Sanubari Teduh

[ST-035] 與七心得滅障 Tujuh Kondisi Pikiran Dalam Melenyapkan Rintangan

Kewaspadaan ini berawal dari rasa malu. Memiliki rasa malu berarti merasa malu pada diri kita sendiri dan menyesal terhadap orang lain. Kita harus sering berintrospeksi Kita harus sering berintrospeksi mengapa berbagai hal yang ingin kita lakukan sering kali tidak tercapai. Mengapa orang lain bisa? Orang lain begitu giat dan bersemangat, mengapa kita tidak segiat mereka? mengapa kita tidak segiat mereka? Dengan banyaknya penyimpangan dan segala noda batin yang ada, orang lain dapat segera memperbaiki diri, namun mengapa kita masih terus mengulang kesalahan yang sama? Mengapa kita selalu seperti ini? Karena itu, kita harus melakukan introspeksi dan menumbuhkan rasa malu.

Hanya orang yang memiliki rasa malu dapat membangkitkan rasa takut. Jika orang tidak mempunyai rasa malu, mereka tidak akan mengenal rasa takut. Ada orang yang tidak merasa malu setelah berbuat salah. Mereka tidak dapat berintrospeksi dan terus mengulang kesalahan. Selain tak dapat meneladani orang lain, mereka juga bersikap sombong dan bertindak sesuka mereka. Inilah orang yang tak mengenal rasa takut. Jika kita mengerti hukum sebab dan akibat, maka kita tahu bahwa kesalahan yang disengaja akan membawa buah karma buruk yang berat. Bahkan untuk kesalahan yang tidak disengaja, karma buruk tetap akan tercipta. Kita akan semakin tercemar oleh selapis demi selapis kegelapan batin.

Dengan demikian, timbullah rintangan noda batin, karma, dan buah karma. Membayangkan buah karma,// manusia akan merasa takut. Jadi, rasa takut berawal dari rasa malu. Mereka yang tidak memiliki rasa malu tidak akan takut terhadap buah karma dan terus berbuat sesuka mereka. Mereka berpikir bahwa asalkan mereka suka, tiada yang tak boleh dilakukan. Mereka terus berbuat sesuka mereka dan tak dapat belajar dari orang lain. dan tak dapat belajar dari orang lain. Jika kita melihat seseorang yang lebih baik dari kita, kita harus segera belajar dari mereka dan menganggapnya sebagai guru kita. Jika kita melihat seseorang berbuat jahat, kita harus segera mengingatkan diri sendiri. Kita juga bisa menganggapnya sebagai guru kita. Itu berarti kita harus mengingatkan diri Itu berarti kita harus mengingatkan diri untuk tidak melakukan hal yang sama. untuk tidak melakukan hal yang sama.

Kita harus takut menjadi seperti dirinya yang melakukan kesalahan berulang kali dan dicela orang lain. Kita harus takut menjadi seperti mereka dan harus berintrospeksi apakah// kita juga telah berbuat salah baik disengaja maupun tidak. Setelah berbuat kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja, kita pasti akan menuai akibatnya sehingga timbullah rasa takut. Jadi, kita harus mempunyai rasa malu, barulah dapat memiliki rasa takut, takut akan akibat perbuatan buruk yang mungkin membawa pada// kelahiran di alam rendah. Inilah rasa takut. Rasa malu berarti penyesalan dan tekad melatih diri. Rasa takut adalah kewaspadaan dan kesadaran akan ketidakkekalan. Rasa malu muncul dari rasa takut terjerumus ke dalam alam rendah, sedangkan rasa takut timbul dari rasa malu berbuat kesalahan, keduanya bagaikan dua sisi mata uang.

Pada zaman Buddha dahulu, di antara murid-muridnya ada saudara tiri Buddha di antara murid-muridnya ada saudara tiri Buddha bernama Nanda. Setelah Buddha meninggalkan keduniawian, ayah Beliau, sang raja, amat berharap pada Nanda untuk dapat mewarisi tahtanya dan memerintah kerajaan kelak. Setelah Nanda tumbuh dewasa, ia menikah. Istrinya sangatlah cantik. Ia diakui sebagai wanita tercantik di kerajaan. Ia diakui sebagai wanita tercantik di kerajaan. Setelah mereka menikah, Nanda terbuai oleh rupa, suara, serta berbagai kesenangan lainnya. serta berbagai kesenangan lainnya. Buddha merasa bahwa jika Nanda terus terbuai kesenangan, ia akan terus mengalami kemunduran. Jadi, Buddha ingin menyelamatkannya. Oleh sebab itu, suatu hari, ketika Buddha// keluar mengumpulkan dana makanan, Nanda sedang berada di atas balkon// bersama istrinya, menikmati indahnya lagu dan tarian, menikmati indahnya lagu dan tarian, serta menikmati kebahagiaan suami istri. serta menikmati kebahagiaan suami istri.

Karena mereka berada di atas balkon, Nanda dapat melihat Buddha membawa mangkuk lewat di bawah balkon. Buddha adalah saudara tirinya. ketika Nanda melihat mangkuk Buddha kosong, dari atas balkon, Ia cepat-cepat menuruni tangga dan memberi hormat pada Buddha. Ia lalu berkata pada Buddha, “Mari berikan mangkukmu untuk kuisi” dan mengisinya penuh dengan makanan yang berkualitas. Namun, ternyata Buddha sudah pergi. Namun, ternyata Buddha sudah pergi. Maka, sambil membawa mangkuk Maka, sambil membawa mangkuk// yang penuh makanan ini, Nanda mengejar Buddha. Namun, secepat apapun ia berlari,// ia tak dapat mengejar-Nya. Padahal Buddha tidak jauh di depannya. Tanpa disadari, ia telah sampai ke vihara Buddha. Buddha duduk dan Nanda membawa// mangkuk tersebut ke hadapan Buddha dan dengan hormat// memberikan makanan tadi kepada Buddha.

Melihat Nanda di hadapan-Nya, Melihat Nanda di hadapan-Nya, Buddha berkata, “Cinta hanyalah sebuah ilusi. ” “Jika terjatuh dari alam manusia, “dibutuhkan waktu yang lama untuk kembali.” Nanda Hidup tidaklah kekal” “ menjadi manusia” Saat Buddha berbicara, Nanda mendengarkan dengan tenang. Ia mendengarkan Buddha menjelaskan padanya kebenaran dari kehidupan. kebenaran dari ketidakkekalan, dan betapa segala sesuatu hanyalah ilusi. Saat Nanda merenungkan ajaran ini, Buddha berkata kepadanya, “Nanda tinggalkanlah keduniawian.” “Lihatlah, betapa damainya// kehidupan seorang bhiksu.” “Jika engkau meninggalkan keduniawian “dan melenyapkan nafsu keinginanmu, “engkau akan mencapai pembebasan.” Saat Buddha berbicara dengannya, Saat Buddha berbicara dengannya, Nanda terus berdebat dengan dirinya sendiri apakah ia akan mengikuti atau tidak. Tetapi, ketika ia masih berdebat tentang ini, Buddha meminta seseorang untuk bersiap// mencukur rambut Nanda. Jadi, itulah bagaimana Nanda setengah terbujuk dan setengah terpaksa menjadi seorang bhiksu. Setelah Nanda menjadi seorang bhiksu, ia sadar ajaran Buddha amatlah bermanfaat dan ia juga amat menghormati Buddha. Tetapi ia tidak dapat melepaskan kemelekatannya terhadap istrinya.

Ia masih memikirkan istrinya sepanjang hari. Ia masih memikirkan istrinya sepanjang hari. Maka, setiap hari ia merasa gelisah dan sedih. Suatu hari, Ketika Buddha sedang // keluar mengumpulkan dana makanan, Beliau meminta Nanda untuk tinggal dan menjaga vihara. Nanda sangat gembira mendengarnya dan diam-diam berencana menyelinap keluar vihara untuk melihat istrinya. Buddha mengetahui apa yang ia pikirkan. Buddha mengetahui apa yang ia pikirkan. Maka, tak lama setelah berangkat, Buddha segera kembali lagi, dan benar saja, Nanda tidak ada di vihara. Dalam perjalanan pulang ke rumah lamanya, Buddha menghentikan Nanda dan bertanya, “Mau ke mana engkau?” “Kondisi hari ini amat baik.” “Aku akan gunakan kesempatan baik ini untuk mengajakmu melihat hal yang mungkin akan jarang kau jumpai dalam hidupmu.” “Mari kita ambil kesempatan ini, saat yang lain sedang mengumpulkan makanan dan kondisi sangat tenang.” “Mari kita duduk.” Kemudian Nanda dan Buddha duduk. Kemudian Nanda dan Buddha duduk.

Pada saat itu, sepertinya Buddha membawanya ke suatu tempat yang jauh, ke sebuah alam yang lain. Alam itu sangatlah indah. Banyak wanita cantik di sana, dan semua orang di sana sedang bekerja keras membangun sebuah rumah. Mereka semua amat tekun. Rumah itu sangat kokoh dan megah. Tidak ada yang seperti itu di alam manusia, Ketika Nanda melihat rumah yang megah ini sedang dibangun, ia kagum akan keindahannya dan bertanya kepada Buddha mengapa rumah semegah itu dibangun di sana. Buddha berkata,”Kau dapat bertanya pada mereka untuk siapa rumah itu dibangun. ” Nanda maju ke depan untuk bertanya kepada orang yang menjadi mandor di sana. Ia berkata,”Ini adalah rumah yang sangat indah. ” “Untuk siapa rumah ini dibangun?” Sang mandor berkata kepadanya, “ Ini untuk seorang bijaksana bernama Nanda. ” “ Ini untuk seorang bijaksana bernama Nanda. ”

“Di alam manusia, ia lahir sebagai pangeran, dan juga merupakan saudara tiri Buddha. ” “Ia telah bertekad menjadi seorang bhiksu, ia akan dapat merasakan kenikmatan surga. ” “Rumah ini dibangun untuknya.” Mendengar ini, Nanda sangat terkejut, “Untukku? ” Hatinya penuh suka cita. “Benarkah untukku, ”ia terus berpikir. Bersamaan dengan itu, mereka juga mendengar suara musik surgawi yang sangat merdu. Ada sekelompok wanita yang sangat cantik, lebih cantik dari siapa pun di alam manusia. Mereka menari dalam formasi, dan setiap wanita sama cantiknya. Tubuh dan gerakan mereka terlihat indah Tubuh dan gerakan mereka terlihat indah Ketika menari diiringi oleh musik surgawi yang indah.

Dengan penuh sukacita, Nanda bertanya, “Siapakah wanita-wanita ini?” Sang mandor menjawab, “Mereka sedang berlatih menari.” “Mereka sedang berlatih menari.” “Nanti ketika pemilik rumah ini pindah ke dalam rumah, penari-penari cantik ini akan menjadi pelayannya. ” Mendengar bahwa wanita-wanita cantik ini Mendengar kalau wanita wanita cantik ini Mendengar kalau wanita-wanita cantik ini juga akan menjadi miliknya, ia menjadi sangat gembira. Ia berjalan kembali ke sisi Buddha dan berkata kepada Buddha, “Aku telah mengetahui untuk siapa rumah ini.” “Aku telah mengetahui untuk siapa rumah ini.” “Aku juga sudah tahu kelak penari-penari ini akan melayani siapa.” akan melayani siapa.” Ia sangat gembira dan bersyukur. Kemudian, Buddha berkata kepadanya, Kemudian, Buddha berkata kepadanya, “Mari, Aku akan membawamu ke tempat yang lain. ” “Masih banyak yang akan kita lihat.” Sekali lagi, Buddha membawanya ke sebuah tempat yang sangat jauh. ke sebuah tempat yang sangat jauh.

Sesampainya di sana, mereka melihat sekelompok kera. Kera-kera itu tampak sangat jelek. Kemudian, Buddha bekata, “Mari, kita pergi ke tempat lain.” Dan sekali lagi ini adalah // sebuah tempat yang sangat jauh. Dari kejauhan// mereka dapat mendengar suara ratapan. Tempat macam apakah ini? Mengapa begitu banyak yang meratap, dan menangis dalam penderitaan? Di sana terdapat banyak tembok besi Di sana terdapat banyak tembok besi dan kelihatannya sangat panas di dalam. Pemandangan ini sangatlah menakutkan. Tempat apakah ini? Nanda bertanya kepada Buddha. Buddha menjawab, “Mari kita mendekat dan lihat tempat macam apakah ini.” Mereka berjalan menuju kota itu. Di dalam kota itu banyak sekali orang.

Tetapi, tidak seperti kota sibuk yang biasa kita temui, di mana setiap orang beraktivitas di jalan-jalan. Tidak. Di mana-mana terdapat// pemandangan yang mengerikan. Berbagai macam alat penyiksa dapat terlihat dan tak satu pun dapat dijumpai di alam manusia. Mereka menjatuhkan hukuman yang amat kejam yang hanya dapat ditemukan di neraka. dan banyak iblis serta Yaksa yang memberikan hukuman. Ada juga sebuah bejana minyak. Di bawah bejana ini, seseorang sedang menambahkan kayu bakar// untuk menjaga nyala api.

Bejana minyak ini mulai berasap. Nanda menunjuk dan bertanya pada Buddha, “Yang Dijunjung, untuk setiap alat penyiksaan, ada seorang iblis atau Yaksa di sana “在刑罰罪人 yang memberikan hukuman pada orang-orang. ” “Mengapa bejana minyak ini masih dalam persiapan?” Buddha menjawab, “Pergilah bertanya.” Maka, Nanda mendekati orang yang sedang menjaga api dan bertanya padanya, “Ini adalah sebuah bejana minyak yang besar dan banyak minyak di dalamnya. ” “Aku lihat engkau baru saja// memulai untuk merebus minyaknya. ” “Untuk apa engkau merebus minyak ini?” “Untuk apa engkau merebus minyak ini?” Orang itu menjawab, “Sesungguhnya, ini amat disesalkan. ” “Engkau lihat orang-orang// yang sedang dihukum di sini? “Mereka semua telah melakukan// perbuatan jahat di alam manusia. ” “Sebagian melakukan dengan sengaja, sebagian tanpa disadari.” “Banyak orang tak dapat berubah dan terus mengulangi kesalahan mereka sehingga mengakumulasi banyak karma buruk.”

“ Setelah meninggalkan alam manusia, mereka akan lahir di neraka ini.” “Alat penyiksa yang berbeda menghasilkan hukuman yang berbeda pula.” “ yang merupakan hasil dari Ini adalah buah perbuatan buruk mereka// di alam manusia. Mereka menerima buah yang berbeda-beda. Itulah sebabnya mengapa ada bermacam-macam alat dan berbagai jenis hukuman. Nanda menunjuk bejana minyak dan bertanya, “Bagaimana dengan bejana minyak ini?” “Bagaimana dengan bejana minyak ini?” Orang itu menjawab,”Bejana ini sedang menunggu pendosa dari alam manusia.” “Pendosa ini mempunyai// kesempatan untuk melatih diri, tetapi masih memiliki ketamakan dan nafsu.” tetapi masih memiliki ketamakan dan nafsu.” “ Ia berniat meninggalkan persamuhan Sangha.” “ Ia berniat meninggalkan persamuhan Sangha.” “Ia terus-menerus melanggar sila dan pikirannya pun ternoda kembali.” dan pikirannya pun ternoda kembali.” “Kelak ia akan berkedudukan tinggi dan tamak akan segala keinginan rendah.” “Kelak ia akan melakukan banyak karma buruk.” “Setelah waktunya habis di alam manusia, bejana minyak ini akan menantinya.”

“Saat kehilangan kemurnian batin sebagai bhiksu, “Saat kehilangan kemurnian batin sebagai bhiksu, ia akan mengumbar nafsu dan kenikmatan sehingga menciptakan banyak karma buruk.” “Kelak bejana minyak mendidih ini akan menunggunya.” Nanda bertanya,”Siapakah orang ini?” Orang itu menjawab, “ Ia adalah Nanda, saudara tiri Buddha.” “ Kini ia melatih diri sebagai bhiksu, tetapi pikirannya masih penuh nafsu berahi.” “Ketika ia melepaskan kebhiksuannya, ia akan mewarisi tahta kerajaan dan mempunyai kekuasaan besar.” “Ia akan kehilangan sifat hakikinya yang murni “Ia akan kehilangan sifat hakikinya yang murni dan akan melakukan banyak karma buruk.” Mendengar hal ini Nanda menjadi sangat takut. Dengan cepat ia berlari kembali ke arah Buddha dan berkata kepada Buddha, “Yang Dijunjung, kini aku sadar.” “Mari kita pulang.” Buddha memberinya senyuman yang hangat.

Tiba-tiba, Nanda terbangun dan menemukan ia masih di tempatnya semula, duduk di hadapan Buddha. Buddha kemudian tersenyum dan bertanya kepada Nanda tentang apa yang ia rasakan tentang perjalanan tadi. Nanda menjawab, ”Terima kasih, Yang Dijunjung.” “Terima kasih telah membawaku ke surga dan neraka sehingga aku bisa melihat// semua pemandangan yang berbeda-beda itu. ” “Ketika di surga, aku melihat banyak pemandangan yang indah, banyak gadis cantik, sungguh menyenangkan.” “Tetapi, melihat neraka,saya sangat takut.” Buddha berkata, “Walaupun surga sangat indah, kesenangan di sana pun bersifat sementara.” “Nanda, kehidupan di surga// juga tidaklah kekal.” “Coba engkau pikirkan, apakah engkau tetap ingin kembali menikmati kesenangan duniawi? ” Nanda menjawab,”Aku tidak berani mengumbar kesenangan duniawi lagi.” “Sebaik apa pun kehidupan di surga, suatu saat juga akan berakhir.” “Setelah itu, aku akan terlahir di neraka.” “Aku takut ini benar-benar terjadi.”

“Aku takut ini benar-benar terjadi.” “Aku sangat takut dengan bejana minyak mendidih itu.” “Aku ingin mengikuti Buddha dan melatih diri.” “Aku ingin mengikuti Buddha dan melatih diri.” “Aku harus terbebas dari penderitaan akibat kelahiran kembali.” “Kehidupan penuh dengan penderitaan.” “Aku harus menyadari bahwa Kesenangan duniawi hanyalah sementara.” “Meski istriku sangat cantik, namun gadis di surga ternyata jauh lebih cantik.” “Tetapi melihat kera-kera yang menyeramkan itu, pada kenyataannya, istriku sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan kera-kera itu.” Ia mulai menyadari kotornya tubuh fisik. Ia mulai menyadari kotornya tubuh fisik. Dengan demikian, secara alami ia mulai melihat sifat hakiki dari kenikmatan dan memiliki rasa takut bahwa nafsu keinginan yang sementara itu akan berakibat penderitaan yang panjang. akan berakibat penderitaan yang panjang. Jadi, ia sangat ketakutan. Ia memotong nafsunya terhadap kecantikan dan meninggalkan keduniawian dengan tenang. Saudara sekalian, kita semua// pernah melakukan perbuatan baik dan buruk.

Jika dalam batin tidak timbul rasa malu, maka meski kondisi kita sekarang maka meski kondisi kita sekarang sangat mendukung bagi pelatihan diri, kita akan mudah terpengaruh kondisi luar. kita akan mudah terpengaruh kondisi luar. Bukankah ini sama seperti Nanda? Namun, dengan metode terampil, Buddha membuatnya sadar// bahwa kenikmatan alam manusia tidak sebaik di surga. Meski kini Anda dapat mengumbar kenikmatan, kelak Anda juga akan menuai akibatnya. Meski kelak Anda adalah raja, Anda tetap akan jatuh ke dalam neraka. Buddha membuat Nanda menyadari hal ini. Inilah metode terampil yang digunakan Buddha untuk membuat Nanda menyadari kesalahannya. Jadi, kita semua harus memiliki rasa malu. Jadi, kita semua harus memiliki rasa malu. Dengan memiliki rasa takut, barulah kita dapat senantiasa waspada. Kita harus senantiasa melihat ke dalam diri apakah batin kita hari ini sudah menerima dan menyerap Dharma. Kita harus senantiasa bertanya ke dalam hati. Untuk itu, bersungguh-sungguhlah selalu.

Leave A Comment