Sanubari Teduh-341-Empat Jenis Pengamatan Bagian 7
Saudara se-Dharma sekalian,kekayaan belum tentu bertahan selamanyakarena adanya hukum ketidakkekalan.Berkah juga tidak selamanya adakarena ada saatnya berkah habis.Jadi, kita harus selalu berintrospeksi.Ada orang yang lupa diri saat memiliki kekayaan.Dia mengira segala yang dimilikinya akan bertahan selamanya.Sesungguhnya, kekayaan juga tidak kekal.Memiliki berkahbukan berarti harus memiliki segalanya.Jika segala sesuatu berjalan sesuai harapan,ini juga disebut berkah.Namun, apakah kondisi ini dapat bertahan selamanya?Orang zaman dahulu selalu mengharapkan berkah, kekayaan, dan usia panjang.Apakah ketiganya dapat bertahan selamanya?Berkah sebanyak apa pun juga bisa habis.Kita pernah membahas,bahkan seorang Raja Cakravartin yang menguasai dunia,mampu terbang bebas, dan memiliki 7 jenis harta berharga sekalipunberkahnya suatu saat juga bisa berakhir.Dia tetap bisa jatuh ke alam rendah.Intinya,baik kekayaan maupun berkahtidaklah abadi.Jadi, kita harus memandang serius hukum sebab akibat.Kita harus bahwa sebab pasti membawa buah,kondisi pasti membawa akibat.Artinya, benih apa yang kita tanam,itulah buah yang akan kita tuai.Jodoh seperti apa yang kita jalin,itulah akibat yang akan kita terima.
Jika Anda menanam benih kekayaan,maka tentu Anda akan mendapat buah kekayaan.Jika Anda menjalin jodoh yang tidak baik,maka tentu akan mendatangkan akibat buruk.Ini adalah hukum yang alami.Demikian pula di bumi ini,kita dapat melihatdi luar banyak benda berwarna kehijauan,namanya adalah pohon.Di dasarnya ada hamparan hijauyang disebut rumput.Rumput berasal dari benih rumput.Benih rumput juga ada berbagai jenis.Jadi, di bumi yang sama,rumput yang tumbuh juga berlainan jenis.Pohon memang disebut pohon,tetapi pohon juga memiliki beragam jenis.Di dalam lingkup Griya Jing Si saja,kita dapat melihat beberapa jenis pohondengan namanya masing-masing.Namun, semuanya tetap disebut pohon.Jenis-jenis rumput juga banyak,tetapi secara umum semua disebut rumput.Jadi, kekayaaan juga bermacam-macam.Berkah juga bermacam-macam.Kekayaan yang sejati dan abadi ditentukan oleh sesuatu yang kita miliki dalam hati,yaitu cinta kasih.Jika kita memiliki cinta kasih tanpa batasdan dapat bersumbangsih,itulah kekayaan yang abadiyang dapat membawa berkahdan banyak jalinan jodoh baik.Dengan begitu,setiap orang yang bertemu kita akan gembira.Saling memuji akan menjalin jodoh baik.Ini adalah berkah yang tanpa batas.Jadi, kita harus memandang serius hukum sebab akibat.Sebab pasti membawa buah, kondisi pasti mendatangkan akibat.Ada orang yang kaya, tetapi menderita.Mengapa menderita?Keluarganya tidak harmonis.
Hubungannya dengan suami, mertua,dan anak-anak kurang baik.Mungkin hubungan kurang baik dalam keluargamembuat batinnya tersiksa.Namun, dia kaya dalam hal materi.Jadi, kekayaan dan berkah adalah dua hal yang berbeda.Agar bisa memiliki keduanya,hati kita harus dipenuhi cinta kasih.Orang yang dapat terus bersumbangsih.adalah orang yang paling kaya.Orang yang dapat menjalin jodoh baik dengan setiap orangadalah orang yang paling memiliki berkah.Jadi, hukum sebab akibatberkaitan dengan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.Sebaliknya, jika kita hanya memohon berkahdan tidak berusaha melenyapkan noda batin, kita tak akan dapat bersumbangsih.Jika kita tak mampu memberi tanpa pamrih,maka sebanyak apa pun berkah kita,suatu saat pasti akan habis.Inilah ketidakkekalan.Seperti Raja Cakravartin yang menguasai duniadan dapat terbang bebas,saat berkahnya habis, dia dapat terlahir kembali di alam yang lebih rendah.Berikutnya dikatakan,”Meski terlahir di empat alam tanpa rupa dan dihormati di Tiga Alam,saat berkah habis dapat terlahir kembali sebagai ulat pada leher kerbau,terlebih lainnya.”Meski memiliki kekayaan duniawi,tetapi ketidakkekalan tetap tak terhindari.Meski memiliki usia yang panjang,tetapi kehidupan pasti akan berakhir.Usia pasti akan habis.Kini kita akan membahas empat alam tanpa rupa.
Empat alam tanpa rupa adalah sebuah pencapaian.Semua orang pasti menginginkan pencapaian dalam pelatihan diri.Untuk itu, kita harus “mengosongkan” hatisehingga dapat melampaui nafsu terhadap materidan tidak terpengaruh olehnya.Jika praktisi dapat melampaui nafsu terhadap materidan tidak terbelenggu olehnya,maka ini adalah buah pembebasan.Namun, sebelum itu, di dalam praktik Hinayana,ada dikenal empat samadhi tanpa rupa.Apa yang dimaksud empat samadhi tanpa rupa?Samadhi ruang tanpa batas,samadhi kesadaran tanpa batas,samadhi ketiadaan,samadhi bukan persepsi ataupun nonpersepsi.Ini adalah berbagai pencapaiandi mana batin telah memasuki kondisi samadhi.Terlebih lagi, empat samadhi tanpa rupa iniadalah keadaan samadhi yang paling tinggi.Mengenai samadhi ruang tanpa batas,batin dan persepsi para praktisi dapat terbebas.Terbebas dari apa?Terbebas dari berbagai rupa atau materi.Biasanya, makhluk awamsering dilanda kerisauan.Di dalam kerisauan ini,batin mereka terbelenggu.Terbelenggu apa?Terbelenggu olehenam indra, enam objek, dan enam kesadaran.Saat bersentuhan dengan kondisi luar, makhluk awam membangkitkan banyak keinginan sehingga terus mengejar untuk mendapatkan.Akibatnya, mereka menderita.Jadi, belenggu rupa atau materi inibagaikan penjarayang mengurung kita.
Praktisi spiritual berharap dapat terbebasdari belenggu materi.dari belenggu materi.Inilah samadhi ruang tanpa batas.Penjara iniberasal dari rupa dan objek di luar.Ini bagaikan kurungan bagi kita.Untuk terbebas darinya,kita harus mencapai samadhi ruang tanpa batas.Tentu, samadhi kesadaran tanpa bataslebih tinggi lagi.Yang sebelumnya berkaitan dengan persepsi,sedangkan yang berikutnya berkaitan dengan kesadaran.Bahkan kesadaran juga sudah “dikosongkan”.Tiada lagi sesuatu atau kondisi yang membelenggu.Tentu, samadhi ketiadaanlebih tinggi lagi.Berikutnya adalah samadhi bukan persepsi ataupun nonpersepsi.Pada tahap ini tiada lagi persepsi,juga tiada yang bukan persepsi,tiada persepsi ataupun nonpersepsi.Singkat kata,semuanya telah dikosongkan.Inilah pelatihan diri.Meski kita terus berkutatuntuk berlatih mengosongkan pikirandari pemikiran, persepsi, dan lainnyasehingga tidak terpengaruh kondisi luarsehingga tidak terpengaruh kondisi luardan dihormati di Tiga Alam,dan dihormati di Tiga Alam,tetapi apakah kondisi seperti itu abadi?Tidak juga,karena berkah seperti itu juga terbatas.Untuk menempa baja atau besi,dibutuhkan suhu yang cukup panas.
Demikian pula untuk benar-benar melampaui Tiga Alam.Kondisi tadi hanyalah menjadi yang tertinggi di Tiga Alam.Namun, yang kita inginkan adalah terbebas dari Tiga Alam.Untuk itu,kita harus terjun ke tengah masyarakat.Di tengah masyarakat, kita mendapat tempaan.Kesulitan atau kondisi apa pun di masyarakat,jika kita dapat melewatinya dengan batin tanpa tergoyahkan,itu barulah benar-benar melampaui Tiga Alam.Jika belum terbebas dari Tiga Alam,maka meski mencapai tingkatan tertinggi,berkah ini suatu saat tetap akan berakhirdan kita dapat terjatuh lagi ke alam rendah.Jadi, batin kita harus sangat teguh.Jika sedikit saja kegelapan batin bangkit,maka kita mungkin akan terjerumus.Terjerumus ke mana?Dikatakan, “Terlahir kembali sebagai ulat pada leher kerbau, terlebih lainnya.”Di dalam Syair Pertobatan,sudah diberikan contoh kisah demikian.Dalam kisah ini diceritakan,pada zaman Buddha,saat Beliau sedang berjalan,tibalah Beliau di sebuah padang yang luas.Di rerumputan ada sekelompok kerbau.Di antara kerbau itu, ada seekor kerbauyang lehernya terluka dan membusukyang lehernya terluka dan membusukakibat terlalu sering menarik bajak dan pedati.akibat terlalu sering menarik bajak dan pedati.Pada luka yang membusuk itu, tumbuhlah belatung atau ulat.
Banyak sekali.Selain ada luka yang membusuk,tumbuh pula belatung.Di antara belatung-belatung itu,Di antara belatung-belatung itu,ada seekor yang tumbuh dengan cepatada seekor yang tumbuh dengan cepatdan semakin besar.Saat itu,Buddha berada di sana bersama Ananda.Buddha tidak sampai hatimelihat kerbau ituterluka hingga lehernya membusuk seperti itu.Beliau tidak sampai hati.Lalu, Beliau juga melihat di antara belatung ituada seekor yang tumbuh dengan cepatdan terus membesar.Buddha lalu bertanya kepada Ananda,”Ananda,tahukah kamu bagaimana asal dari ulat ini?”Ananda menjawab, “Tidak tahu.””Aku tidak tahu bagaimanaasal usul dari ulat ini.”Buddha melanjutkan,”Pada kehidupan lampau,ulat ini menciptakan banyak berkahdengan melakukan sepuluh kebajikansehinga terlahir di alam surga.””Ia lahir dengan tubuh seorang dewadan menikmati kenikmatan surgawi, sepertiusia panjang, kekayaan, dan berkah yang besar.””Namun, setelah berkahnya itu habis dinikmati,”Namun, setelah berkahnya itu habis dinikmati,giliran karma buruknya yang berbuah dan membuatnya terlahir di alam rendah.””Akhirnya, ia terlahir sebagai ulat ini.”Mendengar kisah ini,kita merasa bahwa meski seseorang telah melakukan sepuluh kebajikandan dapat menikmati berkah surgawi,tetapi mengapa berkah itu cepat berakhirdan berujung pada kelahiran sebagai ulat?Inilah yang sering kita bahas,yaitu hukum sebab akibat.
Di alam manusia, barulah kita berkesempatan untuk menciptakan berkah.Namun, di alam manusia pun banyak jebakandan banyak kesempatan untuk berbuat jahat.Jadi, di alam manusia kebajikan dan kejahatan bercampur.Dunia tempat kita hidup inidisebut alam manusiaatau Dunia Saha.Untuk mencapai kebuddhaan,kita pun harus berlatih di alam manusia.Tadi kita membahas empat samadhi tanpa rupa.Praktisi samadhi ini juga bertujuan mencapai kebuddhaan.Namun, mereka berlatih dengan menutup diri.Mereka sudah berlatih hingga melampauinafsu terhadap materi di alam nafsudan telah menembus alam rupa serta alam tanpa rupa.Di Tiga Alam ini,meski mereka telah memiliki pencapaian yang tinggi,tadi saya juga mengatakan bahwajika berkah habis, mereka juga masih bisa jatuh ke alam rendah.Pencapaian mereka belum sempurna.Untuk dapat mencapai kebuddhaan,kita harus melampaui Tiga Alam.Praktik sepuluh kebajikan sajaakan membawa kelahiran di alam surga.Namun, di alam manusia ini,entah kita harus mengakumulasi 10 kebajikan selama berapa kehidupanbaru memiliki berkah untuk terlahir di alam surga.Namun, dalam banyak kehidupan ini,kita juga entah telah melakukan berapa banyak kejahatan.Banyak kejahatan terus terakumulasi.
Saat dibandingkan,jika berkah lebih kuat daripada karma buruk,seseorang bisa terlahir di alam surga.Namun,bukan berarti buah karma buruk bisa dihapus oleh karma baik.Bukan.Karena karma baik lebih banyak daripada karma buruk,maka dia terlebih dahulu terlahir di alam surga.Namun, di sana tiada kesempatan untuk menciptakan berkah.Dia hanya menikmati hasil karma baiknyaDia hanya menikmati hasil karma baiknyahingga waktunya habis.Dia lalu bisa terjatuh.Terjatuh ke mana?Berhubung juga telah mengakumulasi karma buruk,dia juga harus menerima akibatnya.Jadi, saat berkahnya sebagai dewa habis,Jadi, saat berkahnya sebagai dewa habis,dia harus menerima buah karma buruknya.Dalam kisah tadi, karena berkah dewa tadi habis,dia harus menerima buah karma buruk dan terlahir sebagai ulat.Mendengar Buddha menceritakan kisahdewa yang terlahir sebagai ulat,kita juga merasa takut.Kini, meski kita dapat terlahir sebagai manusiadan bertemu ajaran Buddha,tetapi sesungguhnya berapa lama waktu yang adauntuk kita dapat melatih diri?Berapa panjang sesungguhnya waktu yang kita milikiuntuk dapat menenangkan hatiuntuk dapat menenangkan hatiserta merasakan berbagai tempaan di dunia?
Dalam menghadapi berbagai tempaan ini,dapatkah pikiran kita tidak bergejolak?Berapa banyak waktu yang kita miliki untuk berlatih?Untuk mengubah besi menjadi bajadan mengubah baja menjadi suatu alat yang bagus,dibutuhkan berkali-kali penempaan.Jika kita menjauh dari “api”dan tidak menerima tempaan,bisakah kita menjadi produk yang berkualitas baik?Intinya,dalam berlatih kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan.Di tengah masyarakat,kita harus memanfaatkan kondisi sekitaruntuk menempa diri sendiri.Bukan berarti dengan menjauh dari orang dan masalahagar batin tidak tergoda oleh nafsu keinginan,kita disebut sudah mencapai buah pencapaian.Tidak tamak dan mampu mengenal rasa puasbelumlah cukup.Kita harus juga bersumbangsih.Bersumbangsih juga belum cukup.Kita harus memberi tanpa pamrih.Tanpa pamrih saja juga belum cukup.Kita harus rela bersumbangsih bagi semua makhluk yang menderita.Kerelaan ini amat penting.Dengan demikian,selangkah demi selangkah kita dapatmenggenggam kesempatan dan kondisi sekitaruntuk menempa batin kita.Meski menghadapi suatu masalah,batin kita tetap tidak bergejolak.Meski ada nafsu keinginan yang menggoda,kesadaran kita tetap murni.Kita tidak mengasingkan diri.kita harus terjun ke tengah masyarakat, tetapi tetap tidak tercemar.Inilah keterampilan yang sesungguhnya.Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran dengan baik.Lihatlah, kisah tadi menceritakan bahwa dewa juga masih bisa jatuh ke alam rendah.Berkah dari empat samadhi tanpa rupa juga memiliki akhir.
Raja Cakravartin yang menguasai seluruh dunia punberkahnya suatu saat bisa habis.Singkat kata,dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus selalu bersungguh hatikarenaorang yang tak memiliki berkah,terlebih malas, dan tidak giat bertobat,bagaikan tenggelam sambil memeluk batu,sulit untuk tertolong keluar.Lihatlah penggalan ini.Lihatlah penggalan ini.Di awal kita membahas ketidakkekalandan ketidakabadian.Terlebih lagi, kita sebagai makhluk awam,jika saat tidak memiliki berkahdiri kita ditambah lagi tidak giat,membangkitkan kemalasan,atau tidak mau bertobat meski telah bersalah,maka ini bagai memeluk batu di tengah lautan.Kita akan terus tenggelam.Jadi, kita harus selalu mengingatkan diri sendiriJadi, kita harus selalu mengingatkan diri sendiridan meningkatkan kewaspadaanterhadap hukum sebab akibat.Kita harus selalu mengingatkan diri sendiriuntuk lebih bersungguh hati.