[ST-053] Menebarkan Benih Kebajikan dan Cinta Kasih di Dunia
Saudara se-Dharma sekalian, di pagi yang tenang ini, apakah hati setiap orang merasakan kejernihan? Ketika berada dalam kondisi yang hening tanpa ada nafsu keinginan yang bangkit, maka kondisi ini seharusnya menunjukkan kondisi tertinggi dalam pelatihan diri. Tujuan mempelajari ajaran Buddha adalah untuk mencapai kemurnian batin yang jernih, tanpa pamrih, dan tanpa penyesalan. Mempelajari ajaran Buddha adalah pilihan kita. Karena kita sendiri yang memilih untuk berlatih dalam jalan Buddha ini, maka kita hendaknya tidak menyesalinya. Jika tidak menyesal, kita harus bersemangat. Bersemangat berarti harus giat dan tidak malas. Sebelumnya, saya telah membahas bagian awal 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan, yakni Empat Landasan Perenungan, diikuti oleh Empat Usaha Benar. Inti dari Empat Usaha Benar adalah meningkatkan kesadaran dan selalu mawas diri terhadap kondisi pikiran kita.
Jika sebersit niat buruk timbul, kita harus segera memadamkannya. Jangan biarkan niat buruk timbul. Sebelum niat buruk timbul, kita harus sungguh-sungguh menjaga pikiran agar tetap murni dan tidak ternoda. Inilah “menghindari kejahatan”. Selain menghindari kejahatan, kita juga harus “memperbanyak kebajikan”. Kebajikan yang belum timbul harus segera dibangkitkan agar semakin bertumbuh. Kita pun bukan hanya harus membangkitkan cinta kasih dalam diri sendiri. Setelah benih cinta kasih ini tumbuh, Kita harus segera menciptakan kondisi agar benih ini terus tumbuh. Inilah “membangkitkan kebajikan yang belum timbul”. Setelah kebajikan itu timbul dan akar kebajikan ini mulai tumbuh, janganlah kita berhenti di tengah jalan. Setelah memiliki akar kebajikan dan yakin bahwa jalan ini adalah benar, kita harus memperkuat niat baik ini. Kita tentu harus giat melakukan kebajikan.
Selain mengembangkan niat baik diri sendiri, kita juga harus menciptakan kondisi ini//bagi orang lain agar mereka juga dapat mengembangkan kebajikan. Inilah yang sering kita sebut “menebarkan cinta kasih di dunia”. Insan Tzu Chi menebarkan cinta kasih di berbagai tempat dengan harapan benih niat baik tersebar dan tumbuh di hati setiap orang dalam masyarakat. Untuk menabur benih cinta kasih ini, kita harus menciptakan kondisi pendukung. Jadi, kita harus berusaha dan bersemangat. Artinya, terhadap kejahatan, kita harus waspada, jangan biarkan niat buruk ini timbul, sedangkan terhadap kebajikan, kita harus giat untuk segera mengembangkannya. Inilah penjelasan singkat Empat Usaha Benar. Sesungguhnya, semua ini dapat dilakukan dalam keseharian kita. Kita pun harus meningkatkan kewaspadaan. Empat Usaha Benar ini sangatlah penting. Selanjutnya adalah “Empat Landasan Keberhasilan”. Arti dari “berhasil” adalah terus maju dalam kondisi yang sesuai harapan tanpa adanya rintangan. Kalaupun bertemu kondisi yang tak diharapkan, ini dianggap sebagai pemicu untuk maju. Jika kita giat dan bersemangat, maka semua kondisi dapat dijadikan pemicu untuk terus maju.
Saat bertemu kondisi yang tak sesuai harapan, kita harus menganggapnya sebagai pemicu. Semua ini tergantung pada cara pandang kita. Landasan pertama adalah “landasan keinginan”, yakni keinginan untuk melatih diri//dan memperoleh buah pencapaian. Inilah “landasan keinginan”. “Keinginan” berarti harapan kita, cita-cita kita. Jika kita membangkitkan tekad, maka kekuatan kita akan semakin besar. Sebaliknya, meskipun kita telah berikrar, namun tanpa keinginan dan harapan ini, kekuatan yang besar tidak akan timbul. Karena itu, landasan keinginan perlu dimiliki. Selama Anda memiliki harapan dan bertekad mengejar cita-cita ini, saya sering mengatakan bahwa ada niat ada berkah, ada tekad ada kekuatan. Sesungguhnya, ungkapan ini menjelaskan tentang landasan keinginan. Selama Anda bertekad dan berikrar untuk mengejar cita-cita ini, maka Anda akan memiliki kekuatan. Demikianlah. Setiap hari kita dapat melihat banyak insan Tzu Chi yang kisahnya diangkat oleh Da Ai TV dan dijadikan teladan. Kisah hidup mereka bagaikan kitab suci yang terpapar di hadapan kita. Dalam program yang mengangkat//kisah relawan daur ulang, saya melihat dua Bodhisattva dari wilayah utara, yakni Chen Bao-lian dan suaminya.
Dua Bodhisattva lanjut usia ini sungguh dapat dijadikan teladan dalam keteguhan tekad. Saat suaminya ini masih muda, ia adalah seorang pejabat tinggi militer. Dalam program Da Ai TV tersebut terlihat foto dirinya bersama Presiden Chiang. Dari sini dapat dilihat bahwa ia berpangkat sangat tinggi. Namun, istrinya, Chen Bao-lian, pernah mengatakan, “Sewaktu muda saya pernah berkeinginan untuk menjadi bhiksuni.” Sepertinya salah satu saudara kandungnya juga ada yang menjadi bhiksuni. Mulanya ia ingin menjadi bhiksuni dan terus mencari seorang guru dan ladang pelatihan yang baik. Sayangnya, jalinan jodohnya belum cukup. Karena itu, ia tidak menjadi bhiksuni. Di Kemudian hari, jalinan jodoh yang lain matang. Ia pun menikah dengan suaminya. Mereka menjalani kehidupan yang sederhana. Keduanya memiliki hati yang baik. Meski tak memiliki anak yang harus ditanggung, mereka tetap hidup dengan hemat dan sederhana. Dalam tayangan tersebut terlihat kru Da Ai TV mewawancarai mereka.
Dari penampilannya, terlihat bahwa masa mudanya cukup jaya, dan ia juga merupakan pemimpin yang baik. Di usia tuanya pun aura kepemimpinan masih terasa. Ia berkata kepada penyiar Da Ai TV, “Kehidupan kami sangat sederhana.” “Lihatlah, rumah kami agak lapuk, namun kami tidak memperbaikinya.” “Saat dindingnya sangat perlu dicat, kami mengerjakannya sendiri.” Bahkan istrinya pun berkata, “Sejak menikah, saya tidak pernah ke salon kecantikan, tidak pernah pergi ke bioskop, dan tidak pernah berbelanja di butik.” “Beginilah kami menjalani hidup.” “Kami selalu berusaha hidup hemat.” “Kami hanya makan sekali dalam sehari.” demi berhemat.” Namun, ketahuilah, meski hidup dengan begitu hemat, mereka telah menyumbang 2 juta dolar NT. Para tetangga pun bertanya, “Rumah kalian begitu sederhana, makanan dan pakaian kalian juga sederhana, bagaimana bisa menyumbang banyak uang?” Mereka pun menjawab, “Hidup yang penting bisa dilewati, tujuan sesungguhnya dari kehidupan ini adalah membantu orang lain.” “Tzu Chi memiliki cara membantu orang.” “Jika lebih banyak orang bergabung di Tzu Chi, maka tak hanya dapat membantu orang di Taiwan, melainkan juga sampai ke luar negeri.” “Lagi pula, lihatlah, begitu banyak anak di negara lain yang mengalami busung lapar dan menjadi sangat kurus.” “Sungguh memprihatinkan.” “Kehidupan kita jauh lebih baik dari mereka.” Lihatlah, kehidupan mereka begitu sederhana, namun mereka tetap bersemangat.
Dalam kegiatan Tzu Chi mana pun, mereka selalu berpartisipasi. Mereka juga sering menjadi relawan rumah sakit. Dan yang terutama, mereka adalah relawan daur ulang. Mereka melakukan daur ulang bersama-sama. Yang lebih luar biasa lagi, mereka adalah anggota komite Tzu Chi. Donatur yang mereka galang lebih banyak daripada para anggota komite muda. Karena kehidupan mereka yang sederhana, sikap mereka yang lemah lembut, perlakuan mereka yang baik terhadap orang, tak pernah terlibat dalam pertikaian, maka mereka menjalin jodoh baik//dengan banyak orang. Karena itu, donatur mereka pun banyak. Mereka adalah anggota komite yang berdedikasi dan merupakan relawan yang baik. Mereka sangat giat melestarikan lingkungan, sementara tetap hidup sederhana. Lihatlah, mereka perlu memiliki tekad dan keinginan dalam hati untuk senantiasa bersumbangsih. Inilah yang disebut landasan keinginan.
Mereka bertekad menyebarkan cinta kasih. Mereka tidak memiliki anak, namun keduanya memiliki kesatuan hati, jalan, dan tekad dalam menjalani kehidupan yang sederhana. Pakaian yang mereka pakai bukanlah mereka beli. Semua adalah pakaian yang dibuang orang lain. Lihatlah, kehidupan seperti ini sesungguhnya adalah kehidupan yang kaya. Ini karena mereka memiliki landasan keinginan. Keinginan ini membuat mereka bersemangat dalam menggapai harapan dan memenuhi tekad. Jadi, keinginan yang disertai semangat ini disebut “landasan keinginan”. Landasan bagaikan kaki. Dengan memiliki kaki, baru kita bisa berjalan. Hanya dengan berjalan di jalan kebenaranlah kita dapat memperoleh kedamaian, mengembangkan berkah dan kebijaksanaan//dengan sukarela.
Lihatlah, kehidupan sederhana seperti ini, bukankah merupakan wujud dari kebijaksanaan? Dengan menjadi komite dan mendaur ulang demi melindungi bumi dan mencintai kehidupan, bukankah mereka tengah membina berkah? Mereka mengembangkan berkah//sekaligus kebijaksanaan. Berikutnya adalah “landasan pikiran”, artinya kita harus memusatkan pikiran pada kebenaran. Sangatlah penting untuk menjaga pikiran. Setiap saat, pikiran hendaknya tetap terpusat. Pikiran ini harus terpusat pada kebenaran. Berlatih di jalan Buddha, kita tidak boleh menyimpang. Jika menyimpang sedikit saja, jiwa kebijaksanaan kita akan mudah terluka. Untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan kita, kita harus berada di atas kebenaran.
Inilah yang disebut perhatian benar, pikiran kita selalu terpusat pada kebenaran. Inilah yang disebut “landasan pikiran”. Dalam Drama Da Ai ada sebuah kisah tentang seorang anak yang sangat berbakti. Karena ibunya sakit dan ia bekerja di Taipei, maka kadang ia membawa ibunya ke Taipei, namun ibunya ini tidak terbiasa. Ibunya lebih suka tinggal di Dalin karena di sanalah rumah mereka. Ibunya ini tak terbiasa tinggal di kota besar. Di Dalin, sewaktu muda ibunya bekerja di salon. Ia pun mengenal banyak orang di kampungnya. Ia juga adalah donatur Tzu Chi. Namun, kini ibu ini telah berumur dan menderita kanker. Sebagai anak tunggal, anaknya berpikir, “Jika bukan saya yang pulang merawat ibu, lalu siapa lagi?” Ia tak memiliki saudara. Ia berpikir, ia hanya memiliki seorang ibu, sedangkan pekerjaan dapat dicari.
Ia pun mengajukan pengunduran diri, namun atasannya ini merasa ia amat berpotensi dan tidak rela melepaskannya. Karena itu, sang atasan berusaha menahannya. Ia pun berkata. “Saya harus menjaga ibu saya.” “Entah harus menemaninya berapa tahun lagi.” “Karena itu, lebih baik mengundurkan diri.” Atasannya pun menjawab, “Kelak mungkin akan lebih sulit bagimu untuk mendapatkan pekerjaan.” Anak itu kemudian berkata, “Saya hanya mempunyai seorang ibu, sedangkan pekerjaan dapat dicari kembali.” Mendengar ini, atasannya pun memujinya. Ia kemudian membalas, “Selama apa pun, kami akan menunggumu.” “Pulang dan jagalah ibumu dengan tenang.” “Posisimu akan tetap kami kosongkan untukmu.” Akhirnya, ia pun pulang menjaga ibunya. Kita sering mendengar para relawan rumah sakit berbagi cerita tentang seorang anak muda di bangsal paliatif yang merawat ibunya dengan sepenuh hati dan memperlakukannya bagaikan putrinya. Ia sangat menyayanginya.
Namun, di seberang ranjang ibu ini, sebaliknya ada seorang ibu yang merawat putrinya. Ia merawat putrinya dengan sangat baik dan sangat teliti. Putrinya ini juga seorang pasien kanker. Ibu ini terus menyalahkan diri sendiri. Sang ibu ini merasa putrinya jadi begini akibat kepercayaannya pada takhayul. Ketika putrinya sakit,//ibu ini malah bertanya pada orang pintar. Orang pintar yang kerasukan ini mengatakan bahwa penyakit putrinya adalah suratan takdir. Ibu ini pun meminta resep obat dari orang pintar ini. Karena diobati dengan cara ini, perawatan medis pun tertunda. Saat akhirnya diperiksa oleh dokter, dokter mengatakan bahwa//putrinya ini harus segera dioperasi. Sang ibu kembali bertanya pada orang pintar dan orang pintar ini mengatakan//agar putrinya jangan dioperasi, karena ia tak akan mampu bertahan. Mendengar semua yang dikatakan, sang ibu pun ketakutan dan kembali menunda tindakan medis. Hingga saat kondisi putrinya ini menjadi kritis, ia membawanya ke RS Tzu Chi Dalin.
Dokter pun berkata agar ia dirawat di bangsal paliatif hingga akhir hayat. Karena itu, sang ibu menyalahkan diri sendiri karena telah menunda pengobatan putrinya Jadi, memiliki pemikiran benar amatlah penting. Jika pemikiran menyimpang sedikit saja, maka tiap langkah yang kita ambil akan salah. Karena itu, dalam Empat Landasan Keberhasilan, “landasan pikiran”//harus dipraktikkan dengan sungguh-sungguh. Kita harus menjaga pikiran benar dengan baik. Pemikiran apa pun yang ada dalam pikiran kita, semuanya harus sesuai dengan kebenaran. Dengan demikian, kehidupan kita tidak akan menderita.
Kita harus menyadari hukum alam. Berapa lama seorang manusia dapat hidup? Berapa panjangkah usia kita? Panjangnya usia tidak dapat diketahui, namun saya selalu mengatakan bahwa kita harus sungguh-sungguh memperluas makna kehidupan kita. Bahkan kita juga harus memperdalam nilai hidup kita. Janganlah menjalani hidup dengan sia-sia. Kita harus meningkatkan nilai kehidupan ini hingga menjadi lebih luas dan dalam serta penuh makna. Untuk mencapai semua ini, kita harus menggunakan tubuh jasmani ini sebagai sarana pelatihan diri. Di dalam kehidupan ini, untuk memiliki kehidupan yang bernilai, kita harus memanfaatkan tubuh jasmani ini selagi masih dalam kondisi sehat untuk bersumbangsih dengan sukarela. Inilah kehidupan yang bernilai. Ketika menderita sakit, Jika tidak, kita akan sangat menderita. Jadi, panjangnya usia tiada yang tahu, tetapi jika telah mengisinya dengan penuh makna, hati kita akan tetap merasa damai.
Jika kita telah memperdalam makna hidup kita dan meningkatkan nilai hidup kita dengan memberi manfaat bagi banyak orang, maka kita akan merasa terhibur. Inilah “landasan pikiran”. “landasan semangat”. Bersemangat berarti berani untuk terus maju. Saya selalu mengatakan pada semua orang bahwa jalan Bodhi amatlah lurus. Sesungguhnya, Jalan Bodhisattva adalah jalan yang lapang dan rata, yang membawa pada pencerahan. Selama kita berada di arah yang benar, maka tidak akan ada kesulitan. Mungkin ada orang yang berkata, “Saya punya kesulitan, ada tanggung jawab, pekerjaan, rumah tangga, dan sebagainya.” Banyak sekali. Jadi, memutuskan untuk berjalan di Jalan Bodhisattva amatlah tidak mudah. Namun, setelah kita bertekad menjalaninya, jalan Bodhi ini sesungguhnya amat lurus. Karena kita telah memilih untuk melatih diri di Jalan Bodhisatva ini, maka kita harus berani melangkah maju. Inilah yang disebut semangat. Dengan terus maju penuh semangat, maka pahala pun akan terus terpupuk. Jika kita terus maju dengan penuh semangat dan terus bersumbangsih tanpa henti, maka pahala kebajikan pun akan terus bertumbuh. Pahala datang dari kerendahan hati.
Dalam pelatihan diri, kita harus terus mengingatkan diri untuk menjauhi kesombongan. Kita harus giat dan bersemangat. Inilah “landasan semangat”. Yang keempat adalah “landasan kebijaksanaan”. Jika kita dapat mengamati semua hal dengan hakikat sejati kita yang murni dan melihat segala sesuatu dengan kebijaksanaan, maka kita tak akan memiliki pandangan salah ataupun pikiran kacau. Untuk itu, dibutuhkan kebijaksanaan. semua makhluk pada dasarnya memiliki kebijaksanaan yang sama dengan Buddha. Hakikat kebijaksanaan ini tak pernah berubah, berkurang, ataupun lenyap. Jadi, pada dasarnya//kita memiliki kebijaksanaan hakiki. Kini kita harus sungguh-sungguh membangkitkan kebijaksanaan hakiki ini. “Landasan kebijaksanaan” ini sangat penting. Layaknya pelita, kebijaksanaan dapat menerangi kehidupan yang gelap. Dengan begitu, pikiran kita tak akan kacau. Berlatih di jalan Buddha//berarti melatih semangat dan menjaga pikiran agar tidak kacau. Untuk itu, dibutuhkan kebijaksanaan//untuk menganalisis. Jadi, Empat Landasan Keberhasilan amat penting.
Kita semua harus selalu bersungguh-sungguh. Jangan biarkan pikiran kita menyimpang. Sulit berkesempatan bertemu ajaran Buddha. Namun, jika kita tidak sungguh-sungguh menjaga keteguhan pikiran dan memanfaatkan tubuh untuk bersumbangsih bagi masyarakat dengan penuh semangat, maka memiliki usia panjang pun akan sia-sia. Meski memiliki usia yang panjang, namun kehidupan kita akan sangat sempit dan tidak bermakna. Apa gunanya kehidupan seperti ini? Jadi, kita bukan hanya harus melatih Empat Landasan Perenungan dan Empat Usaha Benar, namun juga Empat Landasan Keberhasilan. Inilah awal dari 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Tentu saja, berikutnya masih ada Lima Akar, Lima Kekuatan, Tujuh Faktor Pencerahan, dan Jalan Mulia Beruas Delapan. Namun, faktor awal tadi harus lebih dahulu dilatih dengan baik. Dengan demikian, barulah kita dapat//memiliki pandangan benar dan tak akan menyimpang dari jalan ini. Harap semua senantiasa bersungguh-sungguh.