Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-338-Empat Jenis Pengamatan Bagian 4

Saudara se-Dharma sekalian, kita semua harus meyakini hukum sebab akibat. Sebagaimana benih yang ditanam, demikianlah buah yang akan dituai. Inilah kebenaran yang dibabarkan Buddha. Jadi, kita semua harus meyakininya. Bagaimana agar kita selamanyadapat mengingat hukum sebab akibatdan tidak melupakannya dalam keseharian? Kita harus sering berada dekat denganguru dan teman-teman yang baik. Orang-orang yang berada di dekat kitamerupakan guru kita.  Kita harus meneladani segala sisi baik mereka.  Di tengah masyarakat,mereka menggunakan berbagai carauntuk memberi kita pelajaran. Yang baik kita teladani, sedangkan yang tidak baik menjadi peringatan.  Jadi, semua orang adalah guru kita. Kita harus bersahabat dengan mereka semua.  Tindakan mereka,perilaku mereka, semuanya adalah bahan pelajaran bagi kita.  Karena itu, kita hendaknya berkata,”Terima kasih,kamu adalah teman baik bagi saya.  “Jadi, jika kita dapat selalumenganggap orang lain sebagai mitra bajik,maka kita akan dapat memilih dengan baik. Hal yang baik kita teladani,hal yang tidak baik menjadi bahan introspeksi.

Dengan demikian,di tengah masyarakat,siapakah yang bukan merupakan teman kita?Dengan memiliki keyakinan benar terhadapajaran para Buddha dan Bodhisattva,maka kita akan selalu berada dalam kedamaian. Sebelumnya kita pernah membahas bahwakita harus percaya pada sebab dan kondisiserta buah dan akibat. Namun, hukum sebab akibat iniharus sungguh-sungguh kita renungkan. Jika kita tidak memilikipikiran yang jernih dan kekuatan pengamatan,maka kita tidak akan tahuapakah diri ini melakukan kesalahan atau tidak. Dengan begitu, kita akan menjauhiteman-teman yang bajikatau meninggalkan para Buddha dan Bodhisattva. Kita harus tahu bahwateman bajik dan para Buddha serta Bodhisattvaadalah pengingat bagi kitayang mengingatkan saat kita sudah berbuat salah. Jadi, kita harus selalu membangkitkankesadaran dan pikiran yang jernih. Kita juga harus memiliki pengamatan yang benar. Tanpa pikiran jernih dan pengamatan benar,kita akan mudah menjauhi teman-teman bajik. Meski mereka berada di hadapan kita,kita seakan tidak mengenal mereka.

Saat kita memiliki kesalahan,mungkin kita juga tidak menyadarinya. Jadi, pikiran jernih dan pengamatan benarsangatlah penting. Jika kekurangan hal ini,maka kita tak akan menyadari kesalahan. Meski teman yang bajik  berada di hadapan kita,kita juga tidak menyadarinya,bahkan mungkin kita juga melanggarajaran para Buddha dan Bodhisattva. Ini tidaklah benar. Ini adalah hal yang menakutkan. Jadi, pikiran jernih dan pengamatan benarsangat penting bagi pelatihan diri kita. Jika kita kekurangan dua hal ini,maka kita akan berada dalam bahaya. Dengan begitu,kita akan mudah menyimpang. Jika kita menjauhi teman bajik dan para Buddha,maka kita akan cepat mengikuti jalan Mara. Kita akan terjerumus ke jalan Maraatau jalan sesat. Kita akan mengikuti guru-guru sesat. Dengan mengikuti guru-guru sesat,kita akan terjerumus ke jalan Mara. kita akan terjerumus ke jalan Mara. Ini berarti kita berada di jalan yang berbahaya. Ini berarti kita berada di jalan yang berbahaya. Sedikit saja kesalahan akan membahayakan diri. Jadi, kita harus menaruh perhatian pada hal ini.

Ajaran yang Buddha babarkanbagaikan jalan yang lapang dan lurusyang dapat kita tapaki dengan amanserta membawa padatumbuhnya jiwa kebijaksanaan. Namun, jika kita menyimpang sedikit saja,mengikuti jalan Mara,meyakini guru sesat,dan menjauhi praktik yang benar,maka kita akan terjerumus ke jalan Mara. Dengan begitu, kita akan berada dalam bahaya. Dengan begitu, kita akan berada dalam bahaya. Lalu, apa jadinya?Di dalam teks dikatakan,”Bagai ikan menggigit mata kail,tidak mengetahui bahayanya;bagai ulat membuat kepompong,membelenggu diri sendiri;bagai serangga yang mendekati api, akan membakar diri sendiri;demikianlah tak dapat membebaskan diriakibat sebab dan kondisi ini. “Inilah yang terjadi jika terjerumus ke jalan sesat,sangat berbahaya. Itu bagai ikan yang menggigit mata kail. Kita tahu ikan berenang bebas di air.

Semua makhluk memiliki habitat masing-masing. Sebagai manusia, agar bisa hidup,kita membutuhkan udara yang segaruntuk kita bernapasdan sehat. Inilah kondisi hidup kita sebagai manusia. Habitat ikan adalah air. Air menyokong kehidupan ikan,sama dengan udarayang menyokong kehidupan kitasehingga bisa hidup dengan bebas. Namun, ada orang yang gemar memancing ikan. Untuk itu, mereka menggunakan umpanagar ikan-ikan terjebak oleh kail mereka. Jadi, orang zaman dahulumenggunakan cacing sebagai umpan. Di zaman sekarang,orang menggunakan berbagai macam umpan,salah satunya adalah sejenis pilyang jika dimasukkan ke airakan menarik ikan-ikan dengan aromanya. Demi ingin memakannya,ikan-ikan akan menggigit mata kail. Mata kail berbentuk melengkung. Asalkan menggigit kuat sedikit,mulut ikan akan tersangkut. Jika sudah begitu, susah bagi ikan untuk kabur. Tanpa pikiran jernih dan pengamatan benar,Tanpa pikiran jernih dan pengamatan benar,manusia akan menjadibagai ikan yang terjerat kail.

Manusia seperti ini bagaikan ikanyang tak menyadari bahaya yang mengintai. Ikan-ikan ini tamak akan aroma harum,sehingga menggigit umpan pada mata kail. Bukankah manusia juga seperti ini? Bukankah manusia juga seperti ini? Dahulu, di Hualienada banyak tempat pemancingan. Suatu kali,seorang pasien gawat daruratdilarikan ke rumah sakit kita. Dia sangat menderita. Ternyata dia mengalami musibahdi tempat pemancingan. Saat itu dia melihat seekor ikan besar. Dia lalu melemparkan kailyang sudah diberi umpan. Dia lalu menunggusampai ikan besar itu mendekat. Ikan  itu benar-benar mendekat. Melihatnya, orang ini sangat senangsehingga lupa diri. Ikan itu belum benar-benar menggigit mata kail,baru sedang membuka mulut,tetapi orang ini sudah kegirangansehingga langsung menarik kailnya. Namun, ikan itu ternyata belum tersangkut. Jika ikan itu sudah tersangkut di kail,maka saat dia menariknya, pasti terasa beratmaka saat dia menariknya, pasti terasa beratdan mudah ditangkap saat mengayun. dan mudah ditangkap saat mengayun. Tak disangka, ikan itu belum tersangkut di kail,sehingga saat kail itu ditarik kuat,mata kailnya mengayun dan tersangkutdi mulut orang itu sendiri yang sedang terbuka. Saat kail itu ditarik,mata kailnya langsung mengayundan masuk ke arah mulut orang tersebut. Dia sangat kesakitandan berusaha melepaskan mata kail itu.

Namun, mata kail itumalah tersangkut semakin dalam. Karena itu, dia segera dilarikan ke rumah sakit. Pada saat itu, lukanya sudah sangat dalam. Akhirnya, dia harus menjalanioperasi selama beberapa jamkarena pada saat mata kail masuk ke mulutnya,dia sendiri berusaha mengeluarkannya. Akibatnya, lukanya semakin dalam. Kerongkongannya terluka parah. Begitulah, saat ketamakan timbul,manusia bisa menganggap nyawa sebagai mainan. manusia bisa menganggap nyawa sebagai mainan. Mereka bukan hanya membunuh makhluk lain,tetapi juga membuat makhluk lain menderita. Ini akibat tidak adanya pikiran jernihdan pengamatan yang benar. Saat melukai makhluk laindan melihat ikan bergumul dalam penderitaan,dia malah merasa senang. Namun, saat tiba gilirannya yang terluka,dia merasa sangat menderita. Begitu pula dengan para guru sesat. Mereka bagai sedang memancing. Saat melihat orang-orang terpancingdan dirinya mendapat keuntungan,mereka merasa senang. Namun, mereka sendiri sudah beradadalam bahaya. Para guru sesat ini juga tidak menyadari bahwamereka telah masuk ke jalan sesat. Jika kita mengikuti mereka,maka bagai orang buta menuntun orang buta. maka bagai orang buta menuntun orang buta. Ini sangat berbahaya.

Ini seperti ulat yang membentuk kepompong. Ulat sutra mengeluarkan benang sendiridan mengikat diri sendiri. dan mengikat diri sendiri. Jika manusia tak memiliki pikiran jernihdan pengamatan benar,maka masalah apa pun akan menjadisumber kerisauan. Adakalanya, saat berucap hal yang tidak benar,meski diri sendiri segera berintrospeksi,tetapi ucapan sudah terlanjur keluarsehingga kita sendiri merasa tidak enak hatidan sangat risau. Mungkin saja setelah kita mengucapkan hal itu,orang lain tidak mempermasalahkannya,tetapi kita sendiri merasa harus bertobat. Namun, setelah bertobat,kita tak sengaja mengulangi kesalahan yang sama. Rasa bertobat meluap di dalam batin. Saat bertobat,  kita berkata,”Saya salah,saya harus segera menjelaskan padanyabahwa tadi saya tidak ada maksud buruk. “”Saya sungguh tidak tahuapakah sudut pandang saya yang salahsehingga mengatakan hal seperti itu. “”Sesungguhnya, saya tak punya maksud jahat. “”Saya harus menjelaskan padanya. “Mungkin pihak lain akan berkata,”Mengenai ucapanmu tadi,saya tidak merasa apa-apa. “”Baguslah jika kamu tak merasa apa-apa,hatimu sangat lapang,saya harus belajar darimu. “Kita tidak hanya harusselalu mempertahankan kewaspadaandan hati yang bertobat.

Setelah melakukan kesalahandan bertobat, kita juga jangan lagimenyimpan kesalahan itu di dalam hati. Jangan pula hanya menyimpan rasa bertobatdi dalam hati,tetapi tidak mengungkapkannya. Ini hanya akan membelenggu diri sendiri. Meski kita tidak sengajamengucapkan kata-kata yang tidak benaratau tidak sengaja melakukan sesuatuyang melukai orang lain,kita tetap harus segera bertobat. Pertobatan ini harus diutarakan. Setelah diutarakan,jangan disimpan di dalam hatisehingga kita tidak akanseperti ulat yang membelenggu diri sendiri. Kita semua adalah makhluk awam. Meski sudah tahu tidak boleh berbuat salah,makhluk awam tetap bisa tidak sengajaberbuat kesalahan. Namun, kita jangan bagai ulatyang membelit diri sendiri dengan benang. Setelah mengucapkan sesuatu yang salah,lalu kita menyimpannya di dalam hatisehingga terbelenggu kerisauan. Ini juga membawa penderitaan. Meski kita tidak sengaja berbuat salah,tetapi setelah melakukannya,kita tetap harus segera bertobat secara terbuka. Pertobatan adalah pemurnian. Janganlah kita membelenggu diri sendiribagaikan serangga yang mendekati api. Saudara sekalian,jika kita tidak menjaga pikiran dengan baiksehingga timbul ketamakan, kebodohan,atau kebencian,maka kita akan bagaikan seranggayang ingin menerjang saat melihat api. Inilah akibat tiadanyapikiran dan pengamatan benar.

Kita harus mengetahui semua ini. Kondisi luarharus senantiasa kita waspadai. Janganlah kita mudah terpengaruholeh kondisi luartanpa berpikir dan merenung terlebih dahulu. Dunia ini penuh dengan jebakan. Kita dapat terjerat oleh perangkapatau terperosok ke dalam jebakan ituakibat kurangnya perenungan. Jadi, kita harus selalumempertahankan niat baik. Kita harus memilikipengamatan benar atas sebab, kondisi,buah, dan akibat. Jika kekurangan perenungan dan pengamatanterhadap hukum sebab akibat ini,terhadap hukum sebab akibat ini,kita akan mudah tersesat. Jika demikian, ingin melepaskanatau membebaskan dirisangatlah sulit. Jadi, kita harus senantiasaberada dekat dengan teman-temandan guru-guru yang bajikdemi mengembangkan pikiran bajik kita. Jadi, pikiran bajik harus selalu dipertahankan. Ada sebuah cerita berisi perumpamaan. Ada sebuah cerita berisi perumpamaan. Alkisah ada dua orang,salah seorang dari mereka memiliki seekor kuda. Kuda ini sangat pandai berlari. Saat ia berlari,membuat orang yang melihat merasa bebasmembuat orang yang melihat merasa bebasdan merasa bahagia.

Seorang yang lainmemiliki seribu ekor unta. Berhubung memiliki untadengan jumlah yang begitu banyak, setiap hari orang iniharus berjalan mengikuti unta-untanya. Suatu hari,mereka berdua kebetulan berjalandi padang pasir yang luas. Mereka berdua berhenti sejenak. Di padang pasir seperti itu,jarang bisa bertemu orang lain. Karena itu, mereka berdua berbincang-bincang. Dengan penuh spekulasi,si pemilik unta berkata,si pemilik unta berkata,”Saat kudamu berlari dari kejauhan,saya sangat senang melihatnya. “”Kamu tampak berwibawa saat menunggangnya. “”Kuda ini seperti berlari di atas awandan begitu bebas. “”Keadaan itu begitu indah. “”Dapatkah unta-unta saya iniditukar dengan kuda kepunyaanmu?”ditukar dengan kuda kepunyaanmu?”Si pemilik kuda berkata,”Tidak bisa,kuda ini sudah mengikuti sayaselama bertahun-tahun. “”Ia bagaikan teman baik bagi saya. “”Saya merasa berat untuk berpisah dengannya. “Jadi, si pemilik kuda tidak relakudanya ditukar dengan sejumlah besar unta. Si pemilik unta bertanya,”Saya ingin menukarsejumlah besar unta yang berhargahanya dengan seekor kudamu,mengapa kamu tidak bersedia?”Si pemilik kuda menjawab, “Bukan tak bersedia,hanya saja perasaan saya terhadap kuda inisudah cukup dalam.”

Jadi, masing-masing orangmemiliki persepsi masing-masing. Saat mereka akan berpisah,baru saja si pemilik kudaingin naik ke kudanya,si pemilik untatiba-tiba terpikir satu siasat. Demi mendapatkan kuda itu,dia merintih bagai kesakitan. Si pemilik kuda segera turun dari kudanyadan bertanya,”Ada apa?”Si pemilik unta berkata, “Saya memiliki penyakit,kepala saya sakit, dada saya sesak. “”Entah ini adalah sakit kepalaataukah sakit jantung. “”Saya harus segera pergi ke kotauntuk mencari dokter. “Lalu bagaimana?Si pemilik kuda berkata,”Saya bisa menunggang kudadan segera membawamu ke kota untuk berobat. “Dengan niat baik, dia segera memapahsi pemilik unta. Begitu naik ke atas kuda,si pemilik unta berkata, “Saya sudah di atas kuda,berarti kuda ini menjadi milik saya. “Si pemilik kudatidak marah sama sekali. Dia berkata dengan tenang,”Baiklah, jika kamu sungguh menginginkannya,”Baiklah, jika kamu sungguh menginginkannya,maka anggaplah kuda itu menjadi milikmu,tetapi saya hendak berpesan padamu,sesampainya kamu di kota,jika ada orang yang bertanyabagaimana kamu mendapatkan kuda ini,kamu tidak boleh memberi tahu caranya. “kamu tidak boleh memberi tahu caranya. “Si pemilik unta berkata,Si pemilik unta berkata,”Mengapa tidak boleh?”Si pemilik kuda berkata,”Jika kamu memberi tahu orang lain,kelak mereka juga akan terpikirkancara-cara melanggar hukum seperti dirimu. “Si pemilik unta segera turun dari kudadan merasa bersalah. “Saya telah menggunakan cara yang tidak halaluntuk merampas kudamu. “”Saya juga telah melawan hati nurani sendiri. “

Jika saya memberi tahu orang lain cara ini,maka mereka mungkin akan ikutmenggunakan cara yang tidak halal seperti saya. “”Cara ini salah. “Jadi, niat baik seketika timbul dalam batinnya. Saudara sekalian, kita pun demikian. Hal apa pun yang kita hadapi,batin kita harus senantiasa tenang. Meski kepunyaan kitahendak dirampas oleh orang lain,hendak dirampas oleh orang lain,kita hendaknya menasihati merekadan mempertahankan pikiran baik. Kita juga harus membangkitkanniat baik orang lain. Bukankah ini yang disebut empat usaha benar?Kita harus ingat untukmenghentikan keburukan yang sudah timbul,mencegah keburukan yang belum timbul,mengembangkan kebajikan yang sudah timbul,dan membangkitkan kebajikan yang belum timbul. Jadi, Saudara sekalian,dalam menyelami sebab, kondisi, buah, akibat,pikiran jernih, dan pengamatan yang benar,kita semua harus lebih bersungguh hati.

Leave A Comment