[ST-027] 業田種子 Benih Di ladang Karma
Saudara se-Dharma sekalian, suasana di pagi hari tidak dingin dan tidak panas, segala sesuatu di alam terasa sangat selaras. Keadaan ini sungguh indah. Kita sebagai praktisi Buddhis memiliki tujuan untuk mencapai kondisi batin yang hening dan murni. kondisi batin yang hening dan murni ini bagaikan pagi yang cerah, yakni saat kita dapat merasakan keselarasan alam. Bukankah keadaan ini yang selalu kita harapkan? Meski tubuh fisik tetap terus-menerus berubah, terus tumbuh dan menua, ini hanyalah proses hukum alam, namun hakikat sejati kita tidak akan berubah, tiada perbedaan tua dan muda. Baik di usia muda maupun tua, hakikat sejati kita tetap sama. Hakikat ini adalah sifat Buddha yang murni. Manusia pada hakikatnya bersifat bajik, semua orang pun mengetahui hal ini.
Namun, belakangan ini saya terus membahas, berlapis-lapis noda batin dan tabiat buruk terakumulasi dari banyak kehidupan lampau, belum lagi karma buruk dari kehidupan sekarang terus-menerus menebal dan masih terus bertambah. Inilah penyebab penderitaan manusia. Karma buruk yang terus bertambah membawa buah penderitaan bagi manusia. Semua ini disebabkan oleh noda batin. Demikianlah sepuluh kejahatan tumbuh dan menghasilkan 84.000 kekotoran. Bentuk kesalahan begitu banyak. Jadi, dalam kitab suci disebutkan bahwa sepuluh macam kejahatan dapat berkembang menjadi 84.000 kekotoran. Angka 84.000 melambangkan jumlah tak terhingga. Jumlah yang sangat banyak ini dilukiskan dengan sebuah bilangan. Setiap hari terdiri atas 24 jam. Setiap jam terdiri atas 60 menit. Satu menit terdiri atas 60 detik. Dalam sehari ada 24 jam, jika dihitung, maka ada 86.400 detik. Setiap detik sangatlah cepat berlalu.
Namun, gejolak niat di pikiran kita ataupun munculnya noda batin, lebih cepat dari satu detik. Niat pikiran kita timbul dan tenggelam dengan sangat cepat. Jadi, noda batin kita terus ada bersama pikiran kita terus muncul seiring niat pikiran kita, dan bertambah setiap detiknya. Selama noda batin ini timbul, kita akan menciptakan karma buruk melalui tubuh dan ucapan. Akibatnya, kesalahan terus bertambah baik secara sadar maupun tidak. Jadi, 84.000 kekotoran melambangkan berbagai bentuk kesalahan yang tidak terhingga jumlahnya. Bentuk kesalahan sangatlah banyak. Bukan hanya 84.000, melainkan sangat banyak, dapat dikatakan tak terhingga. Saya terus mengatakan bahwa karma buruk yang disadari disebut pelanggaran, yang tak disadari disebut kelalaian. Kesalahan secara sadar yang dilakukan atas dasar niat buruk, entah sudah berapa banyak, apalagi kelalaian yang dilakukan tanpa sadar, saya rasa tak terhitung banyaknya.
Jadi, karma buruk tak terhitung jumlahnya. Setiap kali niat pikiran timbul, noda batin pun turut bergejolak dan terus-menerus bertambah. Ketika noda batin timbul, karma buruk melalui tubuh dan ucapan pun bertambah. Berbagai bentuk kesalahan ini tak terlepas dari tiga faktor. Kesalahan-kesalahan yang banyak ini, jika ingin dirinci jenisnya, sungguh sangatlah banyak. Namun, dari kesemuanya ini, penyebabnya digolongkan menjadi tiga. Jenis kesalahan yang sangat banyak ini berawal dari tiga akar. Karena itu, dalam kitab suci dikatakan, “Namun, semuanya tak terlepas dari tiga faktor, pertama, noda batin; kedua, karma; ketiga, buah karma.” Bentuk kesalahan sungguh tidak terbatas.
Hanya karena tiga penyebab ini, akibatnya kita terus melakukan karma buruk dan terus-menerus mengakumulasi noda batin. Belakangan kita sering membahas noda batin. Noda batin berakar dari ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Noda batin sendiri saja terdiri atas 3 jenis. Mengenai ketamakan, di dunia ini ketamakan sangatlah banyak, ia dapat membawa kita pada perbuatan buruk dan pelahan-lahan semakin menjerat hingga kita terjatuh dalam perbuatan buruk. Seperti di banyak negara, seusai perang, kondisinya semakin terpuruk. Ranjau darat di mana-mana. Relawan Chen Qiu-hua di Yordania bekerja sama dengan Organisasi Hashemite. Mereka bekerja sama membawa bantuan dengan 19 truk susah payah melewati daerah perbatasan Yordania memasuki Irak. Sampai di Irak, pemandangan yang terlihat sungguh memilukan. Selama perjalanan yang memakan hampir 24 jam, terlihat mobil-mobil yang meledak hangus terbakar. Sangat banyak, terutama bus-bus besar. Mobil terlihat tak beraturan di mana-mana, terutama bus-bus berukuran besar yang dapat mengangkut puluhan orang. Melihat kondisi bus-bus tersebut, dapat dibayangkan banyaknya korban jiwa. Ini semua karena saat perang bom dijatuhkan di mana-mana. Entah berapa banyak korban yang jatuh. Kemudian, hal lain yang terlihat adalah bangunan yang telah hancur menjadi puing. Tembok-tembok pun runtuh, tiada satu pun yang masih berdiri tegak. Pemandangan tersebut sangat menyedihkan.
Di tempat tidur pasien ada seorang ibu yang tidak berdaya. Ibu ini sedang menjaga kedua anaknya. Ia melihat sendiri keadaan anak-anaknya yang sedang menangis kesakitan. Kehidupan mereka bagai di ujung tanduk. Ibu tersebut sangat tak berdaya, karena kedua anak ini bukan terluka akibat senjata dengan sengaja. Bukan. Sewaktu mereka tengah bermain, tak disangka di dalam tanah ada sebuah ranjau darat yang belum meledak. Tanpa sengaja mereka menginjaknya hingga ranjau itu pun meledak. Kedua anak ini pun terluka parah. Inilah ketidakberdayaan yang dirasakan sang ibu. Saat perang berlangsung, mereka dapat bersembunyi dari bom udara, tetapi malah tak dapat lolos dari ranjau darat.
Seorang ibu dengan dua orang anak, bayangkan betapa kasihan. Kalau daerah ini bebas ranjau, seharusnya masyarakatnya dapat hidup damai, memiliki tempat tinggal yang rapi, sehingga banyak keluarga hidup harmonis. Begitulah seharusnya kondisi daerah itu. Segala petaka ini disebabkan oleh manusia. Ketika dalam hati manusia terdapat ketamakan, dalam skala besar dapat menyebabkan duka mendalam bagi seluruh negeri. Penderitaan rakyat di negeri itu sungguh tak terlukiskan oleh kata-kata. Ini semua adalah akibat nafsu keinginan. Baik ketamakan, kebencian, maupun kebodohan dapat membawa duka bagi dunia. Duka yang ditimbulkan sungguh tak terlukiskan. Inilah akibat noda batin. Beginilah noda batin dalam skala besar. Begitu pula dalam skala kecil, ketika seseorang sehari-harinya menghadapi masalah lingkungan, keluarga, masyarakat, dll, noda batin pun terus membelenggu dan memengaruhi.
Karena itu, segala hal yang buruk dan kekacauan semakin banyak terjadi. Ini semua tak terlepas dari noda batin. Akibat ketamakan, kebencian, dan kebodohan, dalam pikiran manusia timbul noda batin sehingga mereka menciptakan karma buruk yang tak terhingga banyaknya. Yang kedua adalah karma. Kekuatan karma sesungguhnya sangat menakutkan bagi orang-orang. Karma bagaikan sebidang lahan. Karena itu, sering disebut “ladang karma”. Karma dapat membawa suka maupun duka, karena di ladang karma ini terdapat benih yang baik dan buruk. Jika Anda menanamkan benih yang baik, berkah akan terus tercipta. Setelah menciptakan berkah, benih ini akan tertanam dalam ladang karma, dalam Buddhisme disebut Alaya-vijnana. Perbuatan buruk menanamkan benih karma yang buruk pula. Begitulah makhluk hidup terus menciptakan karma baik maupun buruk. Selama Anda menanam karma baik, Anda akan memperoleh berkah. Pepatah kuno mengatakan, “Keluarga yang memupuk berkah pasti berkecukupan.” Artinya, jika Anda terus melakukan kebajikan, maka sebagaimana benih yang ditabur, demikianlah buah yang akan dituai. Karma tergantung dari perbuatan Anda. Jadi, karma baik dan buruk akan bercampur.
Benih karma baik tertanam di Alaya-vijnana, demikian pula dengan benih karma buruk. Jadi, jika kita memiliki kemelekatan, ketamakan, kebencian, dan kebodohan, dan atas dasar kegelapan batin ini lantas kita melakukan karma buruk, maka benih karma akan tertanam di Alaya-vijnana dan kita sendirilah yang akan menuai buahnya. Dalam Sutra Ksitigarbha juga disebutkan bahwa baik atau buruk, diri sendirilah yang menuai. Benih karma yang tertanam di Alaya-vijnana akan tumbuh menjadi kekuatan karma yang besar. Sebagaimana sebidang ladang, jika kita menebarkan benih di atas lahan ini, maka ketika sebab dan kondisinya matang, benih ini akan tumbuh dan berbuah. Karma bagaikan sebuah ladang. Baik ataupun buruk benih yang ditanam, diri sendirilah yang akan menuai.
Menanam benih yang baik, berarti akan terus menciptakan berkah; menabur benih yang buruk, berarti akan terus menciptakan petaka. Lihat, di ladang tumbuh banyak jenis rumput. Jika kita tidak mencabutinya, maka rumput tersebut akan memenuhi ladang. Demikian pula halnya dengan ladang batin. Jika diperhatikan, seiring bergantinya musim, tanaman yang tumbuh pun berbeda-beda. Demikian pula, ketika benih karma bertemu kondisi yang sesuai, kekuatannya akan menjadi sangat besar.
Orang Taiwan sering berbicara tentang keberuntungan dan nasib. Nasib ditentukan oleh karma. Kita sendirilah yang menentukan nasib kita. Ketika menciptakan karma, kita tidak menyadari bahwa lewat tubuh, ucapan, dan pikiran kita karma telah tercipta. Ketika karma ini berbuah, kita tak kuasa menghindari kekuatan karma yang timbul ini. Lihatlah, banyak orang berkata, “Mengapa harus saya yang mengalami kecelakaan?” Kadang kita akan berpikir, “Aneh, saya baru saja keluar.” “Kalau memilih jalan lurus akan baik-baik saja, mengapa malah memilih jalan memutar?” Inilah buah karma. Kecelakaan terjadi hanya dalam sekejap dan kita tak kuasa menghindarinya. Kita tak tahu mengapa bisa begitu. Ada orang yang sedang berjalan, tiba-tiba tersambar petir. Petir menyambar dari langit, sementara tanah begitu lapang dan langit pun begitu luas, mengapa kebetulan dirinya yang tersambar? Ini pun disebabkan oleh kekuatan karma. Ini bagai kekuatan halilintar yang terhimpun sehingga memiliki energi yang sangat besar. Karena itu, Buddha berkata bahwa kekuatan karma sangat besar bagai Gunung Sumeru. Kekuatan karma sungguh besar. Terkadang kita berpikir, “Saya ingin berubah,” namun tetap tak mampu mengubah tabiat buruk, Perangai dan karma sangat erat kaitannya. Jika dahulu Anda tidak membiasakannya atau terus-menerus mengulangnya, maka meski benihnya sudah ada, jika kita tidak memelihara dan menumbuhkannya, tak akan ada kondisi baginya untuk berbuah.
Dengan demikian, kita pun tak akan berpikir mengapa harus saya yang tertimpa kecelakaan. Kita pun tak akan lagi mengeluh. Banyak orang di dunia ini yang selalu berpikir, “Mengapa saya?” Ketika tertimpa hal buruk apa pun mereka selalu berpikir, “Mengapa saya?” Pemikiran ini harus segera diubah. Karena adanya sebab dan kondisi, barulah karma buruk dapat berbuah sehingga terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan yang menimpa diri kita. Kita hendaknya belajar memahami kebenaran ini. Jika Anda tidak melakukan kesalahan, Anda tak mungkin menerima buah karma buruk. Justru karena pernah menciptakan karma buruk, maka kini Anda menerima akibatnya. Inilah yang disebut setelah berbuat, merasakan akibatnya. Buah karma buruk masa lampau ini pun dapat membuat kita melakukan lebih banyak kesalahan. Ada hubungan timbal balik antara perbuatan buruk dan buahnya.
Perbuatan buruk akan membawa akibat buruk. Karena melakukan perbuatan buruk, maka kita menerima buahnya. Banyak orang berkata bahwa, “Manusia dilahirkan untuk menderita.” Tidak selalu. Kelahiran kita ini harus dimanfaatkan untuk menciptakan berkah dan tidak hanya bersikap pasif seraya berpikir, “Saya lahir di dunia untuk menderita.” Janganlah berpikir demikian. Apa pun karma yang kita bawa ke kehidupan ini, terimalah buahnya dengan ikhlas. Dulu mungkin kita melakukan banyak karma buruk dan tak dapat mengubah tabiat buruk. Kini dengan adanya jalinan jodoh yang baik, kita bertemu orang-orang baik yang membantu kita mengubah tabiat buruk.
Karena itu, kita harus memanfaatkan jalinan jodoh ini. Jangan berpikir, “Sekarang saya sudah berubah, mengapa hal buruk masih terjadi?” Kita harus berpikir, “Untung sekarang saya bisa berubah, bisa berkesempatan menanam berkah.” “Dulu saya melakukan banyak perbuatan buruk dan kini telah menyadarinya, maka saya menerima buahnya dengan ikhlas.” Kita harus menerimanya dengan ikhlas. Dahulu kita melakukan segala jenis perbuatan buruk. Kita melakukannya atas keinginan sendiri. Kita melakukannya karena memang suka. Kini kita harus menerima buahnya dengan ikhlas. Biasanya saya sering berkata, “Melakukan dengan sukarela, menerima dengan sukacita.” Sukarela melakukan berarti menciptakan berkah. Bersumbangsih bagi mereka yang menderita, kita lakukan dengan penuh sukarela. Kita dapat mengembangkan cinta kasih universal. Di samping cinta yang terbatas pada keluarga dan diri sendiri, kita pun harus mengembangkan cinta kasih hingga ke masyarakat dan seluruh dunia. Mengasihi diri sendiri saja sudah sulit, begitu pula dengan mengasihi keluarga, apalagi harus mengasihi semua orang di dunia, tentu lebih sulit lagi.
Namun, jika kita bersumbangsih dengan sukarela, kesulitan ini akan berubah menjadi kebahagiaan. Karena itu, para insan Tzu Chi, dalam melakukan apa pun, meski fisik dan batin merasa lelah, namun mereka tidak merasa menderita, sebaliknya mereka merasa bahagia. Benar sekali, bahagia. Saudara sekalian, inilah yang disebut sukarela. Segala hal akan terasa manis karena kita melakukannya atas keinginan sendiri. Kita melakukannya dengan sukacita.
Karena itu, selelah apa pun tubuh ini, kita tetap ikhlas dan karenanya merasa bahagia. Saudara sekalian, perubahan pola pikir dapat mengubah segalanya. Pikiran adalah pelopor segalanya. Karena itu, kita semua hendaknya senantiasa menjaga kondisi hati dengan baik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus selalu mempertahankan kondisi batin yang hening dan jernih bagai pagi yang cerah. Jangan biarkan noda batin atau kerisauan meliputi batin kita. Untuk itu, harap semua senantiasa bersungguh-sungguh.