Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-337-Empat Landasan Perenungan Bagian 3

 Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari dan setiap saat, kita hendaknya selalu berintrospeksi adakah hari ini kita membangkitkan ketamakan atau membangkitkan nafsu keinginan? Jika nafsu keinginan dan ketamakan bangkit, kita harus segera bertobat, jangan biarkan ketamakan ini terwujud ke luar. Jika bisa begini, inilah yang terbaik. Kita juga pernah membahas bahwa kita harus memiliki empat pengamatan. Pertama adalah pengamatan pada sebab dan kondisi. Kedua adalah pengamatan pada buah dan akibat. Semua ini sudah pernah kita bahas. Dengan adanya sebab dan kondisi yang berpadu, Dengan adanya sebab dan kondisi yang berpadu, barulah ada buah dan akibat. Jadi, kita harus paham tentang sebab, kondisi, buah, dan akibat. Semuanya ini saling berkaitan, bukan terpisah-pisah. Sebab dan kondisi harus berpadu, baru disebut jalinan jodoh. Jika ada sebab, tetapi tanpa kondisi, semuanya tetaplah kosong, tidak akan mewujudkan sesuatu. Jadi, diperlukan adanya benih sebab, juga adanya kondisi pendukung, baru bisa menghasilkan buah dan akibat. Jadi, semoga semua dapat sungguh memahami sebab dan kondisi. Ketiga adalah pengamatan pada tubuh sendiri. Di dalam empat landasan perenungan, bukankah kita juga diajarkan untuk mengamati? Kita harus mengamati tubuh ini. Ini harus senantiasa kita lakukan. Meski kita sering berkata bahwa diri ini adalah tanpa aku, tetapi sesungguhnya arti dari tanpa aku janganlah kita egois dan mementingkan diri sendiri.

Kita tidak boleh seperti itu. Kita tak boleh terpaku pada cinta yang kecil. Jika ingin mencari manfaat, maka haruslah manfaat bagi semua makhluk. Jika ingin mengasihi, maka harus mengasihi semua makhluk di dunia. Jika kita hanya mementingkan diri sendiri, maka kita mungkin akan menjalin jodoh buruk dan akan menerima buahnya. Jadi, kita harus sungguh-sungguh dalam memanfaatkan tubuh kita ini. Jadi, yang ketiga adalah pengamatan pada tubuh diri sendiri. Kita harus memahami hal ini. Meski tubuh ini mengalami fase lahir, tua, sakit, dan mati, tetapi kita harus tahu bahwa pada diri kita ini juga terdapat hakikat kebuddhaan. Setiap orang, baik tua maupun muda, semua memiliki hakikat kebuddhaan. Bukan hanya manusia, bahkan makhluk lain pun memiliki hakikat kebuddhaan yang sama. Kini kita mendengar suara kicauan burung. Sesungguhnya, kita tahu bahwa burung juga memiliki hakikat kebuddhaan. Ada sejenis burung bernama burung beo. Lihatlah, jika terus diajari, ia juga bisa berbicara. Hewan apa pun, semuanya memiliki hakikat kebuddhaan yang sama. Meski wujudnya berbeda, tetapi semua memiliki hakikat yang sama. Begitu pula manusia. Berkesempatan terlahir sebagai manusia, kita hendaknya senantiasa mengerti untuk melihat ke dalam batin. Di dalam batin terkandung hakikat kebuddhaan. Jadi, kita memiliki hakikat yang sama dengan Buddha.

Karena itu, dikatakan bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada dasarnya tiada perbedaan. Ini menandakan bahwa kita semua memiliki hakikat kebuddhaan. Jadi, kita harus mengasihi diri sendiri, tetapi bukan berarti egois. Kita harus mengasihi diri sendiri dan memanfaatkan tubuh ini untuk sungguh-sungguh berlatih di dalam Dharma. Jika tidak menyelamatkan diri pada kehidupan ini, kapan baru kita akan menyelamatkan diri? Jadi, kita harus selalu mengamati tubuh diri sendiri, jangan sampai tubuh ini berbuat kesalahan. Kita harus menjaga kemurnian tubuh dan batin. Dengan begitu, hakikat kebuddhaan kita akan utuh. Sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa tubuh adalah sarana pelatihan diri. Yang keempat adalah pengamatan pada tubuh Tathagata. Di dalam hati setiap orang ada Buddha, tetapi kita juga harus mengamati tubuh Tathagata. Tathagata memiliki 32 ciri manusia agung. Tathagata memiliki 32 ciri manusia agung. Kita juga berharap kita dapat mengembangkan kemurnian tubuh dan batin dan kembali pada hakikat Tathagata serta tak terpengaruh oleh kondisi luar.

Pikiran kita berada dalam kondisi terpusat, bersih, jernih, dan cemerlang. Inilah tubuh Dharma. Jika kita mampu mencapai tubuh Dharma yang murni tanpa noda ini, maka segala perbuatan kita, saat dilihat oleh semua makhluk, tentu akan membawa rasa sukacita. Jadi, kita juga bisa melakukan ini asalkan berlatih dengan sungguh-sungguh. Kita sering membahas tentang tabiat buruk. Jika kita dapat melenyapkan tabiat buruk dan kembali pada hakikat sejati yang murni, maka kita akan merasakan buah sukacita dari kebuddhaan. Jadi, tujuan kita mempelajari ajaran Buddha adalah mengembangkan benih kebuddhaan sehingga kelak dapat menuai buah kebuddhaan. Jadi, saat kita duduk di sini, selain menenangkan pikiran, kita juga hendak menggali hakikat kebuddhaan. Saat bermeditasi, kita juga harus memahami bahwa Buddha berharap kita bisa menjadi sama dengan-Nya yang membawa sukacita bagi semua makhluk. Intinya, jika dalam mempelajari ajaran Buddha kita hanya mendengar sambil lalu, maka mungkin tidak terlalu bermanfaat. Jadi, Dharma bagaikan air. Kita harus terus menggunakan air ini untuk membersihkan dan membasahi batin kita.

Dalam Syair Pertobatan Air Samadhi terdapat pengulangan. Meski sebelumnya sudah dibahas tentang empat jenis pengamatan, kini kita kembali membahasnya. Pertama adalah pengamatan pada sebab dan kondisi. Kita harus mengamati sebab dan kondisi. Segala sesuatu tak memiliki sifat sejati. Inilah yang harus terlebih dahulu kita pahami. Kita harus memahami bahwa segala sesuatu tak memiliki sifat sejati. Saat sebab dan kondisi terpisah dan tak berpadu, sesungguhnya tiada yang akan terjadi. Saat sebab dan kondisi berpadu, barulah berbagai hal terwujud dan membawa kerisauan di masa depan. Jadi, pertama, jika kita dapat memahami bahwa segala sesuatu tak memiliki sifat sejati, maka noda batin tak akan membelenggu kita. Kita harus terlebih dahulu memahaminya. Kini, berikutnya kita kembali membahas sebab dan kondisi. “Pertama adalah mengamati sebab dan kondisi.” Berikutnya dikatakan, “Mengetahui bahwa kesalahan bermula dari pikiran tidak jernih, penuh kegelapan batin, serta tak memiliki kekuatan pengamatan yang benar; tak menyadari kesalahan dan menjauhi teman bajik.” Berhubung telah memahami bahwa segala sesuatu pada hakikatnya kosong, mengapa kita memiliki banyak penderitaan? Mengapa kita bisa menciptakan banyak karma buruk? Pemicunya adalah kegelapan batin. Apa yang dipicu? Akibat sebab dan kondisi yang berpadu, membuat kegelapan batin kita bangkit. Sebelumnya kita juga pernah membahas 12 Mata Rantai Sebab Akibat. Kali ini kita tetap akan kembali mengulangnya agar kita semakin paham.

Dari manakah karma buruk kita berasal? Dari kegelapan batin. Berhubung kita sudah menyadari kesalahan, maka kita harus tahu bahwa kesalahan itu menciptakan karma buruk. Setelah mempelajari ajaran Buddha, kita paham bahwa penderitaan yang kita terima adalah akibat dari karma buruk masa lalu. adalah akibat dari karma buruk masa lalu. Kita juga sudah tahu bahwa akarnya adalah kegelapan batin. Kita memiliki kegelapan batin akar. Apa yang dimaksud kegelapan batin akar? Ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Inilah kegelapan batin akar kita. Kegelapan batin ini membuat kita memiliki banyak delusi dan membangkitkan pikiran keliru. Dahulu kita sudah pernah membahas Sutra Delapan Kesadaran Manusia Agung. Dalam bagian kesadaran kedua pada Sutra itu ada bagian yang berbunyi, “Kesadaran kedua: banyaknya keinginan membawa penderitaan.” Semua berpulang pada nafsu keinginan. Banyaknya keinginan membawa penderitaan. “Segala kepenatan dalam kehidupan berawal dari ketamakan dan nafsu.” Mengapa kita begitu menderita? Karena memiliki banyak nafsu keinginan, kita jadi begitu menderita. Kita terus terlahir kembali di enam alam. Ini membuat kita penat. Dalam melatih diri, kita selalu membahas bagaimana cara terbebas dari enam alam.

Sesungguhnya, apakah kita secepat itu terbebas dari enam alam? Yang penting adalah pikiran kita. Pikiran kita harus melampaui makhluk awam. Jika tidak, meski berada di alam dewa ataupun alam manusia, batin kita tetap tidak lepas dari kondisi alam asura, setan kelaparan, neraka, dan binatang. Jadi, enam alam bergantung pada kondisi batin. Berhubung batin kita Berhubung batin kita setiap hari selalu berkutat pada enam alam, maka kita tentu akan merasa penat. Pikiran kita berkutat pada enam alam akibat adanya ketamakan dan nafsu. Jadi, pelatihan diri terbaik adalah mengurangi nafsu keinginan. Kita harus belajar untuk mengurangi keinginan. Dengan mengurangi keinginan, pikiran kita tidak akan bergejolak dan tubuh kita tidak akan menciptakan karma. Jadi, kita harus mengurangi nafsu keinginan. Bukan hanya itu, kita juga harus mengenal rasa puas. Jika dapat mengurangi nafsu dan mengenal rasa puas, maka meski berada dalam kondisi kekurangan, kita akan tetap bagai berada di surga. Jadi, kita harus mengurangi nafsu dan mengenal rasa puas. Dengan sendirinya, tubuh dan batin akan damai. Inilah yang dikatakan dalam Sutra Delapan Kesadaran Manusia Agung, tepatnya pada bagian kesadaran kedua. tepatnya pada bagian kesadaran kedua.

Kita sudah memahami sebab dan kondisi yang sebelumnya dibahas. Semuanya bermula dari kegelapan batin. Akibat himpunan ketidaktahuan, batin kita menjadi gelap sehingga kita melakukan banyak kesalahan yang akhirnya mendatangkan penderitaan. Dari mana kegelapan batin muncul? Dari pikiran yang tidak jernih, tidak punya kekuatan pengamatan yang benar, dan tidak menyadari kesalahan. Artinya, kita diliputi kegelapan batin dan tidak memahami kebenaran karena kurangnya perenungan. Tabiat buruk kita dalam keseharian terus bereaksi terhadap kondisi luar. terus bereaksi terhadap kondisi luar. Ia bagaikan pengembara yang tamak akan kesenangan sehingga terus mencari ke luar. Sangat jarang baginya untuk ingat pulang. Di manakah rumah asal kita? Di hakikat sejati yang murni. Kita malah menjauh dari hakikat sejati yang murni ini. Karena itu, kita tak dapat menjaga pikiran jernih. Pikiran kita menjadi dangkal dan sangat gegabah. Saat mendengar sesuatu di luar, kita langsung marah tanpa berpikir. Saat melihat sesuatu di luar, tanpa berpikir panjang, kita langsung membangkitkan ketamakan. Semua ini adalah pikiran yang tidak jernih. Jika kita dapat selalu berlatih untuk berpikir sejenak setelah mendengar atau melihat sesuatu, maka kesempatan berbuat salah akan lebih kecil. Jadi, kegelapan batin dapat memicu karma buruk karena adanya pikiran tidak jernih.

Sebelumnya, dalam 37 Faktor Pencerahan kita juga sudah membahas dengan jelas cara untuk membantu pikiran kita untuk kembali pada hakikat yang murni. untuk kembali pada hakikat yang murni. Pengetahuan dan pandangan benar amat penting. Baik Jalan Mulia Beruas Delapan, Tujuh Faktor Pencerahan, maupun Lima Akar dan Lima Kekuatan, semuanya mengandung akar dan kekuatan perenungan. Jika kita kekurangan daya kebijaksanaan untuk berpikir dan merenung, maka segala kesalahan di masa lalu juga tidak dapat kita renungkan. Kita sudah pernah mendengar bahwa dalam hubungan antarmanusia, jika kita menjalin sebab dan kondisi atau jodoh yang tidak baik, maka saat sebab dan kondisi ini berpadu, timbullah dendam dan kebencian. Di masa lalu kita belum memahami hal ini, tetapi kini kita sudah memahaminya. tetapi kini kita sudah memahaminya. Setelah memahaminya, kita harus terus merenung. Apakah kita yang salah ataukah orang lain yang salah, tetapi salah paham terhadap kita? Apa pun itu, kita harus memikirkan cara untuk memperbaiki dan meluruskannya. Jika memang kita bersalah, Jika memang kita bersalah, kita harus segera bertobat kepada orang itu.

Baik diri sendiri maupun orang lain yang salah, intinya sebab dan kondisi akan membawa buah dan akibat. Kita harus sungguh-sungguh merenungkannya dan berusaha mengurai rasa dendam. Ini berhubungan dengan masa lalu. Berhubung ingin mengurai dendam masa lalu, maka saat ini jangan kita hanya berpikir untuk memperbaiki masa lalu, tetapi melupakan saat sekarang. Saat ini bahkan harus lebih diwaspadai. Setelah memurnikan batin lewat pertobatan, kita harus bertekad memulai hidup baru. Pemikiran kita harus kembali diluruskan. Janganlah kita gegabah dan reaktif saat melihat atau mendengar sesuatu. Jangan begitu. Kini kita harus menenangkan batin kita. Inilah yang disebut hening. Kondisi batin kita harus senantiasa berada dalam keheningan. Inilah pikiran yang jernih. Orang yang memiliki pikiran baik, baru bisa berada dalam keheningan dan kejernihan. Pikirannya tidak akan keruh Pikirannya tidak akan keruh ataupun tercemar. Jadi, pikiran jernih sangat penting. Di saat ini, saat mendengar Dharma kita juga perlu pikiran jernih. Saya yang sedang berbicara juga perlu pikiran jernih. Jika berbicara kepada orang lain tanpa berpikir baik-baik, kita mungkin salah berucap.

Jika mendengar sesuatu tanpa pikiran baik, kita mungkin salah mengerti. Jadi, pikiran jernih sangat penting. Bagaimana agar kita memiliki pikiran jernih? Dengan pengamatan benar dan kekuatan kebijaksanaan. Jika memiliki pikiran yang tidak jernih, berarti kita tidak memiliki kebijaksanaan dan pengamatan benar. Intinya, pengamatan benar dan kekuatan kebijaksanaan bergantung pada pikiran jernih kita. Dengan memiliki pengamatan benar dan kekuatan kebijaksanaan, maka terhadap masa lalu, kita dapat mengurai masalah atau rasa dendam agar tidak terulang. Kesalahan masa lalu ada karena kurangnya perenungan. Jadi, kita harus lebih memahaminya. Di sini dikatakan, “Tidak menyadari kesalahan.” Artinya, kita sering tidak menyadari kesalahan masa lalu. Jika memiliki pengamatan benar dan kekuatan kebijaksanaan, maka kita dapat menyadari kesalahan masa lalu. Mengapa kita begitu gelap batin? Karena kita memiliki pikiran yang tidak jernih, tidak memiliki kekuatan pengamatan yang benar, dan tidak menyadari kesalahan. Ini karena kita menjauhi teman-teman yang baik. Benar, pergaulan sangat penting. Teman yang baik akan dapat senantiasa mengingatkan kita, “Kamu keliru.” Teman seperti ini adalah teman yang baik. Kita harus berada dekat dengannya.

Saat kita hendak melakukan sesuatu, dapatkah dia memberi saran yang baik? Seorang teman yang baik akan sungguh-sungguh mendengarkan kita dan memberi saran serta dukungan jika yang kita lakukan baik. Dia bisa menyemangati kita. Saat kita ingin mengambil suatu tindakan Saat kita ingin mengambil suatu tindakan atau ingin menjalankan suatu usaha, dia akan mendengarkan kita dan memberi saran yang baik. “Lebih baik jangan, kondisi ekonomi saat ini tidak begitu baik.” “Kita lebih baik melakukan penghematan.” “Mungkin begitu lebih baik.” Ya, kita harus mendengar nasihatnya. Jangan karena tergiur reputasi dan keuntungan, kita lalu berambisi untuk melakukan ekspansi dan tidak menggubris peringatan. Ini kelak mungkin akan membawa beban bagi kita, baik beban dalam hubungan antarsesama maupun beban dalam hal materi. Semua itu bermula dari sedikit kesalahan. Kadang meski orang bersikap baik terhadap kita, kita malah salah paham. Di saat seperti itu, kita perlu saran dari mitra bajik. “Orang ini dahulu tidak seperti itu, hari ini mengapa dia bilang begitu kepada saya?” Mitra bajik kita ini juga dapat memberi saran.

Saran yang dia berikan seharusnya juga merupakan saran yang baik. Saat memberi saran, dia juga tidak akan merusak hubungan baik. “Dahulu dia begitu baik terhadapmu, janganlah kamu salah paham hanya karena satu ucapan, lalu memutuskan hubungan.” Kita hendaknya tahu bahwa suatu hubungan terjalin karena adanya utang budi. Utang budi belum lunas dibayar, tetapi kita sudah memutuskan hubungan. Ini tidaklah benar. Intinya, teman yang baik tidak boleh kita jauhi. Teman yang baik dapat memberi saran berharga. Jadi, kita tak boleh menjauhi teman yang baik. Jika menjauhinya, kita mungkin menyimpang. Jadi, kita harus senantiasa bersungguh hati dalam menjaga pikiran jernih dan kekuatan pengamatan. Kita harus senantiasa ingat untuk berintrospeksi. Kita juga tak boleh menjauhi teman yang baik. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment