Sanubari Teduh

[ST-045] 以能忍心對治忍之境 Menghadapi Segala Kondisi Dengan Kesabaran

Saudara se-Dharma sekalian, waktu sungguh cepat berlalu. 24 jam yang ada dalam setiap harinya berjalan dengan sangat cepat. Hari demi hari berganti tanpa terasa. Dalam mempelajari ajaran Buddha, pencapaian dipupuk seiring waktu berjalan. Bukankah kita sering mengatakan bahwa karma juga terakumulasi seiring waktu berjalan? Jika kita diliputi kegelapan batin, maka karma buruk akan bertambah seiring waktu. Jika kita dapat mengikis kegelapan batin ini dan kembali pada hakikat sejati kita yang bajik, menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri, maka setiap tindakan yang kita lakukan dan ucapan yang kita keluarkan akan menambah akumulasi pahala kebajikan. Jadi, kita harus menggenggam waktu yang ada dan sungguh-sungguh menjaga pikiran kita. Buddha memberi tahu kita bahwa kita harus membangkitkan Bodhicitta. Bodhicitta harus dikembangkan dalam jangka panjang dan tak lepas dari praktik Enam Paramita. Praktik Paramita kesabaran adalah faktor penting dalam pelatihan diri.

Jika tak memiliki kesabaran dan ketahanan dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan; jika tak dapat bersabar menjaga pikiran, kemungkinan besar niat baik kita ini akan mudah sirna saat kita bersentuhan dengan dunia luar dan menemui banyak godaan. Karena itu, kita harus memiliki keteguhan. Sebelum Paramita kesabaran adalah Paramita sila. Kita harus sungguh-sungguh menaati sila. Tanpa adanya kesabaran, kita akan mudah untuk melanggar sila dan menyimpang dari jalan yang seharusnya. Karena itu, kesabaran mutlak diperlukan. Contohnya, Tzu Chi yang ada sekarang ini. Semua dimulai dari satu tekad saya. Saat mulai melatih diri, saya berpikir arah pelatihan seperti apa yang menjadi tujuan saya. Tentu saja, pada awalnya saya memilih berlatih dengan menutup diri. Saya mencari tempat untuk melatih diri selama beberapa lama, mulai dari meninggalkan rumah, melewati Luye, hingga tiba di Hualien.

Selama enam bulan, saya memfokuskan diri untuk sungguh-sungguh mempelajari, menyalin, dan melakukan puja Sutra Bunga Teratai. Selama beberapa waktu ini saya pun memahami bahwa ajaran Buddha tak meminta saya berlatih hanya demi diri sendiri, melainkan memberi manfaat bagi semua makhluk. Sutra Bunga Teratai//mengajarkan Jalan Bodhisattva. Dalam membabarkan Dharma, selama 42 tahun Buddha mengajarkan//berbagai metode terampil. Setelah 42 tahun kemudian, Beliau sungguh-sungguh melepaskan metode terampil dan mulai membabarkan Sutra Bunga Teratai. Dalam Sutra ini Buddha mengatakan bahwa semua Buddha memiliki ajaran yang sama. Setiap Buddha yang datang ke dunia akan terlebih dahulu//mengajarkan berbagai metode terampil yang sesuai dengan kemampuan setiap makhluk. Tetapi, pada akhirnya, semua Buddha akan meninggalkan metode terampil dan membabarkan Jalan Bodhisattva.

Semua Buddha adalah sama dalam hal ini. Saat membaca penggalan Sutra ini, saya merasa 42 tahun begitu lama. Jika saya harus membaca ulang semua pembabaran Buddha selama 42 tahun itu, maka untuk menyelesaikannya, bukankah saya harus memakan banyak waktu? Karena saya yakin pada perkataan Buddha bahwa tujuan akhir semua Buddha adalah membabarkan Jalan Bodhisattva, maka jika begitu, bukankah saya harus mempraktikkan jalan ini? Kehidupan manusia tidaklah kekal, sangat singkat dan penuh penderitaan. Karena itu, saya berpikir untuk membawa manfaat bagi dunia, mencerahkan diri sendiri dan orang lain. Tentu banyak jalinan jodoh Tentu banyak jalinan jodoh yang saya temui yang akhirnya mengubah kondisi hingga seperti sekarang ini. Jadi, saya sering mengatakan bahwa asalkan ada niat dan tekad, asalkan kita membangkitkan sebuah niat baik, jalinan jodoh baik akan terus berbuah.

Pada masa-masa awal berdirinya Tzu Chi, kondisinya juga amat sulit. Bukan hanya kehidupan saya yang sulit, menggalang dana pun amat sulit. Setiap orang menyumbang 50 sen sehari. Begitulah imbauan saya. Apakah hanya itu kesulitan yang ada? Tidak. Saya harus bersabar dan bertahan agar arah misi saya tetap murni. Kita harus menjaga kemurnian sila. Dalam mengembangkan misi amal, jika kita sendiri tidak menaati sila, maka tak akan membawa manfaat bagi orang lain.

Karena itu, kita harus menjaga kemurnian tekad dan tetap memegang prinsip “Sehari tidak bekerja, sehari tidak makan”. Dana kebutuhan hidup kita dan dana amal//harus dibedakan dengan jelas. Jadi, untuk kebutuhan sehari-hari, kita harus menanggungnya sendiri. Dana amal yang disumbangkan orang lain harus tercatat dengan rinci dan hanya digunakan untuk amal, tidak boleh menyimpang sedikit pun. Namun, untuk menjalankan misi amal dibutuhkan himpunan kekuatan banyak orang. Jika ingin mengajak banyak orang untuk menyatukan kekuatan hati dan tekad, kita harus menciptakan suasana keluarga. Kita, para bhiksuni di sini harus bekerja keras para bhiksuni di sini harus bekerja keras karena harus menyokong keluarga ini. Karena kita juga mengumpulkan dana amal, maka pembukuan kita harus sangat jelas. Keluarga kita ini menjunjung kemandirian. Saya senantiasa berterima kasih kepada begitu banyak orang yang memiliki tekad dan cita-cita yang sama dengan saya, yang bersedia bersumbangsih dalam kesulitan, sehari tidak bekerja, sehari tidak makan, sungguh-sungguh menyokong keluarga kita ini.

Dengan begitu, kita baru bisa memisahkan dana yayasan dan kebutuhan kita dengan sangat jelas. Griya Jing Si sama sekali tidak menerima dana. Griya Jing Si adalah benteng terakhir Tzu Chi. Berapa pun banyaknya orang yang datang, akan menjadi tanggung jawab para bhiksuni. Setiap dana amal yang kita terima, semua kembali pada kegiatan amal. Inilah yang disebut memegang teguh sila. Meski ada yang ingin berdana untuk Griya Jing Si, kita harus tetap memegang teguh prinsip kita. Kita berterima kasih,//namun tak dapat menerima dananya. Untuk memegang teguh sila, kita harus memiliki kesabaran dan ketahanan. Tanpa ketahanan ini, kita akan mudah tergoda untuk menerima dana. “Mengingat sulitnya kehidupan kita setiap hari, mengapa tidak kita terima saja persembahan dari orang lain itu?”

“Dengan menerima persembahan, kita tak perlu lagi hidup sulit.” Sebaliknya, kita semua tetap teguh, penuh ketahanan dan kesabaran. Dengan kekuatan ketahanan dan kesabaran ini, kini kita, para bhiksuni di sini tetap teguh, memiliki kesatuan hati dan tekad serta arah tujuan yang sama tanpa berubah sedikit pun. Ini membutuhkan kekuatan ketahanan dan kesabaran dari semua orang. Selain kesabaran, kita juga membutuhkan adanya semangat. Saudara sekalian, bolehkah kita tak bersemangat melatih diri? Selain dalam kehidupan sehari-hari kita harus menyokong keluarga besar ini… kita harus menyokong keluarga besar ini.. Ketika insan Tzu Chi dari seluruh dunia pulang ke Griya Jing Si yang merupakan rumah mereka, kita harus memenuhi kebutuhan mereka. Selain bekerja keras menyokong keluarga ini, kita juga harus bersemangat melatih diri. Kita telah meninggalkan kehidupan duniawi dan bertekad menjadi bhiksuni. Selain bersumbangsih bagi Tzu Chi, kita harus tetap melatih diri.

Dalam pelatihan diri ini, kita memulai aktivitas pada pukul 3.30 pagi. Kita melakukan ini setiap hari baik pada musim dingin, musim panas, maupun musim-musim lainnya. Kita menjalani rutinitas ini setiap hari. Setiap pagi kita melantunkan Sutra dan duduk menenangkan pikiran. Setiap pagi kita semua amat penuh berkah, dapat merasakan hari yang tenang. Ini adalah kesempatan yang baik untuk berbagi kesan dengan kalian semua. Kalian juga berkesempatan untuk mendengarkan. Kita juga harus teguh dalam hal ini. Dalam melatih diri, kita tak boleh lalai ataupun malas. Selelah apa pun kita, sesulit apa pun kehidupan kita, kita harus bertahan dan bersabar serta tetap bersemangat. Kita harus sabar tanpa merasa sedang bersabar. Meski setiap hari kita harus bangun pagi-pagi dan harus bekerja keras demi menjalani kehidupan yang sulit, kita harus tetap teguh. Kita harus giat melatih diri tanpa henti.

Coba pikirkan, semua ini juga tergantung pada pikiran. Jadi, setelah memiliki kesabaran, kita juga harus memiliki semangat. Kita tak boleh cepat puas atas pencapaian kita dan merasa tak perlu lagi melatih diri, tidak perlu lagi bersemangat. Kita harus tetap bersemangat untuk maju dan memanfaatkan waktu yang ada saat ini. Inilah yang disebut semangat. Semangat yang dimiliki setiap orang bukan hanya berpengaruh pada diri sendiri. Sesungguhnya, juga dapat memengaruhi dunia batin setiap orang. Lihatlah di Tzu Chi, di dalam lingkup yang kita kenal dan tahu nama mereka saja begitu banyak teladan, apalagi di antara ratusan ribu relawan yang melatih diri dengan giat di Tzu Chi, lihatlah, betapa banyak yang dapat dijadikan teladan. Contohnya, para relawan daur ulang di Taiwan.

Kisah para relawan daur ulang dapat disaksikan di salah satu program Da Ai TV. Dalam program tersebut, pernah ditayangkan kisah Relawan Lin. Relawan Lin Lian-huang memiliki sepatah kata yang sangat terkenal di seluruh dunia. Di mana pun insan Tzu Chi berada, pasti pernah mendengar kalimat ini, “Bekerja sampai mati lebih baik daripada tak melakukan apa-apa sampai mati.” ia sendiri adalah pengidap kanker. Ketika harus menjalani operasi, meski dirinya berada di rumah sakit, pikirannya tetap berada di posko daur ulang. Ia juga merupakan relawan video. Selain menjadi relawan daur ulang,//ia juga menjadi relawan video.

Ketika ia berada di rumah sakit untuk menanti dioperasi, insan Tzu Chi datang menjenguknya. Sebelum ada yang berbicara, ia lebih dahulu bertanya, “Bagaimana dengan kegiatan daur ulang?” “Adakah orang yang merekamnya?” Setelah ia menjalani operasi, kebetulan saat itu ada Topan Xangsane. Setelah menjalani operasi besar, ia seharusnya beristirahat total. Namun, ketika mendengar Topan Xangsane membawa bencana besar di Sanzhi, Xizhi, dan Keelung, ia pun segera mencari informasi tentang adakah relawan yang merekam jejak sejarah ini. Para relawan yang lain pun menjawab bahwa meskipun ada orang, namun masih tidak cukup. Mendengar hal itu, ia pun bergegas membantu. Saya ingat saat saya tiba di Guandu waktu itu, ia baru saja kembali dari Sanzhi dengan mengenakan jas hujan sambil membawa kamera video yang berat. Ketika bertemu dengannya di depan pintu, saya mencoba memastikan bahwa itu memang dia dan bertanya, “Bagaimana kamu bisa ada di sini?” Waktu itu saya baru menjenguknya di RS. Kemudian, saya berangkat ke Taichung dan kembali ke Taipei.

Lalu ketika topan datang, saya melihatnya sudah membawa kamera, pergi ke Sanzhi, bahkan sudah kembali dari sana. Saya pun bertanya, “Bagaimana kamu bisa ada di sini, padahal baru beberapa hari lalu kamu menjalani operasi besar?” “Mengapa berada di tengah angin dan hujan?” Ia menjawab, “Master, ini adalah kesempatan langka.” “Jika saat ini saya tak merekamnya, maka sejarah Tzu Chi ini tak akan tercatat.” Benar, waktu akan berlalu. Jika kita tidak sungguh-sungguh memanfaatkan teknologi modern untuk mengabadikannya, maka sesungguhnya bagaimana kondisi di Sanzhi setelah bencana itu terjadi kita mungkin tak lagi ingat dengan jelas. Jika kita hanya mengatakan kepada orang lain, “Saat itu kondisi di Sanzhi rusak parah akibat bencana, banyak pula orang yang menjadi korban, gunung pun mengalami longsor,” sesungguhnya kita tak akan bisa melukiskan betapa rentannya bumi ini. Hanya dengan mengabadikannya, kini kita baru dapat memperlihatkan kondisi Sanzhi saat dilanda Topan Xangsane sehingga orang-orang bisa melihat dengan jelas bagaimana insan Tzu Chi menerjang hujan untuk memberi perhatian bagi para korban. Inilah ketahanan dan kesabaran Relawan Lin yang ditambah dengan semangat.

Meski sakit, ia tak berhenti bersumbangsih demi sesuatu yang bermakna ini, yakni demi merekam sejarah Tzu Chi dan demi menjadi saksi zaman ini. Ia menganggap semua itu sebagai pelatihan diri. Jadi, ia bersedia menerjang angin dan hujan meski baru selesai menjalani operasi. Kemudian, sejak saat itu ia tak pernah menyia-nyiakan waktu sedetik pun. Seseorang bertanya kepadanya, “Anda benar-benar berani, baru selesai dioperasi sudah keluar.” Ia pun menjawab, Perkataannya ini membangkitkan semangat dan mendorong banyak orang. Benar, apa yang harus terjadi pasti terjadi. Namun, usia kehidupan kita sungguh terbatas. Kita hendaknya sungguh-sungguh memanfaatkan hak guna kita atas tubuh ini. Saat masih dapat menggunakannya, gunakanlah untuk hal-hal bermanfaat. Sesungguhnya, kita semua tak punya hak milik atas tubuh ini.

Setelah memahami cara pandang ini, kita akan memiliki keberanian. Orang yang murah hati pasti punya keberanian. Mereka yang memiliki cinta kasih pasti rela bertahan, bersabar, dan bersemangat dalam segala kondisi. Dalam Jalan Bodhisattva ini, banyak orang yang berjalan dengan satu tekad. Semua ini membutuhkan kesabaran dan semangat dari semua orang. Tidak hanya di Taiwan, di Malaysia pun demikian. Di Kuala Lumpur terdapat suatu kasus yang sangat menggugah dan menyentuh. Meski Kuala Lumpur adalah kota yang cukup maju dan dihuni oleh banyak orang mampu, namun di sana juga ada orang kurang mampu. Di antara yang hidup dalam kondisi sulit ini ada pula yang menderita penyakit. Ini membuat penderitaan mereka semakin berat. Tidak sedikit orang seperti ini di sana. Insan Tzu Chi menemukan sebuah keluarga dengan kondisi demikian. Ada seorang ibu tua bersama putrinya.

Mereka mengidap penyakit keturunan. Sekujur tubuh mereka penuh tumor seperti anggur. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, tubuh mereka ditumbuhi butir demi butir tumor bagaikan buah anggur. Bukan hanya ibu tua yang mengidap tumor ini, putrinya pun demikian. Karena itu, mereka berdua menjadi rendah diri. Banyak orang yang ketakutan melihat mereka, namun tidak begitu dengan insan Tzu Chi. Insan Tzu Chi bukan hanya tidak takut, mereka bahkan memberikan welas asih dan cinta kasih kepada keluarga ini. Insan Tzu Chi sungguh pantang menyerah. Mulanya, ibu dan anak ini menutup diri. Namun, insan Tzu Chi pantang menyerah dan terus mencoba mendekati mereka. Mereka melakukan pendekatan dengan bahasa tubuh dan tutur kata yang lembut. Akhirnya, ibu tua dan putrinya ini perlahan-lahan mulai dapat membuka hati yang sebelumnya sangat tertutup. Mereka dapat menerima insan Tzu Chi.

Setelah memahami kondisi batin mereka, insan Tzu Chi mulai membimbing mereka dengan penuh kesabaran. Setelah jangka waktu yang panjang, ibu tua dan putrinya ini dapat menerima, mampu bangkit kembali, dan hidup mandiri. Karena telah memahami semangat Tzu Chi, kini mereka dapat hidup mandiri dengan membuka  stan di pasar untuk berjualan cabai karena warga di sana gemar mengonsumsi cabai. Di pasar tersebut, mereka memilih titik yang ramai untuk membuka stan cabai. Meski orang yang berlalu-lalang menatap mereka dengan perasaan aneh, namun mereka tak lagi merasa rendah diri. Sebaliknya, mereka selalu tersenyum dan menerima tatapan orang dengan lapang dada. Lambat laun, orang-orang dapat menerima mereka dan mulai membeli dagangan mereka. Kini mereka tak perlu cemas atau khawatir lagi akan kehidupan mereka. Selanjutnya, selain menderita tumor yang bagaikan anggur, tubuh ibu tua ini pun agak bungkuk//dan sulit untuk berjalan. Namun, ia masih dapat mencari nafkah untuk dirinya dan putrinya.

Ia pun telah tersentuh oleh insan Tzu Chi sehingga bertekad untuk turut melakukan daur ulang. Setelah selesai berdagang, ia pun mulai berkeliling pasar untuk mengumpulkan barang daur ulang. Dengan demikian, dahulu ia adalah penerima bantuan, namun kini ia dapat membantu orang lain. Lihatlah, bukankah ini buah dari semangat? Kita harus bersemangat selama memiliki arah hidup yang benar. Kita harus terlebih dahulu//membangkitkan cinta kasih dan berdana. Dalam berdana, kita tak boleh lupa diri. Kadang, materi dapat merusak jiwa kebijaksanaan. Harta, nafsu, dan keinginan akan segala sesuatu dapat membawa kehancuran bagi seseorang. Kita harus tetap menjalani pola hidup yang sederhana dan murni. Kita harus memegang teguh sila. Sila yang kita terima sungguh harus dipegang teguh. Dengan keuletan, ketahanan, dan kesabaran, kita menghadapi penderitaan dan kesulitan.

Jika dapat tetap teguh dan terus maju dalam pelatihan diri, kita tak akan menyimpang. Jadi, Paramita dana, sila, kesabaran, dan semangat, semuanya harus dipraktikkan dengan teguh. Buddha mengajarkan kita bahwa tiada hal yang tak dapat diselesaikan di dunia. Selama kita memiliki tekad dan melakukan tindakan nyata, kita akan dapat menggerakkan banyak orang yang memiliki tekad sama dengan kita untuk berjalan di jalan yang lurus menuju pencerahan dalam hidup ini. Bukankah dalam Sutra Makna Tanpa Batas dikatakan bahwa Jalan Bodhi amatlah lurus? Dalam Sutra Makna Tanpa Batas dikatakan bahwa Jalan Bodhi ini amat lurus dan lapang, tidak sulit ditapaki asalkan kita berpegang pada Enam Paramita atau praktik Enam Kesempurnaan. Jika enam alat ini digunakan dengan baik, maka makhluk awam yang penuh noda batin dan nafsu keinginan seperti kita akan mampu menerjang ombak noda batin ini. Asalkan menggunakan enam alat ini, kita akan sampai di pantai kebahagiaan.

Selain memiliki semangat, kita pun harus mempraktikkan kesabaran, sila, dan dana. Semua ini saling berkaitan dan tak boleh kurang satu pun. Semua itu harus dipraktikkan bersamaan, barulah kita tak akan menyimpang dari jalan pelatihan diri. Jadi, harap semua senantiasa bersungguh hati. Kita harus sungguh-sungguh menjaga tekad kita. Jangan biarkan tekad kita melatih diri pudar dalam kehidupan ini. Tidak mudah untuk terlahir sebagai manusia dan bertemu ajaran Buddha, terutama ajaran Buddha yang murni. Jadi, dalam mempraktikkan Dharma ini, janganlah kita menyimpang sedikit pun. Jagalah tekad melatih diri kita dengan baik. Senantiasalah bersungguh-sungguh. Enam Paramita meliputi dana, sila, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Praktik kesabaran berarti menghadapi berbagai kondisi dengan hati penuh kesabaran. Dengan demikian, kita dapat mencegah kejahatan dan menghentikan keburukan. Memisahkan dengan jelas kepentingan pribadi dan umum, tidak menyimpang sedikit pun, dan berpegang teguh pada sila, inilah yang disebut menjaga kemurnian sila.

Menggunakan kesabaran dan ketahanan sebagai kekuatan untuk memegang sila, barulah dapat selamanya Praktik yang penuh sukacita, keberanian, dan semangat dapat membangkitkan keberanian orang lain dan menumbuhkan tekad mereka untuk melatih diri dan bersama-sama berjalan di Jalan Bodhisattva yang lapang. Jika memiliki arah hidup yang benar, berdana dengan tanpa pamrih, menjalankan sila dengan disiplin, tahan dan sabar terhadap kesulitan, serta bersemangat untuk terus maju, maka pada akhirnya pasti akan memperoleh pencapaian. “Karena tidak tahu bahwa Jalan Bodhi amatlah lurus, ia berjalan di jalan yang berbahaya dan menghadapi banyak kesulitan.” (Sutra Makna Tanpa Batas bab Sepuluh Pahala)

Leave A Comment