[ST-011] Kesombongan Membawa Kegagalan
Pikiran adalah pelopor segalanya. Jika pikiran kita tak dijaga dengan baik sehingga menjadi tak terkendali, maka akan sulit untuk meluruskannya kembali. Sebagai manusia, sungguh tidaklah mudah untuk dapat bertemu ajaran Buddha. Setelah bertemu ajaran Buddha, apakah kita dapat menjalankan disiplin moral, menjalankan ajaran Buddha, dan berjalan langkah demi langkah dalam hidup sesuai dengan cara yang diajarkan Buddha. Lengah di masa muda dan bersikap sombong. Tamak akan kekayaan, kesenangan, dan kecantikan. Dengan adanya ketamakan dan kemelekatan, timbullah noda batin. Beberapa hari ini, saya terus berkata bahwa Dharma bagaikan air. Sudahkah kita kerap menggunakan air ini untuk membersihkan kegelapan dan noda batin kita?
Dalam keseharian, kita tak dapat lepas dari air untuk terus bertahan hidup. Tetapi, kita tidak menyadari bahwa jiwa kebijaksanaan kita pun tak dapat lepas dari “air”. Jiwa kebijaksanaan harus dijaga agar tetap bersih. Untuk itu, kita harus menggunakan Dharma. Ajaran Buddha sesungguhnya dapat menjaga kemurnian hakikat diri kita. Sewaktu timbul noda, maka pada saat itu juga kita harus segera membersihkannya. Keseharian manusia tak dapat lepas dari air. Demikian pula halnya jiwa kebijaksanaan.
Air Dharma senantiasa dibutuhkan untuk membersihkan hati manusia awam dari segala kegelapan dan noda batin dan menjaga kemurnian hakikat dirinya. Sebelumnya kita pernah membahas, dalam menjaga kemurnian hakikat diri manusia, dasarnya adalah sikap bakti pada orang tua. Maka, berbakti adalah dasar dari segala kebajikan. Kita pernah membahas ini sebelumnya. Orang tua tak mengharap pamrih apapun dari anak. Semuanya mereka lakukan demi anak dan demi cucu.
Mereka bekerja keras dengan sukarela. Sewaktu mereka sudah tua, anak-anaknya hanya mengejar karier sendiri dan meninggalkan orang tuanya sendirian. Ketika orang tua sakit dan orang lain bertanya, apakah sudah memberi tahu anaknya, atau apakah anaknya tahu bahwa mereka sakit, mereka berkata, “Jangan beri tahu anak-anak.” ”Jangan sampai mereka tahu agar mereka tak khawatir.” “Anak-anak memiliki urusannya sendiri.” “Mereka sangat sibuk.”
Saudara sekalian, ucapan ini menunjukkan pengertian orang tua kepada anak-anaknya. Bukankah kita sering mendengar yang demikian? Terutama ketika menjadi relawan, di rumah sakit sering terdengar ucapan seperti itu. Para orang tua tak ingin anaknya cemas. Mereka memikirkan anak dan menantunya yang memiliki urusan rumah tangga sendiri. Lihatlah, orang tua begitu perhatian dan mulia. Orang tua bagaikan Buddha yang ada di rumah. Sebagai umat Buddha, kita harus menghormati Buddha, dan di rumah, kita harus menghormati orang tua.
Jangan menganggap bahwa asalkan diberi makan, mereka akan merasa gembira. Yang diharapkan orang tua adalah sikap patuh. Jika kita ingin berbakti kepada orang tua, kita harus patuh serta dapat merawat dan mendampingi mereka. Di Rumah Sakit Tzu Chi, kita membuka sebuah tempat penitipan. Banyak orang yang bertanya, “Master, mengapa Tzu Chi tidak membangun panti jompo?” Setiap kali mengunjungi panti jompo, perasaan saya bercampur aduk. Ketika melihat dan bertemu para lansia, meski mereka tinggal di tempat yang layak, ada orang yang merawatnya, dan sang anak membayar mahal agar orang tuanya dapat tinggal di sana, saya tetap tak sampai hati melihatnya. Setiap hari ketika bangun, yang dijumpainya adalah sesama lansia. Sangat menjemukan. Melihat mereka hanya bermain catur, melihat mereka tak mengerjakan apa-apa, saya sungguh tak sampai hati.
Jadi, di Rumah Sakit Tzu Chi kita hanya membuka tempat penitipan. Pagi hari sebelum sang anak bekerja, kita akan menjemput orang tuanya. Kalau tidak, anak atau menantu yang akan mengantar mereka ke Rumah Sakit Tzu Chi. Tempat penitipan di Rumah Sakit Tzu Chi merupakan tempat yang sesuai.
Ada perawat dan juga relawan yang mendampingi mereka. Bagi yang mengalami keterbatasan gerak, kita berikan fisioterapi. Para lansia yang tak dapat mengurus dirinya akan dibantu untuk membersihkan diri.
Pada sore hari, setelah anak dan menantunya pulang dari bekerja, para lansia ada yang kita antar pulang, ada pula yang dijemput anak maupun menantunya. Pada siang hari ada orang yang menjaganya, membantunya menjalani fisioterapi, dan menemaninya.
Kita membantu orang tua yang sudah pikun, yang telah lemah ingatannya untuk membangkitkan kembali ingatannya. Dengan begini, ketika pulang ke rumah, mereka dapat menikmati kehidupan yang bahagia. Dengan demikian, kita akan merasa lebih tenang. Para orang tua telah melewati hidup dan berbagai rintangan selama puluhan tahun. Dalam beberapa puluh tahun hidupnya, mereka bersumbangsih bagi keluarga dan masyarakat. Setelah tua, seharusnya mereka memiliki kehidupan yang berkualitas, yakni ada yang merawat dan memerhatikannya.
Jika diamati, hidup sebagai lansia sungguh sulit. Namun, hal ini adalah bagian dari hukum alam. Saat ini, meski di antara kita ada yang masih muda, ada pula yang telah berusia paruh baya, namun semuanya bergerak ke arah usia tua. Jika masih ada kesempatan, terhadap orang tua yang bagaikan Buddha hidup, kita harus sungguh-sungguh hormat dan berbakti. Jika tiada lagi kesempatan, kita dapat menganggap para lansia sebagai orang tua sendiri. Orang-orang yang sebaya dengan kita hendaknya kita anggap sebagai saudara sendiri. Hati yang melihat semua orang sebagai keluarga merupakan hati Bodhisattva. Kita harus segera bersumbangsih.
Jadi, berbakti pada orang tua merupakan kewajiban utama kita sebagai manusia, dan juga bagi praktisi Buddhis, ini adalah jalan mencari kembali hakikat sejati. Sekarang ini banyak orang yang tidak berbakti kepada orang tua dan keluarga. Sikap tak berbakti pada orang tua, kita ketahui yaitu membuat orang tua risau. Tindakan ini sungguh tidak berbakti. Jika kita tidak menjaga diri dengan baik, ini juga termasuk tindakan tidak berbakti karena membuat orang tua cemas.
Kita juga sering melihat banyak orang tua yang telah berambut putih dengan cemas menjaga anaknya di rumah sakit. Ada banyak kejadian seperti ini. Jadi, untuk berbakti kepada orang tua, kita sungguh harus menjaga diri dengan baik. Inilah cara berterima kasih kepada orang tua.
Jadi, janganlah lengah di masa muda dan bersikap sombong. Janganlah berpikir karena masih muda atau berusia paruh baya, lalu kita bersantai-santai dan menganggap masih ada waktu untuk berbakti, dan masih ada waktu untuk untuk melatih diri. “Saat ini saya masih berkesempatan untuk bersenang-senang, bermain-main, mencari hiburan, dan mengejar kenikmatan.” “Mengapa masa muda tak dimanfaatkan?” Karena adanya sikap dan pemikiran ini, manusia dapat bertindak sesuka hati, semaunya, dan bersikap sombong. Mengenai kesombongan, orang-orang berkata, “Kesombongan membawa kegagalan.” Akibat kesombongan, orang bagai terjerumus ke dalam lubang penuh api. Kita tahu kesombongan membawa kegagalan. Ini bagaikan terjerumus ke lubang yang dalam.
Dengan adanya kesombongan, seseorang akan bersikap congkak. Jika kita adalah orang yang congkak, di kemudian hari kita akan mengalami kegagalan. Ini bagaikan neraka di alam manusia. Kita tak akan bahagia, sangat menderita. Sebagai manusia, kita tak boleh sombong. Kesombongan membuat orang lengah. Keangkuhan berarti kecongkakan.
Dalam kehidupan, kesombongan dan keangkuhan sungguh membawa kerugian yang amat besar. Saya sering berkata kepada semua orang bahwa semakin sukses seseorang, ia harus semakin mawas diri dan harus mengecilkan egonya. Bagaimana caranya agar kita selamanya mendapat tempat di hati orang lain? Kita harus “mengecilkan” diri agar bisa masuk ke dalam lubuk hati semua orang.
Jika kita ingin mendapat tempat di dalam hati orang lain, kita harus bersikap membumi. Tiada yang perlu dibanggakan atau disombongkan. Kesombongan membawa kegagalan. Karenanya, kita harus senantiasa mawas diri dan mengecilkan ego agar mendapat tempat di hati orang lain. Karena kekayaan, kesenangan, dan kecantikan, muncul ketamakan dan kemelekatan di dalam batin. Ada orang merasa bahwa selagi muda dan masih memiliki tenaga adalah waktunya bermain-main.
Mereka sungguh bertindak sesuka hati. Orang seperti ini patut dikasihani karena ia tidak memahami kebenaran, karena ia tidak mengerti bahwa hidup manusia sangatlah rentan dan tidak kekal. Ia tidak memahaminya. Ini disebut ketidaktahuan. Orang yang diliputi ketidaktahuan memiliki ketamakan terhadap kekayaan, kesenangan, dan kecantikan, menghalalkan segalanya demi kenikmatan duniawi. Orang seperti ini patut dikasihani. Sikap mengejar kenikmatan dan mabuk-mabukan membawa ketidaktenteraman bagi masyarakat, membawa ketidakharmonisan dalam keluarga, bahkan membawa kerugian bagi diri sendiri.
Ini adalah yang manusia yang paling bodoh. Terlebih lagi, kesenangan sesaat seperti itu pada akhirnya hanya akan membawa penderitaan. Coba lihat orang-orang yang menari atau berdansa. Benarkah mereka merasa bahagia? Tidak.
Di tempat itu, banyak terjadi masalah dan juga hal-hal yang berbahaya. Bukankah kita sering mendengar bahwa di tempat hiburan seperti ini sering terjadi perkelahian dan bahkan pembunuhan? Semuanya terjadi di tempat seperti ini. Sungguh tempat yang sangat berbahaya. Tetapi, karena ketidaktahuan, maka manusia mencari kesenangan di tempat itu. Sama seperti anak kecil yang bermain api, akan mendatangkan bahaya bagi dirinya sendiri. Manusia yang diliputi ketidaktahuan tamak akan kesenangan, harta, dan kecantikan, bertindak mengikuti nafsu dan mengejar kenikmatan, mendatangkan lebih banyak penderitaan.
Terutama bila terbuai kecantikan. Banyak orang berkata, “Segala kejahatan diawali dari nafsu.” Banyak malapetaka yang bermula dari nafsu akan kecantikan wanita. Ada sebuah ungkapan yang berbunyi, “Tamak akan kecantikan wanita berarti terjerumus ke dalam jeratan iblis.” Pria yang tamak akan kecantikan wanita, sesungguhnya tidak menyadari bahwa wanita dalam pelukannya adalah iblis yang akan menyesatkan manusia.
Sejak zaman dahulu, lihatlah berapa banyak raja yang lebih mementingkan wanita daripada negara. Demi seorang wanita, ia bersedia melanggar norma. Demi seorang wanita, ia rela mengorbankan negara. Lihatlah, di Tiongkok ada seorang raja yang pemberani, yang kehilangan akal karena seorang wanita.
Karenanya, ada sebuah opera yang berjudul “Perpisahan dengan Selir”. Selain itu, ada juga Kaisar Zhou. Siapa yang menyebabkan kejatuhannya? Juga wanita. Daji adalah penyebab kejatuhan Kaisar Zhou. Ada pula Diao Chan yang mengakali Dong Zhuo. Inilah kisah-kisah pada sejarah masa lalu. Begitu pula dengan masa kini. Zaman sekarang, ada banyak pengusaha yang berkedudukan tinggi dan berlimpah harta, namun juga diliputi banyak skandal. Singkat kata, kita harus tahu bahwa kecantikan wanita dapat menjadi iblis yang menjerumuskan, benar-benar menghancurkan reputasi kita, dan mencelakakan kehidupan kita.
Sebagai manusia, seharusnya hanya memiliki seorang istri atau seorang suami. Istri seharusnya menjadi yang tercantik di mata suami. Namun, banyak orang tidak menyukai bunga di rumah, malah menginginkan rumput liar di luar. Ini juga merupakan cara hidup sesat yang membawa penderitaan dan karma buruk. Jadi, sikap tamak dan melekat pada kecantikan serta tak mau berubah, akan merusak moralitas seseorang, bahkan merusak usaha dan rumah tangganya. Kegagalan dan rusaknya reputasi seseorang sering diakibatkan oleh buaian kecantikan wanita.
Saudara sekalian, sebagai praktisi Buddhis kita harus mengendalikan pikiran dengan baik. Aturan dalam kehidupan manusia haruslah kita pegang teguh, termasuk dalam kehidupan berkeluarga. Dalam kehidupan berkeluarga, berbakti kepada orang tua adalah kewajiban kita. Menyokong dan merawat keluarga adalah tanggung jawab kita. Intinya, jika manusia dapat merawat keluarga dan menjalankan kewajibannya dengan baik terhadap orang tua, keluarga, masyarakat, serta kerabat lainnya, jika kita dapat memegang etika antarmanusia, maka kita tak akan jauh dari Dharma.
Maka, para umat perumah tangga harus memegang teguh tata susila dalam keluarga. Jika dapat memegang teguh hal ini dan dapat berbakti, yang merupakan awal dari segala kebajikan, kita tak akan terjerumus ke dalam nafsu dan tak akan menciptakan karma buruk. Segala kebajikan diawali dari berbakti. Ini adalah prinsip utama kehidupan manusia. Bagi para biarawan-biarawati, haruslah senantiasa menjaga hati dengan baik. Semua makhluk merupakan keluarga besar kita. Kita telah masuk ke dalam keluarga Buddha.
Keluarga Buddha sangatlah suci. Dalam hati kita janganlah ada noda. karena setiap hari kita berada di tengah ajaran Buddha, kita semua tengah menyelami Dharma. Ajaran Buddha atau air Dharma senantiasa membersihkan batin kita. Karenanya, dalam hati kita tak boleh ada setitik pun noda.
Sebagai praktisi Buddhis, harap semuanya bersungguh-sungguh.