[ST-046] 六度萬行 Praktik Enam Paramita
Saudara se-Dharma sekalian, saat duduk di pagi hari setelah melantunkan Sutra, kondisi batin kita pada saat ini seharusnya amat hening dan jernih. Banyak orang yang bertanya, “Apa yang harus dilakukan saat bermeditasi?” “Untuk apa bermeditasi?” Untuk menenangkan pikiran. Ini juga merupakan bagian dari pelatihan diri. Pada masa lampau, banyak guru besar beserta para muridnya yang berlatih Zen. Suatu hari, saat seorang murid sedang bermeditasi, sang guru menghampirinya dan bertanya, “Apa yang kaulakukan?” “Saya sedang bermeditasi.” “Untuk apa bermeditasi?” “Untuk mencapai kebuddhaan.” Beberapa hari kemudian, murid ini melihat sang guru berada di tempat itu sambil memoles batu bata. Sang murid pun merasa aneh, “Mengapa guru memoles batu bata?” Ia pun bertanya, “Guru, mengapa Guru memoles batu bata?” Sang guru tersenyum simpul dan menjawab, “Aku membutuhkan sebuah cermin.”
Sang murid membalas, “Bagaimana bisa batu bata dipoles jadi cermin?” Sang guru kembali tersenyum dan menjawab, “Kalau batu bata tak bisa dipoles jadi cermin, bagaimana dirimu yang hanya duduk bermeditasi//dapat menjadi Buddha?” Seketika itu juga, sang murid pun langsung tercerahkan. Inilah yang disebut ajaran yang mengena. Saya menceritakan koan yang sama, apakah dapat mengena pada diri kalian? Apakah kalian dapat tercerahkan? Itu tergantung kemampuan setiap orang. Bagi saya, saya merasa, “Benar, ingin menjadi Buddha hanya dengan duduk bermeditasi, apakah semudah itu?” Buddha mengajarkan praktik Enam Paramita. Untuk mencapai kebuddhaan, kita harus menyempurnakan Enam Paramita. Kita harus mampu mempraktikkan Paramita dana, sila, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Keenamnya adalah alat untuk melatih diri. Untuk memahat sesuatu, kita memerlukan alat. Begitu pula dalam melatih diri, kita harus memiliki metode.
Metode kita adalah Enam Paramita. Jadi, sebagai praktisi, kita harus terlebih dahulu membuka hati. Terhadap alam semesta beserta isinya, kita harus menghormatinya bagai diri sendiri; merasakan penderitaan semua makhluk//bagai penderitaan sendiri. Jika dapat menyadari keterkaitan semua makhluk, maka dalam memberi bagi semua makhluk tidak akan terasa sulit. Jadi, dalam berdana, Inilah yang disebut memiliki hati yang seluas jagat raya. Dengan begitu, barulah kita dapat memandang semua makhluk terkait dengan kita. Jadi, dalam praktik ajaran Buddha, mengenai berdana, Buddha mengatakan bahwa Beliau memandang semua makhluk bagai Rahula, anak-Nya sendiri. Dengan cinta kasih orang tua, Beliau memandang semua makhluk bagai anak. Inilah yang Buddha ajarkan pada kita, yakni dengan pikiran bagaimana kita harus memandang semua makhluk. Kita harus lebih dahulu membuka hati. Berdana adalah langkah pertama. Dalam berdana, kita tentu harus tetap menaati aturan dan sila. Kebanyakan orang semakin terjerumus karena nafsu keinginan. Jika kita ingin melangkah di Jalan Bodhisattva dengan aman dan lancar, yang terpenting adalah tidak terjerumus dalam nafsu keinginan.
Untuk itu, dari lubuk hati terdalam kita harus senantiasa memegang teguh sila. Untuk memegang teguh sila, kita harus memiliki ketahanan dan kesabaran– tahan akan godaan nafsu keinginan, bersabar menghadapi hasutan orang lain. Kita harus memiliki keterampilan ini agar dapat senantiasa memegang teguh sila. Selain kesabaran, dibutuhkan semangat. Kita bukan hanya harus bersabar atau bertahan, melainkan juga harus bersemangat. Ketika sedang bersabar dan bertahan, kita juga harus berusaha. Bersabar saja tidaklah cukup. Selain sabar, kita harus senantiasa berusaha. Jadi, kita harus bersemangat. Inilah yang harus dimiliki setelah kesabaran. Kita harus memiliki kekuatan untuk maju. Langkah kita tak boleh berhenti. Paramita berikutnya adalah konsentrasi. Tadi saya menceritakan kisah seorang murid yang bermeditasi agar mencapai kebuddhaan dan gurunya yang ingin membuat cermin dengan memoles batu bata.
Demikianlah, jika hanya duduk bermeditasi, namun tidak melakukan apa-apa, maka sama seperti memoles batu bata, meski terus dipoles, ia hanya akan tergerus habis dan tak akan menjadi cermin. Singkat kata, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita hendaknya tidak melekat pada bentuk luar atau sikap meditasi. Sesungguhnya, meditasi//harus dilakukan setiap saat. Para guru Zen zaman dahulu sering berkata bahwa memikul kayu bakar dan membawa air, semuanya adalah praktik Zen; makan dan minum, semuanya adalah praktik Zen. Segala aktivitas mengandung Zen. Arti dari Zen adalah perhatian benar. Kita harus senantiasa menjaga pikiran untuk tetap berada di arah yang benar. Perhatian benar sangatlah penting. Karena itu, kita harus berlatih untuk senantiasa berada dalam keadaan meditasi dalam setiap tindakan dan ucapan kita.
Kita harus senantiasa menjaga pikiran dengan baik, tidak membiarkannya bergejolak ataupun kacau. Contohnya, saat duduk bermeditasi, tubuh kita mungkin tetap tegak, namun apakah pikiran kita berada di Jalan Bodhi? Pikiran ini harus kita jaga setiap saat. Lihatlah, di dalam Tzu Chi terdapat banyak orang yang layak dipuji dan patut disebut Bodhisattva dunia. Kita juga boleh menyebut mereka Bodhisattva pengukir sejarah Tzu Chi. Saya masih ingat di tahun 2001, tepatnya tanggal 18 Mei, pada sore hari terjadi ledakan di sebuah pabrik kimia//di Hukou Industrial Park yang membawa bencana besar bag daerah itu. Ketika insan Tzu Chi mendengar berita ini, mereka segera berkumpul. Para anggota komite dan Tzu Cheng dari Xinzhu segera bersiap untuk memberi perhatian. Ketika melihat kondisi di sana, pabrik kimia tersebut benar-benar luluh lantak. Asap tebal mengepul ke udara, bahan-bahan kimia pun menimbulkan bau di mana-mana. Namun, insan Tzu Chi tetap bergerak mencari tahu kondisi para polisi//dan tim pemadam kebakaran serta para korban yang masih sangat terkejut.
Mereka membagikan minuman dingin karena saat itu cuaca sangat panas. Mereka membagikan berbagai jenis minuman. Setibanya di sana, mereka segera membagikan minuman kepada para polisi dan pemadam kebakaran. Beberapa anggota komite pun segera menenangkan para korban. Insan Tzu Chi merasa waktu begitu cepat berlalu, namun api belum berhasil dijinakkan. Mereka memperkirakan bahwa pekerjaan ini belum akan selesai//hingga waktu makan malam. Karena itu, beberapa komite dan Tzu Cheng segera menyiapkan makanan kecil untuk makan malam para petugas. Setelah selesai menyiapkan, waktu juga sudah cukup malam, sekitar pukul 8 atau 9. Makanan telah diantar ke lokasi dan telah dibagikan. Di sana ada seorang relawan bernama Fan Feng-tian. Setelah mengantar makanan, ia berdiri di tepi jalan sambil menelepon. Tiba-tiba datang sebuah mobil yang tak menyalakan lampu dan tak melihat Relawan Fan di tepi jalan sehingga menabraknya. Ia pun mengalami patah tulang serius dan gegar otak. Tulang wajahnya pun patah. Matanya juga terluka serius. Ia segera dilarikan ke UGD.
Pihak rumah sakit merasa peralatan mereka tidak cukup lengkap. Akhirnya, ia dirujuk ke RS Chang-Gung di Linkou. Saat menerima berita ini, saya sangat khawatir. Kondisinya kedengarannya kurang optimis. Tentu saja, para Tzu Cheng dan komite di daerahnya juga sangat khawatir dan gelisah. Ia tak sadarkan diri selama satu hari. Ketika ia membuka matanya, di tubuhnya terpasang banyak selang. Samar-samar ia melihat banyak insan Tzu Chi berkumpul mengelilinginya. Ia ingat biasanya jika akan mendoakan orang yang meninggal, ada tiga orang Tzu Cheng yang pasti hadir. Saat itu ia melihat dua dari mereka berdiri di antara para insan Tzu Chi. Ia pun berpikir dan mengira bahwa orang-orang datang untuk mendoakannya. Namun, ia tak dapat berbicara karena banyak selang terpasang di tubuhnya. Orang-orang mengira ia belum sadar karena matanya masih bengkak. Maka, ia menggerakkan tangan untuk memanggil orang di sampingnya.
Orang di sampingnya pun terkejut, “Ia sudah siuman, ia sudah siuman!” Ia menggerak-gerakkan tangan seolah memberi tanda bahwa ia ingin menulis. “Kamu ingin kertas?” tanya mereka. Ia membenarkan dengan mengedipkan mata. Mereka pun membawa alat tulis ke sampingnya, dan ia mulai menulis. Ternyata ia menulis, “Waktu saya belum tiba, tidak perlu mengatur pembacaan doa.” Ia begitu optimis. Kemudian, perlahan-lahan kesadarannya pun pulih. Putranya bercerita kepadanya bahwa orang yang menabraknya, Tuan Pan, merasa bersalah. “Saat ia datang, Ayah masih belum siuman.” Tuan Pan ini terus mengatakan kepada putra Relawan Fan, “Saya benar-benar minta maaf.” “Saya sungguh bersalah pada keluargamu, bersalah pada ayahmu karena menabraknya hingga begitu parah.” “Saya sungguh merasa bersalah.”
Ketika putra Relawan Fan melihat Tuan Pan begitu merasa bersalah dan panik, ia pun berkata pada Tuan Pan, “Tenanglah, bagaimana pun kondisi ayah saya, saya kenal betul sifatnya.” “Ia pasti tidak akan menyalahkanmu.” “Ia juga tidak akan meminta ganti rugi.” “Begitulah sifat ayah saya.” “Saya sungguh mengenalnya.” Putranya ini sangat memahami sang ayah, sehingga tidak menyalahkan Tuan Pan. Bukan hanya tidak menyalahkan Tuan Pan// yang mengemudi tanpa menyalakan lampu, ia juga menghiburnya. Ketika ayahnya siuman, ia menceritakan hal ini. Sang ayah pun menjawab, “Saya sangat senang mendengarnya.” “Putra saya tidak mengecewakan saya.” Setelah Relawan Fan membaik, Tuan Pan ini masih sering menjenguknya dan masih merasa bersalah.
Setelah selang-selang dicabut dari tubuhnya, Relawan Fan berkata pada Tuan Pan, “Tak ada dendam di antara kita berdua.” “Anda juga bukan sengaja menabrak saya karena kita tak punya dendam apa-apa.” “Saya juga bukan sengaja berdiri di sana untuk menunggu Anda menabrak saya.” “Ini adalah sebuah jalinan jodoh.” “Semua ini disebabkan oleh jalinan jodoh.” “Karena itu, Anda bisa kebetulan menabrak saya.” “Ini adalah jalinan jodoh.” “Kini sebelah mata saya tak dapat melihat, dan dokter akan melakukan operasi untuk saya.” “Jika terjadi apa-apa pada mata saya, saya juga tak akan menyalahkan Anda.” “Saya pun tak akan meminta ganti rugi.” “Ini hal pertam//yang ingin saya katakan pada Anda.”
“Kedua, saya ingin mengatakan sesuatu dan Anda harus mendengarnya.” “Anda jangan lagi menyalahkan diri sendiri.” “Tiada dendam di antara kita.” “Saya percaya Anda tak sengaja menabrak saya.” “Saya pun bukan sengaja berdiri di sana “Semua ini adalah jalinan jodoh.” “Anda tak perlu merasa bersalah.” Lihatlah, Relawan Fan adalah orang yang berpikiran terbuka. Bahkan, setelah pulih ia bercerita bahwa saat tidak sadarkan diri, sesungguhnya ia tetap sadar. “Saya terus mengingatkan diri sendiri bahwa saya tidak boleh mati sekarang.” “Saya tak boleh meninggalkan Master dan Tzu Chi begitu saja.” Selama itu, orang-orang menganggapnya tak sadarkan diri, namun sesungguhnya ia sadar. “Dalam benak saya terus berpikir dan mengingatkan diri sendiri untuk tidak meninggalkan Master atau meninggalkan Tzu Chi begitu saja.” Pikirannya amat teguh. setelah menjalani operasi mata dan tulang, Ia dirawat di ruang perawatan intensif// selama 4 sampai 5 hari sebelum akhirnya dipindahkan ke kamar biasa.
Saat mengadakan perjalanan di bulan Juni, saya singgah di Xinzhu dan bertanya kepada insan Tzu Chi di sana, “Bagaimana keadaan Relawan Fan?” Mereka menjawab, “Relawan Fan sedang duduk di sana.” Saya sulit untuk memercayainya. Saya melihatnya duduk di tengah kerumunan orang. Saya pun segera berdiri dan menghampirinya. Ternyata ia duduk di kursi roda dengan kaki masih ditopang kayu penyangga. Kakinya masih harus diluruskan, namun ia sudah mengenakan seragam Tzu Cheng. Saya pun berkata, “Kamu tidak kelihatan seperti//orang yang pernah terluka.” Ia menjawab, “Master, Anda tenang saja.” “Saya masih anggota Tzu Cheng.”
Namun, belakangan saya baru tahu bahwa demi membuat saya tenang, ia rela menahan sakit. Untuk dapat mengenakan jas Tzu Cheng, ia harus mengenakan celana panjang dan ini membuatnya sangat kesakitan. Perlu dua jam baginya untuk mengenakan seragam dengan rapi agar saya dapat melihatnya dan merasa tenang. Selain dirinya, ia juga mengajak pasien sekamarnya yang ingin menyumbang 1 juta dolar NT. Pasien itu ingin melakukan ini karena Pasien ini ingin melakukan ini karena ia sering melihat insan Tzu Chi datang dan mendengar percakapan di antara mereka. Mereka seakan bukan berbicara kepada pasien, melainkan berbagi antarsesama Bodhisattva. Karena itu, ia merasa tersentuh dan bertekad seraya berkata, “Melihat saja saya sudah tersentuh, maka saya juga ingin bergabung dengan Tzu Chi.” Ia pun menulis selembar cek yang bernominal 1 juta dolar NT (Rp300 juta). Relawan Fan pun berkata, “Saya tak dapat menerimanya sekarang.” “Master akan datang ke Xinzhu.” “Biar saya ajak Anda bertemu dengannya agar dapat menyerahkan langsung dana ini.” Selain pasien ini, masih ada Tuan Pan.
Meski Relawan Fan tidak meminta ganti rugi, Tuan Pan tetap merasa bersalah. Maka, ia juga berdana beberapa puluh ribu dan diserahkan langsung kepada saya. Beginilah sikap insan Tzu Chi. Bahkan saat berjuang di antara hidup dan mati, pikirannya tidak kacau sedikit pun. Saat insan Tzu Chi lainnya datang menjenguk, ia bahkan masih bisa bercanda. Lihatlah, meski matanya tak dapat melihat, ia masih meminta alat tulis dan menulis, Gurauannya ini membuat para komite dan para Tzu Cheng menjadi gembira. Jika tidak, semua orang akan sangat khawatir. Lihatlah, meski sempat mengalami koma, ia berkata, “Kalian kira saya tak sadarkan diri, namun sesungguhnya saya sadar.” Ia terus mengingatkan dirinya sendiri, ataupun meninggalkan Tzu Chi begitu saja.” Lihatlah, pikirannya begitu teguh. Ia tidak menyalahkan orang yang menabraknya. “Anda juga bukan sengaja menabrak saya.”
“Meski kelak penglihatan saya tak dapat pulih, saya juga tak akan meminta ganti rugi.” Lihatlah, sungguh menyentuh. Inilah Bodhisattva yang senantiasa//berada dalam samadhi. Hatinya amat tenang dan teguh. Ia tahu dengan jelas jalan hidupnya. Ia tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara memperlakukan orang. Lihatlah, musibah yang ia hadapi ini tak mampu menggoyahkan hatinya. Inilah yang disebut konsentrasi. Semoga dalam melatih diri, ketika menghadapi kondisi apa pun, pikiran kita dapat tetap terjaga. Inilah keterampilan yang sesungguhnya. Saudara sekalian, dalam praktik ajaran Buddha, kita harus belajar menjaga keteguhan pikiran. Oleh karena itu, janganlah kita hanya duduk menunggu hingga menjadi Buddha. Ini seperti sindiran sang guru Zen yang memoles batu bata agar menjadi cermin. Yang terpenting adalah kita harus menerapkan metode yang Buddha ajarkan pada kita. Ini adalah alat. Dharma bagaikan alat. Dharma sering diibaratkan sebagai rakit yang dapat membawa kita ke pantai seberang. harap semua orang mengingatnya.
Dharma harus dipraktikkan, bukan untuk dilekati. Jika kita telah tiba di pantai seberang, namun masih tak mau beranjak dari rakit, maka kita tak akan dapat menapak di pantai itu. Karena itu, saya sering berkata bahwa kita harus bersumbangsih dengan tanpa pamrih. Ketika kaki yang satu menapak,// kaki yang lain harus melangkah. Kita harus menunaikan kewajiban dengan baik. Janganlah berpikir bahwa kita telah berbuat banyak dan sudah sangat luar biasa. Sesungguhnya, tiada yang patut dilekati. Semuanya akan berlalu. Lihatlah, meski Relawan Fan harus menjalani pemulihan yang berat selama kurang lebih setahun dan selama itu ia tidak dapat berkegiatan bersama para relawan, namun ia terus berbagi dengan semua orang bahwa kehidupan sungguh tidak kekal, bahwa penyakit merupakan penderitaan.
Ia juga berbagi tentang cara dirinya mengatasi rasa sakit dan tetap bahagia. Ia berbagi metode membangkitkan sukacita// di tengah rasa sakit. Jadi, ia juga merupakan teladan bagi kita dalam mempelajari ajaran Buddha. Inilah meditasi. Meditasi tak lepas dari keseharian. Meditasi harus ada dalam setiap aktivitas. Jadi, harap semua orang senantiasa menjaga pikiran dengan baik. Keteguhan pikiran adalah Zen. Senantiasalah bersungguh-sungguh. Praktik Enam Paramita adalah metode pelatihan diri Bodhisattva, secara luas disebut praktik berbagai kebajikan, secara khusus disebut praktik Enam Paramita, dapat menyeberangkan semua makhluk dari lingkaran kelahiran dan kematian yang penuh penderitaan ke pantai kebahagiaan Nirvana. Membuka hati dengan berdana, menjaga arah pelatihan diri dengan menjalankan sila, meneguhkan tekad dengan kesabaran, mencapai kemajuan dengan semangat.
Senantiasa berada dalam perhatian benar dengan pikiran yang terpusat dan tak tergoyahkan, inilah yang disebut samadhi. Berjalan di jalan benar dengan keteguhan hati, tak tergoyahkan oleh musibah apa pun, inilah yang disebut melatih diri dalam samadhi. “Ketahuilah bahwa Dharma yang Kubabarkan bagaikan sebuah rakit. Jika Dharma sendiri pada akhirnya harus dilepaskan, maka terlebih lagi yang bukan Dharma.” (Sutra Intan bab 6) Dharma ibarat sebuah rakit. Kita menggunakannya untuk menyeberangi sungai kelahiran kembali. Setelah tiba di pantai seberang, kita harus meninggalkan rakit untuk dapat menapak di daratan. Karena itu, hendaknya tidak terlalu melekat.