Sanubari Teduh

[ST-052] Menjaga Pikiran Dengan Sungguh-sungguh

Saudara se-Dharma sekalian, apakah setiap hari kita telah melakukan refleksi ke dalam diri? Setiap hari kita selalu sibuk dan larut menghadapi lingkungan di luar diri kita dan terpengaruh oleh perubahan kondisi luar sehingga dengan mudah kehilangan hakikat diri dan kehilangan arah hidup kita. Makhluk awam kehilangan hakikat dirinya. Justru karena setiap manusia telah kehilangan hakikat alaminya, maka mereka disebut sebagai makhluk awam. Namun manusia pun memiliki jalinan karma. Setelah terlahir sebagai manusia dan menapaki jalan Buddha, kini kita harus mulai berintrospeksi diri untuk menemukan kembali jati diri dan mengembalikan cahaya hakikat diri. Hal ini adalah yang terpenting dalam mempelajari ajaran Buddha. Maka, meski setiap hari kita sangat sibuk dan larut dalam menghadapi kondisi di luar, namun hati kita harus senantiasa memiliki kesadaran untuk melakukan refleksi diri. Ini adalah yang paling penting. Sebelumnya kita telah membahas bagaimana agar orang dapat menemukan kembali hakikat sejati mereka? Empat Pikiran Tanpa Batas: -Cinta kasih tanpa penyesalan -Welas asih tanpa keluh kesah -Sukacita tanpa kerisauan -Keseimbangan batin tanpa pamrih Enam Paramita: -Dana -Disiplin Moral -Kesabaran Sebelumnya kita sudah membahas tentang// Empat Sifat Luhur dan Enam Kesempurnaan. 4 Sifat Luhur adalah Empat Pikiran Tanpa Batas, Enam Kesempurnaan adalah Enam Paramita.

Kita telah memahami semuanya. Berikutnya kita akan membahas 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Sebelumnya, kita telah membahas tentang Empat Landasan Perenungan. Empat Landasan Perenungan menyangkut hal-hal paling mendasar yang terdapat dalam keseharian kita. Dalam kehidupan kita, adakah saat yang tidak bersinggungan dengan prinsip-prinsip ini? Terhadap tubuh,// renungkanlah bahwa ia kotor dan tidak suci. Jika setiap orang lebih bersungguh-sungguh untuk mengamati dan merenungkan tubuh fisik ini, bukankah terlihat bahwa tubuh ini memang kotor? Pada musim panas yang terik, tubuh kita pun berkeringat. Sejak pagi hingga siang, keringat mengalir hingga tubuh pun mulai berbau. Itulah sebabnya kita harus mandi tiap hari. Kadang-kadang ketika orang berkumpul, juga akan tercium aroma tidak sedap. Dari manakah datangnya bau tersebut? Ternyata berasal dari tubuh orang-orang itu.

Saudara sekalian, di antara orang-orang yang berkumpul bersama, dari luar semuanya tampak bersih, namun bila sekelompok besar orang berkumpul dalam satu lokasi, dengan sendirinya kita akan merasa udara sesak dan pengap, atau ada bau tidak sedap. Saya yakin setiap orang pernah mengalami hal ini. Oleh sebab itu, saya sering mengatakan, dalam kehidupan ini yang paling kotor, paling tidak suci, dan bau adalah tubuh manusia. Karena itu, kita harus senantiasa merenungkan bahwa tubuh kita adalah kotor dan tidak suci. Bahkan orang sehat yang dapat merawat tubuhnya sendiri sekalipun, tetap saja tubuhnya tidak bersih, apalagi saat seseorang jatuh sakit atau terluka. Saat berkunjung ke Bangsal Perawatan Paliatif Teratai Hati, saya mendapatkan banyak sekali kesan. Saat saya tiba di pintu masuk bangsal, tampak seorang laki-laki duduk di depan ruang kebaktian Buddha. Saat melihat saya, dengan tulus dan khidmat ia pun berdiri.

Ia mengenakan pakaian rawat rumah sakit, dan dari pakaiannya itu saya pun mengetahui bahwa ia adalah pasien. Tetapi, dari sikap dan perilakunya, ia tampak sangat damai dan tenteram. Saya bertanya padanya, “Mengapa Anda duduk di sini?” Sambil menunjuk dengan tangannya, ia menjawab, “Saya dirawat di dalam sana.” Yang dimaksud olehnya adalah Bangsal Perawatan Paliatif Teratai Hati. Ia tak tampak seperti pasien kanker stadium lanjut. Meskipun ia sangat kurus, tetapi ekspresi wajahnya penuh kedamaian. tapi ekspresi wajahnya penuh kedamaian. Ia selalu tersenyum dan sangat tenang, seolah menanti sesuatu yang sangat suci dan sakral. Kondisinya begitu damai. Setelah saya mengucapkan salam, saya masuk ke bangsal perawatan. Sejak mulai masuk ke dalam, hati saya pun semakin berat melihat para pasien yang berjuang melawan sakit. Para dokter merawat mereka sepenuh hati. Bila kita berbicara dengan para pasien ini, entah apakah mereka dapat mendengarnya.

Kalaupun bisa mendengarnya, entah berapa banyak ungkapan hati mereka yang tak mampu tersampaikan. Para dokter dan perawat berupaya dengan keras. Kemudian, saya melihat para keluarga pasien yang menunggu di depan pintu. Mereka seperti sedang berharap saya akan mengunjungi ruang keluarga mereka. Ketika saya masuk ke ruangan, terlihat ada empat ranjang pasien. Setiap ranjang ditempati oleh pasien dengan kondisi yang berbeda-beda. Yang pertama, tampak seorang nenek. 00:09:49:14  00:09:56:03 The first one I saw was an elderly grandma Nenek ini sepertinya ada dalam kondisi antara sadar dan tidak sadar. Namun, bila dipanggil, ia akan membuka matanya. Keluarganya berkata kepadanya, “Lihat siapa yang datang untuk menjengukmu.” “Kamu benar-benar penuh berkah.” Mendengar hal tersebut, ia membuka matanya dan tersenyum kepada saya, tetapi ia kelihatan lelah. Ia tampak penuh kerisauan. Saya mendoakannya hingga keluarganya berbahagia. Kemudian saya menuju ranjang seberang yang tirainya tertutup.

Ketika saya menyingkap tirainya, terlihat seorang anak kecil duduk di lantai bersama dengan semangkuk mi. Ia tampaknya belum bisa memakai sumpit, dan mencoba memakan mi dengan sendok, terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Kita semua tahu jika mi dimakan dengan sendok, maka mi akan terus terjatuh. Anak ini begitu sungguh-sungguh menyendok mi berulang-ulang, dan mulutnya terus terbuka lebar, namun mi itu terus jatuh kembali. Saya berjalan mendekat dan berkata, “Anak yang benar-benar menggemaskan.” Di ranjang tampaknya ada seorang bapak tua yang berusaha duduk, namun hal itu sangat sulit baginya karena cairan memenuhi rongga perutnya. Tetap saja ia berusaha keras dengan segenap daya untuk duduk. Saya berkata kepadanya, “Apakah Anda merasa baikan?” Ia berkata, “Lumayan.” Ketika melihat perutnya yang menggembung, saya menjulurkan tangan untuk mengelusnya. Terasa sangat keras. Kemudian saya bertanya kepadanya, “ Apakah anak ini cucu Anda?” Ia agak malu saat menjawab, “Bukan, ia adalah putra saya.” “Kenapa beda umurnya jauh sekali?” Ia menerangkan kepada saya, “Saya baru menikah saat sudah berumur dan terlambat berkeluarga.” “Itulah sebabnya putra saya masih kecil.”

Kemudian saya melihat seorang perempuan duduk di seberangnya dan kelihatan masih sangat muda. Saat melihatnya, saya mengetahui bahwa perempuan ini mengalami keterbelakangan mental. Jelaslah dalam keluarga ini, bila sesuatu terjadi pada sang ayah, keluarga ini pun tak dapat melanjutkan hidup. Maka, dalam hati saya berniat, setelah kembali akan menyampaikan pada relawan dan staf untuk mendalami keadaan keluarga ini dan lebih memerhatikan mereka, karena kondisi perut sang ayah sudah menggembung sangat besar, warna kulitnya sudah kecokelatan tidak normal. Karena itu, saya mengkhawatirkan keluarga ini. Saya bertanya kepadanya, “Apakah ia anak Anda satu-satunya?” Ia berkata: “Ada seorang lagi yang berusia 13 tahun, yang adalah anak sulung saya.” Dengan keadaan demikian, bagaimana ia dapat dengan ikhlas meninggalkan kehidupan ini? Sungguh tak mudah baginya.

Namun, keadaan tubuhnya sungguh di luar kendalinya, meski para dokter dan perawat telah berusaha maksimal untuk membantunya. Ada seorang pasien yang lebih muda, sepertinya baru berusia 40-an tahun. Tubuhnya kelihatan bugar. Mengapa ia bisa sakit dan dirawat di bangsal paliatif? Dapat dibayangkan, kondisinya pasti sangat serius. Ketika saya sedang berbicara dengan mereka, terdengar suara teriakan dari ruangan seberang, sedang memanggil-manggil. Saya pergi untuk melihat pasien tersebut. Ketika saya menyingkap tirai, terlihat seorang relawan Tzu Chi di sana sedang berupaya menenangkan pasien, mengatakan, “Ia tidak pergi jauh dan akan segera kembali.” Saya bertanya-tanya siapa yang ia maksud, seorang perawat memberi tahu, “Nenek ini unik.” “Jika kakek pergi sebentar saja, ia akan menjadi panik dan takut bahwa kakek tidak akan kembali.” Nenek ini begitu melekat. Meski ia sudah sangat tua, tetap masih sangat melekat pada suaminya. Dapat diperkirakan bahwa ia juga seorang nenek yang manja dan penuh kemelekatan.

Kesan tentang dirinya cukup dalam bagi saya. Penyakit saja sudah cukup membuat menderita, masih ditambah perasaan dalam hati yang menjadi suatu kemelekatan yang dalam, sehingga kakek harus selalu duduk di sisinya dan memegang tangannya. Dengan kemelekatan yang demikian kuat, pada hari terakhirnya nanti entah bagaimana ia dapat melepaskan semuanya. Sungguh sulit baginya untuk memahami di kala penyakit menyerang tubuh ini bagaimana menyiapkan batin untuk menghadapi sakit yang tak terobati itu. Karena suatu hari, tidak dapat dielakkan, ia harus meninggalkan dunia ini. Ada lagi seorang pasien, tampaknya adalah seorang perempuan muda. Ia sedang meraung-raung. Keluarganya berkata, “Master ada di sini untuk menjengukmu.” Ia menangis dengan sangat keras dan kemudian menutupi wajahnya.

Saya pun bertanya apa permasalahannya. Ia berkata, “Saya sangat tersentuh.” Saya bertanya, “Mengapa menangis seperti itu?” Ia tidak dapat menjawab, hingga seseorang di sampingnya berkata, “Ia merasa sangat takut.” Melihat kondisinya, saya pun mengerti. Jika melihat perempuan itu, dapat diketahui bahwa ia adalah seorang sangat peduli terhadap penampilannya. Meskipun ia sedang sakit, ia tetap saja merias wajahnya. Ia memang selalu ingin terlihat cantik. Meski saat ini usianya masih muda, ia telah dirawat di bangsal paliatif. Kepala rumah sakit Tzu Chi memberi tahu saya bahwa sel-sel kanker perempuan ini telah menyebar hingga ke dalam tulangnya. Kalian dapat membayangkan bagaimana kondisi ketika sel kanker telah masuk ke tulang. Seluruh tubuh menjadi lumpuh. Dalam usianya yang masih muda, bagaimana ia dapat menerima hal ini? Melihat satu per satu pasien yang terbaring, hati saya benar-benar pilu.

Ada yang orang dalam usia mudanya telah digerogoti sel-sel kanker, bahkan hingga ke tulang. Ada seorang pasien yang kelihatan seperti baru berusia sekitar 40 tahun. Mengapa orang yang begitu kekar ini tetap takut tubuhnya akan terjangkit penyakit? Sementara virus yang begitu kecil telah masuk ke tubuhnya tanpa disadari. Maka, saya yakin bahwa orang muda ini Maka saya yakin bahwa orang muda ini pasti merasa sangat risau terhadap kondisinya, pasti merasa sangat risau terhadap kondisinya. Apalagi si ayah tua dengan anaknya dan nenek yang begitu melekat pada kakek. Jika setiap orang dapat merenungkan bahwa tubuh ini kotor dan tidak suci, saya yakin akan seperti pria yang saya lihat sewaktu akan memasuki bangsal paliatif. Pria itu mungkin juga seorang pasien kanker. Meski tubuhnya sangat kurus, namun ekspresi wajahnya sangat damai dan tenteram. Bagaimana pun, dalam kehidupan ini kita harus sungguh-sungguh melatih keterampilan lewat tubuh kita. Janganlah setiap hari memanjakannya hingga membiarkan waktu terlewat sia-sia. Jangan pula melindungi tubuh secara berlebihan hingga tak mampu menahan cuaca dingin, panas, lapar, dan lelah; terlalu melindungi tubuh sampai begitu berlebihan hingga takut ia terluka. Dengan berlalunya hari-hari, maka suatu hari nanti, kita akan berpisah dengan orang tercinta ataupun orang yang paling dekat dengan kita.

Suatu hari nanti, jika bukan mereka yang pergi lebih dulu, maka kita yang lebih dulu meninggalkan mereka. Kematian adalah hal yang sangat alami, namun sering kali kita tak dapat menerima hukum alam ini, sehingga ketika tubuh sakit, pikiran ikut sakit akibat ketakutan akan kematian, akibat ketidakrelaan melepas kehidupan, dan akibat kemelekatan. Demikianlah hidup yang penuh penderitaan. Pikiran makhluk awam senantiasa diliputi noda batin. Jika dapat memusatkan pikiran pada Empat Landasan Perenungan dengan kekuatan kebijaksanaan, maka segala ketamakan dan kerisauan akan hal-hal duniawi akan dapat diatasi. Jadi, kita harus menjaga tubuh dan pikiran dengan sebaik-baiknya. Kita harus merenungkan bahwa// tubuh ini kotor dan tidak suci dan bahwa perasaan membawa derita. Banyak perasaan yang kita alami merupakan akibat dari kontak tubuh fisik dengan dunia luar, serta dari keinginan tubuh fisik ini sendiri. Akibat hal-hal tersebut, kita mengalami berbagai perasaan bahagia maupun sedih.

Jadi, kita hendaknya senantiasa mengingatkan diri untuk tidak karena pengaruh kondisi luar kita menjadi sebentar senang, sebentar marah, sebentar merasa kesal sehingga mengalami banyak penderitaan dan menderita berbagai penyakit batin. Kita harus memanfaatkan hidup ini sebaik-baiknya dengan menyelaminya dan menjadikan kontak dengan dunia luar sebagai pelatihan spiritual. Jika kita dapat melatih tubuh fisik dengan baik sehingga hati kita tidak terus bergejolak, semoga di kehidupan ini, kita dapat membebaskan diri kita sendiri dari belenggu emosi. Namun, untuk membebaskan diri kita dari belenggu emosi dalam hubungan antarmanusia, terutama pada detik-detik di ambang kematian, bukanlah hal yang mudah. Karena itulah disebut pelatihan diri. Empat Landasan Perenungan: – Merenungkan tubuh ini tidak suci – Merenungkan perasaan membawa derita – Merenungkan pikiran bersifat tidak kekal – Merenungkan segala fenomena adalah tanpa inti Jadi, kita perlu merenungkan bahwa tubuh adalah kotor dan tidak suci, bahwa perasaan membawa derita, bahwa pikiran adalah tidak kekal, dan bahwa semua fenomena adalah tanpa inti.

Apakah di dunia ini ada hal atau benda yang bersifat permanen dan abadi? Tidak ada. Intinya, kita harus memanfaatkan tubuh dengan baik untuk merenungkan Empat Landasan Perenungan. Inilah kebijaksanaan. Kita hendaknya memahami bahwa tubuh fisik adalah kotor, perasaan menimbulkan penderitaan, pikiran bersifat tidak kekal, dan segala fenomena adalah tanpa inti. Dengan menyadari 4 hal ini, itulah yang disebut kebijaksanaan. Dengan kekuatan kebijaksanaan ini, kita akan dapat menjaga batin dengan penuh kemantapan dalam Dharma. 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan adalah berbagai faktor yang membantu kita untuk berjalan di jalan Bodhi yang lapang ini. Jadi, bagian pertama dari 37 faktor tersebut yaitu Empat Landasan Perenungan harus kita jaga dengan baik. Inilah cara yang membantu// membangkitkan kebijaksanaan kita dengan menggunakan fisik dan perasaan kita yang senantiasa bersentuhan dengan dunia luar untuk memajukan pelatihan diri kita. Jadi, keempat perenungan ini mengandung kebijaksanaan. Kita hendaknya mengutamakan kebijaksanaan. Setiap orang memiliki hakikat kebijaksanaan yang sama dengan Buddha, hanya saja kita perlu membangkitkannya. Kebijaksanaan adalah hakikat sejati kita. Karena itulah, bila kita dapat merenungkan keempat objek ini dengan kebijaksanaan, batin kita akan menjadi damai dan tenteram di jalan Bodhi yang lapang dan lurus ini, dan baru dapat maju tanpa rintangan di atasnya.

Selain Empat Landasan Perenungan ini, alat berikutnya adalah “Empat Usaha Benar”. Empat Usaha Benar merujuk pada: – Mengakhiri keburukan yang sudah timbul – Menghindari keburukan yang belum timbul – Membangkitkan kebajikan yang belum timbul – Memupuk kebajikan yang sudah timbul Semua orang tahu tentang Empat Usaha Benar. Kita benar-benar perlu berupaya, yang artinya juga bersemangat. Namun, dalam pelatihan diri, kita harus memilih satu di antara 2 hal berikut, yaitu antara yang baik dan yang buruk. Ada sebuah ungkapan berbunyi, “Hindari kejahatan, perbanyak kebajikan.” Maka, di antara 2 hal ini, kita harus berlatih sebaik-baiknya. Untuk itu, diperlukan Empat Usaha Benar. “Benar” berarti tidak menyimpang. Kita harus memilih dengan hati-hati. Usaha yang pertama adalah// “mengakhiri keburukan yang sudah timbul”. Karena hendak menghindari semua kejahatan, maka saat muncul niat buruk meski sedikit, kita harus segera memadamkannya. Inilah “mengakhiri  keburukan yang sudah timbul”. Berikutnya, “menjaga agar niat buruk tidak timbul”.

Pikiran kita harus dijaga dengan baik. Jika niat buruk timbul, Saat lingkungan luar memberikan banyak godaan hingga sebersit niat buruk timbul, kita harus dengan cepat menyadarinya dan segera memadamkannya. Jangan sampai niat buruk itu sempat timbul. Jadi, akhiri semua niat buruk yang timbul dengan segera dan jagalah agar//keburukan yang belum timbul tidak timbul. Ini yang disebut “menghindari segala kejahatan”. Jangan berpikir, ini hanya hal sepele, Jangan berpikir, ini hanya hal sepele jika dilakukan pun tak masalah. Kita harus menyadari, setetes demi setetes air lama-kelamaan akan terkumpul jadi satu bejana. lama-kelamaan akan terkumpul satu bejana. Apalagi hukum karma tidak terhindarkan. Setiap ucapan dan perbuatan kita adalah benih karma. Setiap ucapan dan perbuatan kita adalah benih karma.a Meski hanya satu langkah kita yang salah arah, maka setiap langkah berikutnya akan terus salah. Jika kita melakukan satu saja kesalahan kecil, kesalahan itu akan membuahkan kesalahan lain sehingga kita terus terseret dalam kesalahan. Karena itu, pikiran kita harus dijaga Pikiran buruk sekecil apa pun jangan sampai timbul, apalagi sampai terwujud dalam perbuatan.

Jadi, banyak hal bersumber dari pikiran. “Menghindari segala keburukan” berarti saat timbul niat buruk sekecil apa pun, hendaknya segera dipadamkan, dan keburukan yang belum timbul hendaknya dihindari; senantiasa menjaga pikiran untuk tetap berada di jalan benar. Kedua, kita harus “melakukan semuanya yang baik.” Kedua, kita harus “memperbanyak kebajikan”. Jangan berpikir, “Ini hanya kebajikan tak berarti, apakah akan membawa manfaat bagi saya dan dapat membantu orang lain?” “Ini hanya kebajikan kecil yang tak berarti.” Sesungguhnya, kebajikan pun harus dimulai dari hal-hal kecil. Kita harus menggenggam setiap waktu yang ada dengan segera melakukan setiap kebajikan tanpa membedakan besar kecilnya kebajikan itu. Janganlah membedakan besar kecilnya kebajikan, kita harus senantiasa menjaga cinta kasih di dalam batin. Kita harus “memupuk kebajikan yang sudah ada”. Jika kita telah memiliki sebersit niat baik, kita harus terus memupuk dan menumbuhkannya.

Janganlah memilih-milih perbuatan baik mana yang mau atau tidak mau kita kerjakan. Dalam masyarakat sering ada yang mengatakan, “Saya hendak melakukan kebajikan yang ini saja karena saya lebih tertarik pada bidang ini.” “Saya mengerjakan yang ini saja, yang lain biar dikerjakan oleh orang lain.” Sama seperti Empat Misi dalam Tzu Chi– amal, kesehatan, pendidikan, budaya humanis. Empat misi ini dibagi lebih lanjut menjadi Delapan Jejak Dharma. Beberapa orang berkata, “Saya lebih suka pada bidang yang ini, biar saya fokus di sini saja.” “Saya cukup bersumbangsih di bidang ini saja.” Kita sungguh harus memanfaatkan setiap saat untuk segera mengerjakan kebajikan apa pun yang membutuhkan bantuan kita. Kita perlu senantiasa membangkitkan cinta kasih di dalam hati. Janganlah memilih dan membedakan kebajikan, apalagi sampai mengutarakannya keluar. Segala niat baik yang muncul harus terus kita pupuk dan kembangkan, jangan sampai niat baik ini terhenti. “Memperbanyak kebajikan” berarti memupuk cinta kasih sehingga niat baik terus berkesinambungan; menjaga pikiran untuk senantiasa berada dalam Dharma dan jalan benar.

Sementara niat baik yang belum timbul perlu segera kita bangkitkan. Sebelumnya mungkin kita belum pernah memiliki niat baik tersebut, namun kini kita telah menjumpai, melihat, dan mendengar tentang niat baik, maka kita perlu menggenggam kesempatan ini untuk membangkitkan niat baik. Kita perlu melakukannya, dan juga menginspirasi orang lain. Karena itu, kita sering mengatakan mendidik yang mampu menolong yang tak mampu, sekaligus mendidik yang tidak mampu untuk turut menciptakan berkah. Kita perlu senantiasa meyakinkan orang lain untuk bergabung di jalan yang baik, bersama berjalan di Jalan Bodhisattva ini, dan bersama-sama melakukan kebajikan. Saya sering mengatakan, beras di dunia tidak dapat dimakan habis oleh satu orang, masalah di dunia perlu diselesaikan bersama// oleh banyak orang. Ada orang yang telah memiliki niat baik, tetapi belum berkesempatan melakukannya. Jadi, selain perlu membangkitkan niat baik dan cinta kasih di dalam hati, kita juga harus menginspirasi niat baik dalam hati orang lain agar mereka pun berkesempatan untuk melakukan kebajikan. Bila kita dapat melakukan hal ini, maka kebajikan akan terus berkembang dan niat baik semua orang akan terhimpun sehingga masyarakat menjadi damai dan tenteram.

Sebaliknya, jika setiap orang berbuat kejahatan, dunia ini akan menjadi semakin keruh dan bencana akan semakin sering terjadi. Saudara sekalian, semoga kita semua selalu bersungguh-sungguh melatih diri dalam segi fisik maupun batin. Terhadap pengaruh dunia luar, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Terhadap mereka yang membutuhkan bantuan kita, kita harus memanfaatkan waktu untuk membantu. perbanyaklah kebajikan, hindari kejahatan. Inilah ajaran yang disampaikan Buddha pada kita. Jadi, kita harus senantiasa mengingat Empat Pikiran Tanpa Batas dan Enam Paramita yang telah kita bahas sebelumnya, dan juga menerapkan 37 faktor berikutnya yang akan membantu kita untuk melangkah di jalan spiritual. Kita harus lebih bersungguh-sungguh.

Leave A Comment