kita, sedangkan yang kita bahas kali ini adalah kembali mengingatkan agar kita paham lebih jelas. Jadi, empat jenis cara ini jugamerupakan metode terampil  agar kita dapat memadamkan kesalahan. Orang zaman dahulu berkata, “Lebih baik terlalu banyak berbuat kebajikan daripada melewatkan satu perbuatan baik.” Artinya, kita harus lebih banyak berbuat baik, jangan sampai kesempatan berbuat baik terlewati dan kita tidak melakukan apa-apa. Jadi, kita harus senantiasa berada dalam kebajikan.

Kita harus menggenggam kesempatanuntuk membantu orang . Lakukan saja. Inilah yang sering dikatakan insan Tzu Chi. Kita tidak takut terlalu banyak berbuat baik. Lebih baik terlalu banyak berbuat baik daripada melewatkan kesempatan berbuat baik. Inilah cara untuk membantu kitamemadamkan kesalahan. Ini adalah cara sederhana yang mudah diingat. Kita harus selalu ingat untuk berbuat baik. Yang penting lakukan saja. Jadi, dikatakan bahwa “kebenaran ini” adalah saat untukmembangkitkan kebajikan dan memadamkan keburukan. Pikiran kita harus selalu ingat untuk berbuat baik. Lakukan saja. Dengan begitu, kita akan dapatmemadamkan kesalahan dan keburukan. Membangkitkan kebaikandan memadamkan keburukan merujuk pada pahala dari pertobatan. Jika kita tidak bertobat, keburukan akan terus terpupuk dalam batin kita. Tabiat buruk akan selalu ada dalam tindakan kita. Jika tabiat buruk tidak diubah, berarti noda batin kita belum dikikis. Noda batin belum terkikis karena kita tidak menggunakan Dharma di hati kita. karena kita tidak menggunakan Dharma di hati kita. Air dapat membersihkan kotoran. Air Dharma dapat mengairi batin kita.

Dengan adanya air Dharma di dalam batin, barulah kebijaksanaan kita dapat bertumbuh. Jika kebijaksanaan bertumbuh, barulah kegelapan batin dapat diredam. Jadi, sebelum kebijaksanaan bertumbuh, kita harus melenyapkan noda batin. Setelah noda dalam batin dibersihkan,kebijaksanaan harus segera dikembangkan. Dengan tumbuhnya kebijaksanaan, barulah kita bisa meredam kegelapan batin. Jadi, pertobatan adalah melenyapkan kegelapan batin masa lalu. Artinya, kita memperbaiki masa laludan membina masa depan. Berhubung kita memiliki kesalahan di masa lalu akibat kegelapan batin, maka setelah kita menyadarinya kini, kita harus menggunakan cara untukmengobati batin kita. Kita harus segera memperbaiki perilaku kita. Inilah yang disebut membina masa depan. Jika kita hanya mengubah tanpa memperbaiki, maka noda batin akan mudah untuk kembali. Jadi, bertobat berarti terus memperbaiki masa lalu. Dengan begitu, kita dapatmenumbuhkan kebijaksanaan. Dengan tumbuhnya kebijaksanaan,kita dapat berbuat baik. Inilah pahala dari pertobatan. Jika kita tidak melenyapkan kegelapan batin, maka kebijaksanaan tak akan bertumbuh. Jika kita tidak tekun, kita tak akan dapat memupuk pahala. Jadi, bertobat berarti harus tekun.

 Tekun berarti melakukan praktik nyata. Inilah yang disebut memupuk pahala, yaitu melatih kerendahan hati di dalam diri dan mempraktikkan tata krama di luar. Jadi, tubuh dan batin kita harus sejalan. Inilah yang disebut pahala. Jika kita tidak bertobat, maka pahala ini tak akan tumbuh. Jadi, kita harus sungguh bermawas diridan tulus bertobat. Sikap bertobat dan mawas diri iniharus ada dalam keseharian kita. Dengan begitu, pahala akan tumbuh. Bertobat berarti memadamkan kesalahandan menumbuhkan berkah. Jika kesalahan bisa dipadamkan, maka berkah kita akan tumbuh. Kita dapat menciptakan berkah bagi masyarakat. Namun, tanpa bertobatdan memadamkan kesalahan, noda batin akan terus timbul dalam pikiran kita. Saat melihat orang tertentu, kita tidak senang. Jika begitu, bagaimana kita bisa berbuat baik? Jadi, intinya, kita terus dibimbing untukmembangkitkan hati yang bertobat. Dengan begitu, niat baik baru bisa tumbuh. Inilah yang harus kita amati dan renungkan. Bagaimana kita mengamati dan merenungkannya? Kita dapat bertobat, tetapi pertobatan kita belum tentu murni.

Karena itu, ada sebuah cara lain yang membuat kita memahami secara mendalam sehingga dengan sendirinyadapat benar-benar bertobat. Yang dikhawatirkan adalah pertobatan kitatak cukup tulus. Yang dikhawatirkan adalah setelah bertobat, kegelapan batin kembali bangkit. Oleh karena itu, kita harus membangkitkan pengamatan dan perenungan. Pikiran kita harus maju selangkah, yaitu merenung lebih dalam dan saksama. Dengan begitu, barulah pelatihan kita bisa stabil. Saya sering berkata kepada kalian bahwa pelatihan diri amat melelahkan. Orang yang membabarkan Dharma juga lelah karena makhluk awam sering mengulangi kesalahan. Hakikat sejati kita pada dasarnya murni. Kita memiliki benih kebuddhaanyang sama dengan Buddha. Kita memiliki hakikat kebijaksanaan yang murnidan sama dengan Buddha. Namun, akibat sebersit kegelapan batin, segala noda batin pun bangkit. Berhubung tiga aspek halus sudah timbul, maka enam aspek kasar ikut menutupi batin kita. Akibatnya, berbagai rintangan pun muncul. Saat pintu noda batin terbuka,berbagai rintangan akan muncul. Untuk kembali pada hakikat kebuddhaan, dan kebijaksanaan yang murni, kini kita harus perlahan-lahan melatih dan membina diri. Sebelumnya kita sudah membahas dengan panjang.

Apakah kita sudah mengubah tabiat buruk? Sepertinya sangat sulit. Justru karena sangat sulit, kita lalu membahas 37 Faktor Pencerahan. kita lalu membahas 37 Faktor Pencerahan. Apakah semua sudah paham? Semua sudah tahu. Apakah paham? Entahlah. Dalam kondisi antara paham atau tidak ini, noda batin tetap terus timbul. Jadi, kini kita tetap sangat lelah. Kini kita kembali membahasempat jenis pengamatan. Apa yang disebut empat jenis pengamatan? Pertama, mengamati sebab dan kondisi. Kedua, mengamati buah dan akibat. Ketiga, mengamati tubuh diri sendiri. Keempat, mengamati tubuh Tathagata. Pertama adalah mengamati sebab dan kondisi. Sebab dan kondisi ini sangat penting. Kita harus menyadari bahwa segala sesuatutidaklah memiliki sifat sejati. Sesungguhnya, apa yang perlu kita perhitungkandi dunia ini? Segala sesuatu adalah tanpa inti atau sifat sejati. Dengan siapa kita bersikap perhitungan? Kadang kita bertanya, “Apa sesungguhnya yang kamu perhitungkan?” “Dengan siapa kamu bersikap perhitungan?” “Saya berhitungan dengan diri sendiri.” Sikap perhitungan dengan diri sendiri ini, sesungguhnya apa perlu dilakukan? Jika benar kita mau berhitungan dengan diri sendiri, maka mari kita renungkan baik-baik. Sebelumnya kita membahas tentangkehidupan yang tidak kekal. Lalu, kita ingin berhitungandengan diri kita yang masih muda ataukah dengan diri kita yang sudah tua? Hari kemarin sudah berlalu. Jika kita ingin hari kemarin terulang lagi, tentu tidak akan mungkin.

Apa yang perlu kita perhitungkan? Mengenai benar dan salah, yang penting kita berintrospeksi, tetapi tidak perlu perhitungan. Diri sendiri tak perlu perhitungan dengan diri sendiri, lalu mengapa harus perhitungan dengan orang lain? Jika orang lain melakukan kesalahan, lalu mengapa kita harus mengambil kesalahan merekauntuk menghukum diri sendiri? Meski orang lain bersalah, tetapi berhubung kini kita sedang melatih diri, maka kita hendaknya berusaha untukmenjalin jodoh baik dengannya. Jika orang itu memang bersalah, kita harus segera menasihatinya. Jika berhasil, dia akan berubah. Kita hendaknya mengucapkan selamat. Jika dia tidak bisa berubah, maka ini sama dengan pertanyaan Ananda saat menjelang Buddha wafat. Ananda bertanya kepada Buddha, “Saat Yang Dijunjung masih ada, di dalam Sangha sudah banyak orang yang sulit untuk dinasihati.” “Kelak, setelah Yang Dijunjung tiada, bagaimana kami menghadapi dan membimbing bagaimana kami menghadapi dan membimbing bhiksu yang keras kepala seperti itu?” bhiksu yang keras kepala seperti itu?” Buddha menjawab, “Berusahalah untuk menasihati dan membimbing mereka.” untuk menasihati dan membimbing mereka.” “Jika tidak bisa, maka diamkan dan biarkan saja.” Benar, apa lagi yang bisa dilakukan? Kadang saya bertanya, “Mengapa kamu begitu marah?” “Karena orang itu melakukan ini dan itu.” “Itu kesalahannya, lalu mengapa kamu yang marah hingga seperti ini?” “Saya marah kepada diri sendiri karena tidak mampu memengaruhinya.”

Lihatlah, sesungguhnya kita bersikap perhitunganterhadap orang lain ataukah terhadap diri sendiri? Kita harus merenungkan dan memahami apakah kita benar-benar peduli. Jika ya, maka saat melihat orang melakukan kesalahan, kita harus menasihati dengan ucapan yang baik. Pada zaman Buddha, sudah ada orang-orang yang keras kepaladan sulit dibimbing, terlebih lagi sekarang. Jadi, meski kita sedang melatih diri sendiri, kita juga harus membimbing orang lain. Jika orang lain belum bisa terbimbing, maka kita yang harus berlatih lebih giat, tidak perlu bersikap perhitungan. Segala sebab dan kondisi pada hakikatnya kosong. Sikap perhitungan tidak ada gunanya. Meski sebab dan kondisi pada hakikatnya kosong, tetapi saya juga sering berkata bahwa kita tetap harus menjalin jodoh baikdengan semua orang, karena jika kita menjalin jodoh dengan orang, berarti kita telah menanam sebutir benih. Sebab dan kondisi memang tidak terlihatdan tak dapat diraba, tetapi buahnya akan dapat dirasakan. Jadi, kita harus memahami kosongnya hakikat ini. Ibarat sebutir benih tanaman, Ibarat sebutir benih tanaman, apakah ia dapat bertumbuh menjadi pohon? Belum tentu. Meski benih itu memang benih pohon, tetapi tanpa kondisi pendukung lainnya, benih ini juga tidak ada gunanya. benih ini juga tidak ada gunanya. Ia memerlukan tanah, air, dan cahaya matahari.

 Apakah benih harus berwujud besar? Sesungguhnya, dalam benih yang kita lihat, gennya di dalamnya lebih kecil lagi. Dengan adanya kondisi pendukung, seperti tanah, air, dan sinar matahari, seperti tanah, air, dan sinar matahari, dalam beberapa hari benih ini mulai merekah. Setelah benih itu merekah, maka dari dalamnya akan tumbuh tunas, baik tunas pohon maupun tunas bunga. baik tunas pohon maupun tunas bunga. Intinya, tunas ini mulanya seakan berada di dalam benih. Namun, sesungguhnya di dalam benih tadi pada kenyataannya tidak ada tunas. Setelah tunas bertumbuh, ia akan menjadi pohon kecil hingga pohon besar. Apakah kita bisa berkata bahwa pohon besar itu mulanya berada di dalam benih tadi? Secara kasatmata tentu tidak begitu. Jika kita mengupas benih tadi, Jika kita mengupas benih tadi, apakah kita menemukan pohon di dalamnya? Tidak juga. Namun, meski hakikat semua ini adalah kosong, tetapi ada eksistensi ajaib di baliknya. Bagaimana pohon bisa tumbuh besar? Tanpa tanah, ia tidak dapat bertumbuh. Dengan tanah saja, apakah pohon bisa tumbuh? Tidak juga. Ada benih, ada tanah, apakah tunas bisa tumbuh? Juga tidak.

Kita tetap membutuhkan air. Namun, jika ada air, tetapi tidak ada tanah dan benih, apakah bisa tumbuh pohon? Tidak bisa. Intinya, tanpa adanya perpaduan dari berbagai sebab dan kondisi ini, maka semuanya adalah kosong. Air memiliki sifat air, tanah memiliki sifat tanah, benih memiliki sifat benih. Namun, jika sifat-sifat ini tidak dipadukan, maka tidak akan bisa mewujudkan apa-apa. Sama halnya dengan kita manusia. Tanpa adanya benih ayah dan telur ibu, bagaimana bisa terwujud manusia yang terus bertumbuh? Diperlukan perpaduan empat unsuragar tubuh kita bisa sehat. Singkat kata, tanpa perpaduan sebab dan kondisi, semuanya adalah kosong. Setelah berbagai sebab dan kondisi berpadu, barulah sesuatu dapat terwujud. Karena itu, dikatakan segalanya bersifat kosong. Dibutuhkan adanya perpaduan sebab dan kondisi. Jika sebab dan kondisi ini terpisah,maka semua kembali pada kekosongan. Inilah yang disebut kekosongan sejati. Di sisi lain, dengan adanya perpaduan berbagai hal, eksistensi bisa terwujud secara ajaib.

Jadi, pembahasan mengenai sebab dan kondisi sungguh sangat menarik. Jika kita sering menanam sayur di ladang, kita bisa mengamati bahwa jelas-jelas yang kita tabur adalah benih, tetapi beberapa hari kemudian benih-benih inisudah berubah menjadi tunas. Butir-butir benih tadi, jika kita kupas dengan saksama atau kita lihat di bawah mikroskop, atau kita lihat di bawah mikroskop, sesungguhnya di dalamnya tidak ada apa-apa. Jadi, tanpa berbagai kondisi yang berpadu, sesungguhnya semuanya tetaplah kosong. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus memahami dengan menyeluruh bagaimana segala sesuatu terwujud dan bagaimana semua kembali pada kekosongansaat berbagai faktornya dipisahkan. Sungguh, segala sesuatu tidak memiliki sifat sejati,segala sesuatu bersifat kosong. Mulai saat ini, kita akan mendalami empat jenis pengamatan, dimulai dari pengamatan terhadap sebab dan kondisi. Tanpa adanya perpaduan sebab dan kondisi, segalanya adalah kosong. Harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment