Sanubari Teduh

[ST-033] 深心勝心平等愛心 Kesungguhan, Keseimbangan, dan Keteguhan Batin

Saudara se-Dharma sekalian, kita selalu membahas tentang penaklukkan pikiran. Pikiran yang diliputi noda batin bagai ruangan yang dipenuhi kotoran. Air Dharma dapat membuat tanah yang berdebu mendapat kelembapan hingga debu mengendap. Asalkan kita bisa menerima Dharma, yang dapat membasahi batin kita, maka batin kita akan tersucikan. Oleh karena itu, kita semua harus bertekad, mulai saat ini, kita harus memiliki pikiran yang luhur dan sungguh-sungguh bertobat. Kita memiliki jalinan jodoh yang istimewa. Kebetulan saat ini kita semua berjodoh untuk berkumpul, dapat bersama-sama melatih diri di sini, bersama-sama memuja Buddha, bersama-sama membahas Teks Pertobatan. Kita dapat memahami cara apa yang dapat digunakan untuk mengatasi noda batin. Ini sungguh merupakan jodoh yang istimewa.

Karena itu, setelah mendengar pembabaran ini, kita harus membangkitkan pikiran yang luhur. Karena sudah tahu betapa baiknya ajaran Buddha, kita harus bertekad membangkitkan pikiran luhur. Menggenggam jalinan jodoh istimewa ini, melatih diri dalam ajaran Buddha dengan batin yang seimbang, teguh, dan sungguh-sungguh, inilah yang disebut memiliki pikiran luhur. Apa yang disebut pikiran luhur? Pertama,//pandangan setara terhadap semua makhluk. Jika kita tidak memandang setara semua makhluk, kita akan sering merasa lebih bijaksana dari orang lain, lebih pandai dari orang lain, berkedudukan lebih tinggi dari orang lain, berkondisi lebih baik dari orang lain. Atau kita mungkin berpikir//orang lain berkedudukan lebih tinggi dan bisa bersenang-senang, sehingga kita berambisi menjadi seperti mereka.

Inilah pikiran diskriminatif. Baik berambisi menjadi seperti orang lain, tidak pernah merasa puas, maupun merasa lebih tinggi dari orang lain, semuanya merupakan noda batin. Kini kita sudah mendengar banyak cara untuk menaklukkan noda batin. Pertama, kita harus memiliki pandangan kesetaraan. Meski orang lain unggul, janganlah kita kecil hati. Orang lain bisa melakukan, kita pun dapat belajar dari kelebihannya. Kita sering berkata, “Di antara 3 orang, pasti dapat menemukan guru.” “Teladani segala sisi baiknya, ambillah pelajaran dari  sisi buruknya.” Jika seseorang memiliki teladan yang baik, sebaiknya kita pelajari. Jika orang lain memiliki sisi buruk, kita harus segera berintrospeksi. Jangan menganggap remeh diri sendiri, mengira orang lain selalu lebih unggul dari kita.

Sesungguhnya, unggul ataupun tidak, semua tergantung diri kita sendiri. Apakah kita sudah menekuni cara yang baik? Apakah kita sudah cukup giat dan bersemangat? Jika kita sudah giat dan bersemangat, maka jika orang lain bisa berhasil, demikian juga dengan kita. Tetapi, ini bukan berarti sombong. Sesungguhnya, inilah kerendahan hati. Melihat orang lain begitu giat belajar, kita juga harus giat. Terhadap orang yang agak lambat belajar, kita pun tak boleh memandang rendah Jika ia terus bekerja keras dan kita berhenti sejenak, kita pasti akan terkejar olehnya. Kita harus menghormati para junior. Meski mereka belajar lebih belakangan, tetap saja suatu hari nanti mereka akan sama seperti kita, dapat mempelajari banyak hal, dan juga bisa bersemangat. Inilah pandangan kesetaraan. Antar sesama manusia, ada banyak hal yang seharusnya dipandang setara. Bahkan dalam interaksi manusia dengan hewan, kita harus menghargai kehidupan. Semua makhluk hidup adalah setara. Semua makhluk yang bernyawa pasti ingin hidup dan takut mati, sama dengan kita. Karena itu, kita harus menyayangi dan mengasihi mereka. Cinta kasih yang sama rata ini disebut pandangan kesetaraan.

Dengan setara dan penuh cinta kasih memperlakukan semua makhluk, inilah yang disebut pandangan kesetaraan. Pikiran yang teguh berarti tidak malas. Setelah bertekad melatih diri, kita seharusnya mengerti bahwa jika terus mempertahankan tekad awal, kita pasti akan mencapai kebuddhaan. Sebuah jalinan jodoh yang istimewa harus sungguh-sungguh kita genggam. Karena telah bertekad, maka janganlah ada kemalasan. Genggamlah jalinan jodoh istimewa ini untuk melatih diri dengan pikiran yang teguh.

Batin yang penuh kesungguhan artinya mampu menyelami. Sebelumnya kita pernah membahas bahwa noda batin adalah serangan ke dalam. Artinya, begitu kita terserang olehnya, ia akan terus merasuk hingga semakin dalam. Begitulah noda batin. Kini, untuk melenyapkan noda batin, ajaran Buddha harus benar-benar meresap ke dalam batin kita. Seperti yang tadi dikatakan, noda batin bagaikan debu dan pasir, bagai tanah yang kurang dibasahi air Dharma. Kini kita sudah menerima ajaran Buddha. Kita harus sering menggunakan air Dharma agar ladang batin kita memperoleh kelembapan. Karena itu, pelatihan kita dalam ajaran Buddha harus lebih mendalam. Inilah batin yang penuh kesungguhan. Menyelami ajaran Buddha, membiarkan Dharma meresap ke dalam batin dan membersihkan segala kekotoran, inilah yang disebut batin yang penuh kesungguhan.

Karena telah menerima ajaran Buddha, kita seharusnya lebih bersungguh-sungguh, juga harus lebih mendalami Dharma. Segala sesuatu yang kita temui dalam keseharian, semuanya adalah Dharma. Semuanya adalah Dharma yang menakjubkan asalkan kita bersungguh hati. Karena itu, lingkungan pelatihan yang istimewa ini harus sungguh-sungguh kita manfaatkan. Saya sering berkata bahwa Tzu Chi adalah sebuah ladang pelatihan diri. Baik Empat Misi Utama maupun Delapan Jejak Dharma, semuanya adalah sarana belajar bagi kita dan ladang bagi kita untuk melatih diri. Lihatlah insan Tzu Chi yang amat banyak di dunia. Jika kalian sungguh-sungguh mendengar//isi hati mereka, mendengar kisah masa lalu mereka, dan mendengar perubahan mereka kini, pasti akan merasa terharu sekaligus bahagia. Kita makhluk awam tak luput dari tabiat buruk. Karena memiliki tabiat buruk, maka disebut makhluk awam. Datang ke Tzu Chi, kita harus mengubah tabiat buruk, barulah dapat mencapai kesucian.

Jika pikiran awam ini tidak diubah, bagaimana bisa berlatih menjadi orang suci? Karena itu, kita harus mengubah tabiat buruk sebelum dapat maju ke Jalan Mulia. Ada seorang anggotaTzu Cheng, Relawan  Zhang. Hari itu ia berbagi kisah dan saya sungguh tersentuh mendengarnya. Meski ia adalah seorang pemimpin perusahaan, namun saat menjadi relawan, ia tetap diperlakukan sama dan bertugas sesuai ketentuan. Ia ditugaskan di pintu utama. Kepada setiap pasien yang datang dan masuk lewat pintu utama ini, ia pasti membungkukkan badan 90 derajat dan mengucapkan salam. Ia berkata bahwa saat membungkukkan badan, ada orang yang membalas salamnya dan berkata, “Baik, baik.” Tetapi, ada pula yang sama sekali tak peduli, langsung masuk dengan sikap tak acuh. Tetapi, dalam hati relawan ini, entah apakah orang membalas, “Baik, baik, selamat pagi, selamat pagi,” ataukah tidak memedulikannya, ia tetap merasakan sukacita. Ia berpikir bahwa jika membungkuk sekali, berarti ia telah mengikis sedikit karma buruk, hatinya pun terasa damai tanpa beban.

Karena itu, ia berkata, “Saya sangat beryukur.” Tzu Chi bagaikan sebuah cermin yang memperlihatkan sisi buruk dirinya. Dahulu ia beranggapan derajat pria lebih tinggi. Karena itu, ia setiap hari menghadiri jamuan dan minum-minum seenaknya. Setiap hari ia mabuk dan setelah mabuk baru pulang rumah. Saat mabuk, ia akan memaki dan memukul anak-istri. Karena itu, jika istri dan anaknya mendengar bahwa ia sudah pulang, semuanya sangat ketakutan. Istrinya berkata kadang ia pulang larut malam. Jika anak-anak mendengar suara ia membuka pintu, semuanya langsung kabur dan masuk kamar. Dalam hatinya Bapak Zhang ini mengerti, “Jelas-jelas melihat saya pulang, semua orang malah menghindar.” “Mengapa semua sudah tidur saat dipanggil?” Kadang hatinya pun sungguh galau, ingin marah, tetapi tiada tempat pelampiasan. Keesokan harinya, ia sendiri juga merasa hidupnya sungguh kesepian. “Mengapa saya membuat istri takut?” “Mengapa membuat anak-anak takut?” “Tiada yang memedulikan saya.” “Sebenarnya, apa yang saya perjuangkan?” “Saya harus berubah.” Tetapi, setelah keluar rumah, ingin berubah sepertinya sangat sulit. Tidak mudah untuk berubah. Begitulah kehidupannya sehari-hari.

Suatu hari diadakan Kamp Orang Tua dan Anak. Istriya memohon padanya dengan baik-baik untuk menemani anaknya mengikuti kamp. Ia memililiki anak kembar. Keduanya sudah duduk di bangku SMP. Ia juga khawatir anaknya menjadi nakal. Ia juga khawatir anaknya akan menjadi nakal. Hubungan antara orang tua dan anak tentu harus dibina. Berkat bujukan halus istrinya, ia pun bersedia mendampingi anak-anaknya. Dalam interaksi di kamp tersebut, ia mendengar Profesor Zeng berkata kepada para orang tua bahwa pendidikan bukan semata-mata urusan sekolah, peran keluarga juga sangat penting. Orang tua adalah contoh bagi anak-anaknya. Anda ingin anak Anda menjadi seperti apa, sebagai orang tua, Anda harus memberi contoh dengan menjadi ayah yang baik atau ibu yang baik, karena orang tua adalah contoh bagi anak. Perkataan itu memberi kesan mendalam baginya. “Benar, saya sebagai ayah, jika terus seperti ini, apakah nanti anak-anak saya akan menjadi seperti saya?” Dalam kamp tersebut, ada sebuah kegiatan di mana ayah dan anak saling berpelukan untuk menunjukkan begitulah ayah dan ibu memeluk anaknya saat masih kecil.

Saat anak tumbuh besar, hubungan menjadi renggang. Kamp ini bertujuan untuk memulihkan hubungan yang telah renggang itu, agar anak dan orang tua tak lagi merasa jauh. Pada saat ayah dan anak saling berpelukan, sang anak berbisik di telinga ayahnya, “Ayah, maafkan saya.” Sang Ayah juga berkata pada anaknya, “Maaf.” Sepulang dari kamp tersebut, hubungan ayah dan anak-anaknya sangat baik. Itu karena sang ayah telah berubah. Selangkah demi selangkah ia masuk ke Tzu Chi, bahkan bertekad mengikuti pelatihan Tzu Cheng. Jadi, dalam barisan Tzu Cheng selama satu hingga dua tahun ini, mulai dari praktik lapangan hingga pelatihan, ia selalu bersama-sama anggota Tzu Cheng senior.

Pascagempa 21 September 1999 di Taiwan, baik dalam pembangunan Perumahan Cinta Kasih, penggalangan dana, maupun menjadi relawan, ia berpartisipasi dalam semuanya. Ia berkata suatu hari ia terkena serangan jantung dan akhirnya menjalani operasi. Operasinya berjalan lancar. Saat itu istrinya, anak-anaknya, dan para Tzu Cheng bersama-sama menjaganya. Semua orang juga sangat memerhatikannya. Ia pun kembali bercerita, suatu hari saat bertugas di rumah sakit, di depan pintu Ruang Perawatan Intensif (ICU), pada siang hari ia melihat seseorang yang berusia paruh baya masuk dengan sikap acuh tak acuh. Ia pun mengambilkan pakaian steril agar orang tadi memakainya, dan sekalian bertanya, “Mengapa Anda tidak datang pagi-pagi?” “Pagi tadi saya tidak melihatmu.” Orang berusia paruh baya itu menjawab, “Saya datang hanya ingin melihat apakah ayah saya sudah meninggal.” Relawan Zhang sangat terkejut.

Ia bertanya, “Mengapa Anda datang hanya untuk melihat ayah Anda sudah meninggal atau belum?” Orang itu menjawab, “Ketahuilah, saya juga adalah seorang korban.” “Sejak ayah saya masih muda dan saya masih kecil, ia terus memukuli saya hingga dewasa.” “Jika mengungkit ayah saya, saya merasa sangat benci.” Saat itu mereka membicarakan tentang masalah keluarga antara ayah dan anak. Setelah mendengarnya, relawan ini sangat terkejut. Saat itu dalam hatinya ia berpikir, “Untunglah, untung saya telah masuk Tzu Chi.” “Saya telah berubah.” “Jika tidak, saya mungkin juga akan seperti ayah orang ini, dibenci dan tidak disukai orang.” Ia berkata, “Untunglah, saya sudah masuk Tzu Chi lebih awal.” “Beberapa waktu ini, saya telah melatih diri di ladang pelatihan ini, ini bagai cermin yang selalu merefleksikan saya.” “Ini adalah sebuah lingkungan yang besar.” “Dengan adanya lingkungan besar ini, saya tak berani melakukan kejahatan lagi.” “Saya takut tabiat buruk saya muncul dan cermin ini akan merefleksikannya.” “Karena itu, saya harus selalu waspada.” “Insan Tzu Chi sangat banyak, pergi ke mana pun bisa bertemu.” “Karena itu, saya harus menjaga perilaku.”

Jadi, selama beberapa tahun ini, dalam barisan Tzu Cheng, ia juga merupakan relawan yang sangat aktif. Inilah pikiran yang luhur dalam bertobat. Ini semua adalah berkat jalinan jodoh istimewa yang mendukungnya untuk bertobat setelah melihat banyak hal di Tzu Chi sehingga ia dapat berintrospeksi.

Hari itu ia juga berkata, ia sangat percaya bahwa orang tua adalah contoh bagi anak mereka. Selain anak-anak, masyarakat juga memerlukan teladan yang baik. Ia juga bercerita bahwa di lain hari, saat ia juga berdiri di depan pintu utama, tepatnya pada sore hari saat banyak orang hendak meninggalkan RS, ia pun berkata pada orang-orang, “Hati-hati di jalan.” Baik terhadap orang tua maupun anak kecil, ia tetap membungkuk 90 derajat dan berkata, “Hati-hati di jalan.” Ia juga bertemu seorang anak kecil. Terhadap anak itu, ia tetap berkata, “Adik kecil, hati-hati jalannya, harus pelan-pelan.” Setelah keluar, anak keci itu berbalik dan ikut membungkukkan badan sambil berkata, “Terima kasih, Paman.” “Sampai jumpa.” Relawan ini berkata saat itu ia sangat gembira. Ini adalah balasan baginya.

Saat Relawan Zhang melakukannya, anak ini pun membalasnya, sungguh penuh sopan santun. Ini sungguh merupakan sebuah teladan. Masyarakat kita sungguh membutuhkan banyak teladan yang baik. Selain menjadi contoh bagi anak-anak, kita juga harus menjadi teladan bagi masyarakat. Bodhisattva dunia memiliki misi membimbing dan menyelamatkan umat manusia. Namun, tentu harus terlebih dahulu melatih batin dan tubuh sendiri dengan baik. Perbuatan melalui tubuh, ucapan, dan pikiran, jika tidak kita latih dengan baik, bagaimana kita bisa menjadi teladan? Bagaimana bisa ucapan kita menyentuh orang? Bagaimana kita bisa mendampingi dan menghibur makhluk hidup yang menderita?

Untuk itu, kita harus sungguh-sungguh memanfaatkan jalinan jodoh ini. Dengan adanya jalinan jodoh yang istimewa ini, jika kita sungguh-sungguh ingin melatih diri, kita tentu harus mengembangkan pikiran yang luhur dan menjauhi sifat buruk makhluk awam. Kita harus memiliki pikiran yang luhur. Dalam jalan ajaran Buddha, kita harus bersemangat melatih diri. Jadi, kita harus ingat bahwa kita harus memandang setara semua manusia. Terhadap manusia dan makhluk hidup lain, kita harus memiliki cinta kasih. Inilah yang disebut pandangan kesetaraan terhadap semua makhluk. Kita harus mengembangkan pikiran yang teguh dan tidak membiarkan sifat buruk muncul. Sebagai manusia, kita sering berkata, “Saya juga tak tahu mengapa tabiat buruk ini banyak dan sulit diubah.” Jika sudah tahu kita memiliki banyak tabiat buruk, maka segeralah berubah. Setiap orang berpotensi mencapai kebuddhaan. asalkan kembali pada sifat hakiki yang murni.

Inilah hakikat yang sama dengan Buddha. Karena itu, janganlah meremehkan diri sendiri. Kita harus memiliki pikiran yang teguh dan semangat dalam melatih diri, lebih sungguh-sungguh mendalami Dharma. Apa yang kita dengar hari ini, janganlah dilupakan begitu saja, lalu kita malah bertindak semaunya. Meski di sini Anda disirami Dharma hingga basah, namun setelah meninggalkan lingkungan ini dan tersengat panasnya sinar matahari, batin Anda akan tetap kering kembali. Debu kekotoran batin akan beterbangan kembali. Begitu angin bertiup, semua menjadi berkabut. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, batin kita harus sering dibasahi air Dharma, bagai embun yang membasahi tanah setiap pagi. Namun, kita harus benar-benar menyerapnya, bagai rumput kecil yang ketika dibasahi embun, ia dapat menyerapnya. Padang rumput terlihat hijau karena tetesan embun terus membasahinya. Saudara sekalian, kita harus bersungguh hati dalam mempelajari ajaran Buddha. Kita harus memanfaatkan pikiran yang luhur untuk sungguh-sungguh bertobat. Dengan demikian, Tiga Rintangan yang sudah pernah kita bahas sebelumnya, yakni noda batin, karma, dan buah karma, semuanya akan terkikis perlahan-lahan. Yang terpenting, kita harus menggunakan pikiran yang luhur. Inilah ajaran terpenting yang harus kita resapi Apa yang telah kita dengar hari ini, jangan langsung dilupakan begitu saja. Jika kita giat dan bersemangat, barulah kita dapat terus maju selangkah demi selangkah dalam menyucikan batin kita sendiri. Singkat kata, dalam mempelajari ajaran Buddha, tiada metode lain. Metode terbaik adalah bersungguh-sungguh.

Leave A Comment