[ST-051] Melakukan Perbuatan Benar Tanpa Kemelekatan di Hati
Saudara se-Dharma sekalian, waktu berlalu seperti musim silih berganti. Dalam kehidupan ini tidak ada yang kekal. Kemarin malam, pagi hari, besok, dan lusa, bukankah pergantiannya terjadi sangat cepat? Dalam sekejap, hari sudah malam, dan segera setelah itu, hari sudah kembali terang. Sungguh berlalu sangat cepat. Terutama masa kehidupan kita, dari musim semi hingga musim dingin, waktu satu tahun berlalu cepat sekali. Begitu pun tubuh kita, kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian sesungguhnya berlangsung berapa lama? Kita tidak dapat mempertahankan masa muda ataupun keadaan yang tetap prima selamanya, dan belum tentu kita dapat mencapai masa tua yang penuh ketenteraman. Kita tak berdaya menghadapi semua hal ini. Maka, Buddha menyampaikan bahwa kehidupan tidaklah kekal,// bumi sangatlah rentan. Maka, sebagai praktisi Buddhis, kita perlu menyadari sepenuhnya bahwa segala sesuatu di dunia senantiasa diliputi oleh ketidakkekalan.
Karena itulah kita selalu mengatakan agar manusia janganlah terus diliputi kerisauan dan selalu berhitungan dengan orang lain. Meski kita terlalu risau atau perhitungan, hidup tetaplah tidak kekal, bahkan akan terus mengalami penderitaan. Dalam belajar ajaran Buddha, kita belajar agar dalam setiap hari yang kita lewati, apa pun kondisi yang kita hadapi, kita tidak merasa risau. Dapatkah kita menghapuskan kerisauan dalam kehidupan di dunia ini? Sangat sulit. Karena sulit melepas kerisauan, kita pun menderita. Karena itu, meskipun sulit melepasnya, setelah mengetahui penderitaan yang diakibatkan, tidakkah sebaiknya kita berusaha melatih pikiran? Pelatihan diri adalah jalan agar hati kita sungguh-sungguh belajar. Ada banyak hal yang harus dipelajari dalam hidup. Sebelumnya kita telah membahas perlunya// melenyapkan noda batin, mengubah noda batin menjadi Bodhi. Untuk itu, kita perlu mempraktikkan Empat Pikiran Tanpa Batas dan Enam Paramita. Telah dibahas bahwa “Paramita” berarti menyeberang atau “tiba di pantai seberang”. Kita harus memanfaatkan Dharma untuk mentransformasi batin kita.
Karena itu, enam metode ini juga disebut disebut enam Paramita enam latihan penyempurnaan diri. Setelah itu, kita harus memiliki Empat Pikiran Tanpa Batas untuk melatih pikiran kita. Cinta kasih tanpa batas,//welas asih tanpa batas, sukacita tanpa batas,//dan keseimbangan batin tanpa batas. Kita harus memiliki Empat Pikiran Tanpa Batas ini. Dalam cinta kasih agung tak ada penyesalan. Setelah memilih untuk berjalan di Jalan Bodhisattva dunia ini, kita bertujuan untuk membahagiakan semua makhluk. Meski untuk itu kita harus menderita, tetap tidak ada penyesalan. Welas asih agung tanpa keluh kesah. Untuk menyelamatkan semua makhluk dari penderitaan mereka, terkadang kita sendiri harus menghadapi bahaya. Meski demikian, kita tidak mengeluh. Kita juga harus memiliki// sukacita agung tanpa kerisauan.
Dalam banyak hal, selama kita telah melakukannya dengan benar, maka sumbangsih ini akan membawa kebahagiaan bagi makhluk lain dan kita sendiri pun akan turut berbahagia. Apa pun wujud sumbangsih kita, jika makhluk lain terbebas dari penderitaannya, kita pun turut merasa beban kita terangkat. Kita tak berkeluh kesah sedikit pun. Saat melihat kebahagiaan makhluk lain dan melihat mereka terlepas dari penderitaan, kita turut bersukacita. Inilah yang juga disebut// Pikiran positif dalam kehidupan seperti ini haruslah kita bangkitkan dalam batin. Jika tidak, kita akan terjebak pada pemikiran, “Saya telah membantu dan menolong Anda, apa timbal baliknya untuk saya?” Pikiran demikian membuat kita tidak bahagia. Seharusnya, saat kaki yang satu menapak, kaki yang lain harus melangkah maju. Setelah membantu orang lain, tidak perlu membesar-besarkannya, cukup lakukan saja.
Dengan demikian hati kita akan tetap jernih dan bebas dari noda batin. Noda batin bukanlah kerisauan semata. Perasaan gembira juga merupakan noda batin. Perasaan senang maupun sedih,//keduanya termasuk noda batin. Karena itu, hati kita harus sering dibersihkan dari hal yang telah berlalu. Apa pun yang telah kita capai pada hari kemarin, tidak perlu terus-menerus kita simpan dengan penuh kebanggaan dalam hati. Hal apa pun yang membuat kita risau kemarin, tidak perlu terus kita pendam dalam hati, hingga mengendap di sana dan tak dapat kita lepaskan lagi. Janganlah seperti itu. Dalam kehidupan, sebagian besar hal yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita, ada banyak sekali penderitaan, Tetapi hidup terus berjalan dan kita harus namun kita harus dapat terus menjalani kehidupan ini// sebagaimana waktu yang terus bergulir dan empat musim yang terus berganti.
Kita harus seperti waktu yang bergulir, terus berjalan tanpa melekat pada sesuatu. Dan kita harus senantiasa menjaga hati baik-baik. Setelah bersumbangsih, jangan melekatinya, hati pun menjadi tenteram dan damai. Inilah yang disebut sukacita, hati senantiasa damai tanpa beban. Untuk meraih kondisi ini, harus ada keseimbangan batin– melepaskan kerisauan beberapa momen yang lalu. Baik kebahagiaan maupun kerisauan, semuanya harus dilepaskan. Inilah yang perlu dipelajari para murid Buddha bila ingin melangkah di Jalan Bodhisattva dengan tanpa penyesalan, tanpa keluh kesah,// tanpa kerisauan, dan tanpa pamrih. Jika keseimbangan batin ini terus dikembangkan maka kita pun akan terbebas dari kemelekatan, dan hati kita benar-benar murni dan jernih. Empat Pikiran Tanpa Batas dan Enam Paramita disebut sebagai “perbuatan benar” dan harus dipraktikkan semua murid Buddha. Batin hendaknya tanpa pamrih, tidak melekat pada segala fenomena. Meski telah berbuat banyak, hati tetap tidak melekat atau terbelenggu.
Perbuatan seperti inilah yang disebut perbuatan benar. Selain itu, masih ada pula “37 Faktor dalam Mencapai Pencerahan”. Di awal kita telah membicarakan perbuatan benar, maka di akhir tetap dibutuhkan dorongan. Meski telah bangkit Bodhicitta dalam hati, kita tetap harus menjalankan praktik dengan teguh. Namun, di alam manusia, jalan ini sungguh sulit dilalui, karena kita semua merupakan makhluk awam. Sungguh sulit bagi makhluk awam untuk menapaki Jalan Bodhisattva. Jika kita tidak dapat mempertahankan tekad yang ada dalam hati kita, dan jika keyakinan kita tidak kuat, kita akan dengan mudah jatuh ke dalam perangkap di sekeliling kita. Maka, kita masih membutuhkan 37 faktor yang mendukung pencapaian pencerahan. 37 Faktor yang Mendukung Pencapaian Pencerahan: – Empat Landasan Perenungan – Empat Usaha Benar – Empat Dasar Keberhasilan – Lima Akar, Lima Kekuatan – Tujuh Faktor Pencerahan – Jalan Mulia Beruas Delapan Tiga puluh tujuh faktor ini terdiri atas Empat Landasan Perenungan, Empat Usaha Benar, Empat Dasar Kekuatan Batin, Lima Akar, Lima Kekuatan, Tujuh Faktor Pencerahan, dan Jalan Mulia Beruas Delapan. Semuanya berjumlah tiga puluh tujuh faktor. semua itu berjumlah tiga puluh tujuh faktor. Yang pertama adalah “Empat Landasan Perenungan”.
Saudara sekalian, begitu kita mendengar istilah ini, semua mungkin dapat menjabarkan isinya. Empat Landasan Perenungan adalah 4 metode yang membimbing manusia untuk memusatkan perhatian dan melenyapkan pandangan salah, terdiri atas perenungan terhadap kotornya tubuh ini, perenungan bahwa perasaan membawa derita, perenungan atas tidak kekalnya pikiran, dan perenungan bahwa segala fenomena adalah tanpa inti. Dalam Empat Landasan Perenungan, apakah yang menjadi objek perenungan pertama? “Merenungkan kotornya tubuh ini”. tubuh adalah sumber dari berbagai kejahatan. Banyak sekali karma buruk yang diciptakan melalui tubuh ini. Terdahulu telah dibahas bahwa melalui tubuh ini dapat tercipta sepuluh kejahatan– Sepuluh Kejahatan: – Karma buruk melalui tubuh: Membunuh, mencuri, berbuat asusila – Karma buruk melalui ucapan: Berkata-kata kasar, berdusta, berkata-kata kosong, bergunjing – Karma buruk melalui pikiran: Ketamakan, kebencian, kebodohan 4 lewat ucapan, 3 lewat tubuh, 3 lewat pikiran. Seluruhnya menjadi sepuluh kejahatan. Ketika pikiran mulai menyimpang, makhluk awam mulai menciptakan karma buruk antara lain empat karma buruk melalui ucapan.
Sebagai makhluk awam, setiap perbuatan kita terus menciptakan karma buruk dan kesalahan. Hal ini telah kita bahas sebelumnya. Tabiat buruk makhluk awam bersumber dari ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Renungkanlah, semuanya adalah akibat dari adanya tubuh ini. Ketika niat dan pikiran mulai muncul, maka tubuh pun melakukan keburukan. Ketika muncul pikiran yang keliru, maka kita pun mengucapkan dusta,// perkataan kosong, dan ucapan buruk. Semua ini karena kita memiliki tubuh. Dengan demikian, maka tubuh ini adalah sumber dari segala kejahatan. Namun, di sisi lain, jika tubuh ini dapat dimanfaatkan dengan baik, ia merupakan sarana melatih diri. Kita sangat membutuhkan tubuh ini untuk menjalankan pelatihan diri. Kita harus menggenggam setiap saat, menghargai setiap jalinan jodoh, dan menjaga setiap kesempatan. Tubuh juga dapat digunakan untuk mengucapkan perkataan yang baik.
Sebagaimana di Rumah Sakit Tzu Chi, kita melihat banyak pasien yang depresi. Mereka sakit secara fisik dan batin. Penyakit fisik ditangani oleh dokter dan dirawat oleh tim medis, sementara penyakit dalam batin, butuh pendampingan para relawan. Rasa tidak tega melihat penderitaan orang lain Karena iba melihat penderitaan orang lain, para relawan menghibur dan mendampingi pasien. Untuk melakukan hal ini, kita perlu mengajak mereka berbicara dan menghapus kerisauan dalam hatinya. Inilah alasan mengapa memiliki tubuh ini juga merupakan hal yang baik, karena dapat digunakan untuk menenteramkan hati orang lain yang sedang menderita. Di Tzu Chi, kita juga bertujuan mendidik yang kaya, membantu yang miskin. Kita perlu membimbing orang yang kaya, bahwa dalam kondisinya yang penuh berkah, ia hendaknya melakukan perbuatan baik. Setelah melakukan kebaikan, tidakkah tubuh mereka merasa lelah? Hal ini tidak terhindarkan, namun dalam hati penuh kegembiraan. “Tak disangka, membantu orang lain// ternyata sangat membahagiakan.” Kita sering mendengar orang berkata demikian.
Terhadap orang-orang yang kaya secara materi juga yang memiliki fisik sehat, kita harus mengarahkan mereka untuk melakukan perbuatan baik. Terhadap orang yang sakit dan tertekan, kita harus mendampingi dan menguatkan mereka agar fisik dan batin mereka pulih kembali. Semua ini dilakukan melalui ucapan kita. Ucapan yang baik dapat membimbing orang lain. “ucapan yang baik” dapat membimbing orang lain. Ada banyak orang yang menderita, maka kita harus bergerak membantu mereka. Bila mereka ada di tempat yang dekat, kita harus mengulurkan tangan untuk membantu. Bila tempatnya jauh, // kita harus bersatu hati dan tetap berusaha menjangkau mereka. Tak peduli seberapa pun jauhnya, kita bahkan dapat menyeberangi batas negara. Semua ini juga berkat adanya tubuh ini. Tubuh ini dapat melakukan banyak kebaikan. Bantuan bencana internasional merupakan wujud kebaikan berkat adanya tubuh ini. Saudara sekalian, tubuh kita ini dapat menciptakan perbuatan baik dan buruk. Kita harus memanfaatkannya dengan baik, namun janganlah melekat padanya.
Kita tidak mempunyai hak milik atas tubuh, karena dengan bergulirnya waktu, bergantinya musim, tubuh kita ini pun berubah dari anak-anak menjadi remaja, setengah baya, dan akhirnya menjadi tua. Tubuh dan kondisi kita tidak dapat dihentikan di suatu saat yang paling kita sukai. Itu hal yang mustahil. Selain tubuh tak dapat terlepas dari proses alami hidup dan mati, kita pun tak dapat memastikan berapa lama tubuh ini akan bertahan. Tidak dapat dipastikan. Tidak seorang pun yang mengetahui panjang pendeknya usia manusia. Namun, kita dapat menentukan makna hidup serta kedalaman dan keluasannya. Ini semua tergantung pada apa yang kita lakukan dalam memperkaya kehidupan kita serta memperdalam dan memperluas maknanya. Ini tergantung cara kita menggunakan hidup. Jalan hidup kita harus diperluas. Jalan yang paling luas adalah Jalan Bodhisattva.
Dalam Sutra Makna Tanpa Batas dikatakan bahwa Jalan Bodhisattva amatlah lapang dan lurus. Jalan Bodhisattva ini adalah jalan yang sangat luas dan lapang, serta sangat lurus. Maka, jika kita mau memanfaatkan hidup dan tubuh ini untuk melangkah di jalan Bodhisattva, kita harus menguatkan tekad serta hati yang teguh untuk melangkah maju. Hanya dengan menggunakan tubuh inilah kita dapat melangkah di Jalan Bodhisattva. Panjang pendeknya usia tak dapat dikendalikan, namun makna kehidupan dapat diperluas. Manfaatkanlah tubuh ini sebaik-baiknya untuk melakukan yang harus dilakukan, kembangkan nilai kehidupan, dan berjalan di Jalan Bodhi yang lapang. Dengan mempraktikkan Enam Paramita, kita menggunakan ajaran Buddha untuk menyeberangi lautan noda batin menuju pantai seberang,// yakni tingkat kesucian. Tanpa tubuh ini, kita tak akan dapat mempraktikkan ajaran Buddha. Karena itu, bila tidak memakai tubuh ini// untuk mencerahkan diri sendiri, kapan kita akan mempunyai kesempatan lagi? Tubuh ini memungkinkan kita menggunakannya untuk mencapai pencerahan dan menuju tingkat kesucian.
Karena itu, kita harus sungguh-sungguh memahami penggunaan tubuh ini. Hanya saja, tubuh ini sungguh kotor dan tidak suci. Bilamana kita melihat ke seluruh dunia, di negara-negara tertinggal, masyarakatnya hidup menderita, di tengah kurangnya air dan kondisi yang buruk. seperti kekurangan air kekurangan air dan kondisi hidupnya buruk. Tubuh setiap orang baik yang sehat maupun sakit sama-sama sangat kotor. Sementara kita yang tinggal dalam kondisi baik dan memiliki lingkungan yang penuh berkah, dapat mandi dan menjaga kebersihan diri setiap hari, itu pun karena tubuh kita dalam kondisi sehat. Saat kita sedang sakit, kita pun merasa tersiksa. Para relawan komite Tzu Chi secara bergiliran// mengunjungi bangsal rumah sakit, dan kesan dari apa yang mereka lihat sangatlah dalam. Penyakit tak membedakan status sosial. Begitu kita jatuh sakit, maka segala kotoran di dalam tubuh kita akan mengalir keluar dari sembilan lubang tubuh. “Kotoran mengalir di sembilan lubang.” Selain itu, jika memiliki penyakit kronis yang berlangsung untuk waktu lama, meski mempunyai banyak uang, memiliki anak-anak yang berbakti, ataupun memiliki pengasuh yang merawat, namun luka dan barah tetap dapat muncul. Pada saat itu bagaimana pun dokter berusaha merawatnya, luka akan tetap membusuk.
Saat kita memasuki kamar pasien, hanya dari bau yang tercium, kita dapat langsung mengetahui bagaimana kondisi pasien itu. Jadi, kita harus menyadari bahwa bau yang paling busuk berasal dari tubuh kita dan zat paling kotor juga berasal dari tubuh kita. Itulah sebabnya tubuh dikatakan kotor. Dalam kehidupan ini, kita selalu berselisih akibat tubuh yang kotor ini, mencari cara menghias tubuh yang kotor ini, mencari kesenangan bagi tubuh yang kotor ini. Sungguh memprihatinkan. Manusia bekerja keras seumur hidup hanya untuk kepentingan tubuh ini. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus dapat melihat dengan jelas// kebenaran dalam kehidupan. Kehidupan dan tubuh yang kita miliki ini harus digunakan untuk mempelajari kebenaran, bukan justru untuk menciptakan karma buruk. Jika tidak demikian, kita akan terus terperangkap dalam 6 alam. Maka, kita semua harus selalu mawas diri dan terus merenungkan betapa kotornya tubuh ini.
Mempelajari ajaran Buddha berarti harus memahami kebenaran hidup, menyadari ketidaksucian tubuh ini, dan memanfaatkannya sebagai sarana melatih diri, bukan malah menghalangi pelatihan diri. Kebajikan maupun kejahatan ditentukan oleh pikiran. “Merenungkan bahwa perasaan membawa derita.” Perasaan sungguh membawa penderitaan, terlebih lagi bagi orang yang sakit. Besides the tormenting physical pain, Selain penyakit yang mendera tubuh, mereka juga mengalami siksaan batin. Ada orang yang meski masih memiliki kesadaran, namun seluruh organ gerak dan sistem sarafnya telah lumpuh. Mereka sadar, namun tak dapat merespon, tak dapat mengungkapkan perasaan mereka. Bayangkanlah betapa berat penderitaan itu. Sewaktu kita sehat, dalam banyak permasalahan kita dapat mengungkapkan ketidaksukaan kita, ketidakbahagiaan kita, atau memperlihatkan bahwa kita sedang marah. Kita dapat mengekspresikan emosi kita. Ketika seseorang sadar, tetapi tidak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri, kondisinya sungguh menderita. Perasaan seperti itu tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan bagi orang yang sehat seperti kita, saat menghadapi manusia, masalah, dan materi, berharap menemukan yang benar-benar sesuai dengan keinginan kita juga bukan hal yang mudah.
Karena itu, dalam kehidupan ada banyak perasaan yang menyebabkan banyak penderitaan. Bahkan saat sedang gembira,// adakalanya kita lupa diri dan akhirnya menderita. Banyak kerisauan batin kita berasal dari perasaan yang lalu memengaruhi perkataan dan perbuatan. Sebagai seorang praktisi ajaran Buddha kita dapat memahami hakikat perasaan ini, dan dengan sendirinya dapat membuka hati berpikir positif, merasa puas dan bersyukur serta bersikap toleransi, penuh pengertian,// mengenal rasa puas, bersyukur. Seorang praktisi spiritual harus senantiasa mawas diri terhadap perasaan-perasaan yang timbul. Saya sering mengingatkan semua orang untuk mempraktikkan empat sikap tersebut. Insan Tzu Chi menyebutnya “Empat Ramuan Berkhasiat”. Benar, kita harus selalu pengertian, bertoleransi, bersyukur, merasa puas. Jika kita selalu mengingat empat hal ini, maka segala hal yang ada di dunia ini, baik manusia, masalah, ataupun materi, tidak ada lagi yang dapat mengusik kita. Seorang praktisi Buddhis harus menerapkan ajaran Buddha dalam keseharian dan menggunakan Dharma untuk mengatasi berbagai gelombang perasaan. Banyak kerisauan timbul akibat perasaan.
Baik perasaan sedih maupun gembira sama-sama membawa kerisauan. Jika dapat menyadari bahwa perasaan membawa derita, bersikap puas diri, bersyukur, penuh pengertian, dan toleransi, maka akan dapat mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan. materi berikutnya adalah merenungkan pikiran Berikutnya adalah pikiran. Pikiran bersifat tidak kekal. Coba amati,// apakah ada hal yang kita sukai selamanya? Saat menyukai sesuatu, apakah rasa ini akan terus bertahan? Sangat sulit.// Bahkan orang yang paling kita sukai juga kerap menjadi sumber penderitaan kita. Justru melalui interaksi antarmanusialah timbul kebencian dan dendam. dalam hati kita janganlah ada pikiran, “Asalkan saya senang, semua boleh dilakukan.” Pemikiran seperti ini tidak benar. Makhluk awam sering mengikuti hawa nafsu dan melakukan apa pun yang mereka suka. Hal ini tidak benar. Janganlah demi kesenangan sesaat, melakukan hal yang akan membawa penyesalan. Janganlah berbuat begitu.
Jadi, kita harus bersumbangsih dengan ikhlas. Kita harus bertekad dan berikrar untuk bebas dari penyesalan dan keluh kesah, bersumbangsih bagi semua makhluk dengan sukarela. Janganlah berpikir karena kita senang melakukannya, lantas tidak lagi memedulikan hal lainnya. Ini tidaklah benar. Pikiran kita dapat menjadi sangat menakutkan. Pikiran manusia senantiasa berubah dan tidak kekal. Janganlah biarkan noda batin timbul akibat fenomena dan kondisi luar. Dengan menyadari ketidakkekalan, kita akan dapat membangun ikrar agung untuk bersumbangsih dengan sukarela bagi semua makhluk. “Merenungkan bahwa segala fenomena tanpa inti.” Di dunia ini, adakah “aku” yang kekal? Apakah aku yang kemarin atau hari ini? Setiap detik terus berlalu, segala sesuatu terus berubah, pada saat yang manakah aku yang sejati berada? Tidak ada. Terlebih lagi, dalam kehidupan ini, tiada yang tahu berapa lama kita akan hidup. Entah berapa banyak waktu yang dimiliki sang aku ini untuk hidup.
Dan berapa lama pula waktu berlangsungnya perasaan yang dialami oleh sang aku? Apakah perasaan ini dapat memilih untuk hanya terus merasakan yang disukai saja? Sangatlah sulit. Maka, kita harus merenungkan bahwa segala fenomena adalah tanpa inti. Segala materi di dunia terbentuk dan lenyap mengikuti jalinan jodoh dan kondisi. Jika dapat memahami bahwa segala fenomena adalah tanpa inti yang kekal, maka kita akan dapat meneguhkan pikiran kita pada Dharma dan jalan pelatihan diri. Dalam mempelajari ajaran Buddha,// kita harus mengetahui bahwa praktik yang benar tak lepas dari Enam Paramita dan Empat Pikiran Tanpa Batas. Maka, kita harus mempraktikkannya dengan baik. Empat Landasan Perenungan selalu ada pada diri kita setiap saat. Amatilah bahwa tubuh ini tidak suci. Kita selalu bersama tubuh kita ini, maka kita harus selalu mengamati tubuh ini bahwa ia kotor dan tidak suci. Karena itu, janganlah terlalu melekat terhadap perasaan-perasaan yang timbul dari tubuh ini. Kita harus senantiasa bersungguh-sungguh.