Sanubari Teduh

[ST-031] 三障滅六根悉清淨 Murninya Enam Indra di Kala Tiga Rintangan Lenyap

Saudara se-Dharma sekalian, sering dikatakan bahwa pelatihan diri// berkenaan dengan pengendalian pikiran. Apakah kita sering bertanya pada diri sendiri, sudahkah pikiran ini dijaga dengan baik? Apakah pikiran ini sering kita bersihkan dan tata dengan baik agar noda batin tidak sering muncul? Inilah pelatihan batin. Jika tanpa disadari noda batin timbul, maka kekuatan karma pun akan ikut mengiringi. Jadi, jika ingin mengikis karma buruk, kita harus melenyapkan noda batin terlebih dahulu. Oleh sebab itu, para Buddha dan Bodhisattva mengajarkan metode terampil dan pertobatan agar Tiga Rintangan ini terkikis dan enam indra, sepuluh kejahatan, serta 84.000 kekotoran dimurnikan. Kita telah membahas tentang Tiga Rintangan, yaitu kekotoran batin, karma, dan buah karma. Kekotoran batin sama dengan sama dengan//noda dan kegelapan batin. Ada banyak sekali kegelapan dalam batin kita.

Dengan adanya kegelapan batin, maka setiap perbuatan akan menghasilkan karma. Kekuatan karma pasti mengundang buah karma. Hanya saja, karma yang kita ciptakan ada yang baik dan ada yang buruk. Karma yang buruk tentu merupakan penghalang bagi kehidupan kita di masa mendatang. Orang yang berbuat jahat//pasti akan jatuh ke alam neraka. Tentu, perbuatan jahat akan menghalangi kita untuk terlahir kembali di alam manusia ataupun di alam dewa. Inilah akibat perbuatan jahat, menghalangi kelahiran di alam manusia dan dewa. Karena itu, hindarilah perbuatan jahat. Sekali jatuh dari alam manusia,// butuh puluhan ribu kalpa untuk kembali. Karma buruk yang menghalangi kita untuk terlahir di alam manusia atau dewa disebut kejahatan penghalang kelahiran di alam manusia dan dewa.

Demikian pula dengan perbuatan bajik. Meski merupakan hal yang baik, perbuatan bajik juga bisa menjadi penghalang, sebab setelah melakukannya,//kesombongan dapat timbul. Bahkan ada orang yang berkemampuan lebih dalam segi harta, tenaga, dan potensi menganggap bahwa perbuatan baik yang kecil terlalu rendah dan memalukan untuk dirinya, sehingga ia tidak mau melakukan kebajikan kecil dan hanya mau melakukan kebajikan besar. Ia berpikir bahwa perbuatan bajik yang besar// akan mendatangkan reputasi dan keuntungan. Kalaupun seandainya perbuatan bajik itu// tidak mendatangkan keuntungan, namun dapat menaikkan reputasi. Ia tidak mengejar keuntungan, melainkan mengejar reputasi.

Karena itu, ia tak mau melakukan kebajikan kecil Setelah melakukannya, ia menjadi sombong. Ini adalah penghalang dalam pelatihan diri. Saat tak mampu melakukannya, timbul kerisauan. Ini juga menghalangi pelatihan diri. Kita harus berlatih agar dalam berbuat baik kita tidak melekat pada objek//pemberi, penerima, dan bentuk bantuan tersebut. Saat berdana tanpa pamrih atau tanpa melekat pada aspek pemberi dana, penerima dana, dan dana itu sendiri, inilah yang disebut memahami kekosongan tiga aspek dana. Kebajikan tidak dibedakan besar atau kecilnya. Ketika kesempatan muncul dan kita segera melakukan kebajikan, maka meski hanya sepatah kata ataupun suatu tindakan kecil, hal-hal itu mungkin saja adalah kebajikan besar sejauh kita tidak membeda-bedakannya.

Jika kita tidak membedakannya, maka tidak ada kebajikan besar ataupun kecil. Tetapi, jika kita membedakannya, maka timbullah penghalang dalam hati. Pikiran diskriminatif ini sesungguhnya merupakan penghalang terbesar dalam// melatih diri sesuai ajaran Buddha. Karena itu, dikatakan bahwa kebajikan// juga dapat menghalangi jalan pembebasan. Jika saat berbuat kebajikan kita terlalu melekat, perhitungan, dan bersikap diskriminatif sehingga menghambat pelatihan diri sesuai ajaran Buddha, maka inilah yang disebut kebajikan yang menghalangi jalan pembebasan. Kita hendaknya dapat melatih diri hingga tidak memiliki kemelekatan dan diskriminasi, yakni tidak melekat sebagai yang berbuat bajik, hanya menganggap itu adalah yang seharusnya, juga tidak menghitung jasa yang dibuat.

Sesudah dilakukan, biarlah berlalu, untuk apa diperhitungkan lagi? Jangan pula memandang rendah si penerima dengan berpikir kita telah banyak membantunya. Jika kita dapat memandang seperti ini, yakni tiada materi bantuan, tiada penerima,//dan tiada aku sebagai pemberi, maka inilah yang dimaksud memahami kekosongan. Dengan begitu kita akan selalu bersukacita, setiap hari berpikiran terbuka, tiada beban dalam batin yang perlu dirisaukan. Dengan begitu, tiada lagi penghalang.

Karena itu, kita pernah membahas bahwa sangatlah penting untuk tidak membiarkan noda batin semakin bertambah. Jika noda batin bertambah, berbagai masalah akan membuat kita semakin risau Perselisihan dengan orang lain pun bertambah. Inilah yang disebut noda batin. Setiap tindakan dan perbuatan, juga ucapan, semuanya menciptakan karma. Semua ini bagaikan sebutir demi sebutir benih yang tertanam ke dalam lahan batin kita. Bila tiba saatnya, ia akan tumbuh dan berbuah, dan inilah yang disebut buah karma. Maka dikatakan, “Tiga faktor ini// dapat merintangi Jalan Mulia serta menghalangi kelahiran baik// di alam manusia dan dewa.” Tiga faktor ini dapat menghalangi kelahiran// di alam manusia ataupun dewa. serta menghalangi kelahiran baik di alam manusia dan dewa. Penghalang selanjutnya adalah// kondisi tak tergoyahkan. Kondisi tak tergoyahkan adalah kondisi batin yang tak terpengaruh oleh// hal baik ataupun buruk. Ini pun dapat menghambat Jalan Bodhi.

Jika berlatih dalam ajaran Buddha hingga tahap tak tergoyahkan sehingga kehilangan welas asih terhadap semua makhluk, maka inilah yang disebut kondisi tak tergoyahkan menghalangi Jalan Bodhi. Meskipun ada orang yang berhasil melatih diri hingga memiliki kekuatan meditasi yang tinggi, namun menganggap bahwa segala hal di dunia tidak lagi berhubungan dengan dirinya. Ketika ada orang tertimpa penderitaan, ia juga merasa itu tak ada hubungan dengannya. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus mengembangkan cinta kasih, welas asih,// sukacita, dan keseimbangan batin. belajar hati Buddha dan Bodhisattva Kita harus meneladani semangat Buddha//dan Bodhisattva, tidak tega melihat makhluk lain menderita, merasa senasib sependeritaan dengan mereka. Inilah yang disebut Jalan Tengah. Meski kita tidak seperti makhluk awam lain yang masih diliputi banyak noda batin, kita tetap berpengertian terhadap masalah dunia, bisa bertoleransi, senantiasa bersyukur, dan tahu berpuas diri.

Dengan demikian, pikiran kita akan terbebas dari noda batin. Kita melakukan hal yang seharusnya dilakukan, tetapi juga tidak menganggap bahwa segala hal// entah yang baik maupun yang buruk seakan tidak ada hubungan dengan diri kita dan memisahkan diri jauh-jauh darinya. Jika begitu, hidup kita akan dingin tanpa perasaan. Menganggap segala hal di dunia// tidak ada hubungan dengan kita juga tidaklah benar. Sikap demikian akan menjadi penghalang kita untuk membangkitkan semangat Bodhisattva dan melangkah di Jalan Bodhisattva. di mana tak lagi terpengaruh suka maupun duka, hanya melatih pembebasan bagi diri sendiri, juga sangatlah menakutkan. Jadi, bila digabungkan, ada tiga faktor yang merintangi Jalan Mulia. Karena itu, di dalam Sutra// disebut sebagai Tiga Rintangan. Karena itu, di dalam Sutra Dalam Sutra, dijelaskan tentang 3 penghalang ini: Kejahatan menghalangi kelahiran di alam manusia dan dewa, kebajikan menghalangi jalan pembebasan, kondisi tak tergoyahkan menghalangi Jalan Bodhi. Inilah yang disebut tiga macam penghalang. Kejahatan menghalangi kelahiran di alam manusia dan dewa, kebajikan dapat menghambat jalan pembebasan, Inilah tiga faktor penghalang Jalan Mulia. para Buddha dan Bodhisattva mengajarkan metode terampil. Oleh sebab itu, para Buddha dan Bodhisattva Para Buddha dan Bodhisattva mengetahui bahwa semua makhluk memiliki banyak kekurangan. Karena itu, Mereka menggunakan metode terampil berdasarkan kapasitas masing-masing makhluk. Bodhisattva mengajar//sesuai sifat dan kemampuan pendengar, bagai memberikan obat sesuai jenis penyakitnya.

Kita harus memahami bahwa Buddha dan Bodhisattva bagaikan Tabib Agung. Beliau mampu menembus dan melihat sifat serta kemampuan setiap makhluk. Beliau mampu mengajar sesuai waktu, ruang,//manusia, dan hal, serta mengetahui kemampuan pendengarnya. Buddha mampu mengetahui kapan, di mana, dan dalam kondisi bagaimana sebuah ajaran dapat diajarkan bagi orang tertentu. Inilah mengajar sesuai kemampuan pendengar. Ini bagaikan dokter yang mendiagnosis penyakit dan mengenali gejalanya untuk memutuskan pasien perlu dirawat//di poli bedah atau penyakit dalam. Di poli bedah, masih dibagi-bagi lagi, begitu pula di poli penyakit dalam. Dalam ajaran Buddha disebutkan, penyakit jiwa dan raga semua makhluk sungguh beragam. Untuk mencegah penyebaran penyakit fisik,// kita dapat melakukan karantina dan meningkatkan kewaspadaan selain menjalankan pengobatan. Dengan begitu, pasien akan segera pulih. Namun, penyakit batin//seperti tabiat buruk  dan noda batin sangat sulit diperbaiki.

Jika kita menginginkan seseorang untuk mengubah tabiat buruk dan noda batinnya, selain bergantung pada dirinya sendiri, juga membutuhkan dukungan dari lingkungannya. Untuk itu,//para Buddha mengajarkan metode terampil. Para Buddha dan Bodhisattva bagai Tabib Agung, mampu mendiagnosis//jenis penyakit semua makhluk dan membuka banyak metode terampil. Seperti di Tzu Chi, kita dapat memilih di antara Empat Misi Utama dan Delapan Jejak Dharma. Ada orang yang menderita depresi sehingga bila tinggal di rumah sepanjang hari, akan timbul rasa risau saat penyakitnya kambuh, kadang kala marah-marah, kadang kala merasa putus asa, kadang kala menyalahkan diri sendiri, kadang kala bersikap kasar pada orang, dan kadang kala melukai diri sendiri. Dalam kondisi demikian, // bila hanya bergantung pada obat-obatan, hasilnya sangat terbatas. Efek obat-obatan hanya bersifat sementara.

Setelah beberapa saat, akan kambuh kembali. Jalan terbaik adalah di samping tetap minum obat, kita juga harus menyediakan sebuah lingkungan tempat ia bisa berinteraksi dengan orang lain// dan beraktivitas. Ini membuatnya lupa//pada penyakit jiwa dan raganya. Raganya memiliki pekerjaan yang harus dilakukan dan jiwanya mendapat bimbingan banyak orang. Setelah beberapa waktu berlalu dan masa depresinya lewat, penyakitnya akan sembuh. Ketika hatinya terbuka dan bergembira, maka penyakitnya pun sembuh. Namun, ada orang yang tabiatnya sangat buruk. Meski sebetulnya ia seorang yang sangat baik, namun tabiat buruknya sungguh sulit diubah. Ada seorang anggota Tzu Cheng di Xinzhu yang sekarang sangat giat berpartisipasi dalam barisan Tzu Cheng. Pascagempa 21 September 1999 di Taiwan, ia sering berada di lokasi proyek Tzu Chi. Saat renovasi Griya Jing Si, ia juga sering datang untuk membantu. Bapak Chen ini sangat baik hati, namun pada masa mudanya, ia memiliki kebiasaan suka berjudi. Ia memperlakukan keluarga dan anak-istrinya dengan baik. Ia juga seorang anak yang sangat berbakti. Ia tak memiliki kegemaran lain dan hanya gemar berjudi.

Dapat dikatakan, temperamennya sangat baik. Dalam berperilaku, ia sangat berbakti pada orang tua dan menyayangi anak-istri,  namun setiap kali pergi berjudi, ia tidak lagi kenal siang dan malam. Kebiasaan ini sangat menyusahkan. Setiap pulang ke rumah sehabis berjudi, ia harus mencari berbagai alasan karena takut istri atau ibunya marah. Ia menjadi sering berbohong pada orang tua maupun istrinya. Lama-kelamaan anggota keluarganya tidak lagi memercayainya. Ia sendiri juga merasa sangat risau dan sangat ingin berubah. Berkali-kali ia berpikir ingin berubah. Namun, selama 10 sampai 20 tahun ini, setiap kali diajak oleh teman berjudinya, ia selalu tidak dapat menahan diri. Kadang kala sampai semalaman. Ia sendiri mengetahui bahwa hal ini tidak benar, entah bagaimana menjelaskan pada orang rumah waktu pulang nanti. Namun, begitu duduk di meja judi, ia menjadi gelap mata. Pada akhirnya, dengan bijak istrinya meminta insan Tzu Chi membimbing suaminya. Saat itu kantor perwakilan Tzu Chi di Xinzhu sedang direnovasi.

Ia begitu sibuk membantu di sana hingga lupa untuk berjudi lagi, karena ada sekelompok orang yang selalu// mengajaknya mengerjakan renovasi. Dengan kesibukannya itu, teman berjudinya semakin menjauh. Beberapa saat kemudian, ketika proyek renovasi hampir selesai dan pekerjaan sudah semakin berkurang, ia kembali pergi berjudi. Ia sungguh tidak mampu melepaskan diri. Hal yang benar-benar mengubahnya adalah proyek besar pascagempa 21 September 1999. Sebuah lingkungan besar dengan limpahan cinta kasih terus-menerus mengelilingi dirinya. Maka, sejak saat itu ia benar-benar tidak berjudi lagi. Ia benar-benar merasa sangat berterima kasih karena Tzu Chi telah menolong jiwa kebijaksanaan dan kehidupannya. Suatu kali, ketika berada di lokasi proyek saya bertanya padanya, “Kenapa Wajahmu Merah?” “Pergilah periksa ke dokter.” Saya juga berpesan kepada ketua kelompoknya agar meminta orang untuk mengantarnya ke RS Tzu Chi Dalin untuk diperiksa.

Setelah diperiksa, ternyata ada tumor otak yang tumbuh di bagian terdalam otaknya dan sulit untuk diangkat. Beruntung sekali, kini bidang medis sudah sangat maju. Direktur Lin dari RS Tzu Chi Hualien pergi ke Dalin untuk melakukan operasi//bersama neurolog RS Tzu Chi Dalin. Beruntung, walau kondisinya sempat kritis, ia berhasil diselamatkan. Keesokan harinya di Ruang Perawatan Intensif, ketika bertemu orang lain, ia sudah bertanya apakah boleh makan bubur. Kepulihannya sungguh cepat. Belakangan ia berkata pada saya, “Master, nyawa saya diselamatkan oleh RS Tzu Chi ini.” Ia sungguh merasa takut saat akan dioperasi. Ia berkata, yang membuatnya lebih tenang adalah Dokter Lin Xin-rong yang ketika datang memeriksanya sebelum melakukan operasi berkata, “Oh, Anda adalah seorang relawan Tzu Chi, kita adalah saudara se-Dharma, Anda tak perlu khawatir.” “Anda adalah kakak saya, dan saya adalah adik Anda.” “Saya akan merawat Anda dengan baik.” Pada saat itu juga, ia merasa mendapatkan keyakinan diri. “Lihat, seorang dokter bahkan dapat menganggap saya sebagai saudaranya sendiri.” “Tempat ini benar-benar seperti rumah sendiri, saya seharusnya merasa tenang.” Maka, hatinya menjadi tenteram. Setelah dibius dalam operasi sampai kemudian sadar kembali, hal pertama yang dirasakannya adalah lapar. Selanjutnya, hari kedua ia sudah dipindah ke ruang rawat biasa.

Sekarang ia masih selalu giat berpartisipasi. Di mana pun ada proyek pembangunan, ia akan ke sana untuk memikul tanggung jawab. Dalam Empat Misi Utama Tzu Chi, baik kesehatan, pendidikan, atau budaya humanis, saat dibutuhkan relawan, ia pun akan hadir. Ia juga membimbing relawan di komunitas, baik barisan Tzu Cheng maupun relawan daur ulang. Ia juga memikul tanggung jawab dalam misi bantuan internasional. Negara mana yang membutuhkannya, ia akan pergi ke sana. Lihatlah, ia sebelumnya adalah orang yang kecanduan berjudi dan tak dapat melepaskan diri dari meja judi. Inilah metode terampil Tzu Chi. Lingkungan keluarga besar Tzu Chi// adalah sebuah pintu metode terampil. Asalkan Anda mau datang dan melangkah masuk ke dalam pintu itu, maka akan menerima ajaran yang sesuai.

Pada masa sekarang Di masa sekarang ini, agar ajaran Buddha dapat menjadi aliran jernih yang dapat meresap ke dalam batin manusia, kita harus menggunakan metode terampil. Dalam Syair Pertobatan Air Samadhi dikatakan, “Para Buddha dan Bodhisattva// mengajarkan banyak metode terampil,” Mereka mengajarkan banyak metode terampil, “dan pertobatan agar Tiga Rintangan ini terkikis serta 84.000 kekotoran dimurnikan.” Para Buddha dan Bodhisattva bagaikan dokter, sedangkan berbagai metode terampil bagaikan resep obat yang dibuat dokter. Asalkan dokter sudah menuliskan resep dan obat ditebus sesuai takaran dalam resep, maka setelah meminum obat ini, segala masalah kita, segala penyakit kita akan sembuh. Ketika melantunkan Syair Pertobatan, kita bagaikan sedang mencari resep obat. Setelah memberi penghormatan pada Buddha, batin kita menjadi tenang dan damai, sehingga dapat memperbaiki diri.

Dari begitu banyak metode, kita dapat mencari salah satu yang cocok dan mampu membuat kita  mengubah tabiat buruk. Kita harus minum obat sesuai resep ini. Dengan begitu,// dengan sendirinya penyakit akan sembuh. Jika penyakit telah hilang, ini bagaikan semua rintangan karma telah terkikis. Saudara sekalian, ada 84.000 jenis noda batin. Lebih dari itu, kegelapan batin kita bagai butiran debu. Butiran debu ini menutupi batin hingga terjadi kegelapan batin. Karena itu, kita harus sungguh-sungguh menangani noda batin yang banyak ini dengan beragam metode yang ada. Metode yang beragam ini disebut metode terampil. Ketika Buddha membabarkan Sutra Bunga Teratai, Beliau juga mengatakan bahwa ajaran Beliau selama 42 tahun pertama semuanya adalah metode terampil. sampai Sutra Lotus ini Sampai pada pembabaran Sutra Bunga Teratai, barulah kebenaran tertinggi dibabarkan.

Jadi, yang dibabarkan Buddha di 42 tahun pertama, semua merupakan metode terampil. Jika hendak membabarkan kebenaran tertinggi yang langsung membawa pada kebuddhaan, sungguh tidaklah mudah. Ingin melangkah di jalan yang// lapang dan lurus ini pun bukanlah hal yang mudah, seperti mengatur tanaman rotan yang merambat, harus diarahkan dan dibimbing perlahan-lahan dengan segala cara yang disesuaikan dengan zaman dan kondisi lingkungan. Semua ini merupakan Dharma. Karena itu, saya mengatakan pada kalian bahwa dalam kehidupan sehari-hari, semua hal tercakup dalam ajaran Buddha. Harap semua orang lebih bersungguh hati. Meski hanya sebatang rumput atau pohon, semua sedang membabarkan Dharma bagi kita. Jadi, harap semua lebih bersungguh hati.

Leave A Comment