Sanubari Teduh

[ST-012] Kelengahan Mempertebal Kegelapan Bathin

Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari berada di lingkungan yang hening ini, tempat yang begitu baik dan indah, seharusnya kita merasa puas karena ini tempat terbaik untuk melatih diri. Namun, banyak orang tak mengenal rasa puas dan tak memahami makna rasa syukur. Jika manusia tidak mengenal rasa puas dan tak mengerti makna rasa syukur, sebaik apa pun lingkungan yang dimilikinya, tetap tak akan bermanfaat. Ini dikarenakan pikiran kita dipenuhi ketamakan akan kesenangan duniawi maupun nafsu keinginan lainnya.

Dalam kehidupan, hal-hal yang paling merugikan batin dan reputasi seseorang adalah ketamakan. Karena ketamakan inilah, arah kehidupan manusia menyimpang. Bila ingin mengembalikannya ke arah yang benar, akan menjadi lebih sulit. Namun, di sisi lain, jika ia masih memiliki jodoh yang baik dan bertemu dengan orang yang membimbingnya, sedikit banyak ini akan membantunya. Namun, yang terpenting adalah pencegahan, yaitu mencegah kesalahan yang belum dilakukan. Menunggu bertemu orang setelah berbuat salah, lalu membuatnya tersadar dan menerima nasihat, sesungguhnya tidaklah mudah.

Lengah di masa muda dan bersikap sombong. Tamak akan kekayaan, kesenangan, dan kecantikan Tamak akan apa? Tamak untuk bermain-main, tamak akan kesenangan duniawi, tamak akan kecantikan wanita. Kecantikan wanita bagai iblis yang menjerat. Sungguh mengerikan. Berapa banyak rumah tangga menjadi rusak akibat sang suami ataupun istri yang telah menikah tidak mampu menjaga komitmen? Ada yang karena pihak wanita berselingkuh, ada pula karena pihak pria memiliki simpanan. Rumah tangga seperti ini pasti mengalami kegagalan. Jika seseorang tamak akan kecantikan wanita, tidak puas dengan hanya satu pasangan, tidak menghormati, bahkan mempermainkan perasaan orang lain, maka manusia seperti ini akan membawa kepedihan bagi dirinya sendiri.

Dengan adanya ketamakan dan kemelekatan, timbul noda batin, berdekatan dengan orang yang tidak baik dan bergaul dengan teman yang merugikan, serta tidak tahu bertobat.

Jadi, dalam Syair Pertobatan Air Samadhi tertulis, “Dengan adanya ketamakan dan kemelekatan, timbul noda batin.” Saat ketamakan dan kemelekatan muncul– Ketamakan berarti meski sudah memiliki, namun masih menginginkan lebih banyak lagi. Inilah ketamakan. Kemelekatan artinya meski tahu hal itu salah, ia tetap tak dapat melepaskannya. Inilah kemelekatan. Ketamakan mudah dihilangkan jika cepat disadari, namun kemelekatan yang sudah timbul sulit hilang.

Jadi, ketamakan dan kemelekatan akan kecantikan pasti menyebabkan timbulnya noda batin. Noda batin berawal dari kegelapan batin. Ketika batin diliputi kegelapan, tata susila dalam keluarga akan mudah dilupakan. Maka, kita harus menjaga hati baik-baik. Sedikit saja timbul ketamakan yang membawa pada kemelekatan, maka akan menimbulkan banyak noda batin. Inilah perangkap yang bila terjebak di dalamnya, sulit terbebaskan. Ketika timbul ketamakan dalam hati, manusia mudah terjerumus ke dalam kegelapan batin dan kemelekatan.

Bila terus seperti ini, mereka akan dengan teman-teman yang merugikan. Artinya, ia tak mendengarkan nasihat orang yang baik, sebaliknya mengidolakan orang yang tidak baik. Kita sering melihat banyak orang yang mengidolakan figur yang dapat membuat hati resah dan menyesatkan orang lain. Di benak banyak orang, figur semacam ini dilihat bak seorang pahlawan. Belum lama ini,  ada seorang anak yang melompat dari gedung. Mengapa ia melompat dari gedung? Prestasi belajar anak ini cukup baik dan biasanya ia sangat penurut. Namun, ia sangat mengidolakan seorang penyanyi. Di Hongkong ada seorang penyanyi yang entah mengapa,mungkin karena masalah asmara, dan saat itu timbul masalah, ia merasa tertekan dan melompat dari gedung.

 

Setelah penyanyi itu melompat dari gedung, anak yang baru berusia 14 tahun ini berkata pada ibunya, “Penyanyi itu sungguh berani, aku mengaguminya.” Karena ia adalah penggemar penyanyi itu dan sang penyanyi merupakan idolanya, maka apa pun yang dilakukan sang penyanyi, ia akan menganggapnya sebagai pahlawan. Penyanyi itu merupakan idola banyak orang. Jadi, ia meniru segalanya dari penyanyi itu. Dua hari kemudian, anak itu pun turut melompat dari lantai 8 sebuah gedung.

Hal ini membuat ibunya sangat sedih. Keluarganya sungguh menderita karena anak ini. Terlebih lagi ia adalah anak tunggal. Lihatlah, ketamakan dan kemelekatan menimbulkan noda batin. Semasa hidupnya, anak ini tak pernah melakukan kesalahan berat ataupun memiliki catatan yang buruk. Hanya saja pikirannya menyimpang dan meniru tindakan orang lain yang menjadi idola dalam hatinya, yang dianggapnya sebagai pahlawan. Ini disebut “berdekatan dengan orang yang tidak baik”.

Meski seseorang itu tidak baik, namun karena menyukainya, ia tak dapat membedakan baik maupun buruk. Inilah “berdekatan dengan orang yang tidak baik”. Anak-anak muda dibutakan oleh idola. Pikirannya menyimpang, berdekatan dengan orang yang tidak baik, tak dapat membedakan baik dan buruk, sehingga mencelakakan diri sendiri. Saat harus memilih keyakinan, kadang kita tidak melakukannya dengan cermat dan mudah terjerumus dalam ajaran sesat. Hal ini sangatlah berbahaya. Saya sering mengatakan bahwa seorang manusia, dalam memilih keyakinannya haruslah memilih keyakinan yang benar. Dan dalam memilih teman, kita pun harus memilih yang berkepribadian baik.

Keduanya memiliki makna yang serupa. Jika bergaul dengan mereka yang menyimpang, maka seumur hidup kita akan tersesat. Jadi, dalam memilih teman maupun memilih agama, kita harus berhati-hati. Karenanya, Syair Pertobatan Air Samadhi berbunyi, “Dengan adanya ketamakan, timbul noda batin, berdekatan dengan orang yang tidak baik dan bergaul dengan teman yang merugikan, serta tidak tahu bertobat.” “Dengan adanya ketamakan dan kemelekatan, timbul noda batin.” Jadi, mereka tak dapat membedakan baik dan buruk. Mereka memilih “berdekatan dengan orang yang tidak baik”. Artinya, berdekatan dengan orang yang tak terpuji. “Bergaul dengan teman yang merugikan” juga memiliki arti serupa.

Ketika teman yang buruk mengajak kita, kita mengikuti mereka dengan antusias. Ketika ada orang baik menasihati, kita tidak menghiraukannya. Sikap seperti ini, pada zaman sekarang banyak dianut oleh anak-anak muda, dan mereka tak dapat menghentikannya. Arah pemikiran mereka telah menyimpang. Mereka bergaul dengan teman yang merugikan dan tidak tahu bertobat. Mereka bergaul dengan teman yang merugikan. Apa pun yang dikatakan teman-temannya ini, semuanya dianggap benar. Lalu ditirulah perilaku mereka. dan meniru perilaku teman-teman ini.

Orang-orang baik yang peduli padanya tak sanggup menyadarkan dan menghalanginya. Jadi, anak-anak ini tak mengerti bertobat. Mereka sungguh tak mengerti. Jika ada orang yang menasihatinya, “Janganlah bergaul dengan teman-teman seperti itu.” “Mengapa kamu bergaul dengan teman seperti itu?” Terkadang, bukan hanya tak bisa disadarkan, ia bahkan akan menjawab, “Kamu tidak perlu ikut campur.””Apa yang salah dengan teman-teman saya?” “Jika mau, marahi saja saya, tak perlu ikut menjelek-jelekkan teman saya.” Ketika orang lain menasihatinya dan memberitahukan sisi buruk temannya, ia malah membela temannya itu. Mereka bergaul dengan teman-teman yang buruk, tak dapat berpaling pada yang baik dan tak mengerti untuk segera bertobat. Jika terseret teman-teman yang tidak baik dan melakukan banyak hal yang tidak benar, kita hendaknya segera berpaling.

Namun, hal ini sangatlah sulit, sulit karena ia tak memahami kesalahannya sehingga tak tahu bertobat. Jika kita memiliki kesalahan dan segera bertobat, maka belumlah terlambat. Namun, jika tetap melekat pada pandangan salah, seseorang tak akan dapat bertobat. Sering dikatakan, “Pertobatan adalah pemurnian.” Jika seseorang dapat mengintrospeksi diri, meninggalkan perbuatan buruknya di masa lalu, dan memulai menjadi manusia yang baru, sesungguhnya ia masih memiliki kesempatan.

Yang paling menakutkan adalah bergaul dengan teman yang buruk, melakukan banyak hal yang buruk, tak mematuhi tata susila, dan terus terjerumus di dalamnya. Orang seperti ini sungguh patut dikasihani. Maka, orang yang tak tahu bertobat “mencelakai semua makhluk, mabuk dalam minuman keras”. Orang yang tidak tahu bertobat seperti ini melakukan banyak kejahatan, dan tidak menghargai kehidupan. Karenanya, ia dapat membunuh makhluk hidup. Lihatlah, teman minum arak dan makan daging ini hanya mencari kesenangan makan dan minum. Kehidupan yang diliputi pandangan keliru ini bukan hanya membuatnya terus membunuh hewan dan mengonsumsi dagingnya, bahkan juga dapat mencelakai orang. Lihatlah masyarakat zaman sekarang. Bukan hanya masyarakat di Taiwan, melainkan juga di seluruh dunia, baik di negara maju maupun negara tertinggal, terdapat banyak orang yang berkelakuan buruk.

Ada sebuah berita. Di Venezuela, Amerika Selatan, warganya hidup dalam kekurangan, namun masih juga ada orang jahat yang suka merampok para warga. Ada sebuah toko yang tiba-tiba dirampok. Perampok masuk dengan membawa senjata tajam. Kebetulan ada polisi yang melewati daerah itu dan ingin segera menangkap mereka. Namun, para perampok ini telah masuk ke dalam. Di dalam toko, ada sepasang suami istri beserta dua orang anaknya. Mereka semua tengah berada di dalam toko. Ketika polisi mendekat, para perampok menyandera empat orang ini dengan segera. Mereka diikat bersama-sama. Ketika polisi melihat para perampok menodongkan pisau ke arah empat orang tersebut, ia pikir akan berbahaya jika menangkap paksa. Ketegangan ini berlangsung beberapa jam.

Meski banyak orang coba membujuk mereka dengan berbagai cara, keadaan ini berlangsung hingga beberapa jam. Akhirnya, para polisi dan orang-orang sekitar bekerja sama untuk mengelabui para perampok dan bergerak cepat. Beberapa orang mengajak para perampok bicara untuk mengalihkan perhatian mereka. Ketegangan yang berlangsung beberapa jam ini akhirnya selesai setelah para perampok ditangkap. Ketika ditanya mengapa mereka melakukan hal ini, mereka menjawab, untuk mabuk dan main perempuan. Hal ini menjadi kesenangan mereka. Ketika ditanya, “Apakah kalian punya keluarga?” Mereka menjawab, “Ya, masih ada orang tua, istri, dan anak.” “Apakah orang tua istri, dan anak kalian tidak mengetahui perbuatan kalian?” “Tahu, tapi saya menyukainya.” “Saya memiliki banyak saudara dan merasa senang.”

Lihat, inilah kehidupan manusia. Insan Tzu Chi pernah mengunjungi negara itu. Kita tahu rata-rata warga di sana hidup kekurangan, namun ternyata masih ada juga yang selalu ingin bersenang-senang. Dan setelah uangnya habis dihamburkan, mereka akan melakukan kejahatan. Karena memiliki sekelompok teman, ia merasa senang dan bahagia. Inilah “bergaul dengan teman yang merugikan dan tidak tahu bertobat”, bahkan ia dapat menghilangkan nyawa orang lain. Sesungguhnya, hal ini paling menakutkan. Belakangan ini kita sering membahas tentang peperangan dan wabah penyakit. Kita sangat ketakutan. Namun, sesungguhnya yang paling menakutkan adalah pikiran manusia. Jika pikiran manusia menyimpang sedikit saja, tidak mematuhi aturan dan tata susila, kehidupannya akan penuh dengan keburukan, lebih menakutkan daripada virus penyakit. Jadi, orang yang tak tahu bertobat dapat mencelakai atau membunuh makhluk hidup. Demi kesenangan sesaat, demi kenikmatan sesaat, tiada kejahatan yang tak bisa ia lakukan.

 

Peperangan dan penyakit sungguh menakutkan. Namun, virus dalam hati manusia lebih menakutkan. Jika pikiran menyimpang, perbuatan pun tak akan selaras dengan kebenaran. Orang seperti ini kebanyakan gemar mabuk-mabukan. Ada sebagian orang yang dalam kesehariannya selalu bergaul dengan teman yang tidak baik. Ada pula yang kecanduan alkohol. Minum alkohol membuat orang hilang kesadaran. Orang berkata, mabuk mengundang masalah besar. Jika kita mengonsumsi alkohol, kita sungguh mengundang masalah bagi diri sendiri.

Ketika tidak sedang minum dan mabuk, seseorang terlihat baik dan bajik. Namun, begitu meminum alkohol dan menjadi mabuk, ia tak peduli sedang berhadapan dengan siapa, siapa pun yang bicara, tak dihiraukannya. Kita sering melihat bahwa orang yang mabuk terkadang dapat melepas pakaian yang dipakainya dan berbaring terlentang di jalanan. Mereka sungguh menunjukkan sikap yang buruk. Ketika sadar, mereka merasa sangat malu dan bertekad ingin berubah. Namun, karena kecanduan alkohol, mereka tak dapat mengendalikan diri. Ketika tidak mabuk, mereka adalah orang yang baik dan juga jujur.

Tetapi, begitu mabuk, mereka akan kehilangan sikap manusiawinya dan bersikap layaknya hewan. Orang seperti ini tak menghormati diri sendiri dan tak menghargai martabat sebagai manusia. Hanya karena ketamakan akan minuman ini, ketika melihat segelas alkohol, ia berkata hanya minum segelas saja dan tidak akan mabuk. Namun, setelah meminum satu gelas itu, ia akan terus minum sampai berbotol-botol karena tak ada kemauan untuk menahan diri.

Inilah makhluk awam, makhluk awam yang paling lemah, yang paling tidak berguna. Sesungguhnya, alkohol hanya tergeletak saja di dalam botol maupun gelas, ia sendirilah yang mengulurkan tangan mengambil dan meminumnya. Setelah minum, tak dapat lagi mengendalikan diri. Orang seperti ini tak memiliki tekad. Tahu jelas bahwa minum alkohol merusak diri, namun masih juga meminumnya. Setelah minum barulah menyesal. Setelah menyesal mengatakan ingin berubah. Ingin berubah, tetapi tak bisa menahan diri sewaktu melihat alkohol. Yang seperti ini sungguh merisaukan. Karenanya, para anggota Tzu Cheng di Tzu Chi dan insan Tzu Chi lain memiliki 10 disiplin moral.

Salah satunya, yang sangat penting adalah tidak mengonsumsi alkohol, karena minum alkohol akan mengundang masalah, dan akan mengacaukan pikiran sehingga tak dapat mengontrol diri sendiri. Kita dapat mendengar para anggota Tzu Cheng ada yang dulunya gemar minum alkohol, bahkan sampai kecanduan dan tangannya gemetar jika tak meminum alkohol. Meski telah kecanduan berat, ia masih dapat berubah. Ini karena ia bertemu dengan orang baik dan memiliki sekelompok teman yang baik yang selalu memerhatikannya, terus menjaga, dan membimbingnya untuk berjalan. Berjalan di mana? Berjalan di jalan yang baik dan berbuat baik. Mereka juga dapat membimbing prinsip hidupnya ke arah yang baik. Salah satu cara yang terbaik adalah daur ulang, yang membuatnya terus sibuk bekerja. Sewaktu kecanduan terhadap alkohol kambuh, selama kita terus beraktivitas dan terus memiliki kesibukan, maka serangan kecanduan terhadap alkohol itu dengan sendirinya akan terlupakan.

Lama-kelamaan, kecanduan ini pun akan hilang. Jika dalam hatinya ada sekelompok orang baik yang selalu membimbing dan menjaganya, serta memberinya kegiatan untuk digeluti sehingga kehidupannya lebih bermakna, maka selama ia merasa kegiatan itu berguna, ia akan senantiasa mendalaminya. Ketika batin dan fisiknya memiliki sandaran serta arah, ia akan dapat mengubah tabiatnya. Semua ini bergantung pada lingkungan sekitar. Demikian pula bagi pecandu narkoba. Ada juga yang dulunya merupakan pecandu narkoba, baik pria maupun wanita. Dengan adanya kelompok yang membimbingnya, mereka dapat menuju ke arah hidup yang benar.

 

Belum lama ini, ada seorang relawan yang dulunya bekerja di bar. Ia bertemu tamu yang jahat yang membuatnya terguncang. Ketika ingin mengakhiri hidupnya, ia bertemu seorang supir taksi yang baik, terjalin jodoh baik hingga mereka menikah. Ia bertekad untuk mengubah tabiatnya dan berusaha memulai untuk menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Tetapi, melepaskan diri dari kecanduan sangat sulit. Akhirnya demi anak yang dikandungnya, ia pun berhenti mengonsumsi narkoba. Hal ini sungguh merupakan perjuangan. Namun, sangat sulit untuk lepas dari alkohol dan mengubah kebiasaan berjudi. Beruntung, ia bertemu insan Tzu Chi. Ia pun bergabung di Tzu Chi. Dengan adanya para komite yang baik dalam penampilan, tindakan, dan tutur kata, disertai dengan lingkungan yang baik, secara alami ia pun terpengaruh. Ia mulai dapat menyayangi dirinya sendiri.

Kini, ia telah dilantik menjadi komite Tzu Chi yang sangat mematuhi aturan. Ini semua merupakan pengaruh lingkungan. Memilih teman dalam bergaul sangatlah penting. Jika tidak hati-hati dan bertemu teman yang buruk, penyimpangan sedikit saja akan membuat kita jauh tersesat. Ketika ingin berpaling dan berubah, sangatlah sulit dilakukan. Semua harus bergantung pada kebijaksanaan dan juga sekelompok orang. Jadi, lingkungan sangatlah penting. Di lingkungan Tzu Chi ini, kita berharap dapat menyucikan hati manusia. Jika hati manusia tersucikan, barulah setiap keluarga akan bahagia dan masyarakat akan damai dan harmonis. Itulah mengapa lingkungan indah ini diciptakan. Di lingkungan yang indah ini, dengan sendirinya orang-orang dapat tertolong dan mulai mensyukuri berkah serta menghargai tempat pelatihan yang indah ini.

Di tengah banyaknya orang baik dan perkumpulan para Bodhisattva, ia akan dapat mensyukuri berkah, segera berpaling dari yang buruk ke yang baik dan membuang tabiat buruk di masa lalu. Ia pun mulai berjalan di Jalan Bodhisattva yang lapang ini.

Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, saya harap kita dapat bergaul dengan teman-teman yang baik. Semoga di antara kita dapat saling mengingatkan dan mengoreksi. Ini merupakan lingkungan yang baik. Maka, terhadap lingkungan yang baik ini kita harus bisa menggenggam dan menghargainya. Tentu, lingkungan melatih diri yang terbaik terletak dalam batin kita. Kita harus senantiasa menjaga pikiran baik yang kita miliki. Jadi, semua orang harus bersungguh-sungguh.

Leave A Comment